PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Melukis Pelangi


__ADS_3

Delia menyeka keringat yang membanjir dahi dan lehernya, dan ia masih memasang posisi kuda-kuda dengan kokoh. Sementara pria di hadapannya tersenyum dengan sudut bibirnya yang menyiratkan kelicikan. Sumpah mati Delia sangat membenci semua yang terjadi hari ini. Semua berhubungan dengan pria ini, yang sebenarnya berwajah tampan diatas rata-rata. Tapi sayang lelaki ini sungguh berduri, yang lebih ironis lagi ... ia tak mampu berpaling dari pria ini. Karena Raka adalah pasien sejatinya dan juga teman seperjuangannya.


" Ayo.... bukankah kau berniat untuk menang ", seringai Raka sambil sesekali mengibaskan rambutnya yang lebat. " Badanmu itu terlalu kecil, bagaimana kau akan menjatuhkan ku ? ".


" Tidak usah kau pikirkan caraku ... aku hanya butuh satu kali menjatuhkan mu bukan ? ".


Rasa percaya diri dari Delia itu begitu tinggi, tapi Raka tahu bagaimana sebenarnya hati gadis itu. Perasaannya pasti tengah geram dan tercederai, karena satu bantingan tadi. Tubuh kecil Delia berdebam di atas matras dengan kedua tangan Raka yang masih mencengkram kerah umagi yang dikenakan Delia. Umagi adalah baju atau atasan dari Judogi, atau seragam Judo. Raka meringis, tersenyum kecil menggoda sambil menyentil ujung hidung Delia.


" Kesempatan mu tinggal sekali lagi ibu psikiater .... setidaknya pikirkan cara untuk meloloskan diri dariku. Atau sebenarnya .... kau memang menginginkan ku ? ".


" Jangan mimpi !!! ... tuan dokter mesum. Kali ini aku yang akan membuat mu mrnuruti semua permintaan ku ".


Sepasang mata gadis itu berkilat dalam bening yang lembut. Hembusan dari nafas keduanya seperti saling bertempur dan bertubrukan, karena jarak wajah yang begitu dekat. Bahkan cengkeraman Raka seandainya melesat beberapa Senti saja, niscaya dua buah aset indah di dada Delia itu pasti sudah tersentuh olehnya.


Hati Raka tergetar membayangkannya, ia tersenyum tipis. Semua bayangan itu di hapusnya perlahan. Bahkan sebenarnya ia sang


at tidak bersungguh-sungguh dengan taruhan dari pertarungan ini. Hanya menuruti permintaan seorang sahabat yang manis dan punya kepedulian tingkat dewa padanya. Tapi menggoda si tomboy manis ini .... aahh, tidak boleh di lewatkan !!!!.


" Apa kau sudah siap menyerahkan bibirmu padaku .... bibir loh Del' .... aku nggak mau kalo cuma pipi ".


" Hugghh.... ". Lenguhan dari Ardelia itu berbalas dengan ledakan tawa Raka yang membahana. " Aku hanya harus menjatuhkan mu ... dan masih ada satu kesempatan lagi. Berhati-hatilah ..... ".


" Kau yakin ?? ", Raka mendekatkan wajahku pada Delia yang tak bergeming menatapnya.


Sepasang telapak tangan gadis itu menahan dadanya dengan kuat. Membuat Raka semakin antusias menggoda satu-satunya gadis yang tak pernah memiliki keterkaitan padanya. Atau mungkin sebagai seorang ahli psikologi, gadis berumur dua tahun lebih muda ini terlalu pandai manata hati dan menyembunyikan perasaannya.


" Kau tahu pasti... ", Raka menjeda kalimatnya sambil semakin mendekatkan wajah. Dan gadis itu tetap tak bergeming.


" Aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Bibirmu sudah terlalu lama menjadi target incaranku.... kau harus benar-benar memikirkan cara apapun untuk memenangkan pertandingan ini. Kecuali jika memang kau menginginkannya .... ". Kalimat itu dibisikkan dengan begitu menggoda di sisi telinga Dalia. Raka benar-benar berusaha memegang kendali atas Delia.


" Ah .... ayo... set terakhir ". Tiba-tiba Raka melepaskan cengkeramannya, mengangkat tubuhnya dari atas Delia dan berdiri seraya mengulurkan tangannya. Masih dengan seringai penuh kemenangan yang meremehkan Delia. " Ayo ... !!!! ".


Delia terlihat sedikit ragu, dan menatap tangan kekar pria yang terulur padanya. Ia berdecih sambil sedikit membuang muka, walaupun akhirnya ia menerima uluran tangan itu. Yang kemudian membantunya kembali bangkit.


Sedikit rasa pegal di bagian belakang tubuhnya terasa berdenyut - denyut. Ya iyalah.... dua kali dibanting dengan keras, walaupun diatas matras. Dia juga sih yang salah, nekat ... semata-mata menuruti sifat egoisme dan keras kepalanya sendiri. Tapi kalau semua itu sudah berkaitan dengan sebuah keluarga, Delia seperti kehilangan atas kenetralan emosinya sendiri.


Melihat seorang anak yang sangat begitu abai dan melibas seluruh perhatian keluarganya, dengan berpura-pura bersikap acuh dan tak membutuhkan. Apalagi itu adalah sebuah rasa cemas yang merupakan manifestasi dari perasaan cinta seorang ibu. Mengabaikan panggilan telpon itu berulang kali, semenjak keduanya masih berada di dalam mobil saat berangkat ke tempat latihan judo ini. Hingga saat latihan sudah mulai usai. Delia benar-benar dibuat gemas dan geregetan oleh sikap Raka.


Gadis itu tidak benar-benar menyandarkan bangkitnya dengan berpegang pada tangan Raka. Hal yang sangat disadari oleh Raka diapun terkekeh dan segera melepaskan pegangan tangannya. Membuat tubuh Delia nyaris kembali terjerembab. Untung saja satu tangan kiri dan tapakan kaki kirinya menjejak kuat, hingga ia mampu menyangga tubuhnya sendiri.


" Ayo bersiap untuk set terakhir ". Ujar Raka sambil membalikkan badannya.


" Aku sudah siap " .


Gerakan itu begitu cepat, hanya sepersekian detik dari ujaran Raka. Delia menyapukan kaki kanannya dengan cepat melibas langsung pria muda yang tadi berhasil menjatuhkannya dua kali.


' Brugh ', suara itu berdebam seiring ambruknya Raka karena kehilangan keseimbangan. Dan belum sempat ia menyadari yang terjadi, dia sudah tak berkutik dalam kuncian seorang Delia yang kini balas menyeringai.


Ude hishigi juji gatame Delia melakukannya dengan kecepatan dan gerakan licik tak terduga. Kuncian tangan silang, suatu cara mengunci kedua tangan lawan dari samping. Posisinyavseperti menduduki lawan namun dengan bokong berada di samping kepala Raka di mana kakinya menghimpit lengan kanan Raka yang kini tersenyum penuh ironis.


Tangan kirinya di cengkeram erat oleh Delia, yang menahan dan mengunci menggunakan kedua tangan . Dengan cara ini, otomatis Raka tidak bisa berkutik dan tak akan mudah untuk melarikan diri juga. Karenanya ia hanya bisa tertawa melanjutkan senyum ironisnya tadi.


" Seperti katamu ..... cara apapun ". Dan Delia berkata sambil tetap mengunci Raka, tak terlihat ia akan melepaskan pemuda itu.


" Kau tahu..... aku mulai bergairah kau tindih dengan kaki mu ini ".


" Huuuffft.... sesukamu. Aku hanya butuh pengakuan kekalahan mu ". Delia, mencoba mengabaikan kalimat provokasi Raka. Walaupun sebenarnya .... bluushhh ... wajahnya bersemu merah. Untung posisi ini tidak bisa membuat Raka melihat wajahnya.


" Okey.... okey .... aku kalah darimu nona Ardelia. Aku menyerah ".


" Setelah ini ... kau langsung telpon balik ibu mu ! ".


" Siap ..!! ".


" Janji !!! ".


" Aku bersumpah ".


" Demi apa ? ".


" Demi Allah aku bersumpah ..... akan menelpon mama begitu lepas dari cengkeraman mu ini nona Ardelia ..... asal kau menemaniku selama menelpon ".


Perlahan Delia melepaskan kunciannya serta mengangkat satu kakinya yang tadi menindih Raka. Ia segera bangkit berdiri dan merapikan Judogi yang dikenakannya, memang sedikit berantakan. Dan ia tak mau beberapa bagian indah lekuk tubuhnya membuat Raka menemukan bahan untuk mengusilinya.


" Nih .....telpon Tante Hana sekarang ". Delia menyodorkan benda sumber duel yang tadi sengaja diletakkan di luar matras di tepi arena.

__ADS_1


" Janji !!!.... kau menungguiku ". Raka menerima benda itu tetap pada posisi terlentangnya di matras. Perlahan ia menepuk-nepuk matras disebelahnya meminta si cantik berkulit sawo matang yang lumayan tinggi itu untuk duduk disebelahnya.


Begitu Delia duduk disebelahnya, pemuda itu langsung men-dial sebuah nomor kontak yang tadi berkali-kali meneleponnya. Mama Hana, begitu ia menamai nomer kontak itu.


" Halo... assalamualaikum mama ku yang cantik ".


" Wa'alaikumsalam .... akhirnya kau bisa juga menelpon mama ".


Raka sengaja mengaktifkannya speaker di telpon selularnya. Sambil melirik pada Delia yang terlihat menyelonjorkan kaki dan duduk dengan rileks di sebelahnya. Seolah dengan sengaha memberikan klarifikasi kalau yang ditelpon memang mama nya, bukan wanita lain penghuni nomer kontak teleponnya.


" Tadi masih latihan Judo .... bareng calon mantu idaman mama .... nih, orangnya duduk disebelah ku ".


Dulu Delia selalu cemberut kesal dan akan memprotes habis-habisan, atas klaim 'calon mantu idaman' yang selalu disematkan Raka padanya. Pada akhirnya Delia menyerah dan lebih memilih menjelaskan semuanya pada Tante Hana, bahwa dia tidak memiliki hubungan apapun selain persahabatan dengan Raka. Namun wanita cantik yang seorang dokter anak itu tersenyum seraya memeluknya. Dan membisikkan satu hal pada dirinya, ' Titip Raka ya sayang, dia memang bengal tapi bersamamu dia tenang'.


Dan begitulah, seorang ibu yang sangat menyayangi putra bungsunya pun menyayangi gadis yang bisa menaklukkan keliaran putranya itu. Hingga Ardelia, selalu menjadi calon menantu idaman bagi seorang Hana. Namun bagi seorang Raka dengan segudang koleksi gadis cantik, Ardelia adalah sahabat dan tameng termanis. Begitulah Delia merasakan kerumitan ini. Tapi ia tak bisa berbuat banyak, seolah arus ini begitu kuat menyeretnya. Tidak memberikan kesempatan untuk menepi dan merenungkan, ya.... sudahlah.


" Halo Delia sayang .... kau sehat 'kan ? ", suara diseberang sana terdengar ramah.


" Ya ... halo Tante.... Alhamdulillah. Tante sehat juga 'kan ? ".


" Alhamdulillah .... oh ya, terimakasih banyak loooh tetap setia jagain Raka. Kalau nanti bisa balik ke Jakarta ... kita ketemuan ya. Tante kangen banget ".


" Iya Tante, pasti ... insyaallah. Delia juga kangen Tante ".


" Sudah !!!.... ada apa mama nelpon ". Raka segera mengambil alih percakapan itu.


" Ah .... kau ini! ", suara Hana terdengar sedikit kesal. " Kapan kau bisa pulang ke Jakarta barang sebentar ?.... masa residensial mu sudah hampir selesai bukan ? ".


" Iya siiiih..... tapi biar kelar semua urusan deh mah. Biar nggak ada .... iprit-iprit yang nyerimpet deh klo' udah beres semua. Memang ada apa ? ".


" Mba mu sudah ketemu jodohnya ".


" Oh ya???? ", Raka sedikit berseru karena antusias. " Siapa ?, orang mana ? ... waaah kapan ketemunya ? ".


" Makanya pulang ..... agak panjang ceritanya. Yang jelas ini satu-satunya pria yang nggak dijauhi sama mba' mu begitu dikenalkan, malah mereka berdua saling ketemuan lagi pas di Korsel dulu. Temennya Namu pas kuliah di England dulu.... cuma, katanya kok duda gitu ".


" Pffffftt..... ", Raka menahan tawanya. " Ya nggak masalah ... asal ganteng, kaya dan yang paling penting cinta mba Cinta ".


" Iya siiiih..... tapi kata Namu, sudah punya anak juga ", suara Hana terdengar agak pelan tidak sebersemangat sebelumnya.


" Itulah ..... mama mau minta tolong kamu. Coba kamu ulik lebih dalam .... tanya sama Namu. Informasi tentang Syailendra Thoriq Zachary .... tolong ya ".


" Kenapa nggak mama langsung sih yang tanya sama kak Namu ? "


" Aduuuuh.... kalau ada waktu dan kesempatan, pasti sudah ku tanya habis-habisan. Papa tuh yang ngelarang ...... katanya : jangan perlihatkan kalau kita terlalu mengejarnya, ingat kita ini pihak wanita ... geeemeees pokoknya. Raka.... Raka sayang .... tolong ya .... ".


" Iya .... iya deh mah ".


" Cakep ..... terimakasih ya ganteng. Pokoknya mama tunggu secepatnya kabar itu.... oh ya, Haidar sudah balik ke Jakarta loh ".


" Oh ya ... kapan mah ? ".


" Dua Minggu yang lalu .... udah dulu ya.... jangan lupa ..... tanya ke Namu. Cepetan ya !!!! ".


" Ya ibu jendral....... siap laksanakan !!!!!!! ".


" Cakeeeeep..... udah dulu ya, assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikumsalam.... ". Raka pun menjawab salam dari ibunya sebagai tanda berakhirnya panggilan jarak jauh itu .


" See....... kegelisahan nyonya besar nyaris pupus sudah. Sebuah harapan baru sudah muncul .... he... he... he... dan kau tahu apa artinya ? ".


Raka mengalihkan tatapannya pada Delia, ia juga bangkit dari tidurnya.


" Apa ? ", Delia benar-benar tidak mengerti.


" Artinya..... ada yang akan mereka urusi dalam waktu dekat ini. Dan aku ..... semakin banyak mendapatkan kebebasan ".


" Untuk memaksimalkan huru-hara mu .... tidak cukup ya setiap Minggu melihat para gadis berseteru ? ". Delia melengos dan mencibir.


" He... he.. he... mereka saja yang bego ", sahut Raka tanpa perasaan berdosa.


" Dan kau penyebabnya .... sadarlah !!!! ... diusia mu .... sudah harus bertobat ... dan mulai memikirkan masa depan ".


" Hei .... hei.... kamu juga harus sadar... kita satu angkatan nona Ardelia ".

__ADS_1


" Hei......", suara Delia meninggi seiring dengan melototnya sepasang mata yang indah itu. " Aku .... dua kali akselerasi, dan usia ku hampir dua tahun di bawah mu ".


" Oh iya .... ya ... waaah .... kalau begitu kau nggak sopan selama ini... ngelunjak lo' ".


Delia kembali mendelikan sepasang matanya. Sementara Raka kembali nyengir penuh aura usil dan seringai kemenangan.


" Kau harusnya panggil aku .... mas Raka, atau Abang sayang ".


" Wiiidiiih.... ngarep.. nggak !!!! ".


" Heiiii..... adik maniiiiiis .... kita pacaran aja yuk ".


Raka bangkit berdiri dan bergegas mengikuti langkah Delia yang bergegas meninggalkannya. Gadis itu bersungut-sungut kesal dengan tingkah menyebalkan Raka yang tidak pernah berhenti menggoda.


" Adiiiik maniiiiis...... kita pacaran yok!!!!. Atau nikah langsung aja deh .... ".


" Tolooong...... ada dokter stres.... ".


Delia berlari kecil keluar dari tempat latihan sambil tertawa kecil. Sementara Raka mengikuti dibelakangnya masih dengan gaya yang sangat norak khas playboy kampung. Beberapa orang yang sudah sering menjumpai tingkah ajaib kedua sahabat itu hanya melihat sekilas dan tersenyum kecil saja. Ah biarlah ...... batin mereka.


....................


" Akhirnya kau menelponku ..... waras kan' lo' ? ".


" Kampret lo'... giliran ditelpon sambutannya malah macam ini. Baru PMS ? ". Raka membalas Haidar yang diteleponnya malam itu, sepulang dari berlatih Judo.


" Ha.... ha.. h.... kalo macam ini berarti memang waras lo' Ka. Kapan balik ke Jakarta ? ". Tanya Haidar.


" Tiga Minggu lagi. Sudah kangen ya ? ".


" Pasti lah ..... kangen kumpul berlima terus makan bareng lagi ".


" Iya.... eh' si Q-Run emang udah selesai coass-nya ? ". Raka menanyakan tentang Kirana adik sepupunya yang juga adik bungsu Haidar.


" Ya belum lah ..... masih kurang dua bulan lagi. Habis itu harus internship delapan bulan ..... masih lumayan perjuangannya ".


" Kalau ada waktu aku tengokin dia dah.... Semarang'kan ? ".


" Iya..... eh bantu dia cari tempat untuk program internship-nya dong .... biar dapat yang lumayan dekat ".


" Registrasi dan pendaftaran online ..... kau lupa ya ? ".


" He... he..... sedikit lupa ", terdengar tawa geli Haidar di seberang sana.


" Ini kau sudah kembali ke Jakarta ...... sudah benar-benar mau meninggalkan dunia kedokteran yang kau cintai ? ".


" Satu tahun pengembaraanku sudah berakhir .... sesuai perjanjian ku dengan papa ".


" Mau bertukar nasib dengan ku ? ".


" Hua ... ha... ha.. ha.... kau gila brother ..... kau yakin ? ".


" Nggak lah 'Dar .... absolutly ... bercanda. Aku lebih beruntung darimu, kelak .... aku masih bisa menggunakan gelar Sp.OT -ku ..... lah kau ... keahlian bedah umum dan darurat medikmu ?... sayang ya... akan menguap ".


" Ah tidak .... kerja di dunia bisnis hanya 5 hari, yang dua hari masih bisa untuk me time ... mengasah bakat ".


" Terus kapan pacarannya 'Dar ?.... keburu ubanan lo' belum pernah ngerasain ciuman ".


" Hua... ha... ha... ", Haidar tertawa terbahak-bahak. " Ampun deh bang jago ..... ", selorohnya lagi.


" Apa kau dan kak Namu sudah bikin perjanjian hitam diatas putih ?..... untuk tidak saling mendahului melepas keperjakaan ? ".


" Ngaco lo' .... eh Abang kita yang satu itu sudah nggak suci lagi loh mulutnya. Sudah buat ciuman tuh bibir seksinya .... dah ada wanita di hatinya .... ".


" Hah ?!!! .....serius lo' ". Raka meninggikan suaranya karena antusias yang berlebihan.


" Iya..... heran 'kan? . Ternyata Abang kita nggak sekalem kelihatannya ..... malah sudah nyaris buka segel dia ".


" What ?????? .... waaaaaah.... hebat .... salut.. salut .... nggak nyangka gue ".


" Hebat 'pala lo'..... saudaranya nyaris terjerumus dosa kau bilang hebat ".


" Laah... nggak nyangka aja. Secara dia'kan kaleeeem.... eeeh nggak taunya, ganas juga. Siapa gadis itu ? ". Raka semakin antusias.


" Masih rahasia ...... ".

__ADS_1


__ADS_2