
Pemuda itu menundukan wajahnya, bukan berarti karena ia sama sekali tidak berani menatap wajah pria di hadapannya. Tapi ia sedang menutup seluruh celah yang mungkin akan bisa menjadi jalan masuk bagi para penelusup untuk masuk kedalam relung-relung hatinya. Kemudian satu persatu apa yang dirahasiakannya akan terkuak. Ia benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi.
Yang sedang dijalani saat ini bukanlah sebuah perang, bahakan lebih dari sekedar mempertahankan keyakinan dan menunjukan kemampuan. Bukan untuk sebuah persaingan atau menunjukkan mana yang benar, tapi mempertahankan sebuah impian.
Haidar memilih menunduk dan tidak membalas tatapan dan ucapan sang ayah. Walaupun nada yang sampai ke telinganya sangat cukup melecut rasa kesalnya karena diremehkan. Tapi Haidar muda rupanya telah melatih pengendalian diri sedemikian rupa. Hingga ia tidak terpancing dan mengikuti jiwa mudanya yang memberontak dan menggelegak.
" Kau tahu ?.... papah mu sangat menyayangi mu, tapi dengan caranya sendiri. Ia memilih menempamu dengan caranya sendiri ... karena engkau adalah putra mahkota dihatinya. Engkau harapan terbesarnya nak ". Ucapan sang mama selalu didengungkan dalam hati dan pikirannya, tentu saja agar dirinya tetap ingat tentang tujuan akhir dari semua ini. Dan juga tentang mahkota yang tersandang di atas kepalanya.
" Ini sudah memasuki tahun keempat, bulan depan masuk semester ke-7 ....kata mama mu tahap akhir pendidikan kompetensi klinik. Lalu ada co-*** .... kapan janji mu itu akan kau lunasi. Setidaknya ..... dua semester saja kau menduduki peringkat pertama. Seperti yang sudah kau janjikan ".
Mandala menatap putranya dengan tajam, sementara Orlin sang istri memegang lengannya. Wanita itu sedang memperingatkan suaminya untuk tidak terlalu keras pada sang putra. Ia memahami betul tuntutan kesempurnaan yang diminta suaminya. Tapi selama enam semester berturut-turut ada diperingkat ke-2, sedangkan Haidar sendiri harus tetap mengikuti pelajaran bisnis dari dosen-dosen khusus yang didatangkan Mandala, apakah itu belum cukup ?. Hal inilah yang selalu menjadi sebab musababnya timbul percikan setiap kali suami istri ini membahas tentang Haidar sang pewaris tahta.
" Papa tahu dua tahun masa co-*** mu itu akan sangat menyita waktu. Karenanya papa hanya meminta untuk penugasan saja tanpa tatap muka untuk pendidikan ekonomi bisnis mu. Tapi .... janji tetaplah janji nak, jika satu kali pun kau tak pernah bisa menjadi yang terbaik, maka kau harus menuruti papa mu ini ".
" Cukup dua semester saja 'kan pa ? ", Haidar mengangkat wajahnya menatap sang ayah.
Sinar mata putranya ini sungguh lembut, sama persis seperti sinar mata wanita yang sangat dicintainya. Hal inilah yang selalu membuat hati Mandala meleleh dan merasa hangat. Ia pun mengangguk dengan mantap.
" Ya nak .... cukup dua semester saja ".
" Baiklah pa' ..... aku janji ", balas Haidar dengan mantap pula.
Sebuah janji di hari itu, antara seorang putra dan ayahnya ternyata akan menjadi sebuah bagian dari suatu mata rantai sebuah peristiwa. Yang berjanji adalah seorang pria muda pada ayahnya, tapi ada seorang gadis muda yang juga ikut menerima akibatnya.
Gadis itu cantik dengan bulu mata yang lentik dan panjang, termangu dengan selembar kertas yang diterimanya. Pemberitahuan tentang nilai-nilainya di semester tujuh, walaupun nilai itu sangat memuaskan tapi dia tergeser dari gelar terbaik. Dan itu artinya, di semester sembilan dia sudah harus mulai membayar uang kuliah itu. Padahal saat itu adalah masa menjalani co-*** dan berbagai ujian kompetensi lainnya, yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
" Yulia ... ", sapa itu mengejutkannya. Pemuda itu cukup tampan bahkan sangat tampan. Seingatnya selama ini dialah yang selalu menyapanya terlebih dahulu.
" Yulia .... kamu sakit ? ".
" Ah ... ya... tidak... aku baik-baik saja kok. Selamat ya .... kamu yang terbaik ", ia pun buru-buru mengalihkan tatapan penuh tanya dari pemuda itu. Selamat ya Haidar.... "
" Terimakasih .... hanya selisih 0,47 saja. Itu pasti karena kamu sedang berbaik hati padaku ' kan ? ", Haidar mencoba melucu.
" Tentu tidak .... selama ini aku hanya sedikit beruntung saja. Kau yang sangat pandai ".
Haidar tertawa kecil membalas senyuman Yulia. " Ah kau bisa aja ".
" Heeeei....... raja baru dan calon ratunya baru janjian ya ..... ciiieeeee..... ", suara usil dengan nada menggoda terdengar menyeruak diantara kedua insan itu. Raka dengan gayanya yang cool itu datang dan menyeringai dengan usil.
" Nggak usah ngaco ah .... biang pesta ", Haidar meninju pelan lengan saudara sepupunya ini.
" Yeeee..... udah tahu ya. Nanti malam kita-kita kumpul di Sakura Kafe... ikut ya. Sekalian merayakan akhir semesteran... kan' Lo' juara satu bro ".
" Apaan sih .... nggak ada perayaan. Sadar dikit dong ... semester depan sudah mulai co-*** ... persiapkan diri untuk waktu tanpa jeda istirahat ".
" Hei bro... justru karena hal itu, kita harus memulainya dengan pesta. Besok-besok 'ksn sudah nggak bisa ", ujar Raka membela diri.
" Heiii ... nggak takut sama Omelan mama mu ? ..... secara lima besar dari bawah gitu loooh ".
" Nggak asik ah kamu Haidar saudara ku..... jangan rasis bawa-bawa golongan dong ..... kusumpahin jomblo lama lo' ya ".
Haidar tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan sepupunya ini. Yang ditertawakan justru sedang melirik Yulia yang juga sedikit tertawa.
" Eh Yul.... ikut dong .... ikut ya .... jangan kayak sepupu sableng ku ini.... ntar cepet tua loh ", Raka berbalik mengajak Yulia.
__ADS_1
" Terimakasih ... aku tidak ikut saja, mau pulang kampung. Ya .... mumpung masih sempat. Ayahku sedikit sakit dan aku mau menengoknya ", tolak Yulia dengan halus.
Haidar sedikit mengetahui asal si gadis manis ini. Rumahnya ada di sekitar lereng gunung Merapi. Orang tuanya hanya seorang pegawai negeri sipil biasa. Hanya itu yang Haidar tahu. Gadis ini mendapatkan beasiswa karena kecerdasannya, dan hal itu sudah dibuktikan oleh Haidar sendiri. Otak briliannya pun harus meningkatkan kapasitas kerja demi bisa melaju sedikit lebih tinggi dari gadis ini.
Akhirnya semester delapan pun terlewati dengan sempurna. Ditengah kesibukan masa co-***, Haidar kembali bisa menuntaskan janjinya pada sang ayah. Menjadi yang terbaik selama dua semester berturut-turut. Tentu saja ada sedikit kelegaan tentang bagaimana kelanjutan pendidikan spesialis yang terpampang didepan matanya. Hal itu pasti didapatkannya, dan iapun mulai kecanduan euforia kemenangan. Ia pun berjanji akan terus berusaha keras untuk tetap menjadi yang terbaik.
Tapi pada suatu malam, ia pun mengetahui sesuatu yang sangat mencabik hatinya yang lembut. Semua berawal dari percakapan beberapa orang teman co-*** yang kebetulan akan digantikannya untuk jaga malam itu.
" Kau pikir Yulia itu mau jadi kacungnya Wisya and the gank itu karena apa ? .... tentu saja karena imbalan uang. Bukan karena dia jatuh cinta setengah mati sama si playboy itu ".
" Kasihan ya dia ... badannya sampai kurus begitu, hampir tidak pernah istirahat dia. Begadang mengerjakan laporannya sendiri, laporan Wisya juga.... puasa Senin Kamis juga ..., habis tuh badan ".
" Apa kita laporkan saja ya sama dokter pembimbing ... ".
" Eh jangan ... kasihan Yulia.... itu pemasukan buat dia. Apalagi ayahnya butuh biaya untuk berobat, dan dia semester sembilan nanti sudah harus bayar loh... dan lagi, walaupun sesibuk apapun, dia nggak pernah lalai dengan tugasnya ".
" Iya.. iya... kita bisa apa ?".
Percakapan gadis-gadis dokter muda itu benar-benar membuat mata hati seorang Haidar terbuka lebar. Menyadari jika dirinya telah mencuri impian gadis itu, dan kini si gadis dengan tertatih tetap berjuang tanpa mengeluh menapaki tangga kehidupan untuk meraih mimpinya yang tergantung bersama gemintang.
Ia seperti putri tidur yang terlelap begitu jelita. Wajahnya ayu tanpa terlihat beban derita yang menghimpitnya. Walaupun tubuh itu terlihat kecil, tapi tenaganya seperti tidak pernah habis. Kini ia hanya sedang terlelap sebentar untuk mengisi ulang sumber energinya.
Haidar terpaku, terdiam menatap sosok Yulia yang terlelap nikmat dengan posisi masih duduk dan meletakkan kepalanya di atas meja. Perlahan ia pun menyelimuti punggung gadis itu dengan jaket biru miliknya. Lalu meletakkan sekotak roti pisang keju kesukaannya yang sengaja dibeli dari toko roti langganan sang mama. Tidak lupa menuliskan sebuah memo kecil berisi kata-kata penyemangat.
' Kau yang terbaik '
Begitulah Haidar menuliskan pesannya, sangat pendek namun syarat makna. Lalu iapun berjingkat perlahan, keluar dari ruang istirahat dan menuju ruang jaga di bangsal anak rumah sakit. Hatinya masih terbebani oleh rasa berdosa yang tak kunjung memudar.
" Halo ... Om Brams ", sapanya lewat telepon pada seseorang.
" Iya baik-baik saja kok... ini Haidar sendiri yang mau ngerepotin Om. Maaf sebelumnya ... ganggu ... malam-malam ".
" Oh ... nggak apa-apa. Apa yang bisa Om bantu untuk mu, katakanlah ".
Haidar menarik nafas panjangnya sebelum mulai berkata-kata kembali. Ia keluar dari ruangan itu dan menuju taman kecil yang ada di depan bangsal. Setelah memastikan bahwa malam yang sepi itu melindungi dirinya, pemuda itupun mulai berbicara dengan Om Brams nya.
" Ini rahasia Om ... tolong jangan beritahu siapapun, apalagi papa dan mama. Aku mau bertanggung jawab pada seorang gadis ... namanya Yulia Rahma Prasasti , teman satu angkatan dengan ku ".
" Haidar ... kenapa dengan gadis itu? kau .... ", suara diseberang sana terdengar sedikit cemas. " Kau menghamilinya ? ".
" Hah ?!!! .... bu- bukan seperti itu Om. Dia kehilangan beasiswanya karena ulah ku ... dan aku akan bertanggungjawab ... begitu Om ".
" Oooh.... kirain, sempat cemas Om. Maaf Haidar .... tapi kenapa bisa seperti itu ? boleh Om tahu ? " .
" Ah ya tentu saja.... ", dan Haidar pun mulai bercerita tentang awal musabab dari semua ini. Alasan kenapa ia sampai harus meminta tolong pada Om Brams nya dan juga alasan untuk merahasiakannya.
" Begitu ya.... terus Om harus apa Haidar ? ".
" Tolong retas semua data tentang Yulia .... terpenting adalah akun untuk pembayarannya di admin kampus. Aku akan mengembalikan apa yang sudah aku rebut darinya Om ... ".
" Baiklah Om akan membantu mu ".
" Terimakasih banyak Om Bramastya ku yang baik dan ganteeeeng...... tolong rahasiakan ini dari siapapun ya Om ".
" Oke Haidar.... temui Om dua hari lagi bisa ? ".
__ADS_1
" Ya... ya.. Om bisa. Malam ya Om ... ".
" Okay... ".
Haidar tersenyum sumringah, ini adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk sedikit mengurangi rasa bersalahnya. Semoga sedikit yang bisa dilakukannya ini akan dapat membuat gadis itu tidak lagi harus seperti diperbudak oleh keadaan. Setidaknya senyuman manisnya itu tidak lagi tersaput oleh mendung, walaupun hanya selapis tipis. Senyuman itu akan benar-benar terlihat manis seperti biasanya.
.................
Saat itu dokter Yulia yang mengirim langsung bayi mungil itu ke ruang NICU baru saja selesai memberikan keterangan tentang si jagoan kecil itu pada dokter residen pediatric yang menerimanya. Ketika sebuah telapak tangan yang lebar dan hangat menyentuh bahunya.
" Kau kah ini ? ... dokter Yulia ".
Seluruh syaraf-syaraf pada tubuhnya tiba-tiba saja menjadi hipersensitif dan tubuhnya menegang. Suara ini.... ia masih belum dapat dari ingatan buruknya. Dan tangan yang memegang bahunya itu kini membuatnya harus berhadapan, bertatap muka dengan sang mimpi buruk.
Senyuman itu pasti terlihat sangat menawan terbingkai oleh wajah yang tampan, bagi sebagian besar wanita. Tapi untuk seorang Yulia, itu adalah mimpi buruknya. Dan kini mimpi buruk itu menjadi kenyataan yang harus dihadapi di depan mata.
" Selamat pagi... dokter Damara... ", kata Yulia sambil sekilas melirik name tag yang dikenakan pria ini.....dr. W Damara SPOG... fiuuuhhh, Yulia mendadak menjadi sangat cemas dan lemas.
" Aku mendengar semuanya .... jadi kini, pahlawan mu itu bersama mu ya ?. Kalian ... ".
" Dokter Damara bisa melihat semuanya ... sudah ku tulis lengkap ", sergah Yulia dengan cepat. " Maaf aku harus segera pergi .... ".
Yulia pun bergegas berpamitan dan berjalan dengan tergesa meninggalkan ruangan itu. Tidak memperdulikan lagi bagaimana kebingungannya bidan jaga dan juga dokter residen pediatric yang menerimanya tadi. Tujuannya hanya satu ia harus bergegas pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu, menghilang dari hadapan pria itu.
" Yulia..... kau masih belum memaafkan aku ? ".
Cekalan di lengan itu pada akhirnya menghentikan langkah yang tergesa. Di sebuah koridor panjang yang masih sepi dalam suasana pagi yang dingin selepas badai semalam, dua orang itu saling tatap dalam kebekuan. Hingga kemudian sang wanita menghempaskan sentuhan di lengannya yang sebenarnya kini mulai melembut.
" Aku harus ikut helikopter tim SAR lagi... mereka menunggu ku. Permisi dokter Damara.... ".
" Yulia ... bisa kita bertemu lagi ? ... jangan panggil aku seperti itu. Dulu kau memanggilku Wisya ".
Dokter Wisya Damara yang berbadan besar dan tegap itu kembali menghalangi langkah Yulia. Membuat wanita itu menarik nafas panjang, meredam badai yang kini beralih ke hatinya. Lalu mencoba mengulas senyum yang terasa begitu getir.
" Ada yang bisa saya bantu dokter ? ", tanya Yulia setenang mungkin.
" Aku akan menemui lagi Yulia ... dan memastikan kau tidak bersama dengan Haidar lagi "
" Itu bukan urusanmu ", sentak Yulia.
" Itu selalu menjadi urusan ku ", tiba-tiba suara dokter pria itu meninggi, dan sepasang matanya berkilat seperti mata pedang.
" Ini hidup ku .... kau!!!! bukan siapa-siapa ku ". Geraman dokter Yulia seperti kepalan tangannya yang menggenggam erat. Rahang wanita itu mengeras menahan amarah.
" Kau .... dari dulu milkku ... tetap milikku. Aku akan tetap mengejarmu, hingga kau yang akan merangkak mencari ku dan memohon...... ".
" Cukup !!!!!! ". Deru nafas Yulia membuat dadanya turun naik dengan cepat dan tak beraturan, seperti longsoran karena air bah.
Sementara Wisya memandang dengan tatapan penuh ironi, dan menyunggingkan senyuman kemenangan. Wanita ini, sejak dulu memang hanya untuk berada didalam pelukannya. Bukan untuk pria bernama Haidar, yang kebetulan hampir memiliki segalanya.
" Kau.... sudah menjadi milik ku ... sejak dulu !!!!! Ingat itu Yulia Rahma Prasasti ".
Yulia tidak lagi memperdulikan bagaimana Wisya menatapnya nanar. Ia berjalan secepat yang ia mampu, meninggalkan semua mimpi buruk yang kini mencoba mencengkeramnya kembali. Pria yang dulu sempat dikaguminya, yang kini berubah wujud sebagai mahluk menyeramkan yang akan selalu menghisap inti kehidupannya. Yulia menahan tangis dan tubuhnya gemetaran. Ia berharap ini hanyalah mimpi dan ia pun segera terbangun.
Yulia mendekap dadanya sendiri, melintasi halaman rumah sakit yang basah dengan getimisnya yang masih merintik. Seperti air matanya yang menetes perlahan seiring hadirnya kisah lalu yang kelam itu.
__ADS_1