
Nyonya rumah keluarga ini memang sangat luar biasa. Tidak seperti beberapa orang kaya yang pernah dikenal oleh Hanin, bu Orlin sangat menghargai orang lain. Tidak pernah dengan sengaja memperlihatkan kekuasaan apalagi kekayaannya. Sikapnya sangatlah lembut, bahkan saat merasa kurang puas pada pekerjaan yang dimintanya.
“ Mas, bisa minta tolong… pot bunga ini sepertinya digeser ke sebelah sana deh “.
“ Yak’ siiiip… bagus sekali. Terimaksih banyak ya mas “. Dan saat ia sudah merasa puas dengan satu hal, pujian dan juga ucapan terimakasih tidak lupa ia sampaikan. Lengakap dengan senyuman lembut nan menawan.
Hanin tersenyum dalam hati, ia jadi semakin yakin sekarang jika sikap lembut ini sepenuhnya telah menurun pada sang putra. Walaupun perawakan si mas yang sekarang ada di Jerman itu, jauh dari definisi lembut. Badan yang tegap, tinggi menjulang. Lengan berotot padat yang keras, juga garis rahang tegas yang kini brewokan. Tapi hati dan sikap Haidar sangat sama persis dengan sang bunda. Selalu membuatnya merasa hangat dan nyaman.
“ Gimana menurut kalian ? “, Orlin meminta pendapat sambil menatap Kirana, Ardelia dan juga Hanin bergantian.
“ Sudah okay kok tant “, jawab Ardelia.
“ Nggak kelihatan kayak dadakan gitu … gimana Rana ? “.
“ Ah mamah nih, timbang tante Nilam sama om Rayhan aja kok …. Mereka orangnya easy going kok, mamah aja yang ribet “.
“ Hus !!!!... yang namanya tamu ya tetep harus dihormati. Apalagi ini datang dari jauh. Serombongan juga sama anak dan menantunya “.
Hanin sesungguhnya sangat tidak memahami arah pembicaraan ini, terlebih dengan orang-orang yang dimaksud tadi. Tapi menurutnya, spot buffet yang dipersiapakan dadakan ini sudah sangat pas dan patut untuk menjamu tamu special.
“ Nanti kalau sudah selesai ditata hidangannya, pasti terlihat bagus dan elegan
kok “, Hanin akhirnya buka suara.
“ Oh ya … syukurlah. Mama percaya sama Hanin deh pokoknya… tolong ya cantik. Rana
… ayo ikut. Kamu kan’ udah kenal baik dengan mereka … ayo “.
“ Iya….. “, masih dengan ogah-ogahan dan tak sesegera mungkin melakukan pergerkan sang mama. Kirana malah merangsek mendekat pada Hanin yang masih ikut sibuk menata aneka pastry dalam wadah bertingkat seperti air mancur povenal .
“ Heeeh, buruan “, kali ini Ardelia yang mengingatkan.
“ Nah tuh, malah mampir dulu. Tuuuh “. Kirana menunjuk dengan dagunya, sang mama yang tertahan oleh dua orang wanita beda usia. Nampak sangat akrab, mungkin teman dekat papah nya juga. Yang jelas ia asing dengan wajah itu.
“ Siapa sih itu ? kaya’ pernah lihat wajahnya “.
“ Mana ? “, Ardelia pun ikut melongok penasaran. “ Saudara kali, masa nggak kenal ? “.
“ Bukan ! aku hafal saudara-sadaraku “
“ Tapi akrab banget sama mama Lin tuh… eh’, bentar, bentar … “, Ardelia tampak sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. “ Lah … itu ‘kan si model yang katanya jadi inceran para anak pejabat itu “.
Hanin yang tadinya tidak terpengaruh sdikitpun dengan pembicaraan itu, akhirnya mulai didera rasa penasaran. Ia pun ikut memanjangkan leher, melongok ke depan demi bisa melihat si focus mata yang sedang dibincangkan hangat oleh Ardelia dan Kirana.
“ Untung kakak udah laku, kak Haidar juga nggak ada… nah lo’ … bang Raka masih di depan loh mba. Awaas !!!!!... alert … waspada “.
“ Apaan sih … “.
“ Yah mba Ardel, pasti dia lagi ngincer salah satu pemuda Arsenio. Pasti itu “.
“ Hei, berprasangka baiklah. Dia itu yang jadi rebutan anak para pejabat. Apa iya masih mau sama yang model Haidar atau Raka … “.
“Ye … sendirinya juga mau. Padahal bang Raka ‘kan …. “.
Hanin
tersenyum geli, perdebatan dua orang wanita cerdas yang menggelitik. Sisi
wanita yang tidak bisa tertinggalkan. Posesiv, romantis, dan tentunya
kekanak-kanakan.
__ADS_1
“ Iya Rana… tapi nggak baik ah suudzon begitu “.
“ Nggak lah. Itu namanya waspada mba. Gue’ sih ogah punya kaka ipar macem tuh “.
Hanin masih menyisakan senyum nya, ketika suara gemerantang yang impulsive itu menyita seluruh panca indranya.
‘Prang !!!’.
Suara gemerentang itu mampu menghentikan perdebatan Kirana dan Ardelia. Membuat keduanya serta merta mnoleh ke sumber suara.
“Aduuh .. “. Tapi respon Hanin sedikit lebih cepat, gadis itu sudah berlari menuju arah suara itu.
Menghampiri salah satu pegawainya yang kini nampak gemetar ketakutan karena satu stock pot
gule nyaris berkurang separuh isinya. Sementara tutup cantik yang terbuat dari stainless steel beradu dengan kaca tahan panas itu, tampak terjatuh di tanah. Pasti ini yang menjadi asal suara.
“ Maaf .. maaf mba .. “, pegawai pria yang usianya mungkin masih sepantaran dengan Hanin itu nampak membungkuk berkali-kali penuh rasa bersalah.
“ Mohon maaf sekali mba, biar saya bersihkan dulu kain mba “. Hanin meminta dengan bersungguh-sungguh. “ Mas, kamu urus sisanya “.
“ Ya mba Hanin … ma-maaf kan saya “. Pemuda itu terbata-bata, tapi segera melakukan apa yang diperintahkan anak majikannya.
“ Mba … “, sementara itu Hanin mencoba berbicara kembali dengan gadis cantik nan anggun yang kini kain sutra panjangnya ternoda oleh kuah gulai. “ Mba nggak apa-apa ? . Mohon maaf sekali ya mba … “.
“ Sudah.. sudah, aku nggak apa-apa. Biar nanti ku bersihkan sendiri. Lain kali suruh anak buah mu kalau kerja yang bener, jangan meleng’ … biar nggak ada korban berikutnya … “.
“ Iya mba… maaf, mohon maaf sekali ya “. Pinta Hanin kembali dengan tulus.
“ Udah-udah, nggak minta maaf melulu … cepet beresin tuh “, Wajah cantik yang sangat anggun dan mempesona itu terlihat nampak kesal.
Hanin sekilas menatapnya dengan cemas dan juga penuh rasa bersalah. Sambil mempersiapkan telinga dan hati, siap tahu aka nada omelan berkepanjangan. Ya… memang pekerjanya juga yang salah, kurang hati-hati.
“ Nggak apa-apa kok, cuma ujungnya saja yang kena. Nanti di-loundry juga beres. Pegawai mu bagaimana ?, aduuuh … maaf ya, pasti dia ketakutan. Jangan marahi dia ya … “.
“
Halo mba Astrid, bisa minta waktu sebentar ?. Wah .. habis ada insiden ya “. Tiba-tiba saja seorang wanita berseragam biru tua dengan logo sebuah stasiun televisi swasta terkenal datang menghampiri. Tentu saja beserta seorang cameramen dan salah satu kru yang terlihat riang.
“ Oh hai … nggak apa-apa kok. Biasalah, aku yang kurang hati-hati “, Astrid membalas sapa reporter itu dengan ramah. “ Eh mba, maaf ya … aku nggak apa-apa kok. Tolong jangan marahi pegawaimu ya “.
Hanin semakin terlongo, ia benar-benar tidak siap dengan perubahan sikap yang sangat tiba-tiba itu. Mana ia terposisikan sebagai boss yang galak lagi. Waduuuh…. Berat nih.
“ Baiknya mba Astrid …. “, repoter itu mulai berceloteh. “ Baru tahu juga nih kalau ternyata mba Astrid di sini …. “.
“ Iya, keluargaku cukup dekat dengan keluarga Arsenio. Ya namanya juga tetangga… “.
“ Wah, jangan-jangan ada kisah indah yang lain nih … “.
Hanin memutuskan menjauh dari tempat itu, meninggalkan sisa gule sapi berceceran yang kini tak diperdulikan lagi oleh si nona cantik itu. Tentu karena ia sudah sibuk sendiri dengan orang-orang media.
“ Kenapa Nin ? “, sambut Ardelia dengan mimik wajah penasaran.
“ Si model, ketumpahan gule ….. dikit sih. Tapi keburu ada wartawan, ya aku kabur aja “.
“ Lah ? “.
“ Habisnya, dapat peran jadi bos yang galak. Padahal tadi dia yang sewot… kesel, nyaris ngamuk “.
“ He..he..he.. pencitraan itu “, Ardelia terkekeh diikuti oleh Hanin yang jiga terkikik geli.
“ Rana mana ?. Oh sudah nyusul bu Orlin ya “.
__ADS_1
“ Tadi nyaris bantuain kamu, ambil peran pengganti he..he.. untung nya tante Orlin keburu melambaikan tangan. Jadi ia lewat aja “.
“ Oh …. Eh mas, tolong sisa tumpahan di sana dibersihkan segera ya. Tamu pentingnya udah pada mau datang “, sergah Hanin dengan cepat saat seorang pegawai ibunya tampak berjalan tanpa menenteng apapun.
“ Oh iya mba, yang tadi ditumpahin Abdul ya ? “.
“ Ehm … iya “, karena Hanin juga nggak hafal nama-nama pegawai catering ibunya.
“ Habis ini pengajian ya. Nanti kamu duduk dekat aku aja ya “, kata Ardelia setinggalnya mereka berdua kembali.
“ Kayaknya aku harus ganti baju deh … look my style, nggak banget kan’ kalau buat acara pengajian “.
Ardelia memperhatikan lekat gadis bergaya casual itu. “ Iya juga sih, bawa baju ganti ? “.
“ Bawa kok, udah diwanti-wanti ibu dari semalam “.
“ Welcome lady .... this a real life of fomus family ".
" Ah, kau buat aku makin gak percaya diri mba ... ".
Dan Ardelia merangkul Hanin sambil terkekeh-kekeh. Gadis manis ini sangat lembut dan sangat menyenangkan. Ia jadi paham betul kenapa sahabatnya sampai jatuh cinta setengah mati. Benar-benar tipikal kesayangan semua orang, apalagi Haidar tentunya.
" Mau ganti baju Nin ? ", tiba-tiba terdengar suara Raka.
" Iya ".
" Ada yang masih kangen, nih ". Raka memberikan telponnya.
" Dari tadi ?... belum selesai-selesai ? ", sepasang mata bulat gadis itu melebar, sementara tangannya meneriam telpon yang diberikan Raka.
" Gantian aku yang nelpon. Mana mau dia rugi ? ", suara Haidar menyeruak seiring dengan wajah sumringah yang nampak di layar.
" Mas, udahan dulu ya. Aku mau ganti baju nih. Pengajiannya udah hampi mulai ", pinta Hanin.
" Iya deh. Eh ... ganti bajunya di kamarku aja. Biar bisa lihat calon kamar kita ... ".
Tentu saja muka Hanin langsung terasa panas dan memerah seperti tomat segar. Maluuuu.... apalagi Raka dan Ardelia yang masih menunggu tak jauh darinya, mulai cekikan menggoda.
" Minta anterin Raka... ".
" Udah dulu ya mas, bye ... ". Tapi Hanin langsung menutup panggilan itu tanpa kompromi. Lalu menyerahkan telpon yang dipeganngya pada Raka sang pemilik.
' Eiiits.... mau kemana ? ". Tahan Raka saat Hanin berbalik hendak menuju bagian dalam dari ruang keluarga, tepatnya toilet khusus untuk tamu. " Gantinya di kamar mas boss... tuh di atas ".
" Halah sama saja mas. Deketan juga situ ... ", elak Hanin sambil menjulurkan kepalanya
" Ayolah .... siapa tahu bisa jadi pengobat rindu ". Dan Hanin tak berkutik ketika Ardelia menarik tangannya. Membawa dirinya yang hanya bisa pasrah mengikuti menaiki tangga menuju lantai dua. Tempat dimana kamar si mas gagah itu berada.
................................
Huuufff, akhirnya selesai juga. Astrid menatap kembali bayangan dirinya yang terpantul di cermin. Sepertinya perlu sapuan lagi untuk perona bibirnya. Lalu ia pun sedikit mengaplikasikan lagi si warna nude yang segar. Agar lebih paripurna, ia pun mulai menambahkan kembali mascara transpantnya. Lalu berdecak kagum, puas dengan penampilan paripurna nya hari ini.
" Mba Astrid nih sukanya merendah gitu. Tahu-tahu nanti ada pengumuman pertunangan dengan salah satu putra keluarga ini ".
Astrid tersenyum, pancingannya berhasil. Para reporter infotainment itu telah benar-bener tergiring untuk mengendus sesuatu yang bakal booming. Walupun sebenarnya ia baru tahu dari cerita ibunya saja. Tentang anak kedua keluarga Mandala yang sebenarnya adalah anak kandung pertama dan sang calon pewaris tahta. Juga tentang adik dari Cinta, yang seorang dokter dan juga punya saham yang pastinya cukup besar sebagai bagian dari hierarki tertinggi dari kerajaan bisnis Arsenio.
Walaupun dia tidak beruntung kali ini, karena belum bisa bertemu dengan keduanya. Tapi setidaknya ia sudah bisa pasang perangkap. Para wartawan dan repoter itu pasti akan segera membanjiri media masa dan media elektronik dengan liputan eksklusif tentangnya.
" Iya nih, mba Astrid sukanya bikin kejutan. Kalau boleh ... bocoran dikit dong. Sama Haidar atau sama mas Raka nih .... ".
Astrid kembali tersenyum. Ia yakin sekali tak lama lagi pasti salah satu dari pangeran-pangeran itu akan segera mencari dirinya. Tentunya karena penasaran, siapa sih model cantik yang datang ke kediaman mereka pada acara kakaknya ini ?.
__ADS_1
Dan ia tinggal pasang strategi saja, sedikit tarik-ulur seperti biasanya. Dan buat uji kelayakan, sesuai dengan standar seorang Astrid atau tidak. Tapi ada satu hal yang dipesan ibunya, untuk kali ini ia harus berhasil dan bertahan seandainya kurang cocok dengan para pria keluarga ini. Karena ayahnya sedang sangat butuh dukungan dari orang-orang seperti keluarga Arsenio ini.
Astrid kembali tersenyum sambil mengangkat bahu. Lihat bagaimana nanti, begitu katanya pada diri sendiri. Lalu meraih tas tangan cantiknya dan mulai beranjak keluar dari pintu toilet khusus tamu itu.