PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Envolved & Entangled (6)


__ADS_3

Siang itu di salah satu bagian mewah sebuah bandara, yang menawarkan ruang nyaman untuk para calon penumpang yang sedang menunggu waktu penerbangan mereka. Ardelia menatap sambil sesekali bersembunyi di balik halaman sebuah majalah pariwisata berbahasa asing, sosok pria muda yang cukup menyita beberapa perhatian beberapa orang calon penumpang lain, yang bejenis kelamin wanita tentunya. Sepertinya ada campuran khusus saat penciptaan pria muda itu, sehingga ia memiliki daya pikat luar biasa. Sudah keren dari lahir.... mungkin begitu istilahnya.


' Raka itu adalah pria yang sangat gentle sebenarnya, dahulu.... pun begitu. Lalu bagaimana dia bisa berubah menjadi seorang pemain wanita ? '.


Selama ini dirinya hanya mencoba menebak dan menganalisa semua peristiwa yang mungkin ada kaitannya dengan pribadi Raka saat ini. Tapi sama sekali tidak berani mengklarifikasi kebenaran seluruh hipotesis nya. Ada banyak hal yang begitu mirip antara mereka berdua, yaitu lebih sering memilih diam dan menyelesaikan semuanya sendiri. Sehingga sedikit banyak membuat dirinya memahami bagaimana seorang Raka sebenarnya.


' Risau dengan predikat playboy sang Raka ?. Fifty-Fifty..... sebagai seorang wanita tentu saja, tapi .... hei' !!!! tunggu...... kau mulai mencemaskan keadaan itu?. Apakah ini artinya kau sudah bertekuk lutut pada sang Raka mu itu ?. Apakah kekonyolan mu semalam yang berbuah sikap impulsif paling berbahaya tadi malam juga merupakan bagian dari semua ini ? '.


Ardelia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Tapi racaun suara yang berdengung-dengung di dalam pikirannya malah semakin terdengar seperti mencecarnya tanpa jeda.


' Alasan apapun yang kau gunakan, kau sudah sangat konyol dan bodoh !!!. Bagaimana seandainya Raka benar-benar menuruti sikap gila mu yang menghidangkan diri sendiri semalam ? Bagaimana jika kemudian kamu hamil ?, padahal kau akan segera menikah dengan orang lain '.


' Hei..... tunggu dulu, menikah dengan orang yang sangat kau benci, dan kau menyerahkan dirimu pada yang kau cinta. Setidak-tidaknya .... kau merasakan dan melakukan yang pertama itu dengan pria yang kau cintai. Lalu apa salahnya ?... toh pria yang akan kau nikahi nanti juga termasuk jenis pria brengsek yang juga telah andil menyuramkan masa lalu juga masa depan mu. Menyedihkan ...... '.


" Kenapa ? .... masih pusing ? ".


" Ah .... ", Ardelia terpekik. Raka sudah berdiri dihadapannya kembali dengan dua cup minuman hangat dan satu piring sekali pakai siomay Bandung yang masih mengepulkan asap tipis dengan aroma saos kacang dan ikan yang menggoda. " Kau mengagetkan ku ".


" Sebegitunya ? Rileks saja... capuccino dulu, siomaynya juga kelihatan enak. Kalau kurang nanti aku ambil kan lagi ".


Ardelia menerima satu cup capuccino, sementara Raka segera duduk meyebelahinya.


" Enak .... nih cobain ".


Ia termangu sesaat menatap bagaimana siomay itu dalam tusukan garpu itu mendekat ke arahnya. Raka menggoyangkan perlahan, dengan senyuman yang manis tidak dibuat-buat. Membuat dirinya kemudian membuka mulut, dan... hap!!!! menghilangkan makanan yang berbahan dasar kanji itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan-lahan dan menikmati rasa gurih, beraroma ikan serta daun bawang, yang dipadu dengan pedas manis saos kacang. Baru saja ia menelannya, Raka sudah kembali menyodorkan camilan itu dengan wajah sumringah.


" Aku bisa makan ... sen - di - ri".


" Bawel!!!... tinggal hap saja apa susahnya ".


Ardelia dengan ekspresi campur aduk akhirnya kembali menerima suapan itu. Kali ini dia memilih untuk mengunyahnya perlahan-lahan.


" Aku sampai Selasa di Jakarta. Rabu pagi langsung balik lagi, lalu ambil longsift tiga hari berturut-turut. Kamu harus janji pada ku ...".


" Apa ? ".


" Tunggu aku satu Minggu lagi, jangan putuskan apapun dengan gegabah. Apalagi soal pernikahan itu... ".


Raka menuturkannya dengan sangat tegas. Seperti sebuah ultimatum yang disampaikan tanpa mengenal kompromi. Membuat Ardelia terperangah dan menatap wajah pria itu dengan pandangan bingung, sekaligus tak percaya.


" Karena kau hanya boleh menikah dengan ku ". Raka balas menatap Ardelia, dan kesungguhan pria itu langsung menjalar, merambat dan menembus ke dalam hati Aredelia yang masih terkesima.


" Ehm !!!... ", Raka berdehem kecil, tiba-tiba saja ada semburat merah terbias di wajahnya. " Kau ... tidak mungkin senekat semalam, jika bukan karena pernikahan paksa itu ".


Mengingat sebingkai pemandangan indah yang membuat jakunnya naik-turun karena dengan susah payah menelan ludah, tentu saja karena jiwa seorang prianya bergelora dan menggelegak. Jika biasanya para wanita itu begitu bersusah payah membuat hasratnya terpancing muncul, seorang Ardelia hanya cukup melepaskan kaitan jubah handuknya saja. Bahkan sebenarnya gadis itu belum benar-benar memperlihatkan seluruh tubuhnya. Tapi semua itu cukup membuat Raka blingsatan.


" Bi-bisa tidak membicarakannya dulu !!". Seperti sebuah permintaan yang memaksa didera dengan rasa gugup, Ardelia menjadi salah tingkah.


Dengan satu gerakan cepat, siomay yang tadi setengah ditolaknya, kini disambar tanpa permisi. Lalu memasukkan potongan kentang rebus yang berlumur saus kacang itu kedalam mulutnya. Bukan karena dia pecinta kentang, tapi karena potongannya yang termudah diambil dengan cepat menggunakan garpu.


" Maaf.... ini, aku akan ambil lagi ". Raka


tersenyum sambil menyerahkan piring sekali pakai yang masih berisi setengah lebih porsi siomay itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu komentar balasan Ardelia, pria itu bergegas menuju Snack bar memang menjadi salah satu fasilitas Concordia excutive lounge di bandara kota gudeg ini. Sebenarnya memberikan kesempatan untuk Ardelia meredam rasa malunya dan juga meredam dirinya sendiri untuk lebih terkendali.


Ah Raka.... sesulit itu ya ?.


Sebuah kehebohan besar telah dihembuskannya pagi tadi. Kini keluarga besarnya sedang menunggu di Ibukota. Raka tersenyum ironis, menertawakan dirinya sendiri.


' Maaf .... tidak ada ide cemerlang lain yang terlintas dipikiran ku ', bisik Raka seolah menguatkan dirinya sendiri untuk terus melanjutkan rencananya.


....................


Rencana istirahat dan tidur siang sedikit lebih lama itu menjadi gagal total, ketika sebuah kehebohan terjadi. Semuanya bersumber dari telepon sang mama yang ternyata bersambung dengan permohonan dari sang Tante yang gegap gempita. Belumlah lagi Kirana benar-benar sepenuhnya kembali pulih dari rasa lelah, penat dan kantuk yang bergelayut, tapi sederetan permintaan panjang Tante Hana benar-benar hanya membuatnya terlongo seperti orang yang kehilangan kemampuan berpikirnya. Unbelievable' ....


" Iya..., jadi tante benar-benar minta tolong ya Rana. Malam ini pak Rayhan dan istrinya sampai di Semarang. Kamu besok pagi atau agak siang atau sorenya deh' ... jadi penjembatan keluarga kita...... ".


Sementara tante Hana masih memberikan pengarahan panjang lebarnya, tapi yang mampu tercitrakan dengan baik oleh pikirannya hanya satu _ dua ..... selebihnya ... blank!!!!!. Dan kakak perempuan dari papanya itu masih saja melanjutkan instruksi yang sambung menyambung tanpa memberi kesempatan untuk menjeda. Akhirnya Kirana memilih untuk mendengarkan sambil pura-pura meng-iya 'kan saja. Tapi kepalanya berdenyut-denyut pening.


Pusing dengan kenyataan yang harus dihadapi. Jelas-jelas Tante Hana begitu bersemangat menyatukan putri sulungnya dengan pak Syailendra. Sementara pria itu sendiri .....


Ha... ha... ha... begitu ya ... mungkin ? . Apakah sepupu mu itu menyukai ku ? ". Tawa lepas pak Syailendra itu tidak menyiratkan sebuah candaan.


" Bukankah dia sangat mencintai pria lain ? ". Lalu pertanyaan ini ..... sangat meyakinkan jika sebenarnya pria ini begitu memahami tentang kakak sepupunya. Bahkan melampaui pemahaman yang dimilikinya.


" Benarkah ? ... aku .. aku tidak tahu. Mba Cinta sangat tertutup dan .... tidak pernah terlihat dekat dengan pria manapun ". Dan dirinya yang masih sedikit syok, mulai mencecar Syailendra.


" Bisa kau ceritakan padaku pak ? ... bagaimana kau mengetahuinya ? ".


" Aku suka gaya terus terang mu 'bu dokter ... ha..ha..ha.. ". Langkah aktis nan manis yang dibuatnya justru memancing pertanyaan dari pria dewasa dengan sepasang mata yang lembut mempesona. Pertanyaan yang membuatnya menjadi sedikitsalah tingkah.


Sesat tadi dengan nyaman ia duduk samping pria boss ini. Namun ketika ia menyadari telah membuat tawa pria itu kembali pecah. Tiba-tiba saja ia merasa bodoh.


Benarkah ? .... tentu saja!. Jika tidak, bagaimana mungkin dia sekarang sesemangat ini untuk kembali menemui si pria boss yang mempesona itu.


Kirana, jika tadi ia sempat didera rasa bingung yang sempat membuat keningnya terserang pening. Sekarang ia bahkan sudah bisa mulai sedikit tersenyum saat teringat bagaimana pria itu memintanya memanggil 'mas'..... heem, memang terdengar lebih nyaman di kuping.


" Okay... tapi jangan panggil aku pak. Umurku memang lebih tua dari Namu kakakmu. Tapi... lebih nyaman jika kau panggil aku ... Mas atau Abang ... rasanya seperti mempunyai seorang adik perempuan sendiri ".


" Mba Cinta... bagaimana dia memanggil mu?".


" Mas Alend ... sama seperti banyak orang memanggil ku. Rana ? begitu bukan ... ".


Dan Kirana menikmati setiap pria boss itu bertutur kata. Suaranya seperti alunan nada yang menenangkan, apalagi saat tersenyum.... bukankah garis wajah itu semakin terlihat sempurna. Pria dewasa yang tampan dan menyenangkan. Bagaimana mungkin para bisa tidak jatuh hati padanya. Tentu saja tidak berlaku untuk kakak sepupunya, karena mba Cinta telah mempunyai pria tambatan hati. Tapi ......


" Selamat siang mba.... Eh, ini Bu dokter yang tadi malam ya. Mari silahkan ... ".


" Terimakasih pak ".


Kirana tersadar, terbangun dari perenungan panjangnya yang tanpa sadar telah kembali mengantarkan kembali pada rumah ini. Rencana awalnya, tepat seperti perjanjian semula, sore hari. Tapi desakan dan telepon maut dari Tante Hana nya yang kini sedang heboh tak karuan, akhirnya menjadi tiga jam lebih awal dari jadwal yang sudah disepakatinya.


" Loh ... mba Rana? .... ".


" Iya mas Yudi... maaf, sore nanti saya ada kepentingan lain, jadi saya majukan jam ketemuannya ", sambar Kirana cepat saat si mas asisten pria boss itu terlongo menyambutnya.


" Ah ... ya... ya... nggak apa-apa. Mari saya antar, pak Alend baru saja selesai makan siang ".

__ADS_1


Lalu Kirana pun mengikuti langkah Yudi, yang membawanya kembali ke lantai dua rumah itu. Menuju sebuah kamar yang sam persis seperti semalam. Saat Yudi mengetuk pintu itu, beberapa saat kemudian terdengar sebuah suara sahutan dari dalam.


" Ya ... masuk ", terdengar cukup keras dan jelas, membuat Yudi dan Kirana yakin jika itu jawaban untuk mereka.


Ketika pintu berbahan kayu jati premium itu terbuka perlahan, nampak seorang pria tengah berdiri membelakangi arah datangnya Yudi dan Kirana. Berdiri di seberang ruangan, berbicara dengan cukup keras melalui telepon seluler nya, sehingga Kirana bisa mendengar jelas.


" Nanti aku telpon lagi... biarkan aku berfikir dulu .......".


" Maaf ... ", sergah Kirana saat pria boss itu membalikkan badan dan segera menampakkan raut wajah yang penuh keterkejutan.


" Hai ... kau rupanya Bu... 'eh, adik manis ... ", dan pria boss itupun tertawa lebar menyambut kehadiran Kirana.


Sementara Kirana, entah mengapa ia menjadi merasakan oksigen ditempat itu mulai menipis. Sehingga ia harus menarik nafas dengan metode khusus agar tetap bisa memenuhi seluruh alveoli pada paru-parunya dengan udara segar.


Dug dug ... dug dug ... dug dug ... dan irama itu entah mengapa menjaga sedikit lebih cepat dari biasanya. Apakah mungkin karena pria yang bertelanjang dada itu begitu mempesona ?. Tepatnya seksi 'Rana..... kau ini !!! jujur saja... toh hanya hatimu sendiri yang tahu apa yang sedang kau pikirkan.


" Lebih cepat dari yang kau janjikan ... apa sudah mendengar berita besar itu ? ". Masih sambil menenteng sebuah batang besi serupa tongkat yang dijadikan sebagai gantungan untuk infus, Syailendra kini mendekat.


Saat itulah Kirana yang tadi sempat terlarut dengan pertikaian dua sisi jiwanya, kini baru menyadari jika pria boss ini nampak sedikit kerepotan dengan atribut pengobatannya.


" Kebetulan sekali .... aku juga mulai sangat jenuh jika harus diikat seperti ini terus. Walaupun belum habis .... boleh dilepas saja? ". Syailendra melirik botol bening yang masih berisi cairan kurang dari seperlima volume wadahnya.


" Tentu saja ... ". Tanpa menunggu lagi, Kirana pun menyetujuinya.


Kirana sibuk membuka tas yang dibawanya, mengeluarkan kapas lengkap dengan cairan antiseptik dalam botol kecil beserta plester ber-antiseptik. Sementara Syailendra kini sudah memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang.


Kemudian semua itu berlangsung begitu cepat, Kirana membuka plester-plester berwarna putih yang terbuat dari bahan lembut berbentuk seperti jaring-jaring rapat yang halus. Melepaskan benda yang digunakan untuk menahan selang infus beserta pipa kecil yang kini masih menyatu dengan pembuluh dasar pria boss itu. Setelah berhasil melepaskan seluruh perangkat medis yang berfungsi untuk menyalurkan tambahan cairan secara langsung pada sirkulasi darah itu, kini Kirana menutup bekas luka kecil yang ditinggalkan dari proses itu.


" Sudah merasa lebih baikan ? ", tanya Kirana mencoba membuka pembicaraan. Hal standar yang ditanyakan seorang dokter pada pasien yang baru saja selesai menjalani perawatan.


" Waaah... yang mana nih ", tapi pria boss itu terlihat tertawa kecil menggoda. " Sepertinya ada tiga hal yang menghantam ku dari malam hingga pagi ini ... ha.. ha.. ha.. ".


" Tentu saja pengaruh afrodisiak itu. Untuk luka ini ... ", Kirana menunjuk perut sebelah kanan yang masih diperban, " ... tentu saja belum baik-baik saja ".


" Untuk .... hantaman meteor pagi ini ?, kau tidak menanyakannya ? ".


" Sepertinya mas Alend memang punya kesamaan sifat dengan kakak-kakak ganteng ku ....".


" Oh ya ? ... benarkah? ... apa itu ? ".


" Mas .... belum jawab pertanyaan ku. Adil gitu .... aku harus menjawab tiga pertanyaan mu sekaligus ? ".


Meledaklah tawa seorang pria boss yang kini mulai terbiasa dipanggil mas Alend oleh Kirana. Kirana yang masih sibuk membersihkan sisa peralatan yang digunakan, tampak cuek. Tapi sejujurnya ia hanya berusaha menghindar dari pemandangan paling mendebarkan selama hidupnya.


" Oke ....oke.... aku lebih baik, dan efek afrodisiak itu sudah seratus persen musnah, berkat bantuan mu. Terimakasih ya ... ".


" Heeem .... ".


" Rana... bisa kita bicara disini saja ? ... kau tidak keberatan ? ".


Padahal Kirana berusaha mati-matian untuk menghindar dengan melangkah keluar menunju pintu. Tapi permintaan itu menghentikan langkahnya dan mau tak mau menghadapkannya kembali dengan keindahan menghanyutkan sepanjang masa.


Please Rana..... ini bukan pertama kalinya kamu melihat pria bertelanjang dada bukan?. Duo kakak tampan mu itu malah lebih heboh lagi, berkeliaran mempertontonkan bongkahan otot nan seksi di dada, perut dan juga bahkan paha mereka. Seharusnya kamu tidak perlu tersipu seperti ini.

__ADS_1


Kirana lagi-lagi mulai berdebat dengan dirinya sendiri. Tapi pria itu malah melangkah melewatinya dan menutup pintu kamar. Padahal itu adalah ventilasi terakhir bagi perasaan normal seorang Kirana. Lalu ?


Bagaimana aku harus bernafas ????? .... jangan sampai dia mendengar degup jantungku yang berdentam-dentam ini.


__ADS_2