
Udara malam itu terasa mulai dingin, walaupun belum mengigit. Suara desau angin perlahan seperti mengabarkan musin gugur yang mulai berjalan mendekat. Pemuda itu masih berdiri menunggu di samping pos jaga dengansedikit gelisah. Sebatang rokok yang tadi sempat dinyalakannya, kini masih sparuh dengan ujung bara yang memerah dan meretik saat ia menghisap batang sigaret itu. Hatinya resah, sepasang matanya pun menyiratkan gelisah. Malam belumlah lagi menjadi larut, tapi dingin ini sudah mulai merayapi hatinya.
Dulu .... ia tidak perlu merasa seperti ini, karena ada ruangan hangat dilantai tiga yang selalu siap menyambut kedatangannya. Serta senyuman manis gadis itu, yang kan memberinya secangkir teh hangat, kopi robusta dengan aroma wangi nikmat, atau juga madu lemon segar untuknya setiapkali ia datang. Gadis cantik.... ya, gadis itu sangat cantik sebenanrnya. Bodohnya .... ia baru saja kembali menyadari kecantikan itu. Apakah kini ia menyesal ? ... entahlah apa namanya ?. Tapi dadanya terasa sesak kini, kenangan itu begitu indah.
" Kau ada perlu apa ? seperti pencuri saja ", suara itu sangat tidak bersahabat. Tapi David menoleh dengan cepat menyongsong nya.
" Tuan Hover .... bagaimana Hanin? dia sakit ? .... aku bisa bicara dengan nya..? sebentar saja ".
Karena hal inilah pria paruh baya itu meminta istrinya tetap tinggal dan menemani Hanin. Wanita mana yang tidak akan luluh melihat sinar mata lembut itu. Tapi bagi sesama pria, hal itu tentu tidak akan berpengaruh. Dan keputusan yang diambilnya sangatlah tepat.
" Apakah kau merasa bersalah ? ", tuan Hover menatap tajam. Sementara David menundukkan kepalanya dalam-dalam.
" Berhenti mengganggunya.... bukankah kau sudah memilih untuk bahagia dengan pilihan mu sendiri. Harus nya kau malu untuk bertemu Hanin "
" Ya tuan ... maaf, maafkan aku... aku hanya ingin melihat Hanin baik-baik saja .... ".
" Dasar !!! ... iblis kau !!", suara tuan Hover membahana, menatap penuh amarah pada pemuda di hadapannya. " Kau pikir .... gadis yang mencintai mu dengan tulus... kau giring ... kau tipu mentah-mentah untuk melakukan inseminasi buatan.... demi pasangan nerakamu. Kau itu .... lebih kejam dari seorang pemerkosa. Apanya yang baik-baik saja ?!!!!? ", meledaklah amarah yang sepertinya sudah lama terendapkan.
" Maafkan aku .... ", David tetap tertunduk.
" Dia ... gadis lugu itu... sekarang sedang mencoba untuk tetap bertahan hidup dengan mengalahkan traumanya. Dan kau .... kau itu baginya... adalah toxic. Lihat bagaimana dia sangat membencimu .... hingga ke seluruh inti sel nya ".
" Ya tuan Hover .... aku mengerti, aku terima ... aku memang bersalah ".
" Kemana akal sehat mu kemarin-kemarin ? . Pulanglah ... jangan muncul lagi di hadapan Hanin ". Suara tuan Hover kini mulai terdengar melemah, tidak berapi-api lagi. Tapi sinar mata pria itu tetap berkobar penuh amarah.
" Baik tuan .... tapi.... saya akan minta tolong satu hal padamu. Ku mohon tuan .... ".
Beberapa saat kemudian, tuan Hover menatap kepergian pria muda itu dengan tatapan sendu yang bercampur kekecewaan begitu pekat. Karena dulu, ia pun sempat menaruh harapan begitu besar pada pemuda kekar itu. Tapi sebuah kenyataan pahit telah melibas semuanya, habis tak bersisa. Bahkan menorehkan luka dalam yang bernanah.
Sementara malam pun mulai melarut dalam kelam. Tuan Hover pun nampak kembali menghela nafas panjang. Seperti kelam yang menyelimuti hari, ia pun menyelimuti dirinya sendiri dengan lantunan doa penuh syukur. Atas perbandingan tiga perempat kehidupan yang telah dijalaninya, dengan carut marut kehidupan seorang pemuda yang bayangan tubuhnya kian menghilang.
Lihat, bagaimana iblis telah mulai menampakkan neraka padamu. Kini, bagaimana kau akan menghindari nya. Sementara separuh badan mu telah berkubang padanya.
.....................................................................
Hanin Hanania, ia terbaring lemah, meringkuk dengan selimut membungkus tubuh mungilnya. Nafasnya mulai terlihat teratur dengan irama menenangkan. Sementara nyonya Hover yang ada di sebelahnya, duduk dengan sedikit membungkuk karena mengusap-usap punggung gadis itu.
" Apa yang telah ia lakukan padamu tadi cantik ? " . Tanya nyonya Hover dengan lembut.
Butuh waktu beberapa saat bagi Hanin untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Dan nyonya Hover pun menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya gadis itu perlahan bangkit dari bergelungnya, duduk bersandar pada sandaran ranjang lalu tersenyum getir. Seperti sedang mengingkari keadaan dirinya sendiri yang sangat tidak baik-baik saja.
" Dave, dia hanya ... belum sempat melakukan apa-apa ". Hanin menelan ludah yang terasa bagai cairan lava. " Ia bahkan belum sempat berkata hal.... yang mungkin membuatnya datang kemari. Tapi aku sudah langsung muntah-muntah.... ".
" Oh sayang.... ", nyonya Hover memandang penuh penyesalan. Beringsur\t perlahan, kemudian memberikan pelukan lembut. " Baik-baik ya sayang .... percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Kau sudah berkunjung lagi ke psikiater mu ? ".
Hanin menggeleng lemah, menjawab pertanyaan nyonya Hover yang masih saja membelai rambutnya penuh kelembutan. Ia mulai teringat, seharusnya dua bulan lalu ia sudah melakukan sesi konseling dengan Mr. Abraham. Semula karena psikiater tambun yang selalu menemui pasiennya dengan diasisteni sang istri, sedang liburan bulan madu kawin perak mereka. Hanin sudah membuat janji ulang sebenarnya, tapi kali itu justru dia yang melupakannya.
__ADS_1
Saat dia menelpon, untuk meminta maaf dan bermaksud membuat janji ulang, Mr. Abraham justru menyarankan untuk menahannya terlebih dahalu. Menurutnya emosi Hanin sudah cukup stabil saat itu. Bisa dilihat dari kemampunnya mengendalikan histeris dan kepanikan, terutama saat bertemu dengan pria. Hal itu terbukti dari kembalinya ia ke dapur dan cafe, melayani pembeli yang pastinya juga ada mahluk pria.
" Tinggal satu langkah terakhir, yaitu melawan asal muasal traumamu..... kau harus menghadapinya, melawan dan kemudian memenangkan hatimu sendiri atas ketakutan itu ". Begitu dismpaikan dokter Abraham.
Kini Hanin tersadar, ternyata ia masih kalah.... telak!!.
" Mau aku temani kesana ? ". Nyonya Hover memilih menawaerkan diri, karena menurutnya Hanin terlalu lama termenung.
" Ya.... biar aku buat janji dahulu. Terimaksih nyonya .... ". Hanin mencoba tersenyum dengan sejuta rasa getir yang masih menggelayut. " Maaf selalu merepotkanmu nyonya .... ". Terlihat merasa bersalah
" Sayang... ", dan kembali Nyonya Hover memeluk tubuh mungil yang kali ini nampak lebih lemah dan rapuh. " Memangnya kau ini siapa ?... orang lain ?. Kau 'kan putri kecil kami yang manis ".
Rasanya seperti terbuai oleh suasana haru. lalu entah mengapa tiba-tiba saja kau merasa begitu rindu pada seseorang yang pastinya akan melakukan hal seperti ini saat kau sedang terpuruk. Ah ... Hanin, menjadi merasa sangat lemah dengan smua kasih sayang ini. Tapi inilah yang sesungguhnya ditahan dengan sekuat tenaga. Rasa rindu pada belaian lembut seorang wanita yang hanya menginginkan mu bahagia. Ibu.... apa kabar mu di sana ?. Bisik Hanin dalam diam, berharap angin angin lembut dapat menyampaikan pesannya itu.
" Kau baik-baik saja, sayang ? ". Tuan Hover sudah berdiri dengan senyuman hangatnya. Walaupun ada bia khawatir yang tersamar, tapi tidak semua tertutupi dengan jelas. Haninmasih bisa menangkap guratan itu.
" Ya Tuan Hover ", Hanin mencoba tersenyum agar pria itu tidak terlalu khawatir. " Apakah Dave sudah pulang ? ".
" Oh ... ya.. iya ". Pria itu nampak sedikit gugup. " Maaf ya Hanin, peristiwa itu .... tidak akan terjadi lagi. Oh ya... setelah ini... kau langsung ganti passcode' nya ya ".
Hanin mengangguk. Perlahan ia mulai beringsut dan duduku di tepi ranjang.
" Sudah... istirahat saja. Kami juga kan segera pulang kok ", larang Nyonya Hover.
" Mumpung masih ingat, aku tidak akan menundanya lagi ". Hanin berdiri lalu melangkah perlahan menuju pintu kamar yang membawanya keluar kamar. Mendekati pintu masuk utama flatnya, lalu memencet-mencet kombinasi angka dalam tiga rumpun. Setelah melalukan aktifasi ulang, ia tersenyum kearah tuan dan nyonya Hover yang masih memperhatikannya dengan prihatin.
" Ini memang bukan langkah terbaik, tapi setidaknya bisa sedikit menahan... mengulur waktu. Bukankah aku harus tetap menghadapi mereka di luar sana ?. Aku pasti akan menang kok ".
" Aku sebenarnya sangat takut ... tapi aku harus percaya jika aku bisa menang. Begitu 'kan ? ". Si cantik yang mungil itu menatap pasangan suami istri yang masih memperhatikannya dengan sinar mata penuh keyakinan.
" Banyak doa untuk mu sayang ... banyak sekali ... ", nyonya Hover meyakinkan.
" Sayang .. ", suara tuan Hover terdengar sedikit lain. Bahkan pupil matanya kini bergerak dengan gelisah. " Kau pasti baik-baik saja .... kau hanya harus lebih kuat... kau hanya harus lebih yakin saja .... kau berhati sangat baik seperti seorang dewi, aku sangat bangga bisa berkesemnpatan menganggapmu sebagai putri ku ".
Hanin terkekeh, ia merasa apa yang dikatan tuan Hover itu sangatlah berlebihn. Tapi kegelisahan pria itu terlihat begitu jelas, membuat Hanin menatap lebih dalmam dan menyelidik.
" Ada apa tuan Hover ? ".
" Ehm.... tidak ada apa-apa. Beristirahatlah ... kami pulang dulu ya. Telepon kami kapan pun kau membutuhkan ". Tuan Hover menggapit lengan istrinya, lalu mengajak wanita tercintanya ini berpamitan pada Hanin.
" Hanin.... mungkin, kau .... baca ini nanti saja ... jika kau sudah siap. Dari Dave ... ". Tuan Hover meletakan sepucuk surat dalam amplop putih.
" Honey ... ", hardik nyonya Hover, menunjukan ketidaksukaannya pada apa yang dilakukan suaminya.
" Hanin.. awalnya aku akan memberikan ini nanti saja. Tapi dengan menunda... akaupun tidak yakin kau akan lebih baik. Bukankah kau sudah bertekad untuk menang .... maka hadapilah.... kau pasti bisa nak ".
Hanin memperhatikan benda pipih persegi yang kini tergeletak pasrah diatas lemari sepatu di samping pintu. Hatinya menciut seperti diperas oleh keadaan yang menyesakakkan. Tapi bukankah tadi ia sudah sangat bertekad ?. Jadi.... kenapa harus mundur atau berpaling.
__ADS_1
" Ya tuan .... aku tidak akan lari lagi, aku akan menghadapinya kali ini ". Dan Hanin pun mengantarkan kepulangan pasangan Hover itu dengan membawa keyakinan yang besar. Berharap tidak menyisakan rasa khawwtir sediitpun pada pasangan yang baik hati itu.
Malam yang basah itupun semakin mengantarkan dingin, dengan suara angin mrendesau membelai kalbu. Seolah sedang berusaha meninabobokan rasa takut, rasa lelah bahkan amarah sesiang hingga petang tadi. tapi semua itu sepertinya tidak berlaku pada Hanin. Gadis yang masih berbaring gelisah diatas pembaringannya.
Ia kemudian duduk sambil tetap bernafas dengan panjang dan perlahan. Menatap sekilas pada pintu kamarnya, untuk kemudian keluar melalui benda itu. Seperti sedang memasuki dunia yang dingin dan mencekam, Hanin memeluk dirinya sendiri dan terus melangkah perlahan. Hingga langkahnya telah tiba di depan pintu utama, menatap ke sisi kanan. Pada lemari kecil yang manis berwarna hijau berisikan aneka las kaki di atas diatas raknya. Tapi ia terfokus pada sepucuk surat itu.
Tangannya tidak gemetar seperti yang dipikirkannya sesaat lalu. Tapi nafasnya jelas mulai tidak beraturan. Hingga ia memutuskan untuk mengambil jeda sesaat sebelum meraih sepucuk surat itu. Mengenggamnya dengan kuat dan membuat benda yang terbuat dari kertas itu menjadi sedikit kumal.
' Ayo Na' ....kau pasti bisa ', serunya menyemangati dirinya sendiri.
' Sreet... sreet ... '. Dan iapun kemudian mengoyak pinggiran amplop itu tanpa jeda lagi. Lalu denagn cepat mengambil dua lembar kertas yang terlipat di dalam amplop putih. Dan mulai membaca perlahan.
.............................................................
Hanin Hanania,
Kuharap engkau sedang membaca ini dengan sebuah senyuman, walaupun itu seperti berharap melihat pelangi di langit malam. Apa kabar mu merpati putih ku ?
Kau terlihat baik-baik saja, setelah semua yang aku perbuat padamu. Aku bahagia, aku bersyukur. Walaupun aku tidak berani membayangkan, kau akan memberikan maaf padaku. Aku tidak berani berharap banyak akan hal itu, walaupun aku sangat menginginkannya.
Hanin, sepertinya Tuhan sudah mulai menghukumku. Aku bersedia menerimanya. Tapi .... entah kenapa aku paling merasa berasalah padamu. Tidak kepada Tuhan. Ah ... biarlah.
Hanin, tetaplah tersenyum cantik seperti biasanya. Tetap bersemangat dengan langkah ceriamu. Tetap berkarya dengan hidanganmu yang ... amazing. Jangan pernah mundur dari impian mu
Seandainya kelak, kau sudah bisa memaffkanku... tanpa kau datang, mungkin aku juga tahu. He..he..he... orang yang sangat bodoh sepertiku ini (karena sudah mencampakan bidadari sepertimu) ada kalanya bisa menjadi seorang yang sangat peka
Hanin, pulanglah ke Indonesia. Kau sudah cukup menderita disini, kau suduh cukup melakukan tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab ku. Aku mohon, biarkan aku yang menggantikannya. Ini tentang Selma dan Leisel.... berikan aku kesempatan menebus dosa pada mereka.
Hanya itu yang kupinta darimu .... Hanin Hanania ... gadis tercantik yang pernah ku temui. Aku mohon, kau bisa mengabulkannya.
Semoga Tuhan selalu memberikan kebahagian untukmu
...........................................................................
David Bharata, dia adalah seorang kakak kelas. Tepatnya seorang alumnus yang datang berkunjung untuk memberikan motivasi pada adik almamaternya. Di sebuah sekolah kejuruan, dengan bidang khusus kulinary. Di lingkungan sekolah ini, siapa yang tidak kenal dengan keluarga ketua yayasan yang juga pemilik jaringan restourant terkenal itu. Pria muda itu adalah putra bungsu mereka, dua kakaknya semua sudah sangat sukses sebagai seorang master chef di Australia dan juga di negeri ini. Kini adik bungsu yang konon katanya paling tampan ini, datang dari Jerman untuk berbagi pengalaman.
Lihatlah sepasang mata gadis remaja yang tak bisa beralih dari semua motion yang dilakukan oleh pemuda David itu. Sepertinya ia tidak hanya tertarik dengan flambe yang memercik di pinggiran wajan, atau betapa indahnya gerakan meliuk pemuda itu saat mencincang dan membaurkan aneka bahan masakan. Tapi juga pada senyuman dari wajah tampan yang sangat mempesona itu.
Sekilas wajah tampan penuh senyuman ramah itu, seperti mengerlingkan bintang dari sudut mata yang mempesoan itu. Membuat Hanin remaja yang baru akan beranjak dewasa itu tersipu. Bahkan ketika di akhir acara, saat ia bertugas membereskan semua peralatan yang baru saja di pakai pria muda, ia masih tersipu-sipu malu.
Kesal sekali rasanya, harus jadi yang piket hari ini. Sementara semua teman-teamannya, terutama yang wanita sudah sibuk mengejar-ngejar si koki tampan itu untuk bisa berfoto bersama. Ia masih berkutat dengan semua peralatan kotor ini. Ya.... sudahlah, terima saja Hanin.
Hingga saat ia selesai merapikan semuanya, mengepel lantai, ketika ia melepaskan celemek dan kemudia melipatnya perlahan. Sepasang telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat. Ah, itu pasti si Puti, hari ini mereka sudah sepakat akan nonton sepulang sekolah.
" Masih inget lo' ... kirain udah mengejar si mas itu ke ujung dunia, dan tidak menyisakan untukku sedikit pun ". Seloroh Hanin denga nada kesal, tanpa menoleh sedikit pun. Tetap sibuk merapikan celemeknya dan memasukan ke dalam tas punggung.
__ADS_1
" Ehm .. ", suara berdehem' dan itu pasti bukan suara Puti teman sebangkunya. Lalu ia menoleh cepat, dan nyaris terlonjak tak percaya.
" Hai ... maaf membuat mu merapikannya sendiri ". Dia si David yang tampan itu berdiri dengan senyuman terindah yang pernah dilihatnya. Membuat hati seorang Hanin Hanania melayang dianatara mega-mega.