PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merangkai Rasa Menjembatani Cinta (2)


__ADS_3

" Aku yakin sekarang. Kau ini memang dari jenis peri bunga, atau  ...peri hutan ". Suara Ameer terdengar cempreng khas mengagetkan Hanin.


" Hah ?!!! ", tentu saja Hanin langsung mendelik tak paham begitu mendengar selorohan pemuda Turki yang manis bernama Ameer itu.


" Kiriman berkuntum-kuntum bunga mawar merah yang segar  dan mahal, setiap hari. Dan hari ini jumlahnya sudah dua  puluh enam ya... kira-kira sampai berapa ya digit finalnya  ".


Hanin masih dengan tatapan 'lol' melihat bibir Ameer yang dengan ringan dan setengah imut terus nyerocos.


" Yang satu pergi tapi masih tetep kirim-kirim bunga. Datang si masa lalu yang tetep ganteng mempesona...... eeh, ini ada lagi yang juga ikut nungguin, lumayan juga wajahnya ". Ameer masih nyerocos.


" Apa sih Meer ? ", akhirnya Hanin pun sanggup mengeluarkan kata-kata.


" Totalnya, hari ini ada tiga pria tampan yang menanyakanmu dan menunggu mu Chef. Jangan-jangan kau jelmaan Aprodhite ya chef  ? ".


" Apalagi sih Meer. Siapa ? Dave lagi ? ", Hanin mulai sedikit menangkap maksud dari Ameer.


Tadi pagi memang sang mantan berusaha keras untuk menemuinya. Setelah diwarnai dengan sedikit keributan, akhirnya Hanin menyerah dan menemui pria itu. Menatap dingin sambil bersedekap, menanyakan maksud dari pemaksaan pria itu untuk bertemu dengannya.


" Apalagi yang kau inginkan. Aku sedang bekerja, kau tahu pasti akan hal ini bukan ?".


" Maaf, aku hanya harus memastikan saja... apa alasanmu melarangku untuk menemui Sellma. Aku hanya ingin meminta maaf ".


Hanin menarik nafas panjang, ia mulai menyadari jika alasan itulah yang selalu digunakan David untuk menemuinya. Walaupun berkali-kali pria itu meyakinkannya bahwa tidak ada niatan apapun dibalik semua ini, tapi Hanin merasa jika David sedang berusaha mencari celah peluang. Pastinya untuk bisa kembali menjalin hubungan perasaan dengannya kembali.


" Baik, aku menyerah ... kita temui Sellma bersama-sama. Besok, sabtu pagi ".


Terlihat wajah pria itu menjadi cerah, senyummnya mengembang lebar. Tapi Hanin menghembuskan nafasnya kuat-kuat, seolah bentuk pelepasan dari rasa kesalnya.


" Sekarang aku akan bekerja. Tolong, kau pulanglah ... ".


" Baiklah Hanin ", David tersenyum. Saat Hanin membalikan badan dan mulai berjalan meninggalkannya, ia kembali berseru menanyakan satu hal, " Bisa aku menjemputmu sore nanti dan .... ".


" Tidak !!... terimakasih. Tidak perlu.... Sabtu pagi, itu saja ". Dan Hanin menjawab dengan cepat tanpa menoleh.


Kalau tadi pagi sudah diperlakukan seperti itu olehnya,seharusnya David tidak akan kembali lagi. Itu seandainya ia punya rasa malu. Tapi ini ?, David gitu loh .... aaah, Hanin pun menjerit dalam hati. Geram sekali rasanya pada  pria itu. Apakah memang ia tercipta sebagai sang perusak hari-harinya ?, entahlah.


" Chef... chef.. chef ... yuhuuu ". Dan Ameer pun melambai-lambaikan tangannya di hadapan Hanin yang mematung.


" Ah,ya.... iya ". Membuat chef cantik dengan baju berwarna coklat ber-apron kuning lembut secantik dirinya menjadi tergeragap.


" Tenaaang... bukan Dave lagi kali ini. Dua orang pria tampan dan satu gadis Asia Tenggara yang manis. Salah satunya adalah teman si handsome yang baru pulang ke Indo itu....  siapa itu...eh' si Key itu loh ... ".


Hanin tak menunggu lagi bagaimana pemuda imut yang juga taat beribadat itu menyelesaikan laporannya. Ia bergegas melangkah ke arah pintu keluar dari dapur. Dengan hati yang sedikit berdebar, Hanin tetap berusaha berjalan dengan tenang. Lamat-lamat ia mendengar orang-orang yang berbicara dengan bahasa yang sangat dirindukannya.


" Oh ya, waaah... dunia ini sangat sempit ya ternyata ". Itu adalah suara seorang wanita,terdengar juga tawa renyahnya.


" Iya mba, awalnya aku sempat pesimis juga dengan Haidar. He looks so cool .... ". Itu jelas suara Keanu.


" Halah !, hanya jaim' nya dokter sableng saja. Kalau sudah kumpul dengan Raka, lebih edan lagi dia ". Dan itu adalah suara pria yang sangat asing di telinganya.

__ADS_1


Di kursi paling nyaman di pojok ruangan, tiga orang nampak berbincang dengan santaidan sesekali diselingi tawa renyah. Kini Hanin bisa melihat dengan jelas, itu adalah wajah-wajah familar yang pernah dilihatnya di layar telepon seluler. Mereka pasti pasangan pengantin baru yang sedang honeymoon itu, Mas Namu dan Mba Cinta. Dua orang yang telah sangat lama tidak ditemuinya. Jadi wajarlah jika ia merasa asing sesaat tadi.


" Mba Cinta, Mas Namu ", Hanin menyapa ramah.


" Ya ampuuuun... ini si kecil itu. Aduuuuh cantik banget sih ... ". Cinta serta bangkit dan langsung memeluk Hanin. " Lama banget ya kita nggak ketemu ...".


" Dari mba Cinta berangkat ke Belanda dulu deh'kayaknya ".


" Oh ya ?, ya ampuuun....pantes deh, pangling banget aku ". Cinta tertawa sambil sedikit menjauhkan Hanin hanya untuk bisa melihat wajah putih bersinar itu dengan seksama.


"  Mba Cinta apalagi, cantiik banget ya mas Namu ?". Kali ini Hanin meminta persetujuan Namu, yang langsung diangguki oleh pria itu.


"Apa kabar Nania ?... eh itu nama panggilanmu itu'kan ".


" Boleeeh, Hanin juga nggak apa-apa kok. Pengantin baru malah yang nyamperin, mimpi apa nih aku semalam ". Hanin tertawa riang sambil duduk menyebelahi Cinta yang masih terus menatapnya dengan raut muka kagum tak tersembunyikan.


" Sumpah... cantik banget,putih banget ", gumam Cinta sambil menopang dagunya tak lepas memandangi Hanin. " Aku mau anak perempuan aja deh, yang putih kayak kamu mas. Biar cuaancuuuik ... kayak 'Na ,ya ".


Namu menatap setengah mengerucutkan bibirnya pada Cinta. Membuat istrinya itu langsung mencubit mesra dan bergelayut manja. Yaelah pengantin baru, yang lain dianggap hanya aksesories saja.


" Kayak mba Cinta dan mas Namu dong... hahaha. Btw' selamat ya atas pernikahannya. Waah... meriah sekali,sayang nggak bisa ikut hadir di sana ".


" Emang sibang Haid nggak ngajak gitu ? ". Oh Keanu, kau selalu bisa menemukan pertanyaan simalakama deh. Nggak dijawab salah, kalau dijawab akan jadi panjang ceritanya. Dan Hanin menemukan untuk tersenyum saja, with all the risks and consequences.


" Aduh eneng ...... senyumanmu menyiratkan kepedihnmu deh ". Nah, bener kan. " Emang keterlaluan itu babang Haid ya. Aku bantuin balas dendam deh, gimana ?. Sweet revenge, pastinya ". Dan Keanu pun masih menambahkan dengan kerlingan usilnya.


" Wah, jangan dong. Ya deh.. ya deh, nggak usah dibalas aja ya si bang Haid. Dikasih yang manis-manis aja ya. Eh, sudah dapat bunga belum hari ini ".


" Bang Key ah.... ", jelas Hanin berusaha mencegah ke-emberan Keanu dengan jeritan kecilnya. Ada dua orang kakak Haidar, dia tidak ingin mereka mengetahui apa yang sedang terjadi antara dia dan Haidar. Aduuuh... malunya.


Tapi sepertinya memang sudah bukan suatu rahasia lagi. Kalau melihat bagaimana ekspresi Cinta yang tersenyum-senyum simpul dan juga bagaimana tanggapan Namu sang suami, pasti pasangan  pengantin  baru itu sudah tahu semua. Tenrtunya Haidar sudah bercerita dan si hlemes bang 'Key pasti sudah menambahinya dengan aneka bumbu penyedap cerita. Hadeeeeeh .....


" Pantes ya kalau Haidar sebegitu galaunya, nggak bisa lekas balik ke Berlin ", tukas Cinta. Membuat kedua cuping  telinga Hanin melebar seketika, berusaha menyerap dengan baik semua informasi tentang si gagah itu.


Jadi sekarang sudah mengakui nih, betapa gagahnya si dagu abu-abu itu. He..he..he...


" Maaf ya Hanin, si ganteng harus menggantikan tugas kami berdua di Jakarta ", Namu pun ikut menimpali.


" Janji deh, besok pas tiba giliran kalian yang honeymoon... kita yang akan handle semua tugas itu. Iya 'kan sayang ? ", tanya Cinta sambil mengerling manja dan segera diangguki mengiyakan oleh Namu.


" Cie... cie... the next bride nih ceritanya. Nyonya Haidar soon to be .... ". Keanu bersorak bahagia.


Wahai bumi, bisakah kau menelanku saja. Sembunyikan aku di kedalaman perutmu yang tak bisa dilihat orang lain. Doa Hanin dengan penuh harap, sementara wajahnya pun merona malu semerah saga.


........................................


Dream Book itu masih teronggok di atas meja sebelah tempat tidurnya. Seolah menjerit-jerit meminta perhatian, membuat hatinya tergerak untuk memperintahakan sang jemari guna meraihnya.


Semua impian yang akan kukejar.

__ADS_1


Judul itu tercetak tebal, hasil coretan tintanya. Hanin tersenyum, perlahan menyentuh dan membelai deretan huruf yang digoreskan dengan tinta emas dan juga berpagar tinta hitam itu.


My Dream My Inspiration for the Future


Dan itu menjadi tajuk untuk deretan  foto-fotonya saat masih belajar disebuah sekolah kejuruan. Tertawa lebar penuh kebanggaan sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuat trofi. Bersama teman-teman seperjuangannya yang berbalur tepung usai meayakan kemenangan. Bergambar bersama para guru dan para instruktur yang membuat mata-mata remajanya dan juga para sahabat menjadi penuh binaran bahagia.


Ausbildung.... Berliiiiin, I'm coming...


Lalu dirinya yang terlihat paling mungil, berdiri diantara rekan-rekan pelajar magang lainnya, dari berbagai negara, dari berbagai ras dengan warna-warni kulit yang beragam. Hanya satu penampakan yang serupa, wajah serta senyum ceria penuh semangat. Itu adalah saat pertama ia tiba di negeri panser ini.


Foto-foto berikutnya menggambarkan semua kegiatannya. Ia tertawa-tawa kecil sambil terus membalik perlahan-lahan halaman demi halaman. Semua jejak langkah perjuangannya ada di sana. Sungguh tak terasa empat tahun berlalu dengan berbagai cerita. Hanin masih tersenyum-senyum melihat semua jejak kenangan itu.


Tiba-tiba ia tersentak dengan sebuah coretan angka-angka. Ia tidak suka dengan matematika, tidak suka pelajaran ilmu hitung yang sering membuat kepalanya berdenyut tak nyaman itu. Tapi kenapa ada satu rumus deret geometri yang dicoret, kemudian digantikan dengan satu deret aritmatika di buku impiannya ini ?. Aneh ....


Dia menemukan angka tertera empat ratus enam puluh lima, sebagai hasil akhir perhitungannya dari rumus jumlah suku deret aritmatika. Hanin tersenyum menyadari kekonyolannya saat itu, memalukan !!... desisnya. Padahal sebenarnya ia tidak perlu menyiksa diri dengan repot-repot mencari rumus itu. Menggunakan execl saja sudah cukup untuk menghitung jumlah keseluruhan bunga yang akan diterimanya.


Hanin terkikik geli menyadari kebodohannya dengan sok pintar. Sungguh memmalukan, untung hanya dia sendiri  tahu betapa konyol sikapknya. Tapi tunggu ......, Hanin tersentak seperti disengat sesuatu. Lalu dengan cepat membuka lembar demi lembaran yang telah dilaluinya. Seperti mencari sesuatu yang mungkin terselip atau tersembunyi dengan nyaman.


Lalu kembali dengan cepat pada halaman dimana melakukan perhitungan dengan rumus jumlah suku ke 'n' untuk deret aritmatika cintanya. Menyentuh angka empat ratus enampuluh lima dengan perasaan sedikit masygul. Lalu mendesiskan tanya pada dirinya sendiri.


' Bahkan dia tak pernah masuk dalam daftar impianku, bagaimana mungkin ?. Apakah sejak pertama aku sudah tidak yakin dengan dirinya ?. Tapi bagaimana bisa?, bukankah  telah dua tahun lebih menjalin cinta dan kebersamaan. Ada yang salah....'.


Hanin bertanya pada dirinya sendiri, lebih tepatnya mengumpulkan bukti yang berasal dari semua memory nya tentang Dave. Mencari jejak keberadaan pria itu dalam susunan komponen mimpinya. Tapi ia tak menemukan satupun. Dan ini sangat aneh.


Bandingkan dengan si pria empat ratus enam puluh lima kuntum bunga itu. Kenapa pria itu hanya membutuhkan waktu tidak sampai empat purnama saja untuk membuat dirinya ..... bahkan .... mengkalkulasi perhitungan junlah mawar-mawar yang akan diterimanya nanti. Apakah karena ia pria pertama yang menciumnya ?.


Aaahhh...... dan Hanin pun menutup wajahnya yang tiba-tiba saja merona malu.


Wanginya segar penuh kelembutan, dada yang bidang dan keras itu entah mengapa terasa sangat nyaman dan hangat. Bahkan ia nyaris tak bisa mengontrol kedua tangannya untuk tidak merayap naik dan membalas memeluk punggung itu. Ia seperti terhipnotis oleh seapsang mata kelam yang tadi menikam ke dasar hatinya.


Dan ia menjadi berniat sedikitpun untuk meronta, melepaskan diri dari pelukan hangat seorang Haidar. Walaupun ada dua suara yang saling tarik-menarik berlawanan arah atas kesadarannya. Tapi ia memutuskan untuk tetap diam dan menikmati ... wangi yang membius nalarnya, hangat yang melenakan jiwanya.


Dan irama yang teratur itu berdegup seperti gemerincing lonceng musim semi yang menangkan. Ia selalu menikmati degup jantung Haidar. Bahkan ia merasa seperti sutra tak berdaya, bersandar dengan lemah dan pasrah di dada yang bidang itu. Meletakkan pipinya begitu saja, melupakan perdebatan keras di hatinya.


Ya Tuhan. Hanin menelungkupkan wajahnya, menyembunyikan dari rasa malu yang sangat keterlaluan menghimpitnya. Ciuman pertama itu, ia mengingat setiap detailnya.


Apakah kau sudah berhasil mencuri hatiku ?


Tapi kenapa aku tidak merasa sakit ?


Padahal kau mencerabutnya dari dadaku


Bukankah aku seharusnya marah ?


Tapi kenapa aku justru merindukanmu ?


Sebenarnya kau itu siapa ?


Kenapa milyaran sel ku tak bisa melupakanmu ?

__ADS_1


__ADS_2