
Detik itu berdetak seolah berkejaran dengan menit, yang meniti jam dan menjadi hari, tak terasa berlalu begitu cepat. Demi masa yang terus bergulir tanpa menengok lagi, tak ada jeda bahkan untuk sekedar menunggu yang berseru. Demikianlah sang waktu yang beriringan dengan rotasi dan revolusi segala benda di dunia. Mereka menutup mata pada mahluk-mahluk penghuni bumi. Berlarilah bersama, karena belum waktu kami untuk berhenti.
" Kakak, besok papa pulang duluan. Kalau mama masih tambah seminggu lagi ", Celine menghampiri Hanin yang baru saja masuk ke dalam rumah malam itu.
" Oh ya, acaranya sudah selesai semua ya ".
" Besok yang ikut pulang kak Celia sama bi' Nunung. Tau' mamah tuh, malah masih mau acara fashion week atau apalah, padahal maunya sih jalan-jalan mesti ".
" Sekali-kali dong nggak apa-apa, pasti seneng bisa balik ke tanah air ". Jelas Hanin membela Sabrina, sang mama si kembar Celine dan Celia.
" Kakak .. ".
" Ya ", jawab Hanin cepat sambil menghentikan langkah dan membalikan badannya.
" Kata mama, biar bi Nunung udah pulang juga .. kak Hanin masih diharapakan untuk tetep nemanin di sini. Kalau kata aku sih ... harus !!! ". Remaja manis itu mengeluarkan ekspresi menuntut yang manis.
" Ehm... gimana ya ?. Awal musim dingin akan ada food festival, kebetulan para ausbildung ikut ambil bagian. Kayaknya ... nggak bisa deh ".
" Yaaah ... ", jelas Celine sangat kecewa." Libur 'kan ?. Atau Celine yang sesekali ikut kakak saja. Biar nanti aku yang minta ijin ".
Sepasang mata jernih itu langsung melebar dan mengeluarkan pijaran semangat. Kekecewaan yang tadi sempat singgah dan menguasai sebentar, kini menjadi sirna tak berbekas. Dengan sangat girangnya, Celine melonacat-loncat gembira.
" Asyik .. asyik.. asyik... ajak mas Rama sekalian ya ".
" Boleh, tapi pastikan tidak menganggu proyek-proyek sekolah kalian ".
" Beres kakak cantik ". Di detik berikutnya, gadis remaja itu sudah melesat meninggalkan Hanin yang tadi sempat terhenti langkahnya. " Mas ... mas Rama ... ", seru Celine riang sambil berjalan cepat menuju kamar kakaknya. meninggalkan Hanin yang mengawasi sambil terus tersenyum-senyum.
Tidak terasa, sudah satu minggu lebih ia berada di rumah keluarga pak dubes ini. Menemani dua orang putra-putri mereka yang tidak ikut pulang ke tanah air. Menyediakan sarapan serta bekal makan siang dan juga makan malam yang biasanya diurus oleh bu Nunung yang pada menit terakhir akhirnya memutuskan untul ikut memanfaatkan waktu, pulang ke tanah air.
Yang artinya adalah sudah ada sebelas rose bouquet telah diterimanya. Dua terakhir belum sempat dibawanya ke flat tempat ia tinggal. Saat ini berdiri manis di dalam vas diatas meja, membuat suasana kamar tamu yang ditempatinya saat ini nampak lebih romantis lagi. Masih ditambah dengan beberpa spot time romantis yang beberapa saat lalu diterimanya. Membuat hidup yang sekarang dijalani Hanin Hanania seperti permen arum manis berwarna pink lembut.
Tapi sayangnya, sang pembuat arum manis pink di pipi itu malah begitu mengabaikannya, pastinya ... dengan sengaja . Arghh.... menyebalkan sungguh, pria bernama Haidar itu. Siapa ya nama lengkapnya?, pokoknya Haidar bla..bla..bla... yang kini membuatnya menjadi seperti pecandu alat komunikasi tercangguh abad ini.
" Kau sedang menunggu telpon seseorang cheff ?? ", tanya Ameer. Pasti karena pemuda itu melihatnya begitu terobsesi sepanjang siang hingga sore hari tadi dengan si handphone.
" Tidak, hanya melihat saja. Apakah ada pesan penting ", kilahnya saat itu.
" Oh ... pasti pesan dari si ganteng yang gentleman itu ya ". Tapi Ameer sepertinya tahu yang sebenarnya dan melanjutkan menggoda.
" Banyak pria ganteng dalam hidupku Ameer, tapi tidak ada yang sedang ku tunggu telponnya satu pun ". Dan ia pun kembali berkilah.
" Ouuuh... benarkah Chef ? ". Ameer semakin membabi buta menggoda, kini berikut gesture alay yang membuat Hanin menjadi salah tingkah tapi juga kesal.
" Sepertinya aku sudah punya orang yang bisa meng-handle urusan di tempat pelelangan ikan subuh nanti. Bisa kau beri tahu Jhon, suruh dia jadi sous chef malam ini ".
" Terus, siapa yang ke tempat pelalangan ? ".
" Kau 'lah !!, siapa lagi ? ".
__ADS_1
" Chef ????..... ah, bagaimana bisa aku sudah dua kali dapat tugas itu bulan ini ".
" Bukankah kau sangat longgar?, kau punya banyak waktu luang 'kan ?. Hingga cukup kurang kerjaan mengurusi urusanku ".
" Chef... sorry . Biarkan aku menikmati istirahat dini hari ku. Iya ... maaf, aku cukup sibuk koq. Permisi ya chef.. sorry ".
Hanin menahan tawanya melihat pemuda itu ngibrit meninggalkannya. Syukur !!!!, salah sendiri head chef kau lawan. Tapi sepertinya, dirinya memang sudah sangat keterlaluan dalam berharap. Berharap menerima sebaris pesan atau mungkin, bahkan panggilan dari pria itu. Orang-orang disekitarnya pun ' mulai menyadari hal aneh pada dirinya.
Hanin, Hanin... mungkinkah kau yang akan kalah pada pertaruhan kali ini ?. Satu bulan itu tinggal tiga minggu lagi loh. Di minggu pertama ini saja kau sudah begitu kelimpungan. Bagaimana dengan minggu-minggu selanjutnya ?. Jangan-jangan kau akan lari menubruk pria itu dan mengungkapkan terlebih dahulu jika kamu sidah rindu.
" Aaarghhhh... ". Dengan jurus andalan membekap wajahnya sendiri lalu berteruak keras mengeluarkan segala kegundahan, Hanin kembali mencoba terbebas dari belenggu 'taruhan asmara satu bulan dengan Haidar'.
Hingga tiba-tiba saja sebuah dering dan getar dari si kotak penghubung canggih yang tadi sempat dia lemparkan begitu saja di atas pembaringan. Benda itu menggelepar-gelepar meminta perhatian, membuat si-empunya terkesiap kaget.
Tak segera meraih telepon seluler-nya, gadis itu mengamati dengans seksama. Sepasang mata jelinya membesar mengamati nama yang tertera di layar. Hingga akhirnya setelah ia mendapatkan kepastian dari hasil pencitraanya, dijawabnya panggilan itu. Walupun, ada sedikit rasa kecewa karena itu bukan berasal dari Haidar.
" Halo ".
" Nona Hanin ".
" Ya, saya sendiri ".
" Ini dari ruang perawatan nyonya Sellma. Saat ini ia sudah sadar, dan dokter Smith sedang dalam perjalanan kemari. Bisa nona kemari sekarang ?. Kami sudah mencoba menghubungi ayahnya nyonya Selma, tapi tidak tersambung. Bisakah nona Hanin kemari sekarang ? ".
" Ya, saya segera kesana ". Hanin menutup teleponnya. Menyambar mantel yang beberapa saat lalu dionggokannya begitu saja. Segera keluar dari ruangan kamarnya, melangkah dengan ringan seolah melayang. Sementara detak jantungnya berdetak seirama dengan detik yang mengawal langkah.
Beruntung hari ini tidak ada hujan yang terkadang mengguyur dengan deras seperti sebelum-sebelumnya. Awal musim gugur yang sudah mulai terasa dengan udara dingin yang mulai membuat persendian seorang gadis dari daerah tropis sedikit bergemeratk ngilu. Tapi kali ini dia tidak merasakan hal yang seperti itu sama sekali.
" Saya harus ke rumah sakit, tuan Egin ".
Pria berumur empat puluhan ini biasanya tidak lebih ramah dari kawannya yang bernama Paul, tapi tetap sama perhatiannya. Lihatlah bagaimana pria bernama lengkap Eginhardt ini menatap denga wajah yang mulai terlihat khawatir.
" Aku baik-baik saja, tuan ". Hanin tahu benar apa yang dipikirka oleh pria itu. " Temanku tersadar dari koma nya, tapi anggota keluarganya tidak bisa dihubungi. Jadi pihak rumah sakit menghubungiku. Aku berangkat dulu ya ".
" Ini sudah larut nona, biar kuantar saja ".
Hanin menghentikan langkahnya, ia menoleh pada pria yang kini nampak bersiap dengan mengenakan jacket kulitnya. " Apakah tidak merepotkanmu tuan ?. Biar aku naik taxi saja ".
" Kau tanggung jawabku sekarang, dirumah ini nona. Mari kuantar ". Dan pria itupun berjalan mendahului dengan langkah lebarnya. Membuat Hanin akhirnya tersenyum saja sambil mengikuti, setidaknya ia tidak perlu berdingin-dingin menunggu taxi.
Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk segera sampai di sebuah rumah sakit lima lantai, yang berhalaman luas itu. Apalagi keadaan yang sudah larut malam tentu saja sangat menguntungkan, karena tidaka ada hambatan kepadatan lalu lintas.
Hanin melompat turun dan mulai membuat langkah ringannya berubah menjadi sebuah lari kecil, Tak berapa lama, tuang Egin sudah hampir menyusul dengan langkah panjangnya. Namun pria itu lebih memilih untuk tetap berada di belakang gadis mungil ini. Sambil sibuk menerka-nerka siapa yang embuat si mungil ini begitu tergesa.
Apakah temannya dari Indonesia ?, ah ... pasti begitu. Pria atau wanita ?, entahlah ... tapi bisa jadi seorang pria. Karena gadis mungil ini tampak sangat-sangat gelisah semenjak diperjalan tadi. Pasti pria itu sangat istimewa, bisa jadi dia lebih dari sekedar teman untuk gadis ini. Siapapun itu, pastinya sangat patut untuk disyukuri karena sudah kembali tersadar dari komanya.
" Dokter sudah datang dan sedang memeriksanya, nona ". Demikian sambut seorangperawat begitu melihat kehadiran Hanin. Wanita berkulit hitam dengan lekuk tubuh aduhai yang sebenarnya lebih cocok untuk profesi seorang model itu melangkah mendahului Hanin. " Masuklah ", sambil membukakan pintu kamar dengan doninasi warna putih dan biru yang lembut itu.
" Terimakasih nona Grace ", jawab Hanin.
__ADS_1
Tuan Egin yang mengikuti, menghentikan langkahnya tepat diambang pintu. Sambil tak berhenti mengamati keadaan. Seorang pria paruh baya dengan jenggotnya yang mulai beruban dan berjas putih, tampak sedang memeriksa reaksi pupil mata seorang wanita yang terbaring di atas tempat tidur. Tubuh wanita itu kurus, wajahnya pun terlihat pucat, tapi bibirnya nampak mulai berona kemerahan. Sementara seorang wanita berpakain perawat tampak juga sedang membantunya.
" Apakah itu ayah, ibu ku ? ", tanya wanita itu dengan suara yang serak dan lirih.
" Sellma ... ", Hanin mendekat perlahan. Lalu berdiri di samping sang dokter, setelah perawat asistennya menepi memberikan ruang yang cukup untuk Hanin.
" Oh, Hanin ya ? ".
" Iya ... ini aku ", jawab Hanin dengan suara yang sedikit bergetar. Ia terharu, bahagia, sedih dan juga memendam amarah. Semua perasaan seolah bercampur aduk malam itu.
" Hei ... ", Selma mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Hanin. Dua wanita itu saling berpegangan tangan dan tak kuasa membendung air mata yang mulai meleleh hangat, mengalahkan dinginnya angin musim gugur.
" Terimakasih ya, kau selalu membuatku mengingat Leisel .... ". Walaupun lirih dan sangat bergetar, namun suara Sellma terdengar jelas. " Aku tahu kau merayakan ulang tahunnya di sini ........ terimakasih ... ".
Hanin hanya bisa mengangguk-angguk saja, sementara air matanya berlompatan tak tertahankan. Sementara itu tuan Egin yang memperhatikan seluruh kejadian itu, menjadi sedikit kebingungan karena praduganya yang keliru. Ia penasaran, tapi hanya bisa bertanya-tanya dalam hati saja. Siapa 'kah gerangan wanita muda ini ?, apa hubungannya dengan gadis mungil yang sangat dekat dengan keluarga boss nya ini ?. Kenapa mereka berdua terluhat sangat erat ikatan emosionalnya ?.
" Nona Hanin, kami akan menunggu satu malam ini dulu untuk perlahan-lahan melepas seluruh alat penopang hidup di tubuh nyonya Sellma ". Suara sang dokter mengalihkan suasana. Hanin menyusut air matanya dan emnatap dokter itu, mendengarkan dengan serius dan seksama.
" Besok siang, masih ada beberapa test yang akan kami lakukan. Untuk memastikan kondisi nyonya Sellma ... tapi sembilan puluh persen aku yakin, semua akan segera baik-baik saja. Kau hebat nyonya Sellma ".
Pria itu tersenyum sambil menatap pasien dan juga kerabat pasiennya bergantian. Kelegaannya nampak membuncah sempurna melihat dua wanita muda yang walaupun masih sibuk menyusut air mata, namun nampak sudah sangat bahagia.
" Hanin... bisa kau menemaniku malam ini ? ".
" Tentu saja Sellma ". Tapi sejurus kemudian Hanin menatap tuan Egin yang masih berada di ambang pintu. " Aku keluar sebentar ya Sellma... hanya sebentar saja ".
Wanita yang terlihat pucat itu mengembangkan senyum seraya melepaskan genggamannya dari tangan Hanin, membiarkan gadis itu melangkah menuju pintu. Barulah dia mengerti jika ada seseorang yang berdiri di sana, pria itu berwajah keras tapi memiliki senyuman yang sangat ramah. Mengangguk padanya sebelum keluar dari ruangan beriringan dengan Hanin. Sellma memilih tidak menerka-nerka siapa pria itu, karena kepalanya sedikit berdenyut-denyut.
" Nah nyonya ... kau bisa mulai latihan duduk dan jalan besok pagi. Malam ini sebaiknya jangan terlalu keras untuk mengingat banyak hal, kau mulai pusing bukan ? ".
" Ya, baiklah dokter ". Sellma mengangguk, menurut pada nasehat dokter yang menurutnya baru kali ini ia bertemu. Tapi wajah ramah dan hangat pria paruh baya beserta perawat disebelahnya itu, membuatnya sangat percaya jika mereka sudah begitu mengenal dirinya. Pasti karena ia pingsan terlalu lama.
" Hai ... cantik mommy -nya Lei .. ". Hanin datang dan langsung menyapa dengan riang. " Terimakasih banyak dokter atas dedikasi dan kerja keras anda beserta semuanya selama ini .... kalian the best ".
" Nona Hanin... ", dokter itu tertawa, kelegaaan dan kebahagiaan tak terpungkiri, terlihat begitu nyata di atmosfer yang melingkupi mereka semua malam itu. " Kau juga sangat luar biasa, tapi yang paling hebat ... tentu saja nyonya Sellma ya ".
" Pasti karena ada banyak doa dari kalian semua dan juga kesabaran anda merawat ku dokter, suster ".
Malam itu berlalu dengan hangat, mengiringi kebahagian yang berbinar disepasang mata Sellma setiap Hanin memperlihat foto-foto Leisel yang cantik dan menggemaskan. Kerinduan selama satu tahun ini, penantian yang terasa sangat panjang, rasa sedih, rasa takut dan juga hembusan nafas yang syarat dengan kekhawatiran semua seperti terhapus perlahan dan pasti. Dua wanita itu saling bercerita dengan bahagia, menghapus luka yang sebenarnya adalah pemersatu mereka. Menajalin erat genggaman, saling menguatkan untuk menyongsong masa depan.
\==========================================
Author Corner
Othor yang suka ngilang .... hadiiiir !!!!!!!!!.
So sorry ..... bingits. Maksud hati nggak demikian, tapi pada akhirnya ya jadi demikian. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Mana Alend & Rana Lover's ? ......... haaaiiii.... on progres, siap-siap di bulan Februari tahun ini ya. Tunggu kisah mereka yang juga ditingkahi oleh kisah seru DLD (Duo Little Devil) dan Oppa kesayangan yang lagi butuh-butuhnya suplemen energi .... hi..hi..hi..hi... (kejar tayang---->>>>> harus segera ngasih cucu).
__ADS_1
Siap-siap di launching novel terbaru : PRIA SETENGAH PURNAMA