PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Mengurai Masai, Menggenapi Janji (5)


__ADS_3

Ajari aku cara menisik keratan di selubung hatiku, karena koyaknya terlalu lebar


Ajari aku membasuh luka ini, karena telah bernanah dan selalu menyengat nyeri


Ajari aku untuk tidak membenci lagi


Ajari aku cara untuk memaafkan mu


Semua tidak semudah kelihatannya


Kusut Masai ini terlalu kuat membelitku


Menghantui kala sendiri ku


Menyiksa saat terlelap ku


Membodohiku dengan ketakutan yang dicipta


Aku ........


Jangan tanyakan bagaimana bertahan


Aku hidup dengan nafas benciku padamu


Aku tumbuh dengan mendendam padamu


Kau........


Sang perusak yang ku rindu


Tapi dengan dendam ku


............


Mimipi buruk itu kembali datang, kali ini tergambar begitu jelas. Keringat dingin dan tersengalnya nafas seperti berkejaran ingin memeluk tubuh rapuh itu dalam kecamuk perasaan. Yulia terduduk diatas tempat tidurnya. Perlahan mengusap air matanya yang mulai menggenang.


' Aku benci ... ', desisnya.


Dan kilasan masa lalu itu mengalir tak terbendung, walaupun ia mencoba menghentikannya dengan menutup mata. Tapi kisah itu tergambar kembali dengan sangat nyata dan membuat Yulia tenggelam dalam berbagai rasa yang selama ini selalu diingkarinya.


..............


" Yulia ... ", seraut wajah tampan itu menyembul dari pintu dan menyunggingkan sebaris senyum.


Tampak sekali rona bahagia yang tergambar di wajah tampan dengan rona abu-abu melingkar dagu dan tepi rahang, menandai bekas pria ini bercukur. Wisya seperti merasa mendapatkan sebuah hadiah besar. Tanpa diduga tanpa dinyana, gadis manis yang selalu membuatnya setengah gila ini kini berdiri nyata.


" Masuklah ... ", Wisya menarik pergelangan tangan Yulia untuk masuk.


" Tidak usah ", tepis Yulia dengan cepat.


" Kau tidak mungkin datang kemari hanya untuk berdiri didepan pintu. Masuklah .... ".


Pada akhirnya Yulia pun tidak menolak ajakan pemuda ini. Ia pun menurut untuk diajak masuk kedalam apartment Wisya. Dengan sangat canggung gadis itu duduk di ujung sofa dan terlihat sangat waspada. Sementara Wisya yang sangat bahagia dan antusias, nampak tidak bisa menghilangkan sebaris senyum dari wajahnya.


" Santai saja... tidak perlu malu. Aku tinggal sendirian disini. Oh ya... mau minum apa ? ".


" Terserah.... ", Yulia menjawab dengan gugup. Ia bergumam... tinggal sendiri disini, itu artinya saat ini hanya ada mereka berdua.


" Jus saja ya... ini tadi kebetulan Anelis kemari dan bawa dua botol jus ini ".


Anelis ?, Yulia mengerutkan keningnya. Tadi saat ketemu di koridor rumah sakit, gadis itu mengatakan tidak tahu dimana alamat Wisya. Tapi rupanya dia sudah dibohongi oleh Anelis, bahkan gadis itu habis berkunjung dari sini.


Wisya membuka sebuah botol jus yang berisikan cairan dengan warna kuning segar, sepertinya rasa mangga. Dan benar saja saat pemuda itu menuangkan isinya, tercium aroma khas buah tropis yang sedang musim saat ini. Dengan sebuah senyuman Wisya menggeser gelas yang telah terisi kearah Yulia, sedangkan ia sendiri pun juga lantas menenggak setengah dari isi gelasnya.


" Silahkan .... segar dan manis ", Wisya mempersilahkan.


" Aku ke sini untuk menanyakan satu hal ",Yulia tak bergeming.


" Diminum dulu, jalan masuk ke lingkungan sini cukup jauh .... dan tidak ada kendaraan umum, kecuali kau tadi naik taxi. Minumlah dulu .... ", Wisya setengah memaksa.


Pada akhirnya Yulia menuruti permintaan pemuda itu dan mulai meminum separuh dari isi gelas dihadapannya. Sedangkan Wisya telah tandas menghabiskan seluruh isi gelasnya. Pemuda itu menggeser sedikit duduknya mendekati Yulia, tersenyum dengan hangat dan menatap lekat gadis di sebelahnya.


" Aku sangat tersanjung kau repot-repot kemari.... padahal kupikir kau sedang sibuk dengan proyek penelitian mu bersama Haidar. Aku benar-benar iri dengan pemuda itu, kau tahu ... merasa kehilangan mu ". Wisya nyerocos penuh semangat dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


" Wisya ... ".


" Ya ".


" Kenapa kau membohongi ku ? ".


'Deg !!', sesaat jantung Wisya seperti berhenti berdetak. Satu-satunya kebohongan terbesar pada gadis ini adalah tentang siapa yang membayarkan uang semesteran. Dan itu adalah hal yang juga akan segera diungkap oleh Wisya. Bahwa ia sama sekali tidak pernah membayarkan biaya itu, dan semua dugaan Yulia adalah kesalahpahaman gadis itu yang belum sempat diluruskan olehnya.


" Kau membuatku merasa terlilit oleh hutang budi ... yang sebenarnya tidak pernah kau berikan padaku ... ", suara Yulia mulai bergetar.


" Yulia.... kau ... sudah tahu ". Wisya menatap Yulia, tatapannya penuh dengan rasa bersalah.


" Ya... aku tahu semuanya... karena aku telah bertemu dengan orang dari perusahaan yang membiayai itu. Kau.... membuat ku tersiksa dengan semua rumor yang beredar .... kau ... ".


" Maafkan aku Yulia, aku tidak pernah bermaksud demikian. Sungguh .... aku benar-benar ingin mengungkapkan semuanya padamu.... semuanya. Aku menunggu waktu yang tepat ..... karena aku sangat takut kau meninggalkanku, menjauhiku..... saat tahu kebenaran itu ".


Yulia terdiam, tapi sudut bibirnya membuat sebuah suara berdecih yang terdengar begitu sinis.


" Aku kesini untuk berterimakasih, walaupun kau membohongiku .... tapi bantuanmu padaku juga sudah begitu banyak. Dan aku .... aku juga sangat tertolong ".


" Yulia, tidak seperti itu... aku tetap benar-benar minta maaf atas semua kesalahpahaman yang akhirnya kugunakan .... seolah aku .... ".


" Sudahlah .... ", Yulia meraih segelas jus kuning segar itu dan meminumnya tandas. " Aku hanya minta tolong satu hal lagi padamu ... ".


" Kau memaafkan aku .... ", wajah Wisya pun berubah menjadi sumringah. Ia pun beringsut mendekati Yulia yang duduk disebelahnya. " Kau minta tolong apa.... pasti akan kuusahakan untuk mu ".


Berkebalikan dengan Wisya yang begitu bersemangat, Yulia menghela nafas panjangnya. Ada kesedihan yang perlahan membaur pada wajah yang memang sudah pias itu. Sorot matanya yang bening kemudian terlihat sendu.


" Aku minta .... jauhi aku... kita kembali pada sikap awal dulu. Hanya tahu, tapi tidak saling mengenal..... kita hanya kebetulan berada pada waktu dan tempat yang sama.... tadi tidak punya arti dan hubungan apa-apa... ".


" Yulia .....", Wisya tak mampu menutupi rasa kagetnya.


Pemuda itupun memegang kedua bahu gadis yang kini nampak tertunduk. Lalu menyentuhkan jemarinya pada wajah ayu itu. Mengangkat ujung dagu dan memaksa gadis itu untuk membalas tatapannya. Seperti sedang memindai jiwa Yulia dari iris mata yang mulai berkerjap gelisah. Mencari sebongkah kebenaran dari untaian kata yang baru saja menghadirkan tanya resah di hati Wisya.


" Kenapa Yulia ? ", tanya itu tegas walaupun terdengar lirih.


" Kita seperti angkasa dan mayapada ..... kelak aku akan sangat merepotkan mu. Dan kau.... juga ......... ".


" Kau .... karena kedekatan kita.. semua menjadi salah paham .... dan itu sangat merepotkan ku. Kau tahu??.... semua orang .... merendahkan ku ".


" Persetan dengan mereka!!! akan ku beri pelajaran mereka semua.... ".


" Wisya!!!!.... ", Yulia menyentak dengan kuat. Gadis itu bangkit berdiri. " Kau tidak berpikir .... bagaimana aku telah mengacaukan semuanya ... bahkan nama baik keluarga mu juga menjadi terancam ".


" Kau .... bagaimana kau bisa berpikir seperti itu ? .... bagaimana bisa ? ".


Wisya pun ikut bangkit berdiri, ia kembali memegang bahu Yulia. Mungkin karena emosi yang sedang mempermainkan perasaan mereka, Wisya merasakan jika sepasang mata Yulia seperti berkerjap sangat gelisah. Seolah ada kabut yang menyusup dan mulai menyesatkan.


" Putra seorang tokoh politikus .... memanfaatkan kelemahan seorang gadis teman satu angkatannya... demi mendapatkan nilai terbaik ... itu yang akan ditulis oleh para musuh ayahmu .... dan semua ini berawal dari ... kedekatan kita ... ".


" Kau pikir aku peduli ? ", Wisya menatap tajam pada gadis dihadapannya. " Yulia... bagaimana jika ... putra seorang politikus yang bodoh, akhirnya menemukan cinta.... ".


Dan satu gerakan cepat, seorang Wisya dengan tempo yang tepat segera menarik Yulia dan menerangkap gadis itu dalam pelukannya. Memaksakan dengan kedua lengannya, agar si gadis tetap berada melekat dan tak bisa berpaling dari tatapannya yang tajam.


Yulia yang merasakan entah mengapa beberapa saat tadi jantungnya mulai berdebar tak menentu, kini ia semakin tak bisa mengendalikannya. Seperti ada sesuatu yang mengalir hangat dan mulai berubah menjadi semakin panas dan membelit. Membuatnya tak bisa berpikir jernih, bahkan saat ia merasakan bibir Wisya terasa panas menyusuri pipinya.


" Aku tidak perduli .... untuk pertama kalinya .... aku menemukan tujuan hidup ku, dan itu kamu ".


Bisikan itu tetap terasa panas, walaupun telinga Yulia tertutup hijab yang dikenakannya. Debaran di dadanya seperti racun yang melumpuhkan akal sehat dan menginvasi syaraf motoriknya. Yulia tidak merasa tidak mampu mengontrol kendali atas dirinya.


Ketika Wisya mulai menggesekan bibirnya yang terasa semakin panas untuk menyentuh hidung Yulia, hati gadis itu menjeritkan penolakan. Tapi entah mengapa kedua tangan yang seharusnya mendorong dengan keras, justru melingkar di leher Wisya. Membuat pemuda menerjemahkan sebagai sebuah penerimaan.


Sebuah ciuman pertama yang hangat, dalam dan panjang, pada akhirnya terlepas saat keduanya sama-sama terengah-engah karena tak mampu memenuhi kapasitas udara untuk paru-paru mereka. Tanpa melepaskan kedekatan yang lekat dalam satu kaitan lengan yang melingkari pinggang Yulia, Wisya kembali hendak menenggelamkan wajahnya pada kelembutan bibir gadis itu. Tapi sebuah sentakan yang cukup keras, membuat pemuda itu sedikit terdorong.


" He.. hentikan ... ". Suara Yulia terdengar serak dan terbata-bata, karena sesungguhnya ia merasakan pening dan hawa panas meresahkan terus mengalir ditubuhnya. Bahkan pandangan matanya mulai sedikit mengabur, dan ada bagian tubuhnya yang berkedut dengan rasa aneh menggelanyar. Sungguh sangat tidak nyaman.


Wisya sangat menyadari hal itu, perubahan pada seraut wajah ayu ini begitu kentara. Dan kini, perlahan ia pun merasakan aliran panas yang mulai membangunkan sisi jantannya. Sial!!! .... ia pun mengumpat dan mengutuk dirinya. Ini bukan lagi sekedar respon dari seorang pria yang menyentuh wanita yang dicintainya, ia menginginkan lebih. Ini seperti efek yang timbul dari senyawa afrofisiak yang sengaja ditambahkan. Memicu badai dopamin dan feromon, yang kemudian membuat hasrat tak terkendali.


" Kau... kau ... mau apa ? ". Suara Yulia terdengar seperti sebuah rintihan, terloloskan dari hembusan nafas yang terdengar bergairah, serta gerakan tubuh yang tak terkendali.


" Aku akan menjagamu.... ayo masuk ke kamar ku ". Tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Wisya memondong tubuh Yulia yang masih saja bergerak semakin liar.


Wisya kembali mengumpat, ia benar-benar sudah diujung tanduk. Sementara godaan dari kedua tangan Yulia yang bergerak liar dan selalu tanpa sengaja menyentuh beberapa bagian sensitif tubuhnya, benar-benar seperti sebuah pemicu bom waktu.

__ADS_1


" Berbaringlah .... aku akan mengambilkan air es untuk mu ".


" Jangan pergi .... ". Sebuah tarikan kuat menahan Wisya yang baru saja selesai membaringkan tubuh Yulia.


Tarikan itu memaksa sang pria terjerembab diatas tubuh sang wanita.


" Shit... kau mempersulit ku Yulia. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mengontrol diriku .... "


Lalu pandangan Yulia mengabur, tapi dapat dirasakannya sentuhan-sentuhan yang membuatnya melayang itu. Hingga saat ia kembali mendarat dengan akal sehatnya.... ia seperti butiran pasir yang terhempas dari atas mega. Kecil, dan tak berarti.


..............


Yulia menatap wajahnya di cermin, seolah air segar yang baru saja dibasuhkannya itu tak berarti apa-apa. Ia melihat bayangan seorang wanita tanpa mahkota, yang telah tak utuh terkoyak. Dan itu adalah dirinya dari semenjak lima tahun yang lalu.


Dirinya yang terbangun disebuah ranjang besar dengan porak poranda, tak utuh lagi. Menangis sesaat sambil menyelimuti dirinya, berharap bisa bersembunyi dari kenyataan. Lalu tertatih turun dan segera mengenakan kembali seluruh pakaiannya yang berserakan dilantai.


Menatap dengan penuh kebencian pada siluet pria yang sedang sibuk membersihkan diri di kamar mandi. Lalu pergi dari tempat terkutuk itu dengan sebuah kebencian yang mulai bersemi dengan subur. Gadis yang berlalu dengan luka yang menganga lebar.


Dan saat ini, dimana ia sudah mulai kembali menata hidupnya. Semua mimpi buruk itu kembali hadir. Yulia tidak mampu menghindar, hanya ada dua yang bisa dilakukannya. Mengenyahkan atau tidak mengindahkan.


Dan pagi ini, si duri masa lalu, biang mimpi buruk itu telah duduk dihadapannya. Mengulas sebuah senyuman yang membuat ia menahan sekuat tenaga rasa mual yang mendesak. Bagaimanapun ia harus bersikap profesional dan menunjukkan kapasitas serta kedudukannya di tempat ini.


" Dokter Wisya, disini bukanlah rumah sakit. Ada dua program pokok, Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Perorangan. Untuk kesehatan Perorangan tentunya anda sudah sangat paham akan hal itu. Tapi untuk kesehatan masyarakat .... Anda harus belajar banyak. Dan harus bisa mengikuti ".


Yulia melepaskan kacamata yang dikenakannya, meletakkan benda itu dengan rapi di sebelah tempat alat tulisnya. Lalu kembali menatap pria dihadapannya yang tak sedikitpun mengendurkan senyuman.


" Baik Bu .... mohon bimbingannya ".


" Anda bisa belajar banyak dari dokter Haidar..... masih ada waktu sebelum kepergiannya ".


" Siap !!!..... dokter Haidar sedikit banyak sudah cerita dan juga..... sudah mengajari. Tapi saya tetap berharap banyak dari ibu...... bimbingan nya ".


" Tentu saja..... selama anda serius.... kita semua pasti juga dengan sepenuh hati ".


" Terimakasih bu .... ". Dan Wisya pun mengangguk dengan penuh bersemangat lalu bangkit dari duduknya. " Apakah tidak ada jabat tangan ??? ...... setidaknya ucapan selamat bergabung ? ".


" Selamat bergabung ", tukas Yulia dengan cepat.


Dan Wisya pun menyambutnya dengan uluran tangan. Menungg beberapa saat hingga kemudian Yulia dengan enggan menerima uluran tangan itu. Dengan cepat Wisya menyambar dan menjabat dengan erat, membuat Yulia terkesima. Eratnya genggaman tangan Wisya membuatnya tidak mampu menolak lagi.


" Terimakasih untuk semua kebaikan mu ini ...... dulu .... hingga sekarang, kau tidak berubah Yulia ... ".


Tiba-tiba saja kekakuan atas dasar formalitas yang sejak tadi melingkupi keduanya perlahan mulai runtuh. Saat Wisya memanggil nama saja pada Yulia, saat jabat tangan itu tak kunjung lepas, dan ketika Yulia menemukan kelembutan yang sama di sinar mata pria ini. Kelembutan yang sama seperti saat keduanya baru saja saling mengenal dulu.


" Bekerjalah...... ", Yulia perlahan menarik tangannya terlepas dari jabat tangan Wisya.


" Baiklah ..... aku permisi ".


Yulia mengangguk dan membiarkan Wisya melangkah menuju pintu. Tapi pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yulia. Tanpa senyuman dan raut wajah itu menampakkan kesungguhan.


" Aku ..... akan ke rumah mu malam nanti, bersama Haidar. Ada hal penting .... yang harus kalian berdua ketahui ".


Yulia diam tak bergeming, ia tak bergerak dan sepasang matanya menatap tajam pada Wisya.


" Jika itu tentang masa lalu ..... lupakanlah!!!... aku sudah menguburnya dalam-dalam .... ", kata Yulia dengan tegas.


" Kau .... Haidar ... harus tahu yang sesungguhnya.... karena ....... ", Wisya menarik nafas panjang dan membalas tatapan Yulia. Sinar mata pria itu menyiratkan sebuah luka dan kesedihan.


" Karena aku.... tak bisa berhenti mencintaimu "


....................


Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial


IG : @renitawei_


FB : Reni Yusnita


Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.


Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.


@renita_wei

__ADS_1


__ADS_2