
Suara dering berulang itu menyela sepi yang membatasi Hanin dan David. Gadis itu terlihat hanya melihat siapa yang melakukan panggilan berulang-ulang itu. David melirik dengan sudut matanya, dan mendapati raut gelisah dari wajah putih sempurna itu.
" Kenapa tidak kau jawab panggilan itu ? ".
Hanin hanya diam dan mulai mengetikan sesuatu pada layar ponselnya, seolah tak mengindahkan pertanyaan David. Pria yang duduk menyetir di sebelahnya itu pun terlihat sedikit salah tingkah, ada sebersit rasa tidak suka yang tiba-tiba saja membayang di wajah tampannya.
" Aku senang ... karena sudah ada pria baik yang kembali mengisi hari-harimu lagi. Semoga dia adalah pria dengan hati lembut dan jiwa tegar yang mencintai mu dengan tulus ".
" Dia ... putra boss besar tempat ibu dan kakak ipar ku bekerja. Kami sudah saling mengenal sejak kecil. Dia... ah, bukan urusanmu kurasa, Bang ".
" Oh ya ?... apakah si gagah yang mengantarmu malam itu ?. Dia terlihat ... sangat menyayangimu ". David berusaha sebisa mungkin menjaga suaranya agar terdengar santai dan biasa, tanpa lonjakan emosi yang sebenarnya mulai meletup.
" Ku pikir itu bukan urusan lagi.... Bang ".
David tersenyum, ironis ... hatinya terasa perih.
" Bukalah hatimu ... mungkin dia adalah obat untukmu Hanin. Aku berdoa tulus untukmu .... kau ... harus berbahagia ... kau harus bahagia ".
Dan Hanin pun terdiam ia hanya mampu menatap lurus pada jalanan yang terhampar. Saat David mulai meminggirkan mobilya, lalu memasuki halaman parkir cafe tempatnya bekerja, saat itu dia pun masih termenung. Hingga David sudah benar-benar sempurna menghentikan kendaraan yang dikemudikannya.
Pria itu bergegas melompat turun, lalu dengan sigap melesat ke arah pintu dimana Hanin berada dan membukanya untuk gadis itu. Wajah dan senyumannya terlihat cerah, walaupun tidak demikian dengan Hanin. Gadis itu masih menahan ekspresi, membuatnya sedatar mungkin. Namun saat ia keluar dari pintu yang dibukakan oleh David, tiba-tiba saja ia merasa iba pada pria ini.
" Aku positif HIV .... kata dokter sudah memasuki tahap laten, Mungkin sudah empat bulan atau satu-dua tahun ini. Aku yakin tertular dari Garret... yakin sekali. Walaupun dia belum menunjukan tanda-tanda atau gejala seperti yang ku alami .... tapi ... kata dokter ... seseorang yang positif HIV, bisa menularkan virus itu dalam jangka waktu dua sampai enam belas minggu dari saat terinfeksi. Walaupun pada masa itu ... pemeriksaan cepat untuk virus HIV belum menunjukan hasil reaktif.... tapi... sudah bisa menularkan. Mengingat betapa bejatnya aku dua tahun belakangan ini . Harapanku begitu besar ... semoga Sellma dan Leisel juga negatif ".
Hanin nyaris tercekik saat mendengar penuturan David tadi, dan dua lembar kertas yang disodorkan pemuda itu... menunjukan sebuah kebenaran. Rasa marah dan juga bencinya, tiba-tiba terkikis perlahan. terlebih saat pemuda itu nampak berkaca-kaca.
" Hidupku ... mungkin tidak lama lagi. Walaupun sudah ada ARV untuk menekan virus HIV dalam morfosanya menjadi AIDS... tapi itu .... ".
" Itu adalah kesempatan mu untuk memperbaiki diri dan bertobat ", Hanin menyergah dengan cepat.
" Ya ... dan aku sangat butuh bantuanmu. Karenanya... aku sangat butuh bantuanmu ".
David terdiam memperhatikan Hanin yang nampak masih tenggelam dalam lamunannya. Wajah itu terlihat semakin cantik, membuat hatinya damai. Dan ia pun tersenyum. perlahan menyentuh lengan si cantik itu. Menyapanya dengan lembut.
" Kita sudah sampai Hanin ".
" Ah ya .. ya.. ya .. terimakasih ". Hanin bergegar menyambar tas slempang berwarna merah bata yang tergeletah pasrah di pangkuannya. Ia menatap David yang sudah bediri disampingya dan membukakan pintu. Perlahan ia menyungingkan sebuah senyuman, tulus... membalas semua rasa bersalah, penyesalan dan juga itikad baik dari pria ini.
" Aku bantu ... ", David mengulurkan tangannya.
Kendaraan yang membawanay adalah raksasa dengan enam roda bertenaga 700 PS, dengan postur Hanin yang mungil tentu saja sedikit menyulitkan. Tapi Hanin menolak dengan lembut, walaupun pada akhirnya ia harus sedikit kesulitan bahkan harus melompat turun dan berakhir dengan menyelaraskan keseimbangan pada tumpuan kakinya.
Tapi terkadang alam seperti sedang menyajikan cerita lain. Kaki mungil berbalut sepatu boot coklat tua nan manis ternyata tak sepenuhnya diterima oleh daratan yang berlapis aspal itu. Untung saja ada David yang masih mengulurkan tangannya, dengan kesigapan seorang pria .... ia pun berhasil meraih lengan mungil itu. Membawa tubuh Haninberayun sesaat, lalu mendaratkannya pada sebuah rengkuhan lembut.
Hanin terhenyak, tapi ia tidak dapat menolak yang telah terjadi padanya dengan begitu cepat saat itu. Sementara David yang kembali membaui wangi lembut penuh pesona yang dulu pernah bersemayam dihatinya itu, tersenyum dengan sangat bahagia dan menyenandungkan syukur dalam hati.
" Ter-terimakasih .... cukup... aku masuk dulu ". Hanin mendorong dengan cepat tubuh Dave. Ia tergeragap dan gugup, tanpa menoleh lagi ... segera bergegas meninggalkan pria itu.
" Hanin ... ". Seruan David memaksa Hanin menghentikan langkah, lalu menoleh perlahan. Mendapati pria itu tersenyum. " Janji, kau harus bahagia ... ".
" Pasti .... Innsyallah ... ".
Ini adalah kali pertama kedua insan yang pernah menjalin perasaan sayang itu saling melempar sebuah senyuman, Sebuah senyuman penuh ketulusan, dari hati yang pernah terluka, dan dari hati yang kini penuh penyesalan. Hingga akhirnya David melambaikan tangan sesaat sebelum Hanin benar-benar sempurna membalikan badan dan berlalu.
Detak waktu yang tak dapat berputar kembali kearah lalu.
Pernah membuatku bertekad untuk mengakhiri detik
__ADS_1
***Tapi senyumanmu\, saat aku kembali menemukannya masih tertinggal ***
***Harapanku pun bertumbu******Walaupun tak sempurna ***
Walaupun tak menyertakanmu dalam impian
***Pinta ku .... ***
Bantulah memperbaiki cacat yang telah ku buat
Kumohon...
Berbahagialah, temukan cinta yang setulusnya, tak tergoyahkan hingga ajal
***Setidaknya ... aku masih bisa tersenyum diakhir nafas ku ***
..............................
SUV berwarna hitam metalik dengan logo tiga sudut bintang membagi sama rata sebuah lingkaran, berhenti tak jauh dari sebuah jeep hitam yang nampak gagah dan kokoh bertengger diatas jalanan. Dua orang yang berada di dalam SUV itu tampak terpana, tapi tidak pada Jeep keluaran pabrik yang sama dengan kendaraan yang saat ini juga sedang di tumpangi mereka. Bukan pada betapa gagahnya body kendaraan bermesin twin turbo yang sudah di tangani dengan baik oleh Brabus sebagai tuner dari produk Mercedez Bens, yang konon mampu mampu berakselerasi hingga 100 km/jam dalam waktu 7,4 detik itu. Tapi Haidar terpaku pada sudut pandang yang memeras hatinya dengan kejam, begitu juga dengan Keanu.
Di sana, dihadapan mereka .... gadis cantik itu direngkuh dengan cepat dan lembut. Sebuah pelukan yang sangat lembut dan menghanyutkan. Setiap insan yang melihat betapa lembutnya adegan penuh romansa itu, pasti akan tersenyum karena ikut bahagia. Lihatlah bagaimana si pria itu melambai dan tersenyum pada sang gadis, bukankah sinar mata penuh cinta itu tak tertutupi ?.
" Setidaknya Hanin baik-baik saja ", Keanu memecah hening berharap b isa mencairakan yang dingi dalam berabad beku.
" apa kau yakin, dia tidak akan menipu Nania lagi ? ", terdengar dingin menusuk kalbu , bahkan sepasang mata Haidar pun berkilat bagai ujung mata pedang.
" Jika kau khawatir, kenapa tidak kau pastikan saja ?'. Keanu menatap haidar yang masih tak bergeming dari kerasnya seraut wajah penuh aura dingn mematikan itu, " Aku mengawasimu dari sini ... mana tahu kau tidak bisa menahan diri lagi ".
Haidar menarik nafas panjang dan bergegas melompat turun dan kemudian berjalan mendekat dengan langkah pasti pada sosok pri ayang masih bertahan dengan sisa senyuman di sudut bibirnya itu. Pria itu sedikit lebih putih darinya, berhidung menjulang yang eksotik dengan raut wajah yang lembut memikat, Tak terlihat seperti seorang pengecut yang tak berpaerasaan, ia nampak seperti seorang ksatria yang berhati lembut.
Tapi pria ini lah yang telah membuat luka begitu dalam di hati Nania nya. tapi pria ini juga yang telah sangat tega melakukan tipu daya pada gadis mungil berhati lembut itu. Hingga ia nyaris hancur berkeping-keping. Pria ini jugalah .. yang mungkin akan kembali membuat luka pada nania nya.
" Kau Dave bukan ? ".
Pria itu menoleh, ia memperlihatkan sebuah senyuman. Dan mengangguk perlahan dengan sangat ramah. tapi hati Haidar berdecih melihat semua itu.
" Iya aku Dave ... David. Kau ?... apa kita pernah bertemu sebelumnya ?. Kau dari Indonesia ? ".
" Aku Haidar... aku bukan siapa-siapa... hanya saja, jika kau kemabli menipu gadis polos itu dan kemabli berniat menjerumuskannya dalam luka karena kebusukanmu .... maka kau tidak akan selamat dari tangan ku ".
David terdiam, ia menatap seapasang mata hitam itu. Tak ada sedikitpun kesan penuh keraguan saat pria itu berucap, tak kentara sikap bermain-main, hanya ada satu kesungguhan. Dan David pun merasakan aura disekitarnya menjadi sangat dingin menusuk.
" Siapa kau ?! ", desisnya perlahan sambil terus mentap si gagah yang menjulang tinggi dihadapannya. tapi ingatannya berkelebat dengan cepat. Pria ini adalah pria yang sama dengan pria yang dilhatnya malam itu. Orang yang telah bisa mengembalikan senyuman Hanin nya yang cantik. Pria yang bisa membuat Haninnya tertawa lepas. Ada bahagia yang perlahan merayap, tapi kemudia sejumput perih menyusup dengan tidak tahu diri. Membuat David menjadi lupa dengan tujuan semula.
" Kau pikir kau siapa bisa mengancamku ? ". Dan kalimat itu begitu lugas keluar, walaupun sebenarnya David tidak bermaksud demikian.
" Sudah ku katakan aku bukan siapa-siapa. Hanya orang yang akan melindungi dan menjaga Nania .. dengan jiwa dan raganya ".
Haidar yang tadi hanya menyentuh lengan David, kini secara pasti telah mengubahnya dengan mencekal lengan pemuda itu. Jika kemudia raut wajah David menjadi mengeras, tentu tidak akan mengherankan. Pastinya pria ini hanya mengimbangi bagaimana Haidar bersikap.
Sementara itu dari dalam cafe, kehadiran monster beroda enam yang tadi dikemudikan oleh David sjak awal sudah mencuri perhatian. Lalu saat beberapa pegawai yang baru saja bersiap buka diakhir pekan melihat siapa yang datang, tentu saja mereka semua semakin gempar. Itu adalah kendaraan yang sangat tidak asing, yang sudah beberapa lama tidak mampir lagi. Dan benar saja, chef nya yang cantik dan lembut itu turun dari sana, diantar pria muda yang tampan. orang yang sama yang dulu sering mengantar, seperti sedang mengulang kejadian masa lalu.
Bahkan Ameer dan beberapa pelayan wanita serempak menganga saat melihat dengan sigap bagaimana David meraih Hanindalam pelukannya. llalu mereka saling berpandangan, tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Dan saling berspekulasi tak henti, hingga Hanin sudah sampai di dalam cafe.
" Wuuuiiih... kalian berbaikan Chef ? ".
" Kau menerimanya kembali ? ".
__ADS_1
" Apakah sudah kau pikirkan baik-baik ? ".
" Ku pikir ..... kau akan melanjutkan keseriusan dengan tuan Haidar saja. Kenapa kau bersama si Dave itu ?", yang terakhir bertanya adalah Ameer, jelas menunjukan rasa tidak sukanya.
" Oh .... kalian melihatnya ya. Jangan langsung percaya dengan apa yang tersaji di depan mata. lihatlah dari sisi lain ", jawab Hanin dengan lugas.
" Jangan sampai terperangkap lagi dalam tipu daya nya ya Cheff ", kali ini yang berkata adalah seorang pegawai wanita. Hanin hanya tersenyum sajasambil menangguk perlahan.
" Pastinya ..... ksatria pelindungmu sudah datang .... oou..oou ... lihatlah itu chef .... ", dan suara Ameer mengalihkan perhatian semua orang dari Hanin.
Semua mata tertuju pada pemandangan diluar jendela. Dua orang pria tampan dengan tatapan mata tajam saling menikam. Berdiri berhadapan, tak mnunjukan sikap yang ramah, sama sekali. Hanin mengernyitkan keningnya melihat semua itu.
" Pastinya ini tentang mu chef cantik. Apa kau tidak melihat kilatan permusuhan diantara mereka ? ... so epic ... ".
Hanin berdecih dan menatap sekilas pada Ameer yang berkomentar asal. Bagaimana mungkin pria Turki ini malah terlihat begitu girang, seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan saja.
" Ouw...ouw.... sudah mulai meningkat ", Ameer berkomentar lagi ketika melihat keteganagn meningkat. Sementara di luar sana, Haidar terlihat mulai mencengkeram baju David dan membuat pemuda itu juga ikut mengepalkan tangannya.
" Astaga .... ya ampun, dasar pria ... apa-apaan mereka itu ", Hanin terlihat ikut gusar. Ia melempat tas slempangnya sembarangan ke kursi kasir. Lalu melangkah dengantergesa ke luar dari cafe.
" Dan tuan putrinya keluar .... ".
" Ameer !!!! diaaam !!!!!!!... ", seru seorang pegawai wanita lainnya diikuti dengan tatapan tajam yang lain. Sementara Hanin sudah tidak peduli lagi, ia berusaha secepat mungkin keluar dari dalam cafe.
Saat ia baru saja membuka pintu dan hendak menyelesaikan satu langkah terakhir untuk benar-benar ada di posisi sempurna keluar dari cafe itu, saat itulah bersamaan dengan telaknya sebuah pukulan yang melayang. Hanin melihat dengan sangat jelas. bagaimana Haidar melayangkan tinjunya ke arah David.
Bugh!!!... tepat sasaran mengenai pipi kanan David dan membuat pemuda itu terhuyung.
Bugh!!... tak menunggu lama, saat Haidar sedikit terlena dan membangunkan pemuda dihadapannya dengan tarikan pada kerah baju, ia tak menyangkan sama sekali jka pemuda yang sudah sedikit terjerembab ini bisa menyerang balik dengan cepat. Ia hanya sedikit terhuyung, beda postur yang dimenangkan olehnya.... ternyata memberi keuntungan tersendiri.
" Hentikan !!!! ". Jeritan itu memecah ketegangan. Si cantik berkulit putih secerah mutiara itu berlalri kecil, dengan raut wajah yang membiaskan rasa marah.
" Bertengkar dengan saudara satu negara di negara asing .... bikin malu bangsa saja!!!!!. Kalian ini preman yang tidak pernah sekolah ? ". Hardikan yang cukup panjang dari Hanin itu membuat Haidar dan david terdiam, terpaku dan sedikit menundukan kepala.
" Ayo masuk !!!!.... semua bisa dibicarakan dengan baik-baik. Tidak perlu dengan otot ... kalian pikir .. kalian terlihat seperti gentleman kalau begini ? ", lengking Hanin.
" Ya ampun ' Dar ....... ", tiba-tiba saja Keanu sudah berhasil mendekat denagn sedikit berlari tadi. Walaupun sebenarnya pemuda ini sama sekali tidak berniat melerai tadi. tapi kehadiran Hanin membuatnya segera berubah pikiran.
" Ayo masuk !!!... atau aku tidak akan pernah mau bicara lagi dengan kalian ? ". Hanin masih menyalak dengan keras. " Kau juga bang Key ... !!!!! ".
Dan lihatlah.... bagaiman tiga pria tampan bertubuh tegap itu pada akhirnya begitu patuh pada seorang wanita mungil yang terlihat lemah. Begitulah wanita jika sudah mengeluarkan taringnya, sebongkah gunung pun akan segera luruh. Apalagi jika hanya para pria beroto saja, tentu saja mereka tak berdaya, dan hanya menurut dengan pasrah saja. Hidup Hanin Hanania ..... hidup wanita .
************************************************
22 Desember 2021 ..... Hari Ibu.
Selamat hari ibu .... para moms cantik, yang berhati selembut sutra, bertekad sekuat baja.
__ADS_1