PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
The Silent White Knight (2)


__ADS_3

Suara angin itu masih menderu, seperti hatinya yang juga gemuruh oleh rasa gundah yang menyergah tanpa bisa dicegah. Walaupun dia hanya berdiri dalam diam sambil terus mengawasi kotak kaca benderang dengan mahluk mungil yang menggeliat perlahan di dalamnya. Dan di luar sana, badai masih belum tampak akan segera mereda.


Mahluk itu hanya berbobot tidak lebih dari dua ribu tiga ratus gram saja, menarik nafas dengan penat walaupun sudah menggunakan alat bantu pernafasan. Dia adalah jagoan tampan yang masih tak mau nenyerah dengan kelemahan dan keterbatasannya. Dan Haidar tak sedikitpun mengendurkan tatapannya, dengan hati yang riuh berdoa. Ternyata masih ada satu perang lagi yang harus mereka hadapi. Berperang dengan waktu demi mempertahankan sebuah kesempatan untuk hidup lebih lama.


" Besok kita harus benar-benar membawanya ke rumah sakit besar..... seorang kawan dari tim SAR sudah bersedia mengirim heli mereka ", kata Haidar setengah bergumam saat Yulia datang menghampirinya.


" Syukurlah ..... transfusi untuk si ibu juga lancar perdarahan teratasi. Semoga sikecil itu mampu bertahan sampai besok ya.... ".


" Semoga alam juga melembut dan berpihak pada kita ", harap Haidar lagi.


" Aku..... rasanya sudah tidak takut lagi menghadapi sangsi indisipliner itu ... ", Yulia tersenyum dan terlihat sangat miris.


" Tenang saja..... aku tidak akan lepas tanggung jawab. Bukankah suatu kebetulan jika kau dinyatakan bersalah, lalu dipenjara dan diikat di meja kantor pusat ? ..... lepas dari pulau ini " .


" Kau pikir mereka akan berani melakukannya ? ", tanya Yulia tatapan yang mengandung tawa dan juga rasa percaya diri yang begitu kentara.


" Ha... ha... ha... sepertinya tidak ya. Karena pasti tidak ada yang mau dibuang di pulau kecil seperti ini. Heeeem..... memang sepertinya kau sangat cocok di sini ya ".


" Ada kenikmatan yang yang adiktif .... saat melihat sinar mata mereka yang bertutur terimakasih penuh ketulusan. Dan kau tahu ? ..... mereka semua yang ada disini adalah keluarga .... keluarga besarku ".


Haidar menatap wanita berjilbab dengan sebaris gigi putih yang berjajar manis ini. Ia merasakan kagum dengan teman satu angkatan yang memang cerdas dan lembut hati ini. Sayang dulu dia tidak begitu berteman dekat dengan wanita ini. Tapi tidak hanya dengan Yulia, hampir pada semua teman satu angkatannya pun begitu. Tentu saja karena konsekuensi dari kuliah kedokteran sekaligus belajar ekonomi dan bisnis. Ia menjadi pribadi yang hampir tidak melakukan interaksi selain kegiatan perkuliahan. Beruntung karena kecerdasan dan prestasinya, hampir semua teman satu fakultas mengenal nama Haidar. Apalagi dia berwajah tampan dan sangat manly dengan sinar mata yang lembut dan tenang. Berbeda dengan sinar mata ayahnya yang dingin tajam, Haidar seperti ibunya yang bersorot mata hangat dan lembut.


" Ya..... sangat.... sangat adiktif. Aku paham hal itu. Beruntung aku punya teman sepertimu Yulia ".


" Aku yang sangat beruntung memiliki seorang seperti mu ......... teman ". Yulia tersenyum sambil sekilas menepuk bahu Haidar. " Kau tidurlah, dua jam lagi ganti aku yang istirahat ..... besok aku yang mengantar jagoan kecil itu ".


" Siiiaaaap ibu kepala .. ", dengan gaya melawak Haidar berseloroh seraya meninggalkan tempat itu. Sementara itu dokter Yulia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


Misteri dari pria tampan dengan wajahnya yang sempurna itu adalah, siapakah dia sebenarnya?. Seorang yang sangat tertutup, begitu membatasi pergaulannya dan dengan cepat segera melanjutkan program spesialisasinya. Tapi kemudian, dia memili mendamparkan dirinya di tempat ini. Seolah melupakan pendidikan dokter spesialis bedahnya yang sebelumnya terlihat begitu ngoyo dikejar. Bahkan ia sama sekali tidak mau terikat dengan sebuah jabatan atau posisi bergengsi di rumah sakit pusat. Lebih memilih hanya menggunakan kualifikasi dokter umumnya dan bertindak sebagai pengabdi tanpa terikat. Dokter Yulia tak pernah bisa mengkorek keterangan lebih jauh dari kawannya itu.


" Kenapa memangnya ? ..... ada banyak jalan untuk bisa mengabdi tanpa harus menghamba pada penguasa. Menurutku .... yang kita layani itu masyarakat.... terserah mau dibilang apa, toh ' mereka-mereka itu juga cuma asal bicara... belum tentu mau berada dalam posisi seperti mu .... apalagi seperti ku. Iya 'kan ? ". Haidar selalu membela diri saat dipojokkan dengan pertanyaan yang mengulik keanehan tentang dirinya.


" Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu ? .... mereka .... bukankah hampir semua orang tua yang menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran berharap agar anaknya bisa lebih baik keadaannya ?.... tentu saja maksudku secara finansial ... ".


Dan tentu saja Haidar kembali tersenyum mendapati kembali pertanyaan itu. Tatapannya pada Yulia membisikkan sebuah rahasia besar.


' Kau tahu ?... aku hanya sedang menunggu waktu, memanfaatkan sebaik-baiknya sisa menit dan detik yang berharga ini..... untuk melakukan apa yang menjadi kata hatiku. Nanti jika saatnya tiba, aku harus menepati janjiku .... dan tidak bisa lagi mengenakan jubah putih ini... saat itulah semua harus ku kubur dalam-dalam '.


Tapi sayang, Yulia tidak pernah memahami bahasa kalbu itu. Yang dilihatnya hanyalah sebuah senyuman penuh rahasia dan terasa menyedihkan. Seorang pria penuh misteri yang sangat tampan.


" Yulia...... Yulia..... lalu bagaimana dengan kau sendiri ? ".


" Tentu saja berbeda .... orang tuaku hanya pegawai negeri golongan rendah dan sangat lugu. Mereka sudah sangat bangga melihat ku memeriksa banyak orang dengan jas putih ini tersandang ".


" Lalu bagaimana dengan Wisya ? ".


Tanya itu tidak membutuhkan dokter Yulia segera menjawab. Ia tersenyum getir menatap Haidar. Namun ia sungguh tak menyangka kalau ternyata Haidar juga mengingat pria itu. Seseorang yang sejak dirinya kuliah selalu berada didekatnya. Putra seorang dokter ternama yang kebetulan saja tidak secerdas orang tuanya. Bisa masuk di sekolah kedokteran karena sebuah koneksi jejaring yang sangat kuat.

__ADS_1


Bukan rahasia lagi, kasak-kusuk dibelakang santer terdengar dari teman-teman seangkatan dan juga kakak tingkat. Tentang bagaimana Yulia yang sebenarnya hanya dijadikan alat untuk mengerjakan tugas. Tapi sikap Wisya yang ramah, lembut dan juga penuh perhatian membuat Yulia memilih untuk mengabaikan semua saling silang berita yang didengarnya.


Walaupun ia sangat paham bagaimana Wisya diluar sana tanpa dirinya. Yulia tetap membiarkannya saja, dan toh diantara mereka juga tidak ada hubungan atau keterikatan apa-apa, begitu bisik Yulia pada dirinya sendiri. Hingga saat masa koas mereka berakhir, ketika itulah terjadi suatu peristiwa yang membuat Yulia meminta Wisya untuk menjauh dari dirinya. Peristiwa yang justru berawal dari sebuah kejadian manis.


" Bukankah Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Jika dia pergi ..... berarti dia bukan yang terbaik ", kata Yulia dengan nada yang yakin, tapi sisi terdalam hatinya mengetahui kebohongan yang ditenggelamkannya.


Saat itu justru yang Haidar yang bertanya kembali. Seolah Yulia yang mendapatkan serangan Boomerang. Ia sendiri yang telak tertelanjangi kisah hidupnya. Bermaksud membuka tabir hidup seorang Haidar, namun justru kisah hidupnyalah yang kini berganti menjadi topik pembahasan.


" Wisya Damara..... seperti kau tahu, dia lebih cocok dengan Anelis, Sarah atau Diva. Tidak dengan ku .... jadi aku memilih mundur saja "


" Heeem..... begitukah? atau kau yang memang tidak berani bersaing ? ".


" Mungkin kedua-duanya..... sudahlah, pasti sekarang dia sedang menikmati passion nya. Sama sepertiku yang juga begitu menikmati kata hati ini ".


" Ya .. akupun demikian. Mari kita nikmati kata hati kita ini dengan bahagia ", balas Namu dengan binar mata yang terlihat penuh semangat.


Semenjak percakapan hari itu, Yulia tidak pernah sekalipun mengambil pusing lagi dengan identitas Haidar. Ia hanya menatap pria itu sebagai teman yang baik dan penuh dedikasi untuk tugas dan tanggungjawabnya. Seorang partner kerja yang sungguh luar biasa. Dan dirinya sangat berterimakasih pada Yang Maha Kuasa karena telah dipertemukan dengan seseorang seperti sahabatnya ini.


Sementara itu, Haidar mencoba sedikit memejamkan matanya. Meluruskan punggungnya diatas matras empuk diruang istirahat khusus dokter. Menikmati waktu istirahat sejenak yang begitu berharga dan sangat nikmat disela tanggungjawab yang berat. Seperti sebuah oase ditengah Padang pasir. Karena nyaman dan dan bahagia itu ada karena diciptakan, bukan ditemukan. Haidar pun mulai terlelap perlahan.


Subuh sudah mulai menjelang saat Haidar tidak mendapati Yulia di ruang istirahat. Tapi kemudian dari pintu kamar mandi yang terbuka keluarlah sosok yang sedang dicarinya tadi. Wanita itu sedikit terkejut saat melihat keberadaan Haidar, ia buru-buru merapatkan jilbabnya yang belum terpasang rapi.


" Maaf.... ", Haidar buru-buru membalikkan badan. " Bersiaplah ... helikopter tiga puluh menit datang ".


" Ah ....ya....ya.... aku segera bersiap ".


Dan subuh itu, ditengah gerimis yang masih belum habis menumpahkan airnya. Serta teriring tangisan tak henti dari seorang ibu yang akan terpisah dari bayi yang baru semalam dilahirkannya, akhirnya proses mobilisasi Neo natus itupun dilaksanakan. Deru baling-baling itu memecah pagi buta yang dingin.


Dokter Yulia sendiri yang langsung menggendong si bayi berbalut selimut tebal. Inkubator tidak memungkinkan untuk di bawa, sehingga para brilian kesehatan itu berimprovisasi sendiri untuk menangani masalah ini.


" Jangan menyerah jagoan ... ", Haidar berjalan membungkuk sambil melindungi Yulia dan jagoan mungil itu dari terpaan angin yang berasal dari capung besi itu.


Dengan bantuan seorang pria dari dalam helikopter, akhirnya dokter Yulia berhasil naik dan duduk memangku bayi itu dengan nyaman. Setelah alat bantu pernafasan ikut serta dimasukkan kedalam helikopter dan dipastikan terpasang pada bayi mungil itu dengan nyaman, Haidar mengacungkan kedua jempol nya.


" Isa ..... aku titip mereka .... pastikan cepat dan tepat. Aku percaya pada mu ", teriak Haidar berusaha mengalahkan suara menderu, pada seorang pemuda yang berada di dalam helikopter, dialah sang pilot.


" Siap kawan ... ", pemuda itu mengacungkan dua ibu jarinya.


Tidak sampai lima menit, setelah Haidar dan seorang perawat pria yang membantunya tadi menyingkir. Capung besi itupun langsung mengudara. Terbang dengan cepat seperti menyongsong terbitnya sang Surya yang sedang menawarkan sebuah harapan.


" Pak dokter .... saya sudah tidak tahu lagi harus berterimakasih seperti apa pada bapak.... ". Pria itu mengusap titik-titik air matanya yang berbaur dengan air gerimis. Dia adalah sang bapak dari bayi itu, sang suami dari seorang wanita diruang perawatan yang masih menangis.


" Bapak.... itu sudah menjadi tugas kami. Sekarang ada hal besar yang harus bapak lakukan. Menenangkan dan menghibur istri bapak , serta berdoa bersama untuk kesehatan si jagoan kecil itu ".


Haidar menepuk-nepuk pundak sang bapak yang mungkin berusia hanya beberapa tahun diatasnya. Lalu membawa pria itu berjalan keluar dari tanah lapang dan kembali masuk ke dalam untuk menemui istri dari pria itu di ruang perawatan.


" Apa bayi kami akan selamat, dokter ?..... ". Sisa tangis masih tampak di tatapan sendu yang meminta penjelasan itu.

__ADS_1


" Ibu.... kita semua berusaha. Apa yang kita lakukan adalah untuk membuat dek' bayi menjadi lebih sehat dan kuat. Tetap yakin dan jangan berhenti berdoa ya .... ".


Dan tangis itupun kembali pecah membahana. Seorang ibu yang pilu dengan lara yang meremas perasaan. Haidar tak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk menghibur ini. Salah seorang anggota keluarga yang kembali menangis dengan isak membahana masih terus mengelus-elus kepala si ibu. Sementara suami wanita ini pun terlihat tidak kalah sedih dan kalut.


" Pak ... nanti kalau ASI-nya ibu sudah keluar, dua hari sekali bapak harus mengirimkannya ke rumah sakit. Jika kebetulan ada petugas kami yang juga harus ke rumah sakit.... bisa sekalian dititipkan. Nanti Bu bidan yang akan membantu dan mengajarkan bagaimana cara memerah dan menyimpan ASI. Oh ya..... semangati istri bapak, jika dalam lima hari ini kondisinya sudah stabil bisa segera pulang atau menyusul si kecil ke rumah sakit.


" Ya pak dokter ". Pria itu mengangguk dengan bersemangat, sementara Haidar menepuk-nepuk bahunya lalu berpamitan.


Tak beberapa lama, nampak Haidar sudah mengendarai Jeep nya menyusuri tanggul buatan di tepi pantai yang masih terlihat kelabu walaupun cahaya keemasan mentari sudah mulai menyayat suasana itu. Sisa-sisa badai semalam masih nyata terlihat. Bahkan gemuruh ombak pun menampakkan bagaimana sang gelombang itu masih garang bergulung.


Haidar turun dari kendaraannya, bersandar pada pintu dan menikmati udara dingin segar bersalut rinai gerimis. Membiarkan rambutnya yang hitam lebat sedikit terbasahi oleh rinai gerimis. Ia menatap bagaimana ombak itu masih tinggi menggulung. Saat itulah telepon genggamnya berbunyi, sebuah panggilan masuk menyeruak.


" Pak.... pasien beserta dokter Yulia sudah tiba dengan selamat. Helikopter masih saya parkir di helipad rumah sakit. Saya menunggu perintah selanjutnya ", kata suara diseberang sana. Itu adalah Isa, pilot helikopter yang membawa dokter Yuli dan sikecil tadi


" Tetap di sana, tunggu perintah selanjutnya. Tetap pada skenario cerita semula, jangan sampai dokter Yulia atau siapapun itu tahu yang sebenarnya ".


" Baik pak. Oh ya untuk .... pemulangan Bu dokter? saya tidak sempat minta nomer hp nya ".


" Aku yang akan menghubungimu nanti ".


" Baik pak, terimakasih ". Panggilan itupun diakhiri oleh Isa.


Haidar segera menelpon seseorang, tapi beberapa kali ia melakukan panggilan, sejumlah itu pula panggilan itu diabaikan. Membuat dia mengambil keputusan untuk mengetik dan mengirim saja sebuah pesan.


' Tidak usah pulang dengan kapal. Tim SAR akan mengantarmu. Segera balas , jika sudah sempat '.


Namun baru saja pesan itu terkirim, ponsel Haidar bergetar oleh panggilan dan itu dari dokter Yulia.


" Halo ... gimana Yul ".


" Sudah langsung ditangani di NICU.... beruntung yang jaga dokter Aleysa adik tingkat dulu ".


" Ooooh..... ya si brilian itu ya ? ".


" Tepat, dia residen pediatric sekarang. Sigap dan sangat bisa diandalkan .... semoga semua baik-baik saja "


" Aamiin.... Yul, kau sudah mau pulang ? ", tanya Haidar lagi.


" Sepertinya belum ..... menunggu hasil observasi dua tiga jam ini. Oh ya... minta salah satu anggota keluarga untuk ikut kemari..... sebaiknya ayah si bayi ya ".


" Baik aku sampaikan ..... oh ya, kau baca pesanku ya ".


" Pesan ? .... ah ya.. ya.. "


" Okey Yul.... semangat ya "


" Tetep semangat .... sudah dulu ya ". Dan dokter Yulia pun menutup panggilan jarak jauhnya.

__ADS_1


Haidar tidak menunggu terlalu lama, ia segera naik kembali kedalam Jeep nya. Melajukan benda itu dengan cepat dan sigap. Masih ada hal lainn yang harus diselesaikannya.


__ADS_2