PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Than You Look At Me (5)


__ADS_3

Pagi itu masih berselimut kabut saat Keanu baru saja turun dan menyusuri jogging track area apartemen tempat tinggalnya. Ketika kekhusyukannya menikmati alunan musik yang menguasai gendang telinganya tiba-tiba saja pecah oleh deringan lain, sebuah panggilan masuk mengusik indahnya mini konser pagi itu.


" Hem ", suara pria itu terdengar enggan.


" Bang Key, good morning. Denger-denger lo' mau balik ke Indo ? ", sapa suara khas dari seberang sana.


" Tinggi juga antena lo' bang Haid. Masih dua minggu lagi. Ngapa ?, ada yang mau lo' minta bungkusin, bawa pulang gitu ? ".


Tentu saja Haidar tertawa dari seberang benua sana, mendengar celoteh Keanu yang sama sekali tidak menghentikan lari paginya.


" Kalau nurutin napsu siih... iya. Tapi biarin deh, nanti aku sendiri yang akan menjemputnya dengan kereta kencana ", sahut Haidar kemudian.


" Kasian kudanya doooong.... ".


Terdengar suara Haidar yang kembali terbahak. " Progres sama mami nya Leil gimana ?. Tancap gas 'kan lo? ".


" Yang ini nggak bisa dikebut 'Dar, harus penuh kesabaran dan pengertian yang luar biasa. Yang penting anaknya dah' kena dulu, urusan emaknya pasti menyusul deh. Ngomong-ngomong ada apaan pagi-pagi nelpon ? ".


" Kangen aja, nggak boleh ? ".


" Idiiiih, jijay ah... buruan ngomong. Apa sih yang nggak buat mu ...abang Haid ".


" Nggak sih, cuma sedikit khawatir aja. Kalo' kamu dah balik ke Indo, siapa nih yang bakal bantu jagain si cantik itu ". Suara Haidar terdengar penuh rasa khawatir yang sama sekali tidak bisa disamarkan barang sedikitpun.


" Kalau khawatir, kenapa nggak cepetan balik lagi ke mari ?. Denger-denger malah dah ada orang yang dikirim perusahaan buat menetap di Heidelberg ?. Gimana ceritanya tuh ? ".


" Mba Cinta hamil, dan para sesepuh menginginkan deket-deket calon cucu. Jadi bang Namu tetep stay di Indo dulu. Sementara ini papah kurang fit kondisinya, beberapa tugas penting mulai dibebankan padaku ".


" Lah, pak Namu ? ".


" Jangan tanya deh .... dia dipenjara istrinya. Nggak ada luar kota, apalagi luar negeri... hadeeeeeh. Amit-amit deh, orang hamil yang satu ini, bikin pusing dunia persilatan deh ".


" Hua.. ha..ha..ha... ", Keanu benar-benar terbahak-bahak. Bahkan ia menghentikan larinya demi bisa melontarkan tawa lepasnya. " Bakal ada yang jadi korban deraan rindu menghantui kalbu dong ... ".


" Lusa siang aku ke Swiss. Bawa tuan putri ke hadapanku. ".


" Busyet dah... gimana caranya ? ".


" Itu tugas lo' bang .... otak kriminal elo' yang diatas rata-rata pasti bisa men-skenario hal-hal indah ini ".


" Ya Tuhan .... kenapa engkau karuniakan 'konco gendeng macam ini pada hambamu yang taat ini ", keluh Keanu dengan ratapan panjang yang justru berbalas kikikan kecil dari seberang sana.


" Halaaah .... ntar' klo' giliranmu dan Sellma juga gue' bantuin. Sepenuh jiwa dan raga deh 'bro. Yang penting elo' atur deh, gimana kek. I trust you brother .... ".


" Pala' lo' peyang Haid ..... ".


" Pokoknya you the best lah .... atur aja ya, akomodasi sudah gue transfer ke rekening lo. Luv you bro'.... muaaach ". Haidar tak memberikan sedikitpun kesempatan bagi Keanu untuk memprotes. Membuat pria berkulit putih lobak itu menggeram dengan gemas sambil meninju udara kosong.

__ADS_1


" Dasar !!!! anak boss, dia pikir gue' pengangguran apa ya ? ".


Namun suara dentang notifikasi dari fasilitas m-banking di telepon pintar Keanu membuat pria itu terbelalak takjub. Deretan angka dengan nominal yang hampir sama dengan gajinya tiga bulan tertera seperti siluet grafiti yang membuat sepasang bola matanya menari-nari.


" Emang nggak kaleng-kaleng nih calon sultan. Gak jadi marah ah ... ". Seriangai puas merebak di wajah Keanu, bahkan ia melompat dengan girangnya. Asli ini, fix langsung jadi partner in crime-nya Haidar.


.....................................


Sepasang mata berwarna kecoklatan itu menyapu kembali seluruh ruangan yang kini tampak lebih lengang berhias kardus-kardus besar. Saat tubuh mungil bersimbah peluh akan segera terhempas di sofa, ketika itu pulalah suara denting bel dari pintu terdengar. Hanin menegakan kembali badannya untuk bisa melihat dilayar monitor dekat pintu utama, siapa yang datang hari ini, walaupun sebenarnya ia sudah yakin jika itu adalah Ameer dan Vee si karyawan baru.


" Ini kita chef ... ". Seru dua buah suara hampir bersamaan. Ameer dan Vee berdiri diambang pintu sambil membuka sepatu mereka dan menyimpannya di rak khusus sepatu yang terletak tak jauh dari samping pintu utama.


" Masuk ", seru gadis berkulit putih itu. Sementara dua orang baru yang baru kenal, namun langsung akrab itu terlihat sedang berebut sandal khusus rumahan. " Apa sih yang tidak membuat kalian heboh di dunia ini ? ".


Ameer tertawa mendengar celutukan dear boss nya ini, pemuda itu akhirnya memilih mengalah pada si manis Vee. Memberikan sendal abu-abu dengan telinga telinga tikus sebagai aksennya, dan ia lebih baik mengenakan sendal pink yang manis.


" Uwaaaoooo.... ini sih fix nggak akan balik ke Jerman lagi. Ehm ... dalam waktu dekat tentunya ". Ameer membelalakan kedua matanya sesaat setelah ia benar-benar selesai menyapukan pandangan keseluruh ruang tengah yang kini tampak sangat lega.


" Entahlah, tapi tawaran bekerja di hotel bintang lima itu sangat menarik. Bukankah itu impian hampir semua chef seperti aku ".


" Benar kau ditawarkan pekerjaan itu ?, bukannya kau yang mencari-cari ya chef ? ".


" Yang penting aku tidak mengemis ", Hanin membela diri dari nada usil yang dilontarkan pemuda asal Turki itu.


" Tapi tetap saja, terima kasih banyak ya chef . Jika kau tidak resign... mungkin aku tidak akan bisa bekerja di sana sekarang ". Vee menimpali seraya melontarakan seringai penuh kepuasan.


" Dan inilah dia... awal penderitaanku. Taa Daa.... aduh ". Ameer mengaduh saat tonjokan Vee telak menghantam bahunya.


" Dengan dia ?, sepertinya tidak saja chef. Kalau dia sih mungkin saja akan mulai merindukan satu sift denganku ". Kata gadis berambut coklat keemasan itu dengan sedikit pongah, Vee merasa di atas angin.


" *Cinta dan benci memiliki kekuatan transformasi magis. Mereka adalah pengubah jiwa yang hebat***, aku jadi takut chef ... sepertinya yang kau katakan itu akan segera menjadi kenyataan.. ", Ameer tergelak disela tatapan tajam Vee yang seolah berusaha mengulitinya.


" Ok, sudah cukup bercandanya. Aku mau mandi dulu. Silahkan semua yang sudah ku packing itu... ", Hanin mengedarkan mata bulatnya pada beberapa tumpukan kardus di ruangan itu. " Itu untuk kalian, ambil, pilih yang kalian suka dan kalian butuhkan. Sisanya, ehm...aku minta tolong ya, berikan pada siapapun yang membutuhkan ".


" Wouw ... ", Vee membelalakan matanya dengan takjub dengan bibir merah yang membentuk bulatan menggemaskan. " Aku boleh pilih-pilih dulu nih chef, lumayan .... ".


Hanin yang tak lagi ambil pusing dengan tingkah dua orang rekannya itu hanya menggedikan bahu saja sambil berlalu, melenggang dengan tenang menuju kamarnya. " Sesuka kalian lah. Oh ya, ada nasi goreng Indo di wajan, kalian tinggal menghangatkan saja ".


" Siap chef... ", seru Vee dan Ameer dengan penuh semangat.


Begitu sampai di kamarnya, Hanin langsung masuk ke kamar mandi. Mengguyur badannya yang berpeluh dengan air hangat yang menyegarkan. Seselesainya mandi, gadis itu memutuskan untuk membiarkan rambutnya setengah basah saja alias tidak mengeringkan dengan pengering rambut, cukup dibungkus dengan handuk dan menggulungnya sedemikian rupa. Bukan apa-apa, tapi karena gadis itu benar-benar merasa lapar yang membuatnya seolah rela mengorbankan apapun demi nasi goreng yang tadi sempat dibuatnya itu.


" Hai ... nasi goreng mu enak loh. Masih aku sisain kok ".


Tapi hal itulah yang menyambut Hanin begitu ia keluar dari kamar. Nampak Keanu sedang menyeringai puas ke arahnya sambil terus mengunyah dengan nikmat, tanpa permisi, tanpa rasa bersalah sama sekali, dan membuat Hanin hanya melongo.


" Ah bang Key, kapan kau datang. Yah ... kenapa nggak kau habiskan saja ?. Nanggung dong kalau cuma disisain segini ", nampak Hanin bersungut-sungut kesal dan kecewa berat.

__ADS_1


" Ah terimakasih adik cantik ", lalu tanpa ragu nasi goreng yang mungkin hanya tinggal beberapa sendok saja itu langsung berpindah dengan cepat ke piring Keanu. " He..he..he..  jangan sedih gitu dong, barter aja ya. Nih... nasi gudeg dan ayam bakar ... tadaaaa.... ".


Wajah kecewa Hanin yang semula benar-benar seperti tak berdarah karena rasa kesal dan kecewa menjadi berubah seketika. Seolah aliran nadi kehidupan kembali berdenyut demi dilihatnya sejoli hidangan berwarna coklat menggiurkan yang menemani manisnya nasi putih yang hangat.


    Tidak menunggu lama, gadis itu sudah asyik menulangi ayam bakar porsi jumbo dan menyandingkannya dengan gudeg berpelengkap sambal merah menantang. Bibir kecilnya yang merekah bak bunga kelopak bunga sakura sesekali berdesis kepedasan.


" Ada misi apa datang kemari ? ", masih dengan desis nikmat yang pedas Hanin seolah tak melepaskan Keanu begitu saja. Bukan berarti urusan nasi goreng diganti ayam bakar sudah selesai ya bang Key.


" Nggak boleh ?, seenggaknya aku sudah jadi malaikat kemakmuran untukmu Nin ".


" Kau pikir aku percaya ?, gudeg dan ayam bakar ini nggak murah loh harganya. Harus pre order  dulu. Pasti ada si boss dibalik semua ini ", selidik Hanin sambil meletakan kembali potongan ayam bakar yang masih lumayan besar. " Ini buat Vee sama Ameer ... ".


" Kenapa nggak bilang kalau mau balik Indo ?. Padahal Sellma dan Leil, serta aku tentunya mau mengajakmu ke Swiss ".


" Wuuiiih .... seriuuus ?, baek bener si abang nih. Sorry ... nggak percaya deh kalau itu murni Sellma yang ajak-ajak. Hayoooo .... ngakuuuuu .... ".


Keanu mendadak pias dengan serangan telak gadis cantik di hadapannya. Tapi pemuda itu kemudia tertawa kecil seraya membuat gesture yang begitu kentara jika ia sedang menutupi sesuati yang besar, namun tidak cukup dengan materi kecil yang disajikannya.


" Iya siiiiih, sepertinya memang semesta berpihak kepadaku. Ketika ku putuskan untuk berusaha keras meraih hati pujaan hatiku, eeeh sang pangeran tampan juga ternyata punya rencana yang sama demi ketemu si belahan jiwanya. Jadilah .... emang rejeki nggak kemana siiiih. Byasaah ... rejeki bujang yang emang tuluus sayang sama anak orang.. he..he..he.. ".


" Maksudmu ? ", Hanin menerka dengan pandangannya yang menajam. " Ini bukan settingan kalian 'kan ?. Lagian aku besok dah balik Indo kok .. ".


" Please Nin... kasian Sellma, Leil juga. Ehm ... pak Boss juga. Lusa kita berangkat, semua sudah siap kok. Please ... please... yah, demi gue koq ... sama calon anak istri gue. Ngggak demi pak Boss saja... pleeeaseeeee.... ".


Menurutmu ????


...........................................................


Hanin masih termangu sambil menimang handphone nya, ragu-ragu jelas terpancar dari wajahnya. Gadis itu bahkan berkali-kali menghela nafas panjang demi menghilangkan gelisah yang membuat nyaris hampir separuh akal sehatnya seperti menguap. Padahal tadi dia sudah sangat mantap dengan benda yang kini tergenggam erat di tangannya itu, untuk segera menghubungi Haidar sepulangnya Keanu dan juga Ameer  beserta Sellam. Namun perasaan sungkan itu tiba-tiba saja merebak seperti cendawan di musim hujan, mengalahkan keberaniannya.


' Hai, baru sibuk nggak ? '. Akhirnya Hanin bisa mengetikan beberapa baris kata. Tapi dia segera menaruh handphone nya di atas meja dan memelototi benda yang tak berkaki itu seolah-olah bisa lari darinya kapan saja.


Dan satu notofikasi pesan masuk berkumandang, membuat Hanin nyaris terlonjak. Perlahan ia meraih alat komunikasi masa kini itu. Lalu mendapati balasan dari Haidar.


' Biar sibuk juga klo' untuk si cantik pasti disempat-sempatin '.


Bluush ... dan seketika wajah Hanin pun memerah. Gadis itu sibuk menggigit-gigit bibirnya dengan gelisah, mengekspresikan rasa malu yang tiba-tiba saja berkuasa.


' Si kembar bilang ada yang mau balik ke Indo '.  Kali ini pesan yang dikirim Haidar berbumbu bunga warna-warni dan juga emoticon shy-shy.


' Iya, so.... nggak apa-apa'kan kalau aku nolak tawaran buat ketemuan di Swiss. Lagian, biar bang Key dapat lebih longgar waktunya dengan Sellma dan Leil. Trus, mas juga bisa konsentrasi dengan semua pekerjaan. Toh nanti kita juga ketemu di Indo 'kan ? '.


Kali ini pesan Hanin tidak serta-merta dijawab oleh Haidar seperti sebelumnya. Mungkina ada sekitar sepuluh hingga belasan menit terlalui. Pasri karena pria itu sedang sibuk tentunya. Dan Hanin menunggu dengan mengigit-gigit bibirnya kembali sembari berjalan menghampiri jendela dan bersusah-payah mendistraksi kegelisahannya dengan menatap hamparan yang mulai bercorak kecolkatan karena gugurnya daun-daun di luar sana.


Cukup lama gadis itu terdiam dan larut perasaan yang tidak menentu. Jika menuruti kata hatainya, ia pun sebenarnya ingin menerima tawaran untuk liburan ke Swiss sebelum pulang ke tanah air. Tapi apakah tidak terlihat begitu memanfaatkan kesempatan, atau bahkan terlihat begitu gampangan ?. Toh dia sendiripun belum yakin dengan hatinya. Untuk kembali bertemu pria itu ?, rasanya butuh nyali dan keyakinan besar. Belum lagi ditambah jurang pemisah yang begitu lrbar dan dalam diantara keduanya.


Dulu ia pernah punya mimpi yang indah tentang cinta sejati, cinta yang tak mengesampingkan hal apapun di dunia, cinta yang hanya berkutat tentang hati. Tapi ia terjerumus dan terluka cukup dalam karenanya. Jika kemudian ia menjadi lebih berhati-hati dan waspada, mungkin itu wajar. Bukan bermaksud jual mahal. Tapi jatuh di lubang yang sama pasti lebih sakit berlipat-ganda. Begitulah Hanin berbincang dengan nuraninya sendiri.

__ADS_1


Lalu suara itu memecah hening, mengagetkan gadis yang bersandar di tepi jendela. Suara dering panggilan yang mengembalikan seorang Hanin Hanania terlonjak, seperti masih belum siap menghadapi kenyataan yang sesaat lalu ditunggunya. Telepon genggamnya tak lagi menyampaikan dering notifikasi pesan, tapi kini berdering panjang dalam sebuah panggilan. Dan itu pasti dari seorang pria gagah menjulang yang selalu menatapnya dengan hangat, pria yang jauh di seberang sana.


****Liebe und Hass haben die Kraft der magischen Transformation. Sie sind große Seelenveränderer ; ** ungkapan di Jerman yang artinya Cinta dan benci memiliki kekuatan transformasi magis.


__ADS_2