
“ Ayo …buruan, ajak para temanmu juga ! “.
Titah itu terdengar sangat mendesak, setergesa sang mama yang menariknya cepat. Astrid bahkan belum sempat mereda dari rasa kesal yang bercampur aduk dengan sengit di hatinya. Tapi si nyonya besar ini sudah memaksanya tergesa entah kemana.
“ Kita ambil moments penting dengan mba Cinta dan mas Namu. Kamu harus bisa memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya. Buat mereka terpesona. Eh, orang-orang mu mana ? “.
Yang dimaksud oleh ibunya tentu adalah orang-orang dari infotainment itu. Tentu saja mereka sudah sangat lihai dalam mengekor. Apalagi manajernya sudah memesan khusus dengan bayaran yang tidak sedikit. Awas saja kalau sampai tidak bisa membuat moments yang hebat.
“ Tenang, mereka sudah siap “.
Kini ia mulai paham dengan apa yang akan dilakukan mamahnya. Pasti akan memberikan ucapan selamat pada pasangan muda itu, lalu memintanya foto bersama. Dan ia cukup hanya dengan mengumbar senyum ramah, berbicara sopan. Yang paling penting adalah pura-pura tersipu-sipu saja sambal senyum-senyum penuh rahasia.
Ini pasti saatnya dia mengambil peran, setelah beberapa moment tadi harus terkalahkan dengan menyebalkan. Kalah ?, ah tidak ! hanya belum waktunya saja dia bersinar. Ya pasti begitu. Sesekali seorang top ,model most wanted this year juga harus terkacangin dong, biar berasa lebih mantap manisnya sukes.
Tapi sungguh, keluarga ini memang bukan orang terpandang sembarangan. Lihat saja tadi rombongan kecil yang langsung disambut sendiri oleh sang nyonya rumah. Pria muda yang sepertinya putra dari sepasang suami istri tamu itu, ganteeeeeng banget. Bahkan lebih tampan dan terlihat lebih mapan dari pada Raka. Bisa lah masuk list cadangan. Tidak perlu kecewa berlebih karena gagal bertemu sang putra mahkota, dan juga telah terdahului untuk mendapatkan pangeran lainnya.
Sementara itu sang mama sudah berakrab ria dengan Cinta dan Namu, tak mengindahkan beberapa orang yang mulai menatap mereka keheranan. Seorang nyonya Lita Suwarno sih bebas, orang terkenal, istri politisi hebat yang sepak terjangnya di dunia politik dan sosial selalu menjadi liputan sempurna para pencari warta. Sebodo !! dengan tatapan orang-orang itu. Toh yang punya gawe juga tidak menunjukan penolakan. Pasang senyum menawan dan mulai beraksi.
" Pokonya tante ikut seneeeng banget ya sayang. Bisa minta foto bareng ya. Bareng Astrid juga ... ".
" Iya tante, mari .. mari .. ". Cinta nampak tak keberatan. " Ini Astrid 'kan ?. Wah cantik aja ya "
" Nggak lah, cantikan juga mba Cinta ". Tentu saja astri berbasa-basi. " Selamat ya, semoga tetep sehat ibu dan bayinya sampai lahiran nanti ".
" Terimaksih banyak .... Aamiin ".
Nampak Cinta tersenyum lebar sambil membalas pelukan dari gadis cantik semampai nan gemulai itu. Saat mereka mulai bergaya bersama Namu dan Lita mamanya Astrid, tiba-tiba saja kilatan-kilatan kamera menjadi bertambah banyak. Tidak lagi hanya photografer yang memang bekerja untuk acara keluarga Mandala saja.
Membuat Cinta dan Namu saling berpandangan, sesaat. Seperti saling menacari informasi untuk keadaan mengejutkan ini. Tapi keduanya kemudian sama-sama mengangkat bahu tanda tak mengerti.
Sepasang mata Astrid yang menangkap moment itu, segera mengirimkan sinyal pada otak liciknya. Lalu wajah cantik itu pun berubah penuh dengan rasa penyesalan dan rasa bersalah. Seraya berkata dengan tatapan mata yang menyiratakan kesungguhan pada Cinta dan Namu.
" Aduh ... maaf, jadi keganggu ya. Maaf ya mba Cinta, mas Namu ".
" Iya nih, kamu gimana sih ... ini kan acaranya private. Koq bisa sih, jadi nggak enak sama keluarga bu Mandala ", Lita menimpali seolah ikut menyalahkan sang putri.
" Ya mamah, aku kan nggak bisa ngontrol mereka juga ... sekali lagi mohon maaf ya mba Cinta ". Terlihat Astrid yang buru-buru kembali meminta maaf pada Cinta setelah memprotes sang Mama.
" Nggak pa-pa, nggak pa-pa ... namanya juga aktris terkenal koq ya. Terimaksih sudah mau datang ya ". Buru-buru Cinta menengahi.
" Silahkan tante, Astrid ... nikamti hidangannya. Biar bisa ikut pengajian bersama ya " . Namu pun segera menyambar, seolah mengerti kerepotan yang dihadapi istrinya menghadapi duo bintang itu.
Tentu saja Astrid dan Lita sang mama tidak lagi bisa berbasa-basi lagi selain segera keluar dari arena yang jadi point area untuk acara hari itu. Apa yang dilakukan Namu itu sungguh jitu, selain karena orang-orang yang sudah cukup mengular berbaris tertahan untuk bersalaman sebelum akhirnya menuju buffet besar berisi santap siang. Astrid dan tante Lita akhirnya harus benar-benar menyingkir.
" Mba Astrid bisa minta waktu sebentar ? ".
" Iya nih mba sebentar aja ... ya "
" Kenal baik ya dengan keluarga ini ".
" Jangan-jangan mba Astrid nih punya hubungan khusus ya sama salah satu putra keluarga Ars Company ... "
Cecaran belasan pencari warta itu langsung menyambut Astrid. Dengan segera ia berubah menjelma menjadi ratu acara siang itu. Tampak tersenyum lebar dan sesekali tersipu-sipu menjawab pertanyaan para kuli infotainment yang mulai berspekulasi dengan liar sesuai tuntutan capaian tinggi ratting acara. Dan dalam hati wanita muda itu menyorakkan kemenangan.
" Wah iya tuh, sejak kapan nih ?... boleh dong bagi cerita dikit ".
__ADS_1
" Iya mba ... kasih bocoran dong ... "
" Mas Raka atau mas Haidar nih ..... ".
Dan Astrid pun semakin melenggang dengan puasnya. Umpan yang dilontarkannya termakan dengan cepat. Sebentar lagi pasti semua portal berita artis akan meributkan soal dirinya, lalu sibuk menyandingkan dirinya dengan kedua pangeran Arsenio. Sehingga membuatnya tidak usah bersusah-payah lagi. Karena pangeran Haidar pasti akan penasaran dan segera mencari tahu banyak tentangnya. Tinggal tinggu saja 'DM' nya .... dan ..... Astrid pun tersenyum-senyum penuh kepuasan, membayangkan skenario indah idamannya akan segera terwujud.
Sementara itu dua orang gadis cantik yang satu berkulit putih bersih, yang satu berkulit kuning langsat siapa lagi kalau bukan Hanin dan Kirana. Mereka tampak sedikit memperhatikan kerumunan dadakan yang disebabkan oleh model cantik tamu keluarga Mandala. Tapi segera terabaikan, karena dua orang gadis itu lantas sibuk berfoto ria bersama pasangan cinta yang sebentar lagi akan menjadi mama dan papa.
" Noh... ada yang jadi ratu pesta ", Kirana menunjuk dengan dagunya. Rupanya keramaian yang ditibulkan itu mulai kembali mengusiknya.
" Biarin, itung-itung bantuin tambah popularitas dia ... ". Jawab Cinta dengan santai. " Hanin... loh koq nggak ber-make up ?. Tapi nggak apa ding.... tetep paling cantik kok ".
" Iya nih, kita susah-susah tempelin bedak sana-sini. Eh ... dia mah' cukup satu sapuan aja sudah 'bright like a diamond'..... sebel deh ", Kirana menimpali.
" Buruan foto... aku lapar nih ", sergah Namu yang merasa kerepotan menuruti gaya istri dan adiknya. " Mau nemuin Syailendra juga nih .. ".
" Oh ya .... ada mas Alend ya. Ayo... satu gaya lagi ". Cinta langsung mengarahakan para adik dan calon adiknya.
" Eh abang .... duluan aja. Ini kita sesi para lady ".
Setelah satu 'jepretan' yang full smile, Namu segera menyingkir. Tapi sebelum benar-benar berlalu, ia sempat menggoda Kirana.
" Neng jomblo ... ada extraordinary man yang ngelirik elo terus lo ... nggak dipepet ? ".
" Ih ... ", decih Kirana.
" Siapa ?.. mas Alend ? ", Cinta menimpali.
" Iyes dong . All criterias of the ideal man is in him, complete * ".
" Brisik ah !! ", rajuk Kirana.
" Ya .. ", Namu mengernyitkan kening.
" Maaf pak Namu 'kan ?. Bisa minta waktu sebentar ? ", tanya dan sapa wanita muda itu dengan sopan.
" Iya, ada apa ya. Artisnya yang sebelah sana mba ... ", sambil menunjuk kerumunan yang dibuat Astrid sang foto model. " Nggak salah oramg 'kan ? ", Namu kembali memastikan.
" Ah pak Namu, sebelumnya selamat ya atas kehamilan mba Cinta. Semoga ibu dan bayinya akan senantiasa sehat wal'afiat hingga saat melahirkan. Boleh tanya dikit-dikit ya pak ... ".
" Ya, ya langsung saja. Kalau saya tahu saya jawab ".
" Mba Astrid Felishya, sedakat apa denga keluarga ini ? ".
" Oh ... cukup dekat, rumahnya 'kan ?. Tetangga ... ", tentu saja Namu membodoh.
" Maksudnya, apakah mba Astrid itu salah satu teman dekat dari mas Haidar, atau mas Raka gitu ? ", si gadis mulai mencecar.
" Wah kurang tahu ya saya. Baik Haidar dan Raka 'kan belum lama kembali lagi ke Jakarta ".
" Oh begitu ya. Memang sebelumnya dimana ? "
" Di Jogja sama di Semarang. Astrid 'kan juga belum lama pindah kesini sepertinya ? ".
" Begitu ya. Tapi memang sebelum-belumnya nggak ada slentingan kabar kedekatan gitu ... ".
__ADS_1
" Wah mba.... saya nggak tahu, bener-bener nggak tahu. Maaf ya ... saya sudah ditunggu tamu penting di dalam ". Namu menangkupkan kedua telapak tanggannya sambil sedikit menunduk, tanda meminta maaf. Kemudian berlalu cepat memasuki rumah, meninggalkan si mba wartawan yang kecewa karena tidak berhasil mendapatkan hot info seperti yang diinginkannya.
Ada-ada saja , begitu batin Namu. Dia pun jadi teringat bagaimana panasnya berita tentang pernikahannya dan Cinta beberapa bulan yang lalu. Dari spekulasi tentang upaya mempertahankan keutuhan dynasti, nggak mau rugi karena harus berbagi warisan dan yang lebih menyebalkan lagi adalah gosip tentang istrinya yang sudah hamidun. Sekarang Haidar atau Raka yang pasti akan segera ketiban gosip, tunggu saja tidak akan lama lagi.
" Mana Cinta ? ", suara sang mama menyambutnya saat ia mulai menapaki tangga menuju lantai dua. " Kirana juga , mana ? ".
" Biarin mah, masih asyik foto-foto ".
" Dua anak itu ", gemas Orlin dibuatnya. " Mama nya Alend sudah nanyain berkali-kali juga... bisa dipanggilin sebentar ? ".
" Tuh .. udah pada nongol ", seraya menjulurkan lehernya Namu menjawab.
" Di tunggu tante Nilam. Buruan gih ". Sambut Orlin begitu Kirana didekatnya. " Mba Cinta disini saja, mau makan apa ?... biar diambilkan. Susah 'kan naik turun tangga ".
" Saya aja yang ngambilin bu, mau apa mba Cint ? ", sergah Ardelia. " Bang Namu gantian yang nemenin ... biar Hanin nanti yang bantuin. Ya 'kan Nin ? ".
Usul cerdas spektakuler itu disambut kekeh riang Namu yang dengan suka rela mengacungkan dua jempolnya.
" Siiip, ayo sayang ... duduk aja disana, yuk ". Sambil memeluk pundak istrinya dengan gerakan ringan seraya mengarahkan wanita tersayang itu untuk duduk bersamanya.
" Nyobain gule ... dikiiit, boleh ", pinta Cinta dengan sepasang bulatnya yang berubah bersinar menggemaskan seperti mata seekor anak kucing.
" Jangan dulu ya sayang. Tahan satu dua bulan lagi ... okay ". Tak perlu menunggu lama, jawaban tegas itu langsung didapatkan Cinta dari sang ibu mertua yang rupanya masih mendengar pinta itu. Orlin menoleh sejenak sambil tersenyum seraya menggoyangkan jari telunjuk di depan bibirnya .
" No sayang, no .. ", Namu menambahkan. " Sop iga aja ya... desertnya croisant yang manis, bisa pake salad sayuran yang dibuatkan khusus untukmu. Mau ? ".
" Boleh deh, demi mereka ". Cinta mengelus-elus perutnya. " Tolong ya Nin, salad, rujak, sop iga, ayam bakar, sama mini croisantnya ... aneka rasa ".
" Siap mba .. ", Hanin yang tertawa kecil membuat tanda oke dengan menyatukan jari telunjuk dan jari ibu jarinya, membentuk lingkaran kecil. Lalu bergegas mengikuti langkah Ardelia yang juga terlihat sudah mengekori bu Orlin dan Kirana.
" Nggak pake nasi ya sayang ... ", seru Cinta lagi.
" Wuaah ... selera makan ibu hamil itu .... siip !!! ", Ardelia terkikik geli. " Mau semuanya, tapi cuma secuil-cuil ... ".
" Gitu ya ?. Berarti besok kalau kita hamil juga begitu kali ya ? ".
" Udah siap hamil niiih ceritanya ... ", Ardelia menggoda Hanin, membuat gadis berkulit seputih mutiara itu tersipu malu.
" Mba dulu aja kali... ", balas Hanin kemudian.
" He.. he.. he... kita nikah dulu, kayaknya gitu yang paling tepat ". Dan Ardelia pun mempercepat langkahnya sambil menarik tangan Hanin yang terlihat tersipu.
Dua orang gadis yang berjalan sambil berbincang riang, tanpa merasa harus terganggu. Terutama oleh tatapan tajam menusuk dari dua orang wanita cantik di sudut sana. Astrid dan juga Lita Suwarno yang terlihat mencuatkan rasa tidak senangnya dengan begitu kentara.
" Yang satu tidak perlu dikhawatirkan, hanya seorang kenalan yang mengurusi catering. Yang satu sudah menjadi kekasih salah satu pangeran Arsenio. Tapi aku merasa khawatir, mah ". Bisik Astrid pada mamahnya.
" Kau bahkan belum bertemu dua pangeran itu, bagaimana mungkin sudah timbul khawatir yang berlebihan? ".
" Bukan begitu, hanya saja... keluarga ini yang sangat masuk dengan kriteria ku ". Astrid tersenyum kecil, terlihat dingin dengan sayatan kecil yang terasa perih mengerikan.
" Ada satu lagi keluarga yang tidak boleh kita lewatkan... mungkin kau sudah berpapasan tadi ".
" Heeem.... pria gagah bermata kelabu. Sepertinya dia sedikit terlalu tua untuk ku mom ".
Astrid teringat pada sosok gagah menjulang dengan tatapan hangat yang terpancar dari sepasang mata kelabu nya. Ketika pria itu menatap salah satu putri keluarga Arsenio. Ah... Lagi-lagi bukan untuknya.
__ADS_1
" Sudah kupikirkan caranya... ". Lita tersenyum seperti Laverna sang peri licik. Tapi begitulah wanita dengan segudang akalnya.
Sementara itu waktu terus beranjak, merangkak, mengelilingi bumi. Menepati janjinya demi masa yang tertitah oleh Sang Maha Kuasa. Tidak perduli bagaimana manusia menjadi lupa akan akhirnya masa.