PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Dua Pria Yang Saling Bercerita


__ADS_3

Masih jauh dari tengah malam saat Haidar menuruni taxi yang mengantarkannya hingga depan pintu gerbang. Dua orang penjaga berpakaian serba hitam tergopoh-gopoh menyambut. Wajah mereka nampak menunjukkan penyesalan serius.


" Maaf mas Haidar ... seharusnya tadi minta kami bukakan gerbang. Mari saya bawakan kopernya ".


Haidar tersenyum dan menggeleng perlahan, menunjukan penolakannya. Jarak gerbang dengan pintu rumah tidak sampai lima puluh meter. Dengan koper sedang dan beroda, serta jalan datar yang mulus tentu tidak menjadi hal yang menyulitkan.


" Nggak apa-apa pak... ini ringan kok. Bapak-bapak lanjutkan saja bertugas di sini. Saya langsung masuk ya ". Haidar pun segera melangkah tanpa menunggu persetujuan dari bapak-bapak itu.


Pria muda itu tersenyum saat melewati sepanjang jalan dengan taman bunga menghiasi di kiri kanannya. Ini adalah tempat favorit mereka tiga bersaudara dan selamanya akan menjadi tempat kesayangan. Ia selalu ingat bagaimana Namu, dirinya dan juga Kirana selalu menyempatkan diri setiap hari untuk bermain di tempat ini. Bahkan saat hari hujan pun, sering keduanya menyelinap untuk bermain dibawah guyuran air hujan.


Terkadang ada dua saudara mereka yang ikut juga datang meramaikan suasana, mereka adalah Cinta dan Raka adiknya Raka. Saudara sepupu dan juga temen sepermainan, yang tinggal berdekatan.


Haidar masih bisa mendengar riuhnya celoteh dan tawa mereka. Membuat keributan dengan berlarian mengelilingi taman itu. Lalu berebut main ayunan dan perosotan juga. Setelah itu membuat kekacauan di dapur. Membuat para ibu-ibu yang bekerja membantu pekerjaan rumah hampir menangis karena kodok yang sukses diselundupkan ke dapur.


Tapi untuk hal yang terakhir itu tentu saja adalah ide gila Raka, yang tentu saja sukses dijalankan karena Namu sang kakak yang manis dan bertanggung jawab itu sedikit lengah. Haidar tersenyum-senyum, seolah masih bisa melihat kelebat para bocah itu.


" Wah..... pulang juga nih yang dikangenin ". Sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar berseru dari atas.


Haidar mendongakkan kepalanya, nampak sang kakak tengah berdiri di balkon kamar. Pria muda itu tersenyum dan menyeringai lebar. Wajahnya yang putih bersih, terlihat semakin tampan menurut Haidar.


" Heiii..... tumben pak boss bisa santai di rumah. Ini masih hari Rabu loh pak.... bukan hari Sabtu ".


" Ya .... aku juga nggak pikun kok. Kalau tidak bawa oleh-oleh.... awas !!!! ".


Namu mengacungkan tinjunya dan membuat Haidar tertawa cukup keras. Saat Haidar bergegas melangkah menuju pintu rumah keluarga Mandala. Begitu juga dengan Namu yang juga segera meninggalkan balkon kamarnya untuk menyongsong sang adik.


Suasana ruang keluarga yang luas itu seketika menjadi semakin hangat manakala dua orang pria muda itu sudah asyik ngobrol. Melempar canda dan saling mengolok-olok mesra. Apalagi ada sepiring besar lumpia yang menemani, tentu saja membuat keduanya semakin betah berlama-lama.


" Ketemu Rana ? ", tanya Namu kemudian saat potongan terakhir lumpia telah meluncur ke dalam lambung melewati kerongkongannya.


" Cuma sempet telpon tadi siang. Dia baru sibuk, katanya kebahagiaan pasien-pasien ajaib ".


" Oh .... memang ini jadwal dia dengan pasien ajaib 'kan ? ".


Tentu saja yang Namu dan Haidar sangat memahami apa yang dimaksud dengan pasien ajaib itu. Dua orang kakak tampan itu tahu dengan benar kalau adik bungsu mereka saat ini sedang co-*** di rumah sakit jiwa.


" Dapat dua pasien yang sebenarnya sudah mulai menunjukkan tahap penyembuhan. Dan kedua-keduanya memiliki delusi dan obsesi pada Kirana. Parah ..... ".


" Perlu kita kawal ? ", Namu mulai terlihat khawatir.


" Aku sudah tempatkan dua penjaga ... ".


" Rana tahu ? ",


" Kak.... kau pikir apa akan sesenyap ini kalau di Kirun itu tahu ".


" He... he... he.... iya ya ", Namu terkekeh dan kembali mencomot lumpia untuk kesekian kalinya.


" Waduh .... asyiknya .... sampai lupa panggil kita-kita ", sapa sebuah suara. Tentu saja itu adalah suara wanita yang paling disayangi oleh para pria di keluarga Mandala.


Tampak menuruni tangga dan berjalan beriringan dengan sang suami, ibu mereka. Siapa lagi kalau bukan Orlin yang diekori Mandala suaminya.


" Mom ..... Dad... Miss you so much .. ", Haidar menghambur memeluk mamanya lalu bergantian beralih pada papa nya.


" Halah.... mana ada orang percaya, kalau 'so much' ..... nyatanya nggak langsung cari kita ", kata Orlin sedikit mencibir sambil melirik suaminya meminta dukungan.


" He... he... he.... kirain udah pada tidur ", Haidar nyengir.


" Sudah siap masuk ke dunia bisnis ? ", tanya Mandala seolah tidak memberikan kesempatan untuk sekedar melepas rindu dan bersantai sejenak.


" Tidak bisa menunda lagi 'kan pah ? ", Haidar menampakkan senyum pasrahnya. " Tentu saja aku sudah harus siap ".


" Good .... ada sebuah misi yang pas untuk mu. Besok pagi temui Cinta. Dia sedikit kewalahan, aku sudah menjanjikan kau yang akan membantunya ".


" Ini masih tentang obat untuk kanker itu ? ", Haidar berusaha menebak.


" Ya.... pesaing kita bermaksud memonopoli ", tukas Mandala seraya ikut mencomot lumpia.


" Okey... berarti besok harus segera ke kantor ya. Mama..... padahal aku masih ingin santai bareng beberapa Minggu dulu di rumah ". Haidar menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak Orlin.


' Brugh!!!', dan bantal sofa itu pun sukes menimpuk wajah Haidar.


" Tuh ... kakak nakal ", gurau Haidar dengan wajah dibuat sok imut mungkin.


" Kalau begini semua .... bau-bau punya cucu sepertinya masih sangat jauh ya mas ? ", Orlin melirik suaminya yang masih asyik mengunyah lumpia.


" Nggak apa-apa .... mereka 'kan laki-laki. Biar Cinta dulu saja ", kata Mandala santai.


" Wah ... mba Cinta sudah ada jodohnya ? kok... aku ketinggalan berita sih ". Haidar terlihat bersemangat walaupun sambil merebahkan diri di sofa dan berbantal pangkuan sang mama.


" Iya, Tante mu cerita. Sepertinya sudah ada pemuda yang berhasil mendekat dan tanpa penolakan dari kakakmu itu ", Orlin berkata sambil sesekali membelai rambut putranya.

__ADS_1


" Kau membeli alat-alat kesehatan dari pria itu, beberapa waktu lalu. Kalian maksudku ... ", kata Mandala.


" Ya ... ampun, pak Syailendra maksudnya ?. Tapi setahu ku dia sudah menikah ", Haidar terlihat sedikit terkejut.


" Oh ya? kok aku baru tahu ya. Apa ... cerai ya ? ", Mandala terlihat sedikit menegang.


" Istrinya .... meninggal enam tahun yang lalu bersama bayi mereka. Kecelakaan.... ".


Jawaban yang disampaikan oleh Namu membuat kedua orang tua serta adiknya nampak terbengong. Tapi sejurus kemudian ketiga orang itu secara bersamaan menampakkan wajah sedihnya.


" Kau kenal baik kak dengan calon kakak ipar itu rupanya ".


" Dia... teman kuliahku di Inggris ", jawab Namu cepat.


" Ayahnya juga teman papa. Sepertinya Cinta sudah menemukan jodohnya ", Mandala pun antusias menyela.


" Berarti .... sebentar lagi ... kak Namu yang menemukan jodohnya ". Begitu juga dengan Orlin yang nampak bersemangat.


Namu hanya tersenyum tipis, walaupun sebenarnya hatinya tersenyum kecut. Tapi ia masih harus tetap bertahan, hingga nanti tiba saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Saat itulah ia akan memohon restu dari kedua orangtuanya dan juga kedua orang tua Cinta. Saat ini ia cukup membisiki hatinya sendiri. Namu.... berjuanglah, Cinta.... bersabarlah.


..............


Baru saja Namu membaringkan tubuhnya diatas peraduan saat sebuah ketukan dipintu kamarnya terdengar berulang.


" Apakah sudah waktunya hari menganggu kakak ? ", serunya.


Daun pintu itu terbuka dan Haidar yang sudah mandi, datang dengan mengenakan piyama warna abu-abu. Menampilkan wajah tidak berdosa, membawa handphone dan chargernya serta sebuah guling. Pria itu tanpa sungkan langsung masuk, senyuman yang lebih tepatnya seringai usil nyengir kuda menampakkan kepolosan yang tidak dibuat-buat.


" Aku heran.... bagaimana kau bisa menjalani hidup di pulau kecil itu. Sementara kebiasaan menyusul ketempat tidur orang lain belum juga bisa kau hilangkan "


" Halaaah !!!!! ... kan cuma padamu kak ". Haidar tidak menghiraukan kicauan kakaknya. Dengan gerakan mantap ia segera naik keatas tempat tidur, merebut satu bantal milik Namu dan mulai berbaring nikmat.


" Ada yang ingin kau ceritakan ?". Sepertinya Namu sudah bisa menebak arah yang akan dilalui adiknya ini. Dua pria itu berbaring bersisihan sambil menatap langit-langit kamar.


" Kak Cinta sudah mulai dekat jodohnya.... dan aku juga akan mengejar pencuri hatiku. Lalu bagaimana dengan mu kak ? ", tanya Haidar tanpa melepaskan pandangannya dari langit-langit kamar.


" Memangnya kenapa dengan ku ? ".


" Apakah kau tidak pernah jatuh cinta.... atau sebenar kau sedang menanti cinta rahasia mu ? ".


Namu tersenyum kecil, jauh di lubuk hatinya ia membenarkan separuh yang ditanyakan adiknya ini. Cintanya terlalu sederhana, hingga ia pun menjadi terlambat menyadarinya. Dan kesederhanaan dalam cintanya itu ternyata berbalut dengan kerumitan luar biasa.


" Ah ... tidak, cinta ku menghilang. Aku akan memulai mencarinya lagi ", kilah Haidar.


" Apa tidak kau jaga dengan benar cinta itu, hingga dia bisa menghilang ? ".


" Heeem.... karena saat itu ia masih seorang gadis kecil .... aku ... ".


" Jangan bilang kau jatuh cinta pada gadis itu sejak kecil dulu ", Namu menyergah cepat.


" He... he... he... kali ini tebakan mu meleset kak ", Haidar terkekeh . " Aku menyukainya sejak remaja.... dan semakin menyukai nya. Hingga tiga - empat tahun ini, aku kehilangan jejaknya ".


" Apakah selisih umur kalian jauh ? ".


" Dia sepantaran Rana ..... hampir lima tahun ya berarti selisihnya ".


Seseaat dua orang itu terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


" Kak..... bantu aku menemukannya lagi ".


" Caranya ? ", Namu menanggapi cepat.


" Tempatkan aku di kantor pusat .... bersamamu ".


Namu menoleh menatap adiknya yang kini juga tengah tersenyum menatapnya.


" Apakah dia bekerja disana ? ", Namu yang mulai dihinggapi rasa penasaran mulsi menggali informasi lebih dalam. Tapi ia justru mendapati adik nya yang menyeringai penuh rahasia.


" Kan sudah kukatakan...... aku kehilangan dia. Informasi awal akan kudapatkan dari kantor mu ".


" Baiklah ..... kapan kau akan mulai bekerja ? ", balas Namu yang menyetujui permintaan itu pada akhirnya .


" Aku sudah siap..... mungkin kau perlu membicarakan hal itu terlebih dahulu dengan papa ".


" Kenapa tidak langsung bicara saja dengan papa ".


" Kak...... semua orang itu tahu, kau itu anak kesayangan pak Mandala. Tentu akan lebih mudah jika kau yang bicara.... he.. he.. he... papa pasti takluk padamu ".


" Dia sangat cantik ? ".


" Dimataku... dia satu-satunya yang bisa kusandingkan kecantikannya dengan mamah. Ada sesuatu dalam dirinya ..... ", Haidar menjeda kalimatnya cukup lama, seolah belum bisa menemukan padan kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosok gadis yang sedang dibayangkan itu.

__ADS_1


" Yang membuat mu yakin dengan tujuan hidup mu ... ", Namu mencoba melanjutkan.


" Ah ...ya... dan dia seperti poros hatiku ", Haidar terlihat bersemangat. " Terkadang .... dia nampak seperti angger bulan dengan kelopak putihnya yang mempesona ... ".


" Dan kau bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan mu darinya. Saat angin menggerakkan kelopaknya ..... hatimu berdesir ". Seperti sebuah parade puisi, Namu pun melanjutkan kiasan tentang gadis pencuri hati itu.


Walaupun tentunya yang mereka bayangkan adalah dua gadis berbeda, tapi perasaan yang ditimbulkan oleh para gadis itu tetap sama.


Haidar yang tadi masih menerawang menatap langit-langit, tiba-tiba merasakan sesuatu dari setiap kalimat yang diucapkan kakaknya. Ia pun menoleh dan mendapati sang kakak juga tengah menatap langit-langit kamar. Seolah-olah di sana ada kelebatan-kelebatan seorang gadis yang mampu membuat kakaknya ini tersenyum.


" Kak .... ".


" Ya .... ".


" Kau juga sudah menemukan cinta itu rupanya ".


Namu seketika memudarkan senyumnya. Ia bahkan merasa terlalu berbahaya untuk sekedar menoleh menatap adiknya yang kini juga tengah menatap, pastinya dengan pandangan menyelidiki. Sebuah tarikan nafas panjang akhirnya tercipta sebagai tanda bahwa pria ini sedang sibuk menata hatinya.


" Kita bisa saling menjaga rahasia ini ..... seperti yang sudah-sudah ".


Namu terkekeh kecil mendengar kalimat Haidar. Mereka memang selalu kompak dalam berbagai hal. Dan juga selalu saling menjaga satu sama lain. Tapi untuk hal ini, Namu merasa belum siap jika ada orang lain yang mengetahuinya.


" Kau pasti akan selalu jadi orang pertama yang tahu... seperti biasanya ", tukas Namu kemudian.


" Dia cantik ? ", tanya Haidar lagi.


" Ya ".


" Seperti apa ? "


" Ehm.... dia ..... seperti sakura yang lembut dan indah, dengan pohonnya yang kokoh sebagai pijakan. Aku .... menikmati keindahan bunganya yang sangat mempesona .... tapi pokoknya terlalu .... menakutkan untuk kudekati ".


" Putri seorang pejabat ? .... ah... kau kan putra papah. Pejabat mana yang menolak berbesanan dengan orang tua kita ".


Namu tersenyum, tapi ironis yang dirasakannya tak menghilang. Ia pun menoleh menatap adiknya.


" Lebih.... lebih dari sekedar materi dan status sosial. Hubungan ini..... serasa seperti .... sebuah kesalahan .... walaupun tidak salah. Kami masih terus mencari waktu yang tepat dan juga terus bersiap untuk segalanya ".


" Jadi kalian sudah saling mencinta ? ".


" Yah.... sejak lama ".


" Waaah... ". Haidar berbinar-binar dan mulai menepuk-nepuk pundak kakaknya. " Sudah merasakan ciuman pertama ".


" Apa aku perlu menjawabnya ? ", Namu tersenyum penuh arti.


" Hebat !!!!! ... kakak top ", Haidar mengacaukan jempolnya. " Apa kau belajar dari Raka ..... untuk ciuman itu ? "


" Kau ini .... karena tidak pernah pacaran, kau pikir aku tidak bisa mencium seorang wanita ! ".


Haidar menjadi tertawa-tawa geli melihat ekspresi kakaknya. Jelas sekali wajah pria itu merona karena ada rasa malu yang menjalar.


" Maaf..... aku 'kan masih polos.... ", kata Haidar sok imut yang berbalas tinju dari sang kakak di lengannya.


" Satu pesan ku .... saat kau mendekap dan menciumnya, pastikan kendali atas dirimu pada posisi very strong. Kalau tidak..... huufff berbahaya !!!!!! tubuh mu .... tidak sejalan dengan nalurimu ".


" Waaaaah.... berarti... aku nyaris segera punya keponakan nih ... ha... ha... ha... ", Haidar kembali tertawa.


" Kalau nanti kau yang mengalami sendiri .... aku akan ganti menertawakan mu ".


" Ha... ha... ha.. iya ... iya kak ".


..............


...Author Corner...


Putri Anggrek Bulan..... temukan kisahnya di BIDADARI BIRU Very Spesial Episode yang akan terbit di tanggal 10-12 Mei. Sebagai hadiah untuk kerinduan para OrMan Lovers........


*****


Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial


IG : @renitawei_


FB : Reni Yusnita


Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.


Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.


@renita_wei

__ADS_1


__ADS_2