PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merenda Romansa (6)


__ADS_3

Semula Haidar masih mengira jika mereka akan dibawa ke kediaman pribadi milik kakak sepupunya ini, tapi ternyata tidak. Sebenarnya sudah hampir tiga tahun keluarga kakak sepupunya ini menetap di rumah dinas yang bersebelahan dengan wisma KBRI untuk Jerman. Tempat yang hanya beberapa belas menit saja dari rumah pribadi milik Tante Hayu yang kini sudah diberikan pada Sabrina dan suaminya.


" Yang nempatin siapa sekarang ? ", tanya Haidar begitu mereka bertiga menjejakkan kakinya di bangunan dua lantai itu.


" Kalau weekend kami berkumpul di rumah itu ".


" Lah .... Tante Hayu ? ", tanya Haidar lagi.


" Baru demen-demennya mandi air panas sambil kursus Ikebana tuh. Sudah tiga bulan lebih malah ".


" Di Jepun sana? ..... sejak kapan ? ".


" Iya dooong ... ada kakak yang iri juga sih, minta gantian ditungguin ", Sabrina terkekeh. Tentu yang dimaksud adalah Adrian kakak sulungnya. Yang kini sudah menjadi ilmuwan dan mengajar di salah satu universitas ternama di negeri Sakura.


" Lebaran tahun depan, usahakan kumpul di kampung halaman ya mba ", kata Haidar kemudian.


" Iya ... pinginnya sih begitu, tapi kalau masih tugas di sini .... kayaknya sih susah. Lebaran berarti menjadi orang tua, kerabat dan saudara bagi seluruh WNI di sini. Tiga hari open house .... dan itu adalah hal wajib. Tanggungjawab hati untuk saling menguatkan mereka yang juga rindu kampung halaman ".


Haidar terlihat manggut-manggut, ia sedikit banyak mulai memahami bagaimana posisi keluarga ini. Sepertinya sosok Bu Dubes yang ramah, dewasa dan penuh pengertian ini telah benar-benar membaur dengan bawaan asli kakak cantik, lincah dan sebenarnya sangat manja. Pasti karena ada kasih sayang yang tulus dari pria tercinta, yang mampu menempa pribadi sang istri menjadi sosok yang lebih sempurna lagi.


" Waduh .... keasyikan ngobrol nih. Keanu maaf ya .... ayo biar diantar ke kamar. Bersih-bersih dulu, lalu makan ya .... ku tunggu di ruang makan. Haid ' .... sebelahan dengan kamar mu. Biar diantar Bu Katri ".


Seorang perempuan yang usianya mungkin sebaya dengan kakak sepupunya ini, berpenampilan sederhana dan memiliki raut wajah yang adem menenangkan. Tersenyum ramah dan mengantar mereka berdua menuju deretan kamar tamu.


" Bu dubes asyik ya orangnya, ramah, keibuan .... ", akhirnya Keanu berkesempatan mengeluarkan opininya pada Haidar.


" Setelah kawin.... dulu..... heeeem.... anak mami dia ". Setidaknya begitulah yang terekam dalam ingatan Haidar, karena saat itu ia masih seorang anak-anak yang persis seperti spons. Menyerap apapun yang dilihat dan didengarnya dengan cepat.


" Efek aura kaya wibawa dari pak Rama ya ", tukas Keanu kemudian sambil setengah berbisik. Tentu saja karena mereka berada tepat dibelakang Bu Katri, yang mungkin saja bisa laporan pada sang majikan.


" Kamu tahu nama lengkap mas Arya ? ... Rama maksud ku? ".


" Rama Mahardika ? ", Keanu menjawab setengah kebingungan.


" S - Rama Arya Duta Mahardika. Tahu 'S' nya ? ".


Keanu menggeleng, tapi buru-buru ia tersenyum usil. " Sri ..... Sri Rama ? ".


" Sembilan puluh persen orang menebak demikian. Dan ....... meleset. Karena dengan sadar diri, kakak ku yang ganteng penuh wibawa itu meminta namanya diganti ... Sri Rama, menjadi Syah Rama .... bla..bla..bla... ".


" Alesannya ? ".


" Terlalu girly katanya ".


" He... he...he .... Sri ya.... iya juga sih ", Keanu terkekeh dan mengeluarkan mimik lucu.


" Saat baru-baru pedekate' dulu .... kita-kita demen banget tuh ngeledekin mba Sa'.... jeng Sri di cari Mas Sri tuh .... ha... ha... ha.... ". Haidar terbahak, ia ingat betul moment jahil dan usil dirinya dan Raka. Tentu saja minus Namu yang dari dulu emang kalem. Dua orang bocah berusia sepuluh tahun yang hobinya jahilin kakak perempuan dewasanya. Jika sudah dibungkam dengan es krim atau cokelat, barulah para berandal cilik itu mengibarkan bendera perdamaian.


" Keluarga kalian sangat dekat ya, hangat dan harmonis .... ", tukas Keanu kemudian. Entah mengapa ada rasa getir yang tersirat dari kalimat yang baru saja terucap itu.


" Biasalah .... seperti keluarga-keluarga lainnya. Hei... kau sekarang juga sudah masuk jadi anggota keluarga ku loh. Jangan sungkan ya ".


Haidar dengan cepat menyadari ada yang berbeda dari sikap Keanu sesaat tadi. Ia merangkul dan menepuk pundak pemuda itu. Lalu mendorongnya perlahan untuk segera masuk ke dalam kamar yang baru saja dibukakan oleh Bu Katri.


" Segarkan badan ... lalu segera turun kebawah. Mba Sa' menunggu ".


Keanu pun mengangguk dan penuh semangat ia segera melakukan apa yang diminta Haidar. Sementara Haidar pun melakukan hal yang sama dengan Keanu di kamar sebelah. Bergegas mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang menenangkan.


......................


Aroma wangi Bratwurst atau sosis khas Jerman yang diolah dengan cara dipanggang jelas menguar memenuhi seisi ruang makan. Membuat hidung Haidar semakin kembang-kempis. Bersanding dengan pendamping setianya Kartoffelsalat ya terbuat dari potongan kentang rebus yang dikombinasikan dengan bawang Bombay segar, mayones, cuka, tomat, telur, daging sapi dan saus yang terbuat dari susu. Dengan gerakan cepat, ia pun menarik sebuah kursi dan mempersilakan Keanu untuk segera duduk menyebelahinya. Lalu tersenyum ceria persis seorang anak umur sembilan tahun yang baru saja tiba di rumah selepas pulang bermain bseharian, dengan kelaparan yang melanda.

__ADS_1


Sabrina tertawa melihat ekpresi sok imut seorang pemuda yang adalah adik sepupunya itu. Sambil membawa hidangan terakhir ia pun menghampiri meja makan.


" Ada si kubis cacah juga ya ", Haidar mengomentari semangkuk sedang hidangan yang dibawa kakaknya.


" Kubis cacah .... Sauerkraut. Ini dibuat dari kol putih yang diris tipis kemudian difermentasikan. Makanan ini rasanya asam namun dapat menyegarkan.... di-skip aja ya omongan bocah konyol itu. Enak kok ... Keanu harus coba, pas sekali dengan dua hidangan sebelumnya ".


" Terimakasih Bu .... ini lengkap sekali. Apa tadi ?. Sauerkraut ya..... seperti kimchi nya orang Korea kali ya ? ".


" Betul ", Sabrina menjawab dengan gembira. " Mari .... silakan makan dulu. Paling pas transit tadi cuma sarapan makan croissants ya ... ".


" Betul .... cuma tiga biji ", sahut Haidar cepat sambil mengubur sosis sapi panggang dengan salad yang terbuat dari kentang rebus.


" Makanlah adik gembul.... jangan sampai kau kurus di sini. Bisa kena marah Tante Orlin nanti aku ". Sabrina mengacak-acak gemas rambut Haidar.


" Keanu .... aku tinggal sebentar ya, antar bekal makan siang untuk mas Arya. Nggak usah sungkan-sungkan loh ... ".


" Iya ... iya Bu. Terimakasih banyak ... ", Keanu buru-buru berdiri dan membungkuk dengan hormat.


Sementara Sabrina segera berlalu setelah sebelumnya menenteng sebuah kantong tas yang terbuat dari kertas warna coklat kayu. Keanu pun kembali duduk dan mengikuti Haidar untuk melanjutkan makan siang yang sepertinya sedikit lebih pagi ini.


" Bu Dubes selalu begitu ya... mengantar bekal untuk suaminya ?. Sweet banget sih .... jadi pingin cepet-cepet punya istri ". Keanu tersenyum-senyum sendiri.


" Kalau pas di Berlin sih .... tapi dia banyakan di Dusseldorf, ngurus warung jahitnya. Paling satu minggu cuma tiga hari di Berlin ".


" Oh ... lah, anak-anak pak Dubes ? ", tanya Keanu menuruti rasa penasarannya yang timbul tiba-tiba.


" Sudah pada sekolah, sorean dikit nanti 'kan sudah heboh di rumah ".


" Sayang aku sore ini sudah harus pamit ".


" Loh ? ... bukannya besok ?. Sekalian ketemu kakak iparku ku dulu ", Haidar terlihat sedikit terkejut.


" Tadi dari perusahaan meneleponku, nanti sore aku dijemput untuk bertemu anggota tim dulu, rencananya lanjut makan malam juga ".


" Dengan sangat menyesal .... iya ". Begitu juga dengan Keanu. " Sepertinya memang harus menghadap pak Dubes secara resmi dulu .... tidak boleh curi start "


" Ya sudahlah ... toh pada akhirnya akan ketemu juga ya ", kata Haidar menghibur. Tapi sejujurnya ia sudah terlanjur suka dengan teman barunya ini.


" Kau tinggal di sini 'kan? ", Keanu bertanya sambil menambahkan sesendok besar Sauerkraut ke dalam piringnya yang mulai kosong.


Haidar yang melihat hal itu tersenyum kecil. Ia tidak menduga kalau teman barunya ini menyukai asinan kol yang asam segar itu. Karena menurutnya ada bau khas dari kubis putih yang kurang disukai indra pengecapnya.


" Aku .... akan lebih banyak di Rhein-Neckar dan juga Leverkusen. Tapi juga balik ke sini kalau weekend..... biar nggak digantung Bu Dubes ".


" Kalau ada waktu senggang, kau harus mengajak ku jalan-jalan. Sepertinya Jerman sudah jadi tempat piknik mu ".


" He.... he... he... hanya numpang sama yang sudah keburu besarnya disini..... mba Sa' dan mas Ardi kakaknya. Aku sih seneng-seneng aja, bisa sering diajak kemari ".


Sementara dua orang yang mulai dekat dan nyaman itu saling berbincang untuk mengenal satu sama lain. Di luar rumah besar itu, Sabrina yang baru saja hendak keluar dengan mengayuh sepeda, tiba-tiba terhenti karena melihat kedatangan seorang gadis yang sudah cukup dikenalnya.


Sosoknya yang cantik dengan kulit hampir seputih lobak, tentu saja membuat banyak orang akan langsung lupa dengan gadis ini. Ia terlihat sedikit tergesa walaupun senyuman tak surut dari wajah bersinarnya. Sabrina segera turun dari sepeda kayuhnya, menunggu langkah gadis itu yang mendekati.


" Ibu ... maaf ... ", suaranya terdengar penuh penyesalan.


" Kenapa cantik ", Sabrina menyongsong dengan sangat ramah.


" Malam nanti saya tidak bisa ikut .... mungkin. Ehmm... maksudnya.... ada sedikit masalah dengan beberapa materi program ausbildung di tempat kami. Sore nanti manager dan perwakilan program mengajak untuk bertemu. Saya takut tidak bisa tepat waktu Bu. Jadi ... ini pesanannya saya antar sekarang ".


" Oh .... begitu ya....", Sabrina terlihat sangat kecewa. " Celine dan Celia sudah kangen padamu loh padahal ".


" Iya maaf Bu .... weekend nanti janji deh untuk bisa datang. Ini .... ", gadis itu mengangkat dua box persegi yang sejak tadi dijinjingnya. " Langsung saya antar masuk ya Bu ".

__ADS_1


" Titipkan saja sama penjaga .... kamu terlihat terburu-buru ", sahut Sabrina dengan cepat.


" Terimakasih banyak Bu .... sekali lagi mohon maaf sekali ya .. ". Gadis itu tersenyum dan membungkukkan badannya berkali-kali dengan penuh rasa terimakasih.


Sementara Sabrina yang mengibaskan tangannya dengan santai, mengisyaratkan bahwa dia bisa menerima. Setelah menaruh kantung kertas berisi seporsi makan siang, ia segera mengenakan helmet dan bergegas mengayuh sepedanya.


" Bey ... Hanin... jangan lupa weekend nanti ya. Kamu sudah kami booking ", serunya sambil meluncur diatas sepeda.


" Iya Bu .... insyaallah .... saya janji ", seru gadis cantik yang cemerlang itu dengan nada riang.


Ia berjalan menghampiri dua orang sekuriti yang berjaga di pintu depan, tersenyum dengan ramah seraya memberikan dua buah kotak yang dibawanya. Dua orang bapak-bapak yang cukup dikenalnya dua tahun ini.


" Für uns nichts, vermisse ?", Untuk kami tidak ada, nona ? begitu ditanyakan oleh Mr. Paul yang orangnya memang lebih ramah daripada Mr. . Eginhardt.


" Entschuldigung... Ich hatte es vorhin eilig", Oh maaf ... aku terburu-buru tadi, sesalnya. " Nächste Woche wird es soweit sein, versprochen ". Minggu depan pasti ada, aku janji deh, ucapnya sambil membentuk huruf 'V' dengan kedua jarinya.


" Ah... wir haben nur Spaß gemacht. Aber vielen Dank. Wir warten immer noch ", Mr. Eginhardt menyela. Ah.... kami hanya bercanda. Tapi, terimakasih banyak ya. Kami tetap menunggu, kata pria itu dengan imbuhan tawa besarnya yang khas. Membuat gadis cantik! seputih pualam itu ikut tertawa.


" Wer sind die besonderen Gäste?". Memang siapa tamu istimewanya?, tanya si cantik yang rupanya mulai penasaran juga.


" Die Schwester von Ramas Mutter". Adiknya ibu Rama, jawab Mr. Paul.


" Es waren zwei Leute, einer sah gutaussehend und schneidig aus. Ich bin nur ein Mann, der sich in ihn verliebt hat ". Ada dua orang, yang satu terlihat tampan dan gagah. Aku saja yang seorang pria jatuh hati padanya. Mr. Eginhardt menambahkan dengan senyum lebar yang terkembang.


Si gadis cantik itu spontan tertawa lepas mendengar penuturan pak penjaga yang sebenarnya orang Jerman asli tapi kelahiran Ankara - Turki. Sebenarnya menyenangkan berbincang-bincang dengan dua orang ini. Tapi ia teringat ada banyak hal yang harus segera diselesaikannya siang ini. Ia harus bergegas kembali ke tempat kerja, menyiapkan segala sesuatunya.


" Bey Bey wir sehen uns wieder, Sir ". Bey bey sampai ketemu lagi pak , pamitnya kemudian.


Si cantik yang memendarkan cahaya mentari dengan bias kemilau yang lembut.


Berjalan membelah keramaian dengan kaki kecilnya, seperti putri angin timur yang melompat dengan ringan.


Saat ia tersenyum, seolah-olah dunia pun ikut merasa bahagia.


Putri yang bersinar dengan kilaun yang menelusup perlahan, menyentuh hati seseorang yang kini termenung tak percaya.


Seorang pria yang hanya mampu diam terpaku.


Mungkin ia terbungkam oleh rasa kagetnya sendiri.


Ataukah sang waktu dan sang ruang yang belum memberinya kesempatan.


Saat tangannya mulai terulur ...... ia telah kehilangan kembali.


" Hanin .... Hanania ..... ", desisnya dalam kelu.


Dan sepasang mata kelamnya pun menjadi sendu.


Sepasang tangannya pun mengepal erat, meredam perasaan yang berkecamuk.


Ia ingin berlari mengejar ... tapi bumi memakunya dengan rasa sakit yang tidak dimengerti.


Hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Dialah sang pria dengan cinta terpendamnya.


..................


Author Corner :


Ausbildung dikenal sebagai pelatihan kejuruan atau magang. Ialah pendidikan terkait profesi yang mengarahkan pada pekerjaan tertentu. Jerman memiliki lebih dari 300 lapangan kerja dan masing-masing bisa ditemukan melalui program tersebut. Selain belajar, peserta program ini juga akan mendapatkan gaji sesuai dengan perjanjian kontrak sebelumnya. Yang paling penting dalam syarat progam ini adalah kemampuan berbahasa Jerman. Mereka yang sudah mahir berbahasa Inggris, tidak dapat serta merta lolos program ini. Persyaratan standar ini wajib di penuhi. So ... bagi yang minat program ini, harus sudah mulai kurus bahasa Jerman ya.....

__ADS_1


Ich liebe euch liebe Leser....... 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


Kawal bang Haidar sampai halal...... caiyooo!!!!!!!!


__ADS_2