
Kisah Narendra Rakadipa
Terlahir dari seorang tuan putri yang nyaris tidak pernah mengalami kesulitan hidup berdasarkan materi. Lalu memiliki seorang ayah yang sangat loyal dan setia pada keluarga sang istri, karena ia memang hidup sebatang kara. Kemudian ada seorang kakak cantik yang bersifat sangat dominan. Ditambah saudara sepupu berumur sama hanya selisih beberapa hari saja, yang sangat brilian dan manis. Tentu menempatkan mu selalu sebagai urutan yang kedua. Cadangan ......
Beruntung saat kecil dulu dia sudah puas mengalahkan, terutama dalam berbagai permainan. Apakah membuatnya benci saudara sepupu itu? ... tentu tidak !!!!!. Apakah membuatnya benci kakak perempuan yang dominan ? .... tidak sama sekali. Karena dia mulai mengerti, ada seorang yang lebih tertekan daripada dirinya... dialah kak Namu sang putra angkat. Walaupun sepertinya sang putra angkat itu nyaman-nyaman saja , pasti karena sikap Tante Orlin dan Om Mandala yang hangat dan selalu penuh kasih sayang.
Apakah kemudian membenci benci ibu yang seorang tuan putri itu ? ..... mungkin . Apakah lantas benci ayah yang penurut itu ?.... bisa jadi. Tapi seorang Raka paling benci orang-orang luar yang merangsek mendekat lalu berkoar semau mulut mereka. Membanding-bandingkan dengan para pewaris itu. Membuat nya merasa muak dengan mulut mereka yang nyerocos menjijikan.
Sore itu menjelang senja saat melangkah tertatih, keluar melalui pintu belakang sekolahnya. Dengan sedikit lebam di sudut bibir, dan kening yang berdarah cukup banyak. Tapi bukan itu saja yang membuat semakin terhuyung. Rasa sesak dan sakit di dada ini lebih mencekam dan membuatnya seperti terpuruk ke dalam lubang yang sangat dalam.
Ini adalah mimpi buruk..... ini adalah mimpi buruk .... ini adalah mimpi buruk. Bodoh !!!! .... cepatlah kau bangun !!!. Ini hanya mimpi buruk ... lekas berlarilah !!! ... jangan sampai kau tertangkap lagi. Ahh.... sakiiiiit....., tapi Raka tetap tak mampu memanipulasi rasa nyeri berdenyut yang mendera seluruh tubuhnya.
Hanya remaja pria empat belas tahun yang baru saja mendapat pengalaman pahit, terkelam, terkejam seumur hidupnya. Bocah yang baru saja menapaki usia remaja dengan segala hingar-bingar keriaan karena sudah tidak lagi dianggap sebagai anak-anak. Namun kenyataan yang dihadapi sungguh diluar segala keindahan angan. Terjegal, terjerembab, diinjak, disakiti dan dihinakan .... seperti di lemparkan pada lubang hitam penuh kotoran. Sehingga untuk bernafaspun.... kau merasa begitu jijik.
Tiga turunan iblis yang menjelma sebagai bocah-bocah gila dengan otak besar namun berkapasitas kecerdasan hanya sebesar biji kacang. Wajah pun standar, hanya karena perawatan dan support nutrisi yang membuat wajah mereka menjadi terlihat sedikit berbrda dari orang biasa. Satu-satunya keberuntungan mereka adalah terlahir sebagai tuan muda dari keluarga kaya. Mempunyai kekuasaan atas financial, sehingga bisa mengendalikan segelintir manusia yang sudi menghamba.
Sang pimpinan mereka si Dracio yang sudah mengalami kerusakan dan penyusutan parah pada pre frontal cortex, padahal bagian depan otak itulah yang memegang peranan sangat penting karena yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Ratusan bahkan mungkin ribuan video dan foto pornografi telah membuat satu manusia ini benar-benar kehilangan karunia-Nya sebagai mahluk mulia.
Menjijikkan ...... Seringainya membuat tubuh serasa meremang dan memicu rasa mual.
" Kau ... jangan-jangan juga perempuan seperti kakak mu ... ".
" Kita harus membuktikannya ...hi .... hi... hi... ", seringai si begundal satu itu tak kalah menjijikkan. Apalagi di sambut si begundal dua yang juga tak kalah memuakkan.
Tidak salah bukan jika tinju itu kemudian mendarat sempurna di wajah yang menurut Raka memang patut untuk di hajar. Walaupun kau pimpinan mereka, umurmu jauh lebih tua tapi tingkah laku mu sangat patut untuk mendapatkan dua kali pukulan telak.
Badan besar itu terhuyung namun segera kembali tegak berdiri karena bantuan dua begundal setianya. Selanjutnya pasti bisa tertebak apa yang terjadi. Perkelahian tidak seimbang baik dari segi jumlah maupun dari segi usia. Membuat Raka tersudut dan menjadi sasaran empuk tendangan dan juga hantaman tinju. Walaupun masih sering ia bisa melayangkan pukulan balasan telak berkali-kali. Tapi jumlah yang tidak berimbang itu membuat Raka pada akhirnya terhuyung dan tersudut.
Satu pukulan dari Dracio yang memiliki tubuh tambun membuat remaja itu tak mampu melihat dengan jelas. Lelehan cairan merah kental itu menghalangi pandangan. Belum lagi tangannya berhasil menyeka dengan sempurna, satu pukulan membuat Raka merasakan gejolak hebat yang kemudian memaksanya memuntahkan isi perut. Dan Raka pun jatuh bertumpu pada lututnya, meringis dan mengerang.
" Baru begitu saja sudah KO ".
" Ternyata ... kakak beradik ini memang tertukar kelaminnya ... ha.. ha.. ha.. ".
" Jangan-jangan.... memang dia yang perempuan .... ha.. ha.. ha.. ".
" Iya pasti itu....".
Tidak ada gunanya lagi menyangkal ataupun menyerukan tentang bagaimana ketidak seimbangan pertarungan itu . Raka hanya terdiam menahan sakit, mengatur nafas dan mengumpulkan kekuatannya kembali.
" Kakaknya menolak mu karena .... jangan-jangan ... karena kau laki-laki 'Cio ... hi.. hi.. hi.. "
" Aaah .... tidak ada bedanya bagiku ... pria kecil ini cukup manis ".
Dan anak iblis berwujud pemuda tanggung dengan tatapan menjijikkan itu merangsek mendekati Raka. Lalu dengan perlakuannya yang seperti babi, hewan paling hina dengan nafsu bejat biseksualnya... Dracio melemparkan Raka pada palung gelap paling dalam. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan, mulutnya yang terbungkam oleh sesuatu yang paling menjijikkan dari anak iblis itu pada akhirnya menemukan cara untuk membebaskan diri dari kekejian ini.
" Aaaaa.... bang-syaaat..... ".
Rasa sakit' itu membuat Dracio terlonjak dan segera menjauh dengan cepat. Berjingkrak-jingkrak mengerang dan mengumpat sambil terus memegangi sesuatu diantara kedua selakangannya.
" Cio...."
" Cio.. "
Dua begundal itupun panik dan kebingungan melihat boss mereka. Membuat cekalan keduanya pada lengan Raka mengendur.
" Brugh ... Brakk.. Brugh... "
" Ahhh... "
" Argh.... ba-jing uaaan.. kejar cepat ... ".
Semua terjadi begitu cepat, dua pukulan telak itu membuat dua begundal terhuyung dan akhirnya jatuh terjerembab. Dengan wajah yang memerah karena amarah dan kebencian serupa gelegak magma di kawah sang Merapi, Raka masih menyempatkan diri menyarangkan sebuah tendangan telak pada benda laknat milik Dracio. Membuat anak iblis itu kembali mengerang hebat, dan mengumpat. Apalagi setelah tumpahan ludah disemburkan Raka pada wajahnya, dan pemuda itupun kemudian melesat cepat... menghilang dari tempat laknat itu.
Sang remaja itu baru saja merasakan dihina dengan pelecehan mengerikan yang tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya. Ia terus memuntahkan seluruh isi perutnya, tapi rasa menjijikkan itu tetap tak mau menghilang.
" Kakak... ".
Sebuah sentuhan terasa hangat, suara lembut itu menyusup perlahan, entah mengapa hatinya terasa menentram. Sepasang mata bening itu menatapnya sendu, tapi ini sebuah tatapan tertulus yang pernah dilihatnya.
" Dia kesana....".
__ADS_1
Suara itu terdengar dari samar menjadi lebih jelas, seperti derap langkah yang mulai mendekat.
Raka terkerjap nanar, dan wajahnya pun memucat.
" Ayo... kemari ". Si pemilik mata bening itu menariknya.
Dua remaja itu kini bersembunyi di sebuah pos satpam yang terletak tak jauh dari pintu keluar. Menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu berdua merunduk, menyembunyikan diri, merapat dibawah meja.
" Bersembunyi itu .... bukan pengecut, saat kita tidak memungkinkan melawan .... ", bisik si mata bening sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Raka.
.................
Sejak saat itu.....
Engkau adalah perisai untuk kelemahanku
Semenjak itu.....
Engkau adalah keberanian rasa takutku
Lalu perlahan...
Engkaupun menjadi pawang untuk liarnya rasaku
Tapi aku tidak pernah mampu menyentuh hati mu....
Kenapa ? ....
Apakah kau begitu membenciku sisi liarku ?
Tapi beningnya matamu .....
Aaah... aku selalu tersesat dalam damainya
Jika aku boleh meminta....
Sembuhkan aku dengan kelembutan mu
Lalu, biarkan aku yang akan tetap menjagamu
...............
Wajah Ardelia manyun sempurna, membuat Raka tergelak-gelak. Tapi buru-buru ia menutup mulut saat menyadari betapa para dokter co-*** di ruang istirahat itu mengernyit kening penasaran.
" Bukannya kau sedang jaga malam ... kok sempat V-call ? ".
" Operasinya batal .... keluarga pasien menolak, mau dibawa ke alternatif dulu. Nanti kalau sudah terbukti gagal baru dibawa lagi kesini..... hadeeeh ".
" Hi... hi... hi ... berarti edukasimu 'gatot'.... nggak sukses meyakinkan... ".
" Hei... dasar aja keluarganya yang ekstrim minded.... "
Kali ini giliran Ardelia yang tertawa terbahak melihat ekspresi Raka.
" Jakarta bagaimana ? ".
" Masih sama abaaaaang..... muacet, panas, banjir ".
" Koq nggak buruan balik kemari ? ".
" Urusannya belum selesai ", jawab Ardelia pendek. Tapi raut wajah yang berubah sendu dan meredup itu, tak dapat disembunyikan dari tatapan Raka.
" Apa susahnya ? ... tinggal tolak saja dia. Dan terima aku ... beres ".
" Raka.... ini hidup ku ... dan semua tidak sesederhana itu ".
" Delia ... bukankah kau yang selalu bilang padaku... dengarkan dan lihatlah dengan hatimu. Kalau dari semua ekspresi mu ini... seharusnya kau ... segera menolaknya ".
Ardelia tampak terdiam, begitu juga dengan Raka yang menunggu reaksinya. Keduanya dalam satu menit yang berjalan perlahan dan tertatih itu, hanya mampu saling menatap.
" Delia... benar' ini hidupmu. Karenanya jangan kau korbankan ... jangan salah langkah... beranilah... aku ada bersamamu ".
__ADS_1
" Terima kasih .... Raka ... ".
" I miss you so much .... girl ".
Dan Ardelia pun tersenyum dengan sangat manis. Tapi sinar matanya yang bening itu tetap menyampaikan rasa takut, luka dan juga kesedihan mendalam.
Hingga akhirnya membuat Raka tak mampu memejamkan mata malam itu. Walaupun sebenarnya ia merasakan tubuhnya sangat lelah dan penat. Tapi sekelebat kerjapan kejora di mata Ardelia yang meredup itu, benar-benar telah mengusik nuraninya.
" Ngopo mas? koq urung turu ? ". Suara tanya itu datang dari arah pintu yang terbuka.
Itu adalah Susan, salah satu teman sesama dokter residen yang kini sedang hamil lima bulan. Dokter imut yang manis tapi tomboi ini menanyakan kenapa Raka tidak langsung tidur, karena memang dia biasanya langsung ngorok begitu bersentuhan dengan bantal.
" Kangen sama si mba psikolog itu ? ", tebak Susan. Dan Raka menjawabnya dengan senyuman mengiyakan.
" Kalian berdua ini memang aneh ... kalau sudah saling cinta, kenapa masih tarik ulur terus sih ?".
" Dia yang tarik ulur. Aku sih jutaan kali ngomong cinta ke dia ... ".
" Serius nggak ngomongnya? ", sambar Susan.
Raka terdiam. Entah masuk orang keberapa Susan ini, di kelompok orang yang menanyakan hal yang sama.
" Kalau mas serius ... tunjukkan dong. Jangan jalan sama cewek sembarangan lagi.... ungkapan dengan perasaan yang tulus. Kalau perlu ... langsung datang ke orang tuanya. Buruan !!!! ... nanti keburu disamber orang lain loh ".
" San... ", Raka menyela cepat. " Bagaimana kalau ... aku datang ke orang tuanya... dan Delia tetap menolak ku ?? ".
" Cemen ... hi..hi..hi.. ", Susan terkikik geli.
" San... aku serius nih ", protes Raka.
" Iya.. iya.. iya.. ", Susan masih tertawa. " Bagaimana kau tahu kalau tidak kau coba ?... jika tetap ditolak... setidaknya kau sudah menunjukkan kesungguhan mu ... bukan lagi pengecut yang tidak melakukan apapun. Raka... aku yakin... nona itu hanya butuh meyakinkan hatinya sendiri. Dan dia sedang menunggumu ... ".
" Maksudnya San ?".
" Bisa tidak, tidak menyela ", kata Susan dengan galak.
" He.. he.. he... maaf San ... okay .. lanjut ".
" Ilang deeeh romantisnya. Tadi sampai mana ?... oh ya ... menunggu. Ehm... nona itu.. ".
" Ardelia .. "
" Ya nona Ardelia ", kali ini Susan tidak marah saat Raka tak sengaja kembali menyela. " Dia menunggu sesuatu yang berasal dari sikap mu ... yang menurutnya mencerminkan kesungguhan mu yang tulus. Ketulusan mu mencintainya. Seorang Don Juan seperti mu.... ah bukan..., pasti dia berharap engkau akan hadir disaat yang tepat ... dengan menunggang kuda dan meraihnya dalam pelukan mu. Meraih wajahnya dan menyembunyikan di dadamu .... menyelamatkannya... ".
" San !!! .....gua nggak bisa naik kuda ".
" Ya Allah ... Rakaaaaaa..... ", Susan menjerit kecil dengan gemas. Meraih bantal kecil di atas sofa bed dan mendapatkannya tepat di wajah Raka. " Heran deh ... modal mu apa sih koq bisa jadi playboy ????? .....hadeeeh... orang koq nggak ada romantis-romantisnya .... " .
" Ooh .... itu perumpamaan ya ? ". Raka nyengir tanpa rasa dosa, padahal sudah memicu emosi bumil malam-malam.
" Ya iyalah .... besok, pulang ke Jakarta. Walaupun sehari ulang-alik.... jabanin!!! .... bawa bunga yang cantik dan wangi. Katakan kau mencintainya dengan sepenuh hati, sambil tatap matanya ... jangan lupa berlutut. Dan ngomongnya ... jangan aku cinta kamu atau I Love You ... "
" Loh?? ... terus ? ".
" Say love with beautiful flower and the words is... Ardelia, kau tahu aku tidak sempurna, mau kah kau menyempurnakan ku? ... menjadi bidadari surgaku, menjadi satu-satunya manusia yang tercipta dari sempalan iga kiri ku ? ".
" Oooh...... so romantis. Harus begitu ? ". Sepasang mata Raka membulat, sementara Susan terlihat begitu menghayati setiap yang dikatakannya.
" San ... emang dulu pak komandan gitu ngomong cintanya ke kamu ? ".
" Nggak ?!!! ". Jawaban dan ekspresi Susan sungguh tak terduga. " Maunya begitu .... ", dan wanita itupun mulai cemberut. Raka pun menahan senyum demi melihat hal ini
" Tapi ... bang Bayu datang malam-malam dengan seragam lengkap ke kos'anku ... terus dia tanya : mau kah kau menungguku ? dan mendoakan ku pulang dengan selamat ? ... saat itu dia harus ke Afganistan ".
" Dan kau pun mengangguk, mengiyakan ? ".
" Iyaaaa.... sambil menangis. Lalu dia memeluk ku ". Pipi Susan memerah, dan senyuman merekah di bibirnya.
" Oouuuh ... pak tentara so sweet.... ".
" Tapi 4 bulan itu aku hidup dalam kegelisahan dan ketakutan setiap hari. Dia ... menyiksa ku ".
__ADS_1
" Hua... ha... ha.. ilang deh sweet nya ", Raka benar-benar tak bisa menahan tawanya kali ini.
" Heiii.... jangan cuma ngakak. Buruan .... besok libur'kan... pake' penerbangan pagi... sore langsung pulang. Katakan padanya, kalau kau sangat rindu. Jangan lupa .... bawa bunga ". Komando Susan pada Raka yang langsung dengan sigap melaksanakan mandat cinta itu.