
" Dokter Orlin ".
Sebuah sapa lembut terdengar dibelakangnya, tepat ketika akan masuk ke dalam ruangan. Tentu saja Orlin segala menoleh, dan mendapati seorang wanita seusia mba Hana mungkin, berdiri dan tersenyum kearahnya. Disamping wanita itu ada seorang anak balita yang merengek dan sedang ditenangkan oleh pengasuhnya.
" Ya ..... ", jawan Orlin masih dengan raut kebingungan. " Pasien Poli ?. Maaf baru akan buka lagi nanti sore jam empat ".
" Oh tidak. maaf ya dokter.... tapi ada yang harus saya sampaikan pada mu ". Sahut wanita itu dengan aksen Melayu bercampur British. " Saya Filan ... dari Singapura ".
Orlin terpaku menatap lekat pada wanita itu. Tubuhnya nyaris kurus terbalut kulit, lingkaran hitam panda di matanya tetap masih terlihat walaupun wanita ini telah mengaplikasikan make untuk menyamarkannya. Wanita itu tersenyum sambil mendekat perlahan padanya.
" Tolong, dengarkan saja ...... beri waktu saya sepuluh minit saja ", mohonnya dengan sangat. Dan Orlin pun akhirnya mengangguk seraya mepersilahkan wanita itu untuk ikut masuk ke ruangannya.
" Terimakasih nyonya Mandala ".
Orlin sedikit terkejut, tapi ia segera menyamarkan dengan senyuman. Wanita ini, kenapa ia menyapa dengan panggilan seperti itu. Pastilah bukan orang tua pasien dengan kekhususan tersendiri. Membuat degup jantung dokter spesialis anak yang belum genap berusia limapuluh empat tahun itu terpacu sedikit lebih cepat.
" Ada yang bisa saya bantu ibu Filan ? ".
" Nama ku Filtantropi Elfafa, ini adalah foto ku ketika masih muda ", sambil menyodorkan selembar foto lama dengan kualitas gambar yang masih cukup untuk saat ini. " Aku yang berada di sisi paling kanan... ".
Dengan sedikit ragu, Orlin meraih kertas itu. Menatap seksama ganmar lawas yang tetera. Pria tampan itu jelaslah suaminya sewaktu muda dulu. Lalu si gadis rupawan dengan rambut ikal tergerai itu...... yang berada dalam jangakauan lengan suaminya yang melingkar di pinggang ramping si jelita nan elegan itu....
" Ya, itu tuan Mandala dan kekasihnya dulu, Nona Yecellin Sue ", Filantropi seolah dapat membaca pikiran Orlin. " ... dan yang berdiri sedikit di belakang nona Yecellin itu ..... aku ".
" Oh ", tukas Orlin pendek. Ia kemudian mengamati fota lawas yang menggambarkan betapa tampan dan berkharismanya sang suami. Tuan muda dengan sinar mata tajam dan senyuman tipis nan ekslusif yang bahkan mengalahkan keekslufian setelan yang dikenakan.
" Lalu ? ", Orlin beralih menatap wanita di hadapannya.
" Mr. Mandala, he is gantleman & very nice person. Tapi ada satu masa dimana ia tak kuasa menahan luka. Dan saya seperti seorang pencuri yang mengambil kesempatan itu........... "
......................................................................................................................
Raka menatap tante kesayangannya dengan tatapan bingung yang tak mampu ditutupi. Sementara itu Orlin terlihat sangat terkejut dan menjadi gugup dengan kehadiran keponakannya ini. Tak sekelebat ingatan membuatnya berusaha secepat mungkin menetralisir situasi. Wanita itu mencoba tersenyum senatural mungkin dan mengambil langkah untuk duduk dengan nyaman di kursinya. Dengan gesture anggun, ia mempersilahkan keponakannya ini untuk duduk juga. Pemuda yang sejak beberapa hari lalu bersusah payah menyesuaikan jadwal kerjanya demi bisa berbincang empat mata dengan dirinya.
" Are you okay 'tante Lin ? ".
" Tentu saja. Sudah kutunggu dari tadi loh. Ada apa ? ", Orlin berusaha mengalihkan perhatian Raka yang menatapnya curiga.
" Oh ... okay. Maaf tante, bisa aku meminta bantuan tante untuk pernikahanku dengan Ardelia ?. Lebih tepatnya, untuk mengantisipasi segala variable pengacau ... ".
" Pffft .... ", Orlin menahan tawa. " Maksudmu ?. Variable pengacau pernikahan itu akan datang silih berganti, dan itu dialami oleh hampir semua calon pengantin. Tapi tante tetap akan membantu keponakan kesayangan dooong ".
Raka tersenyum lebar, ia merasa telah menemukan kembali tante manis tersayangnya. Wanita lembut yang ceria, orang kedua setelah mamahnya sendiri yang sangat bisa dipercaya untuk urusan seperti ini.
" Yang ini khusus dari anggota keluarga Delia. Ehm ... maksudku dari ibu dan saudara-saudara tirinya. Tapi lebih dari itu, ada yang sangat ku khawatirkan. Sampai seminggu lagi, masih bisakah ? ". Tentu yang dimaksud adalah kondisi kesehatan dari papi nya Ardelia. Walaupun saat ini sudah keluar dari ICU, tapi masih sangat memungkinkan untuk kembali keruangan intensif itu kapan saja.
" Sudah sampai dimana kau mengurus persiapan pernikahanmu ? ".
__ADS_1
" Hah ?!. Oh ... sudah imunisasi ** Calon pengantin sih .. ".
" Sudah ke Kelurahan, Kecamatan dan KUA ngurus pendaftaran, administrasi dan sebagainya .... ", sergah Orlin cepat. Namun melihat kerjap mata Raka yang gelisah, Orlin pun segera tahu kalau keponakannya itu belum sama-sekali melakukan apapun.
" Oke, kita minta tolong pakarnya saja ya ", kata Orlin sambil menahan tawa, lalu ia mulai menelpon seseorang. " Halo ...., iya, mama mau minta tolong nih. Adek mu belum ngurus apa-apa nih, bisa minta tolong orang mu yang kemarin itu. Kayaknya dua dokter ini sama-sama nggak punya waktu ... ". Orlin pada akhirnya tertawa.
Sementara itu Raka cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba serasa berpenghuni *Pediculus humanus capitis *atau si kutu rambut. Namun ia bersyukur karena telah mengambil keputusan yang tepat, yaitu untuk datang meminta tolong pada tantenya.
" Boleh minta tolong satu lagi tante ".
" Lah.... sepuluh pun boleh, asal tante mu ini masih kuat ". Orlin terkekeh.
" Om dan Tante... tolong ikut jadi pendamping di keluarga Delia... ".
Kalimat itu tersampaikan beriring tatapan sendu yang penuh harap. Bahkan Orlin dengan jelas melihat pijaran rasa khawatir dan juga kesedihan di ufuk netra pemuda di hadapannya. Sejurus kemudian ia tersenyum dan mengangguk dengan yakin.
" Tentu saja ", Orlin meyakinkan Raka. " Nanti tante yang ngomong pelan-pelan dengan Om dan juga mama papa mu. Raka sekarang fokus pada mental Delia. Jangan pernah bertanya ada apa?, kenapa? mau mu apa? ... cukup datangi dia... genggam tangannya atau peluk dia. Yakinkan!!! kalau kamu selalu ada untuknya ".
" Apakah semua gadis, saat akan menikah jadi gampang terserang panik?, mood nya melebihi pre menstruation syndrome malahan.... hadeeeh ", Raka menyunggar rambutnya dengan gemas.
" Yap!. Sembilan puluh sembilan persen... iya. Ardelia tergolong tahan banting loh. Tekanan dan masalah yang dihadapinya luar biasa. Tapi ia tetap masih bisa rasional berfikir... ".
" Tapi gampang nangis ", sergah Raka dengan cepat. " Gampang galau... dikit-dikit merasa diabaikan... "
" Coz she need you... so much. And she love you ". Orlin meyakinkan Raka kembali. " Kau tahu, dulu ada gadis yang nyaris membatalkan rencana perkawinannya, di menit-menit terakhir hari H. Edan nggak? ".
Masa lalu ya?. Dan masa lalu itu tidak benar-benar berlalu. Bahkan masa lalu yang tak tersadari itu tiba-tiba datang bagai sebuah mimpi buruk. Orlin termenung ditengah tawa lepas keponakan tampannya, yang perlahan mulai menyadari tatapan kosongnya.
" Tante... ".
" Bu Orlin ", terdengar suara dari luar ruangan disusul dengan ketukan pintu yang terdengar tergesa.
" Ya ", jawab Orlin cepat.
Dari balik pintu yang terbuka sedikit menyembul wajah gelisah seorang perawat.
" Ada apa In? ", tanya Orlin pada Indah, sang perawat yang kini berjalan tergesa menghampirinya sambil sesekali membungkuk memohon maaf.
" Tamu nya ibu pingsan. Sudah di bawa ke IGD.... tapi.... ada masalah ".
" Kenapa? ", Orlin bergegas berdiri.
" Sebaiknya ibu langsung saja ke sana. Dokter Yan menunggu ".
Orlin menatap Raka sesaat, lalu mulai berjalan keluar dari ruangannya. Dan dua dokter itupun kemudian berjalan beriringan dalam diam dengan langkah cepat seolah melesat. Sementara Indah memberi isyarat bahwa ia akan kembali pada pos nya semula. Dan perawat senior itupun membungkuk hormat saat dokter mengangguk mengijinkannya.
" Tamu tante?. Teman? ". Raka bertanya saat keduanya sudah mulai masuk ke dalam lift.
__ADS_1
" Bukan... ".
" Bukan teman, kenalan pastinya ", tebak Raka.
" Ehm... oh ya, jika aku meminta bantuan mu.... kau mau menolong ku juga? ", tanya Orlin tiba-tiba.
" Tentu saja, dengan senang hati, tante ku cantik tersayang ".
" Raka, yang akan aku hadapi ini adalah.... masa lalu yang belum tuntas. Kebodohan dan kesalahan, tolong !! cukup hanya kita berdua saja dulu yang tahu. Sampai aku mampu menata hatiku.... jadikan ini rahasia kita ".
Raka termenung, menatap sepasang mata wanita cantik yang mulai terlihat berbintang karena air yang mulai menggenang. Bukankah saat ia datang tadi, tante Orlin juga terlihat seperti habis menangis?. Tapi kenapa? . Tamu itu siapa?.
" Ba' baik tante.... aku berjanji ". Pada akhirnya Raka menyanggupi, walaupun masih diliputi kebingungan.
..................
" Aku tidak sebodoh kelihatannya bukan? ", tanya itu memecah hening.
Raka yang juga tak mampu bersuara, akhirnya menoleh perlahan. Dan mendapati tatapan mata yang menusuk jalanan malam. Tantenya menatap kosong seraya membuang penar lewat hembusan nafas.
" Dia meminta DNA test, sangat percaya diri. Seandainya dia memang hendak merongrong, bukankah seharusnya dari dulu? ". Suara, Orlin terdengar mengambang segamang perasaannya.
" Mereka,, karena mereka sendirian. Dan kini, anak kecil itu juga harus bersiap menjadi sendiri. Jadi tidak salahkan, jika ia meminta kakeknya yang akan merawat bocah itu. Aku rasa sangat tidak berlebihan.... jika....".
" Tante.... ", Raka menyela. " Mari kita pulang dulu, jernihkan pikiran dan besok kita hadapi lagi. Ini pastinya bukan hal yang harus kita tanggapi dengan impulsif bukan ? ".
" He.. he.. he... kau benar anak ganteng. Rupanya kau memang sudah cukup dewasa sekarang ". Orlin terkekeh.
Raka pun ikut tertawa, seolah hendak menegaskan bahwa ia bersama tante Orlin tersayangnya yang juga tertawa. Dan ia tahu betul, di dalam hati wanita itu saat ini pasti tidak sedang tertawa. Tidak sedang baik-baik saja.
Menyembunyikan luka dalam tawa
Menangis dalam senyuman
Bertahan dalam diam
Bukan karena tanpa keberanian
Namun karena takut **menjadi lebih terluka
Dia bukan malaikat
Hanyalah seorang perempuan yang mencinta**
...... Author Corner.....
Bagi readers yang belum tahu siapa itu Yecelline Sue , silahkan baja - Bidadri Biru Part 90-94.
__ADS_1