PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Rentang Biru (3)


__ADS_3

Ini adalah 'dior' nya yang berharga, melekat dengan pas dan manis memperlihatkan lekuk tubuhnya yang tentu saja membuat iri banyak mahluk sejenisnya. Bagaiman tidak?, karena semua pasangan mereka mendadak beralih pandang. Terpesona dengan segala hal yang melekat dan tampak begitu sempurna pada dirinya.


Berjalan dengan penuh percaya diri, menebar pesona, mengangkat sedikit dagunya agar lebih terpancar lagi auranya. Velinda memasuki loby hotel dan kemudian duduk dengan manis menunggu. Walaupun sebenarnya ia lebih senang jika harus mendatangi langsung kamar pria itu, membunyikan bell nya dan berharap pria itu akan terpesona saat melihat kehadirannya. Tapi saat ini ia harus menahan diri, ya... bersabar untuk sebuah tangkapan besar.


" Jangan pernah main-main dengan yang ini. Karir ku, perusahaan kita yang dipertaruhkan. Kau sudah dengar sendiri 'kan, Haidar sudah punya calon istri ".


Velinda mendecih, ia menertawakan apa yang diwanti-wanti oleh pamannya tadi. Sepertinya pria itu sudah tahu betul siap dirinya. Mungkin karena warisan genetik yang sama, hingga Haris sang paman bisa menebak apa yang direncanakannya.


" Kali ini aku tidak akan main-main paman. Tapi bagaimana jika ia yang tergoda?, tentu aku juga tidak akan main-main menerimanya ".


" Paman sudah memperingatkanmu ya, awas !!!!! ".


Ah, dimana-mana pria itu sama saja. Mereka akan lebih senang dengan yang menantang, karena sifat dasar mereka adalah petualang. Tentu saja hal baru akan lebih menggairahkan mereka. Apalagi jika hal itu adalah sesuatu yang sangat berbeda dari yang sudah mereka miliki, rasa penasaran mereka tak akan terbendung. Lihat saja nanti.... Velinda tersenyum licik.


Sementara itu Haidar membelalakan kedua bola matanya dengan takjub, ia berdecak diantara senyuman tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Membuat Hanin tersipu dan memukul lengan pria itu perlahan.


" Jangan begitu, aku takut melihatmu melotot begitu ".


" Heh'! .. ini bukan melotot. Ini terpesona namanya. Ya ampuuun... kamu cantik banget sih ". Yang kali ini bukan mulut manis hasutan iblis ala Haidar, tapi karena ia benar-benar tak menyangka akan secantik ini jadinya.


Padahal baju itu adalah termasuk yang termurah, tapi itulah pilihan Hanin. Walaupun itu adalah salah satu edisi terbatas keluaran Boutique Vogue Zurich, tapi sebenarnya Haidar merasa terlalu murah harganya jika akan diberikan untuk seseorang wanita secantik Hanin.


" Kenapa memangnya ?, ini pas di badanku. Hanya teralalu panjang sedikit. Tapi tidak mengapa, malah terlihat lebih sopan 'kan ?. Mas mau aku pakai yang seperti apa sih ?... badanku 'kan ukuran kebanyakan orang Asia ".


Ternyata memang benar apa yang dikatakan gadis itu. Dia kelihatan berlipat kali lebih cantik dengan gaun berpotongan sederhana berwarna hijau tosca itu. Detail potongan yang sedikit rumit di bagian depan mempertegas kualitas dan siapa desainernya. Tapi semua itu hanya sebagian kecil dari banyak bagian indah yang sudah dibawa sang pemakai. Dasar sudah cantik dari sananya ya mas bro ......


" Ayo ", Haidar menawarkan lengannya. Hanin menyambutnya dengan manis dan bergelayut dengan mesra.


" Bener tidak apa-apa nih aku ikut pembicaraan bisnis seperti ini ? ".


" Siapa yang berani melarang calon istri boss nya ? ".


Hanin tertawa dan kembali memukul lengan Haidar dengan gemas. Lalu kedua orang itu masuk ke dalam lift yang membawa mereka turun.


" Masih ingat Velinda ? ".


" Hem, tentu ".


" Dia yang menjemput kita, karena tempat pertemuan pindah. Oh ya, kali ini kita kan ketemu salah satu pengusaha besar di negara ini. Orangnya unik, eksentrik tapi sangat sayang keluarga. Begitu sih informasinya. Dan pertemuan ini berubah tempat agar beliau tidak tertinggal ulang tahun cucu pertamanya .. ".


" Oh.... so sweet banget sih ".


" Namanya Nikolov Oeri Pouzas ... kelahiran Rusia dan juga memiliki darah Italia, dan pernah tinggal selama dua tahun di Bandung ".


" Oh ya  ", sepasang mata Hanin itu membelalak cantik.


" Istrinya, punya darah orang Indonesia... orang sunda. Kayak neng cantik ini ".  Dan Haidar pun kembali menemukan celah untuk bisa mengecup pipi seputih kelopak anggrek bulan itu.


" Aku sih JaSun ... Jawa Sunda ". Sahut Hanin sambil tersipu.

__ADS_1


Keduanya terlihat begitu mesra dalam keserasian yang selaras. Si pria yang gagah menjulang, dengan rahang tegas dan alis lebat sedikit berantakan namun justru menambah kesan maskulin dan menyempurnakan sepasang bola mata kelam bersinar hangat yang selalu menantap wanitanya denngan lembut. Si wanita yang mungil dengan kulitnya yang putih bersih, senyuman cantiknya memang layak untuk diperjuangkan, ia sangat rupawan dengan kesederhanaan yang dibawanya.


Tapi tidak demikian untuk Velinda, ia berdecih tak kentara. Dan sedikit membuang muka saat melihat gesture Haidar yang begitu sigap menangkap tubuh calon istrinya itu ketika secara tidak disengaja nyaris kehilangan kesimbangan. Tatkala dua anak kecil yang berlarian di loby secara tak sengaja menyenggol wanita itu.


" Selamat pagi pak Haidar, nona Hanin ... mobil sudah siap ". tapi Velinda tetap tersenyum manis menyambut dua sejoli itu.


" Terima kasih ya ... mari kita berangkat ".


Velinda mengangguk, lalu dengan sengaja ia berjalan mendahului tuan boss muda. Melenggang dengan anggun, memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Karena wanita itu begitu yakin, pasti si boss muda saat ini juga tengah menikmati gemulai lekuk tubuhnya. dan ia hanya tinggal menunggu, bersabar untuk kemudian mendapatkan yang dia inginkan. Lihat saja, desisnya.


............................


Rumah keluarga Pouzas berada di atas bukit, bertetangga dengan orang-orang berkantong tebal di negeri ini. Perjalanan yang lumayan memakan waktu, tapi Haidar merasa diuntungkan karena ia bisa berbincang tentang banyak hal dengan Nania tersayangnya. Benar-benar memanfaatkan waktu yang tingal dua pulub empat jam saja. Karena keesokan harinya, si cantik ini akan terbang pulang ke tanah air.


" Kado untuk cucu tuan Pouzas sudah kau siapkan Linda ? ".


" Ya pak, sudah siap. Paman Haris yang membawanya ".


" Oke Linda terimakasih ".


Mungkin itu adalah perbincangan pertama antara dirinya dengan taun muda nya yang tampan tanpa harus dirinya memulai terlebih dahulu. Tapi sungguh keterlaluan, sedikitpun pria itu tak menatapnya. Kedua bola mata kelam itu seperti terpancang pada sosok di sebelahnya. Seorang wanita dengan tubuh yang kecil, garis wajah biasa yang tak memancarkan aura istimewa seperti dirinya. Entah apa yang mempesona bagi tuan mudanya, wanita kecil itu terlalu sederhana.


Velinda tersenyum sinis tak kentara. Sementara hatinya tak henti menyanjung dirinya sendiri dan merendahkan Hanin Hanania yang begitu besinar dimata seorang Haidar. Hingga ketiganya turun dari kendaraan yang membawa mereka pada keluarga Pouzas.


Rupanya Haris dan Howard juga baru saja tiba, dua orang itu tersenyum menyambut kedatangan rombongan Haidar yang tetap tak membiarkan Hanin terlalu lama terlepas dari genggamannya, serta Velinda yang berjalan mendahului keduanya.


" Halo semua, terimaksih sudah mempersiapkan segalanya dengan matang ", sapa Haidar bersemangat sambil menunjuk sebuah kotak besar berbungkus kertas berwarna biru muda berpola si bus karun dari Korea yang sangat termasyhur itu.


Hanin Hanania tersenyum, tersipu malu. Sementara dua orang pria mendekati paruh baya di hadapannya tertawa bersama. Lalu tiga orang yang baru pertama kali bertemu itu saling bersalaman dan memperkenalkan diri satu sama lain.


" Jadi nona seorang chef rupanya. Pasti pak Haidar sudah kecanduan masakan nona ", kali ini Haris yang menggoda.


" Tidak hanya masakannya, tapi semua hal yang ada pada dirinya. Aku sudah sangat tidak bisa ke lain hati ". Haidar tertawa kecil seraya merengkul pundak Nania nya, tapi justru berbuah sebuah cubitan yang di pinggangnya. Pemud a itu terkekeh, sementara wajah Hanin memerah dan tersipu-sipu.


" Ikut bahagia melihat anak muda yang sedang atuh cinta seperti ini. Semoga membawa keberuntungan untu kita semua ya pak Haidar ". Kali ini Howard yang menimpali.


" Semoga, semoga ... ayo kita segera temui tuan Pouzas ". Haris mengambil inisiatif.


Kehadiran rombongan itu sudah di tunggu beberapa pelayan dan juga seorang pria yang nampaknya dalah kepala pelayan di rumah besar itu. Membungkuk dengan hormat dan mempersilahkan semua tamu untuk segera masuk ke dalam bangunan megah tersebut.


Haidar membimbing Hanin dengan lembut, seolah tak membiarkan langkah gadis itu tersendat. Sesekali pemuda itu mendukung dengan lembut punggung si gadis di sebelahnya. Sejenak melepaskan gandengannya hanya untuk beralih menyentuh lengan dengan hangat. Membuat Hanin merasa risi sebenarnya, tapi senyuman Haidar yang menuntut membuat gadis itu pasrah saja dengan segala kemesraan ini.


Semalam sepulang mereka berdua dari menonton  'The Privilege' yang cukup mebuat jantung jadi kebat-kebit dan hati tiba-tiba jadi 'parno itu, Haidar justru di buat tersenyum oleh pesan yang baru saja diterimanya. Sang teman baik Keanu rupanya juga baru dapat limpahan kebahagian, tak disangka, tak diduga, tak dinyana, seolah seluruh semesta sedang berpihak pada keduanya.


" Lihat, ada yang sedang ketiban bulan ", Haidar memperlihatkan kiriman video dari Keanu.


" Bang Haid, bilang sama nona cantik mu. Jangan ganggu kami ", suara Keanu setengah berbisik. Lalu memperlihatkan jemarinya yang digenggam erat oleh jemari kecil Leisel. Kemudian gamabr itu bergeser mengarah pada kasur di sebelahnya, di mana Sellma nampak tertidur pulas.


" Sepertinya kau harus tidur di kamarku ... lagi ", kata Haidar penuh nada kemenangan. " Aman kok ... sudah terbukti 'kan, yang kemarin juga nggak kenapa-kenapa ".

__ADS_1


" Aku tidur di kamar bang Key aja .. '.


" Eits !!! mana bisa ?. Kalau Sellma nanti tahu-tahu bangun.. terus minta bang Keanu pindah kamar. Laaah .... berarti kamu tidur bareng si bang Key' dooooong. Kalau Sellma terus cemburu gimana ??? hayooooo ... ".


" Kan bisa bang Key bangunin aku terus suruh pindah ".


" Seyakin itu sama kelurusan hatinya bang Key??. Lebih aman juga dengan ku ".


" Tapi terdengar sangat tidak aman ".


Setelah berdebat sepanjang perjalanan pulang ke hotel, akhirnya kemenangan kembali bearda di pihak Haidar. Pria itu tersenyum lebar, sementara Hanin merona dengan hati kebay-kebit tiada tara. Seperti mempercayakan seekor kancil pada singa.


" Kau tidurlah dulu, aku amsih harus mempersiapakan beberapa dokumen ", pinta Haidar yang kemudian melangkah ke luar dari ruang tidur meninggalkan Hanin yang resah duduk di tepi ranjang besar itu.


" Jangan seperti itu dong, aku bukan pria hidung belang yang penuh tipu muslihat. Aku pria yang akan menjagamu dengan cinta yang utuh ". Dan tatapan Haidar mengunci Hanin pada rasa percaya yang tulus.


" Terimakasih... aku percaya pada mu mas. Jangan pernah hianat ya ".


" Satu ciuman boleh  ? ", Haidar yang semula sudah menjauh berbalik dan beranjak mendekat.


" Eits  stop !!!!! ..... nggak usah mimicu ledakan besar. Nggak bisa di kasih hati nih orang ", Hanin menyalak dan mendelik garang.


" He... he... nggak jadi ah, takut di terkam ... ha..ha..ha..ha ". Haidar kembali berbalik arah sambil tertawa keras meninggalkan Hanin yang bersungut-sungut kesal.


" Besok, aku cuma minta satu hal ". Tapi Haidar kembalu berhenti dan membalikan badannya untuk bertanya.


" Apa itu ?  ".


" Jangan menolak ku, biarkan aku bersikap mesra padamu ..... besok sudah muali di dua puluh empat jam yang sesungguhnya, sebelum kau balik ke Indonesia ".


" Hah ? ". Hanin ternganga kebingungan.


" Please ... say yes, please ".


Dan Hanin pun menggedikan bahunya sebelum mengangguk, walaupun dengan sedikit ragu.


Rupanya inilah yang dimaksudkan oleh Haidar, tidak boleh menolaknya saat pria itu bersikap mesra,  sangat mesra bahkan.  Hanin samapi merasa sangat malu karena mendapat perlakuan semanis itu. Bagaimana tidak, seolah dirinya adalah sesuatu yang terbuat dari kristal, hingga Haidar benar-benar tidak mau melepaskannya sedikitpun.


" Mas, yakin kau bisa fokus kalau ada aku disini ? ", bisik Hanin. " Lihat tingakah mu ini, gandengan terus. Kalau tuan Pouzas tersinggung gimana?, kau dianggap main-main saja ".


" Terus gimana dong ? ", Haidar balas berbisik.


" Aku akan ikut nyonya Pouzas saja , ya ".


" Oh okay... ", Haidar tersenyum lalu ia beralih pada pria setengah tua berambut keperakan yang masih namapk sibuk berbincang dengan Haris. " Tuan Pouzas, Hanin ku sayang ini ingin ikut membantu nyonya mempersiapkan acara pestanya. Apakah anda tidak keberatan ".


" Oh ... nice. Pasti Livi senang sekali. Silahkan nona, silahkan. Biarkan Paul yang akan mengantarmu ya ". Pria itu tersenyum lebar dan nampak sangat senang dengan kejutan itu.


Dalam hati Hanin bersorak-sorak, karena ia bisa sedikit terbebas dari bocah bongsor yang tak henti menggandengnya. Ia tersenyum dan mengangguk penuh rasa terimakasih, lalu segera bangun dan bersiap mengikuti langkah kepala pekyan bernama Paul itu. Tapi langkahnya masih sempat tertahan sejenak oleh sentuhan Haidar yang menahan jemarinya sesaat.

__ADS_1


" Hati-hati ya sayang, selamat bersenang-senang. Aku akan merindukan mu .. ". Kata Haidar tanpa ragu dan cukup jelas terdengar oleh semua orang di ruangan itu.


Oh my ... my... goodness, meleh hati ini mas.


__ADS_2