
Menembus pagi buta yang berkabut, walaupun tanpa hujan seperti malam-malam yang telah lalu. Hanin segera melompat turun dari bus terpagi yang ditumpanginya. Kemudian bergegas menuju arah belakang Fehlchlagen Cafe, dan masuk melalui sana. Dua orang asisten koki yang piket hari itu nampak sedikit kaget demi melihat dia datang.
" Aku pinjam dapur sebentar ya ", ucapnya sambil tersenyum manis pada dua orang pria muda itu.
" Ku pikir kami salah hari ", ujar salah seorang diantara mereka.
Hanin tertawa sambil mengibaskan tangannya perlahan. Ia pun segera menuju ke dapur dan berkutat dengan aneka bahan. Mulai dari mengeluarkan dari penyimpanan, menakarnya satu persatu hingga kemudian membuat adonan. Empat ratus lima puluh gram tepung terigu protein tinggi, dua sendok teh ragi aktif, serta seratus delapan puluh mili liter air hangat. Dengan bantuan mesin pengaduk pembuat dugh yang mempunyai ujung pengait seperti tangan bajak laut Mr. Hock, ia mulai membuat adonan.
Sesekali ia melirik jam dinding, memastikan time management _nya tidak meleset. Dengan cekatan sambil menunggu waktu istirahat untuk dough _nya berakhir, ia mulai memutilasi dengan manis roti Prancis yang menggemaskan itu. Menyapu permukaannya dengan butter yang sudah dicampurnya dengan garlic bubuk serta sedikit si manis harum daun tarragon. Menatanya dengan rapi di atas loyang, lalu memanggangnya dengan api kecil.
Kemudian beralih pada dough yang sudah cukup beristirahat. Lalu mulai membagi nya dalam enam bulatan sama besar. Kemudian membentuknya serupa pipa panjang, lalu memintalnya dalam dua lilitan. Sempurna, Hanin tersenyum menatap bretzel pertama buatannya. Tapi sejurus kemudian ia terlonjak karena mengingat sesuatu.
Badan mungilnya bergerak cepat, meraih wajan datar lalu mengisi dengan air. Menambahkan dua sendok teh baking soda serta satu sendok garam. Lalu mulai merebusnya. Sementara menunggu rebusannya mendidih, ia pun melanjutkan memilih dear bretzel-nya.
" Bretzel Chef ? ... kau lupa jika ada pesanan khusus ? ", salah satu pemuda asistennya bertanya.
" Ah tidak .... hanya ingin memberi hadiah pada seorang teman ".
" Oh ... butuh bantuan ku ? ".
" Terimakasih Ameer ... ini sudah hampir selesai kok ", tolaknya dengan halus pada pemuda asal Iraq itu.
" Jika butuh ... jangan sungkan chef ", pemuda itu meyakinkan.
" Ah iya .... ", sepertinya Hanin teringat sesuatu. " Bisa bantu buatkan minuman panas yang cocok untuk garlic bread dan bretzel ku ?. Tapi bukan Kopi.... ".
" Bagaimana jika susu ? ", Ameer menawarkan.
" Ehm.... kurasa... tidak. Ini untuk pria dewasa ... yang lebih memilih air putih hangat ... ada saran ? ".
Ameer nampak mengerutkan keningnya. Seperti nya pria ini benar-benar memikirkan sesuatu yang harus pas untuk menemani hidangan sarapan yang dibuat oleh head chef nya kali ini.
" Bagaimana dengan black Tea dengan sedikit madu dan irisan lemon segar ? ", akhirnya Ameer menawarkan.
" Aha.... nice!. Bisa buatkan untuk ku satu cup besar, please ? ".
" Untuk mu ? ... sekarang ? ", pertegas Ameer.
" Untuk kawanku yang akan berangkat ke Heidelberg...satu jam lagi ya. Biar masih panas dan segar ".
" Siap chef.... dengan senang' hati ".
" Terimakasih banyak Ameer ".
Pemuda yang umurnya hanya terpaut satu tahun lebih muda darinya pun nampak tersenyum senang seperti dirinya kini. Ah ... membayangkan aroma black Tea dengan lemon segar, terasa semangatnya seperti telah terisi penuh.
Tapi ternyata tidak sampai lima belas menit, Ameer telah datang kembali. Tepat di saat ia baru mengangkat bretzel terakhir dari rebusan air soda dan garam. Wangi black Tea itu membuat hidungnya kembang kempis penuh semangat.
" Ini untuk mu chef. Yang untuk temanmu segera kusimpan di jar awet panas. Lemonnya ku peras, biar tidak timbul rasa pahit ". Kata pemuda itu sambil meletakkan secangkir teh dengan irisan lemon diatasnya.
" Terimakasih Ameer... kamu baik sekali ".
" Black Tea, teh dengan proses oksidasi paling banyak, sehingga menciptakan theine yang lebih kuat sehingga akan membuat orang yang meminumnya akan lebih melek. Teh dapat memompa energi untuk bersiap beraktivitas seharian ".
" Benar ... tepat... kau pintar sekali ", puji Hanin sambil menyempatkan meyeruput cairan berwarna coklat keemasan itu.
" Hei.... kau yang mengajariku chef. Apakah kau lupa ? ".
__ADS_1
" Hah ?! ... benarkah. Ha... ha... ha... aku benar-benar lupa kalau pernah mengajarimu hal itu ".
" Herba Filosofi ... aku mencatat nya chef ... baik-baik di kepala ku ".
Hanin mengacaukan kedua ibu jarinya. Ameer gantian tertawa lalu pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah sebelumnya meletakkan satu jar panas bervolume mungkin sekitar tigaratus mililiter berwarna merah mengkilap, di meja dekat sebuah wadah cantik yang akan digunakan sebagai tempat aneka roti yang sedang di buatnya.
Aroma garlic yang gurih kini berkawan dengan aroma butter serta wangi manisnya kayu manis. Hanin sengaja membuat beberapa variasi untuk bretzel nya. Selain original dengan olesan kuning telur dan taburan sea salt, ia juga menaburkan biji wijen diatas sapuan butter, Keju ricotta, dan juga cream coklat. Karena ia tidak tahu mana yang akan disukai pria itu.
..................
Jam enam pagi lewat lima belas menit waktu Berlin, Haidar ke luar dari kamarnya. Mengenakan mantel berwarna cokelat dengan rambut disisir ala kadarnya. Tapi dia terlihat lebih tampan karena sedikit berantakannya si rambut. Berdiri termangu sesaat ketika sudah tepat di depan pintu kamar sebelah. Ia ragu, apakah harus berpamitan dahulu... atau tidak.
" Haid ... ", terdengar suara Sabrina dari ujung tangga. " Taksimu sudah menunggu... maaf ya, belum ada sarapan. Kalau hari Minggu begini Bu Karti libur ".
" Nggak apa-apa mba ... nanti aku sarapan di kereta ".
" Tadinya mau minta tolong Hanin, tapi rupanya dia sudah berangkat ke cafenya sejak subuh tadi. Seperti nya ada yang penting ".
" Oh ... ", dan Haidar hanya melongo. Seperti kehilangan dua dari sepuluh nyawanya, ia terbengong dengan wajah setengah pucat.
" Minggu depan kau pulang kemari lagi 'kan ? ", kembali Sabrina bertanya . " Hei .... Haid.... Haidar ... ".
" Eh .. oh.. belum tau' mba, kita liat saja nanti ". Haidar setengah tergeraga, sementara Sabrina hanya tersenyum-senyum melihatnya.
" Berangkatlah ... hati-hati ya. I'll be your side, whatever you need ...".
Dan pelukan hangat dari kakak yang baik itu membuat Haidar tersadar sepenuhnya dari kelinglungan. Ia membalas dengan hangat.
" Pamitkan pada mas Dubes tersayang ya. Dan.... aku menunggu cerita selengkapnya tentang Nania.... Hanin maksud ku ".
" Haidar.... jika memang kau tulus dan dia adalah jodoh mu.... hatimu akan menuntun. Begitu juga dengan alam yang akan selalu memberi pertanda untuk mu ".
Dan Haidar pun kemudian berlalu dengan menumpang sebuah taksi. Melambaikan tangan pada Sabrina yang mengantarkan hingga pintu gerbang. Hatinya yang tadi sempat menciut karena sedikit kecewa, kini seolah merekah kembali. Kata-kata Sabrina memicu kembali gairah hidupnya. Terimakasih kakak..... bisiknya perlahan.
Tidak seperti hari kerja, suasana jalan kota Berlin sedikit lebih lengang. Mungkin karena waktu juga masih sangat pagi. Perjalanan Haidar begitu lancar tiba di stasiun kereta. Hanya butuh waktu tidak sampai dua puluh menit. Itu artinya masih ada lebih dari dua puluh menit lagi sampai waktu kereta berangkat.
" .... dia sudah berangkat ke cafenya sejak subuh tadi. Seperti nya ada yang penting ". Haidar teringat ucapan Sabrina.
Lalu koordinasi hati dan otaknya pun membawa sepasang kaki yang panjang itu menapaki kembali jalan menuju Fehlchlagen Cafe. Tempat yang nyaman dan hangat, dan lebih dari itu, disana ada Nania_nya. Tapi kemudian dia termenung kecewa.
Pintu yg terbuat dari kayu dengan aksen batu bata di pinggirannya, masih tertutup rapat. Dinding full glass yang seharusnya bisa menembuskan pandangannya, masih tertutup rapat boleh gorden warna maroon yang senada dengan batu bata dan pintu kayu. Tidak nampak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Tapi sepertinya memang belum waktunya toko dan kedai yang ada di area itu untuk buka, masih terlalu pagi. Hanya ada minimarket dengan branded huruf 'C' dan 'K' mencolok yang sudah buka. Lalu Haidar memutuskan untuk kembali pada tujuan utamanya. Dan ini untuk kedua kalinya dia dilanda kecewa, sepagi ini.
............
Berlin Hauptbanhof Station, sebuah stasiun kereta api utama dengan desain modern. Terbuat dengan sebagian besar material baja dan kaca tebal, sehingga menghemat biaya untuk pencahayaan. Di hari Minggu pagi sudah mulai terlihat ramai. Orang-orang yang berlalu lalang, bahkan ada juga anak-anak kecil yang berlarian di sepanjang Selasar menuju pintu masuk. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang akan bepergian beserta anggota keluarga yang mengantar.
Gadis ayu itu masih berdiri dengan gelisah, ia berkali-kali menjulurkan lehernya. Saat sepasang matanya tidak menemukan apa yang dicarinya ia mendesah dengan kesal. Bodoh!... dasar kau bodoh... kenapa tidak meminta nomor teleponnya saja.
Lalu tiba-tiba .... terdengar dering yang sudah sangat dikenal Indra pendengarnya. Sebuah nomor asing. Ah... siap sih ? tidak tahu apa sedang kacau begini, makinya sendiri. Dan ia benar-benar tidak mau menjawab panggilan itu.
Sementara itu di sana, masih di luar bangunan megah yang nampak benderang oleh pantulan kacanya sendiri. Tampak Haidar meminang-nimang kembali telepon selularnya. Ia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu hal yang sangat berat. Bahkan ia kembali menghentikan langkahnya.
' Dia pasti sedang sibuk hingga tak bisa menerima telepon ku. Sebaiknya ku tinggalkan pesan saja '.
_Nania ini aku, Haidar. Sampai ketemu lagi ya. Tolong simpan nomor ku. Mungkin aku akan menelpon mu kapan-kapan._
__ADS_1
Dan Haidar pun kembali memutuskan untuk menekan tombol dial sekali lagi. Ia tersenyum kecut dan kembali menghentikan panggilannya saat tiga kali dering itu berlalu tanpa jawaban. Dengan senyum kecut ia pun melangkah masuk menuju pintu masuk Berlin Hauptbanhof Station.
Sementara itu gadis ayu itu menjadi semakin kesal dan gelisah, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Itu artinya dia sudah tiga puluh menit menunggu di sini dan dua puluh empat menit lagi kereta menuju Heidelberg akan berangkat. Dan ia semakin kacau saat teleponnya kembali meraung dan menggeletar meminta perhatian.
Siapa sih sebenarnya... makinya kembali, tapi saat ia sudah memutuskan untuk menjawab, panggilan itu justru terhenti. Tapi kemudian notifikasi pesan masuk terdengar. Ia pun segera membuka pesan baru dari nomer asing yang berulangkali menelponnya.
" Astaghfirullah .... ". Sepasang mata bulatnya melebar sempurna. Kini ia dengan gugup menelpon kembali si penelepon yang dengan sengaja diabaikannya tadi.
" Ha-halo .... mas .. ".
" Halo Nania, maaf ... aku menganggmu ya ? ", suara berat itu terdengar diseberang sana.
" Kau dimana mas? ... aku menunggumu sejak tadi ... kau ..... ".
Dialah Hanin Hanania yang dengan satu tangan menjinjing kantung tempat sekotak sarapan dan setermos teh hangat tersimpan. Sementara satu tangan lagi memegang telepon seluler yang kini didekatkan ditelinga. Tapi tiba-tiba dia terdiam, saat sepasang matanya menangkap sesosok yang sudah sejak tadi ditunggu-tunggu.
Sementara Haidar merasakan jarak itu sungguh menyesakkan. Gadis di depan sana, betapa ingin ia berlari segera. Si cantik sebening mutiara itu sedang menunggunya, dengan raut wajah dan senyuman yang menyiratkan kelegaan. Tentu saja tak bisa membantu Haidar mengekang senyumannya sendiri.
" Kau menungguku ? ", sapanya dengan bahagia yang tak tersembunyikan lagi.
" He'eh ... ". Nania-nya mengangguk, sungguh sangat menggemaskan. " Mau kasih ini untuk mas.... terimakasih sudah bawain oleh-oleh dari ibuku ".
" Apa ini ? ", tanya Haidar dengan antusias.
" Sarapan .... eum... terimakasih sudah mengobati jariku ".
Ya Tuhan .... kenapa dia begitu manis. Jadi dia menghilang sejak subuh demi membuat sarapan untuk ku ?.
Haidar merasakan hatinya melompat-lompst girang, begitu juga dengan jantungnya. Ia juga tidak dapat menahan binaran di matanya yang terus membuat senyuman dibibir nya tak berhenti merekah.
" Kamu .... ah, kamu pasti repot ya. Terimakasih banyak .... terimakasih .... aku suka sekali ".
Hanin tertawa lebar, sambil mengulurkan kantong kertas itu. Yang langsung diterima dengan semangat oleh Haidar.
" Ku tukar tiket dulu... bisa tunggu sebentar ? ".
Hanin mengangguk, dan membiarkan pria itu berlalu dengan tergesa menuju sebuah mesin. Sesekali pria itu menoleh dan tersenyum hangat padanya. Ah .... kakak yang baik dan tampan, begitu batinnya. Dan iapun berkali-kali membalas senyuman yang dilemparkan pria itu padanya.
Sementara Haidar yang sedang berbunga-bunga merasakan semua kecanggihan teknologi ini tidak ada yang mendukung keinginannya untuk segera bisa melesat kesamping Nania-nya lagi. Semua terasa lambat..... ugh. Tapi akhirnya ia bisa kembali mendekati Nania.
" Ini wangi... heeem gurih, apa isinya ? ".
" Nanti liat aja sendiri pas sudah di kereta. Ada minumnya juga kok ".
" Pasti enak nih ..... terimakasih banyak ya ".
Nania mengangguk sambil tersipu-sipu. Karena Haidar membelai-belai puncak kepalanya. Ia merasa seperti menjadi seekor anak anjing. Seperti sedang bermanja dengan tuannya. Bahkan jemari yang panjang dan besar itu kini kembali menyusuri pipinya, lalu menyelipkan anak rambut yang nakal untuk kembali tersimpan rapi di belakang telinga.
Lalu datanglah dua orang anak berusia delapan dan sepuluh tahun yang berlarian dengan gembira. Tak memperdulikan suasana yang mulai ramai. Membuat salah satu diantaranya terselip langkah nya. Lalu tubuh yang limbung itu tak terkendali dan meluncur deras pada Hanin. Menabrak tubuh bagian belakang dengan cukup keras dan membuat Hanin terdorong.
Energi tumbukan yang tidak sepadan itu tentu membuat energi minor mengikuti arah energi mayor, dan membuat Hanin tersurug tak tertahan ke depan. Tapi satu lengan yang kekar itu dengan sigap menjaganya. Bahkan dada yang bidang itu juga menahannya. Dan Hanin Hanania, kini sepenuhnya berada dalam rengkuhan Haidar.
" Ma-maaf nona... maaf tuan ", pinta kedua bocah itu sambil kembali berlari menjauh.
Haidar mengangguk, tapi hatinya sangat berterima kasih pada dua malaikat kecil itu. Berkat merekalah, ia bisa merasakan wangi segar yang lembut dari rambut Nania-nya. Bahkan juga bisa merasakan kehangatan tubuh yang mungil itu. Kenapa terasa pas sekali di lengan, dan juga di dadanya. Dan naluri lelakinya meminta untuk mengeratkan pelukan itu.
" Aku berangkat ya .... jangan nangis lagi. Kalau ada yang menganggu mu lagi... bilang saja. Aku akan menghajarnya ". Bisiknya dengan lembut.
__ADS_1