PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Rentang Biru (8)


__ADS_3

Gadis cantik itu berlari menyongsong sang ayah dan melompat ke dalam pelukan yang pastinya sangat hangat dan nyaman. Tidak peduli sudah seberapa dewasa, ia tetaplah anak gadis kesayangan sang ayah.


" Ihh ... papa wangi banget sih. Ini mencurigakan loh ".


" Hei !!.. ini mamah mu yang milih loh ".


" Iya gitu mah ? ". Kirana, gadis itu beralih menatap mamahnya untuk mendapatkan jawaban.


" Memang kenapa kalau papah mu wangi ? ............. ".


Hanin Hanania, bagai terpaku dengan segala pesona dari interaksi manis yang tersaji di hadapannya. Segaris senyum tipis pun terulas tulus, karena ia ikut meraskan hangatnya cinta dari keluarga ini. Kasih sayang seorang ayah yang tak pernah ia rasakan, setidaknya ia masih bisa melihatnya dengan nyata saat ini. Iri ?, tentu saja ... tapi tepatnya lebih ikut berbahagia.


" Bu Firman ... ", pria gagah itu menghampiri dan kemudian menjabat tangan ibunya sesaat sebelum beralih menoleh menatapnya.


" Ini ... ".


" Hanin Hanania pak... ". Tak menunggu lama ia pun menjabat tangan pria itu lalu mencium punggung tangan yang kokoh dan lebar itu dengan takzim.


Ah, wangi yang hangat dan menengkan walaupun sangat maskulin. Mungkin seperti ini ya bau seorang ayah.


" Oh... sudah besar ya kamu nak. Cantik sekali .. ".


Bukan pujian itu yang membuat hatinya meleleh, tapi aliran hangat dari telapak tangan lebar yang kini tengah membelai kepalanya perlahan. Pasti begini rasanya dibelai oleh seorang ayah.


" Kali ini jadi menetap di Indonesia ?, atau masih mau balik lagi ke Jerman ? ".


" Sepertinya, tetap di Indonesia saja ".


" Baguslah, setidaknya tidak jauh lagi dengan ibu mu. Tapi nanti kalau sudah punya suami, ya harus ikut dengan suami mu, harus selalu mendampingi  ".


Hanin tercekat, menelan ludah lalu mengangguk perlahan. Seperti ada semilir angin bersuhu rendah yang bertiup di rongga-rongga hatinya, membuatnya nyaris tidak bisa bernafas.


" Pah, ayo ... sudah lama nih nunggunya ". Lalu terdengar suara Cinta yang sedikit beseru dengan mulut yang masih mencecap kue manis.


" Oh ... cucunya udah pada lapar ya . Ayo.. ayo ... ".


Dan untuk kedua kalinya, mba Cinta kembali menyelamatkan Hanin dari insiden berwajah semerah udang rebus karena menahan malu.


Pukul setengah sembilan malam tepatnya, ketika Hanin dan ibunya beranjak pulang dari rumah besar kediaman keluarga Mandala Arsenio. Hanin merasa lega sesaat, seolah baru saja terlepas dari sebuah ruangan yang penuh ranjau mematikan. Yang bisa meledak kapan saja menguliti dirinya. Karena sesungguhnya ia merasa sangat belum siap untuk semua kebaikan dan kebahagiaan dari keluarga pak Mandala dan bu Orlin yang sangat dikaguminya.


" Yang penting, lakukan segala pekerjaan itu dengan bahagia. Walaupun harus mulai dari bawah lagi. Yang namanya kualitas seseorang itu, pasti akan diwartakan oleh waktu ".


Begitulah Mandala memberi nasehat saat ia menjawab sejujur-jujurnya, jika ia hanya menjadi cook helper di sebuah restoran. Tanpa dirinya merasa perlu menerangkan bahwa sebagai orang baru masuk dalam kitchen hierarki, ia harus memahami segala hal terlebih dahulu tentang dapur tempatnya ia bekerja. Jadi harus harus melakukan observasi terlebih dahulu dari tingkat bawah yaitu cook helper. Walaupun sesungguhnya ia telah dipercaya untuk menjadi Chef De Partie di bagian pastry tentunya. Itupun setelah ia menolak posisi Sous Chef atau wakil dari Executive Chef. Karena ia cukup tahu diri dengan banyaknya senior di tepat baru ia bekerja nanti.


" Tapi sudah pernah jadi Head Chef 'kan saat di Berlin ? ".


" Iya pak, tapi hanya sebuah cafe dan resto kecil saja ", Hanin kembali merendah.


" Tidak masalah, itu artinya kamu sudah punya kemampuan untuk memimpin. Dan ini adalah modal dasar yang sangat penting untukmu. Apalagi kamu akan men...... ".


Tapi kalima itu tak terselesaikan karena tiba-tiba saja seporsi sop buntut yang baru saja dipanaskan menyeruak diiringi suara ceria Kirana.


" Ta.. da..... nih favorit papah, yang masak bu Firman tapi. Bukan Rana' ... ".


Bisa ditebak, detik dan menit berikutnya, bapak yang lembut dan gagah itu telah benar-benar dikuasai sepunuhnyan oleh sang putri cantik. Dan meninggalkan Hanin yang termakan rasa penasarannya sendiri.


" Setelah ini, ibu mau ngobrol sedikit serius sama kamu ya ". Tiba-tiba suara bu Firman mengoyak hening di dalam kendaraan yang sedang melaju itu.


Hanin tergeragap dari lamunan, ia menoleh pada sang ibu yang duduk santai disebelahnya.


" Serius banget kayaknya, Na' jadi takut bu .. ".


" Bukan hanya Nania yang takut, ibu juga sedikit takut ".


Membantu memberesakan aneka wadah yang tadi digunakan untuk membawa berjenis-jenis masakan, Hanin tampak ceketan melakukan pekerjaan itu. Hingga tidak perlu waktu lama, semua sudah bersih dan tertata rapi sambil menunggu kering.


Hanin melangkah menghampiri ibunya yang sedang menyeduh sesuatu beraroma jahe. Ia pun duduk di seberang meja, tak jauh dari hadapan sang ibu. Aroma rempah yang ternyata tidak hanya jahe itu memenuhi ruang makan yang tidak terlalu besar, menciptakan relaksasi yang cukup menyenangkan. Hanin menyelonjorkan kakinya dan bersandar dengan nyaman di kursi seolah dia terlupa dengan hal serius yang akan dibicarakan bunya saat ini.

__ADS_1


" Mau ? ", bu Firman menawarkan.


" Dikit aja, barengan sama ibu. Nggak usah buat lagi ".


Bu Firman pun kemudian menyodorkan gelas yang baru saja menghantarkan beberapa teguk cairan hangat manis berempah di tenggorokan itu pada putri bungsunya. Hanin nampak menghirup aromanya dengan nikmat, senikmat ia menyesap cairan hangatnya perlahan kemudian.


" Jualan kayak gini, pas musim dingin di Jerman, pasti sangat laris ".


" Kamu masih mau balik kesana lagi ? ".


" Nggak bu. Kalau untuk menetap lama  sih nggak, kayaknya ".


" Bagaimana hubunganmu dengan nak Haidar ? ".  Dan mulailah pembicaraan serius itu.......


" Uhuk ! ", tiba-tiba saja di tenggorokan Hanin bermunculan penghalang segede batu-batu gunung, membuatnya tersedak kecil dan terbatuk.


" Sedekat apa kalian ..., sudah resmi pacaran ? ".


Hanin kembali meneguk minuman hangat beraroma jahe dan sereh itu, untuk meredakan htinya yang terayun gelombang meresahkan. Sementara itu wanita setengah baya di hadapannya menatap dengan kelembutan yang menikam, menunggu jawabannya.


" Nania .... ". Dan itu adalah komando dari sang bunda, untuknya segera menjawab pertanyaan.


" Mas Haidar, memintaku untuk menunggunya ". Kalimat tersempurna yang bisa terucap. Itulah yang terlintas cepat, dan memang begitulah kenyataannya.


" Kau sudah yakin dengannya ? ".


Hanin terdiam, kembali menekuri gelas yang tinggal sepertiga isinya. Sementara kepala dan hatinya yang saling terkoneksi itu tiba-tiba saja mengalami kekacauan. Seperti lalu-lintas padat di jalan Ibu Kota saat jam berangkat kerja.


" Ibu hanya khawatir saja, kau tidak bisa dengan tepat memaknai apa yang sedang kau alami sekarang. Dan juga, apakah kau mampu  ? ... maksud ibu, kita ini... sangat jauh berbeda dengan mereka. Jarak yang terentang itu terlalu lebar, nak ".


Hanin yang masih sedikit tertunduk menjadi semakin dalam tertunduk, tidak berani menatap ibunya sama sekali. Nafasnya terdengar teratur, tentu saja adalah hasil dari usahnya mengatur degupan jantung yang tak menentu.


" Nak Haidar sudah meminta ijin pada ibu. Tentu saja ibu serahkan sepenuhnya pada kalian. Tapi sesungguhnya, ibu sangat mencemaskan banyak hal tentang kalian ".


" Apa yang dikatakan mas Haidar pada ibu ? ", Hanin memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap wanita berparas lembut dengan rambut yang mulai memutih itu.


Tampak bu Firman menatap penuh perasaan pada putri bungsunya. Seorang ibu yang begitu mengkhawatirkan gadis kecilnya. Yang tak mau melihat kesedihan lagi di wajah cantik itu, yang tak ingin melihat penderitaan lagi.


" Keluarga mereka sangat baik, dan terlihat sangat senang menerima mu. Tapi ingatlah, orang iri itu ada dimana-mana. Mungkin, ujian cinta kalian tidak datang dari keluarga tapi dari orang lain. Mengingat posisi dan kedudukan nak Haidar... apakah kau sudah siap dengan segala kemungkinan  itu ? ".


" Aku tidak tahu bu ", Hanin menjawab lirih.


" Nania sayang, anak ibu yang paling manis. Yang terpenting saat ini kau yakinkan hatimu dulu. Urusan yang lain, serahkan pada Allah. Berdoalah mohon petunjuk dan kekuatan. Ini bukan hal yang mudah nak, bukan hal yang sederhana. Tapi ibu yakin, kamu akan bisa dan kuat menghadapinya ".


" Aku jadi takut... ".


" Ya, kau memang harus takut. Sehingga kau tidak gegabah. Karena menikah itu hakekatnya menyatukan dua keluarga besar. Bertoleransi dengan segala perbedaan, beradaptasi dengan segala hal baru, dan mengalah untuk kebaikan bersama ".


Yang terdengar adalah helaan nafas dari gadis berkulit seputih mutiara itu. Berat dan mendesah penuh beban. Memancarkan rasa khawatir yang tiba-tiba saja datang dan menggelayut bagai mendung di musim hujan.


" Calon suami mu .... innsya Allah ... adalah orang yang istimewa, kau harus benar-benar  bisa mempersiapakan diri dan hati. Haidar itu berbeda dengan pria kebanyakan, dipundaknya ada banyak tanggung jawab yang dipikul. Tidak hanya memikirkan keluarganya sendiri, tapi ada ribuan keluarga yang juga harus dia tanggung keberlangsungan hidupnya. Kau harus mulai memahami hal ini  ".


Bu Firman bangkit dari duduknya, kemudian mendekat pada putri bungsu yang kini dirundung resah. Hanin meletakan kepalanya denga pasrah diatas meja, seolah meminta benda terbuat kayu itu untuk ikut menyangga beban yang kini disandangnya. Lalu belaian lembut sang ibu, membuatnya merasa nyaman sesaat. Setidaknya ia tahu, tidak perlu begitu khawatir jika ada yang akan selalu mendukung dan mendoakanmu.


" Haidar, dia sangat mencintaimu. Sinar mata yang seperti itu, ibu juga pernah melihatnya dulu. Sinar mata pria yang jatuh cinta dengan segenap hati dan jiwanya ".


" Benarkah bu ?. Pria yang ibu lihat itu... siapa dia ? ".


" Firmansyah... ayah mu ".


.......................


" Hai ... ".


Sapa pria berwajah tampan itu dengan senyuman menawan. Haidar menyapa Hanin pagi itu, padahal masih subuh hari saat ia menerima panggilan.


" Aku kangen. Tumben belum bangun ? ".

__ADS_1


" Mas yang kepagian nelpon aku. Masih jam empat ini ", gerutu Hanin sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya.


" Sengaja. Biar bisa lihat wajah polosnya ".


" Ish .. ", Hanin cemberut dan mencebik kesal sambil sedikit menguap. " kan lagi jelek-jeleknya ".


" Kata siapa ?, tuh... masih tetep cantik. Berlipat-lipat malah .. ".


Tentu saja perkataan Haidar yang manis itu membuat Hanin menjadi tersipu-sipu.


" Pagi-pagi buta udah dapat rayuan manis.... ah, nikmat mana lagi yang kau dustakan Haniiin ".


Haidar terlihat tak dapat menahan tawa, pemuda gagah itu terbahak-bahak. " Mau dapat nikmat rayuan manis tiap subuh ?. aku siap kok ".


" Kalau tiap hari sih jadinya rayuan gombal ".


" Gimana kemarin, sudah ketemu papah ? ".


Hanin mengangguk menjawabnya, he'eh .


" Nggak galak 'kan ? ".


" Nggak lah, dari dulu pak Mandala itu baik banget dan ramah. Ketemu Kirana juga ".


" Wah, sudah pulang tuh nona kuntilanak. Kamu aman 'kan ? ".


" Apaan sih mas, adik cantik dibilang kuntilanak. Ngaco 'ah !!! ", Hanin memprotes.


" He..he..he... biarin. Oh ya, hari ini apa acaranya ? ".


" Bantu ibu persiapan acara tujuh bulan mba Cinta. Kayaknya belanja-belanja deh. Tapi nanti jam dua mau ke resto, ketemu executive chef nya ".


" Hati-hati ya... dia laki-laki 'kan ?. Executive chef nya ? ".


" He' eh ... memangnya kenapa ? ".


" Aku kirim sopir buat antar jemput ".


" Apaan sih mas. Nggak, ngak usah ", Hanin menolak cepat.


" Mau buat aku khawatir seharian. Kalau dia naksir kamu gimana ? ".


" Ya berarti dia normal dong, 'kan laki-laki, ya naksirnya sama perempuan .. ".


" Naniaaaaaa....... ".


Dan meledaklah tawa Hanin melihat kekalutan Haidar yang terlihat jelas di layar teleponnya. " Bukankan kita harus mulai belajar saling percaya dan saling menjaga ya Mas ? ".


............................


Jarak yang merentang begitu jauh sebenarnya hanya sejauh waktu saat aku tidak memikirkan tentangmu.


Perbedaan yang menghunjam dalam, tak lebih dari masa saat kita tidak pernah mempermasalahkannya.


Ketika hati kita tertaut dalam keyakinan akan cinta yang tak menuntut.


Saat perasaan kita bukanlah dua tetapi satu jua.


Tidak ada lagi samudra yang terlalu dalam.


Tidak ada lagi benua yang terlalu luas.


Tidak ada lagi rimba yang terlalu lebat.


Tidak ada lagi gunung yang terlalu tinggi.


Dan tidak ada lagi gurun yang teralalu gersang.

__ADS_1


Dalam rentangan apapun, biarlah itu menjadi jembatan yang akan selalu mempertemukan kita.


__ADS_2