PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merenda Romansa (2)


__ADS_3

Cukup berbicara saja dengan ibunya, bahkan ia pun hanya berbincang melalui panggilan telepon saja. Tapi ia sangat yakin jika ayahnya pasti juga sudah mengetahui. Karena ia tahu betul bagaimana pasangan suami istri ini tidak akan pernah terlalu lama untuk tidak saling bercerita.


Dan hal itu terbukti, ia langsung tahu dari melihat bagaimana ayahnya bersikap.


" Momy kelihatan seneng banget di bawah ", celutuk Syailendra.


" Sudah mengintip tow ? ".


" Dikiiit dad .... habis kelihatannya begitu semarak... mommy bahagia banget ".


" Cantik nggak ? ... jangan bicara standarisasi konyolmu. Cukup iya ... tidak ".


" Ha.. ha.. ha.. ", Syailendra buru-buru tertawa. " Cantik ... Delapan malah ".


" Ish ... pelitnya. Dokter loh ... singgel pula ".


" Ya deeeeh.... sembilan ... setengah ".


" Cakep ". Raihan tersenyum dan menepuk pundak putra sulungnya ini. Lalu duduk menyebelahi anak laki-laki yang berperawakan paling mirip dengannya, hanya kedua warna matanya yang kelabu sewarna hujan dikala senja yang identik dengan ibunya. Tapi sifat dan hampir keseluruhan cara bersikap pria ini, adalah refleksi dirinya di masa muda.


" Nggak tertarik dengan yang manis ini ? ", Raihan melontarkan pertanyaan itu spontan saja, sebenarnya tidak bermaksud apa-apa.


" she's too young ... ".


" Not your tipe ? ".


" Little sister .... just little sister Dad ".


Raihan sedikit tertawa, kali ini tentu saja untuk menggoda. Toh jarang juga ia mencecar putranya ini dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik hati seperti ini.


" Kenapa tertawa Dad ? ", Syailendra mengerutkan keningnya. " Bukan sesuatu yang bisa dianggap lucu bukan .... pandangan pribadi seseorang ".


" Iya.. iya.. iya... tuan muda. Dia memang adik kecil ... yang manis ". Dan menekan dua kata terakhir itu dengan nada menggoda tentu saja.


" Lihat mommy mu ... dia seperti mendapatkan seorang anak perempuan ya. Biarlah .... setidaknya dia bahagia ".


Syailendra tersenyum, ia kali ini setuju dengan pendapat ayahnya.


" Padahal tempo hari, begitu kau menyampaikan penolakan mu.... kau tahu, seluruh mendung di dunia seperti berkumpul di wajahnya ".


" Lebay... biasa aja ah Dad ".


" Kau yang langsung menutup telepon mana tahu. Sampai pegal lengan ku ... " . Raihan terlihat serius bersungut-sungut.


" He... he... he... pegal-pegal senang ya Dad ", tapi Syailendra malah berganti menggodanya.


" Bukankah lebih baik ku tolak... daripada memaksakan kehendak, memisahkan cinta sejati sepasang anak manusia. Aku tidak mau menjadi monster perusak cinta 'ah ".


" Gayamu ..... tapi yang kau lakukan juga sudah tepat. Hanya saja ... menurutmu, adik manis yang di bawah itu... sudah tahu ? ".


" Kemungkinannya ...... iya ".


" Yakin ? ".


" Tentu saja Dad.... kedua kakaknya sudah menghubungi ku ". Syailendra menelan ludah, ia nyaris saja mengatakan .... tentu saja, aku sudah bertemu sebelumnya. Huwaaaaa.....


" Kalian begitu akrab ... maksud ku si Cinta dan Namu... dan kau ... ".


" Karenanya aku tidak bisa menikung teman ".


" Jadi sebenarnya ... kau suka juga dengan anak Arjuna itu ? ".


" Tentu saja tidak ", sambar Syailendra cepat sambil menyandarkan kepalanya di sofa dan menyelonjorkan kakinya dengan rileks.


" Terkadang .... kemauan para wanita itu.... sedikit merepotkan, apalagi saat mengalihkan semua alasannya dengan dasar kasih sayang ",


gumam Syailendra sambil setengah memejamkan matanya.


" Gaya mu ... ". Raihan mengucapkannya sambil menepuk perut Syailendra dengan punggung tangannya. Sebenarnya hanya bermaksud menggoda saja, dan pukulan kecil itu bisa dipastikan tidak keras, tapi....


" Ough... ". Tiba-tiba saja wajah Syailendra seperti menegang, seperti tersengat ubur-ubur yang menyakitkannya. Tentu saja, karena ayahnya mengenai tepat di luka yang baru beberapa hari ini tercipta, belumlah sempurna untuk menutup dan mengering.


" Kenapa ? ", Raihan sedikit terperanjat, ia mengamati wajah putranya yang tiba-tiba saja berkeringat. " Berantem lagi ? ".


" No' ... hanya ... membela diri ".


" Ini juga alasan mu tidak mau bertemu mommy kemarin-kemarin ? ".


Syailendra menjawab dengan mengangguk perlahan sambil meringis tertahan.


" Alasan kenapa kau batalkan meeting Senin kemarin ? ".


" No .... kalau yang itu benar-benar urusan teknis dan manajemen ".


" Siapa ? ", selidik Raihan. " Hanya ingin tahu saja .... bisnis or .... ? ".


" Both .. ", Syailendra menjawab cepat.


Di detik-detik berikutnya Raihan berdecih yang kemudian tertawa lirih. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.


" Tidak kau lanjutkan ? ", tanya Raihan lagi.


" Aku tidak mau terpancing Dad. Hanya.... harus lebih berhati-hati saja ".


" Sudah datang rupanya .... sejak kapan kalian ngobrol disini ? ", suara Nilam menghentikan pembicaraan suami dan anak sulungnya.


" Mommy .... miss you so much ... ", Syailendra menghambur ke dalam pelukan Nilam.


" Halah gayamu ! .... miss you so much tapi kok jarang datang .. ".


Syailendra terkekeh-kekeh sambil tetap memeluk sang ibu.

__ADS_1


" Ayo... kita shalat Maghrib dulu, lanjut makan malam ". Raihan bangkit berdiri dan berjalan melewati istri dan anaknya. " Kirana mana ? ".


" Oh .... itu, menunggu di bawah. Ayo .. ", Nilam pun penuh semangat dan mengikuti langkah suaminya.


" Naaah .... Rana, ini anak sulung kami. Perkenalkan ..... ". Nilam menarik perlahan tangan Syailendra, membuat pemuda itu sedikit mendekat pada Kirana yang sedang membantu menata meja makan.


Syailendra menahan senyumnya. Aku sudah mengenalnya .... bisik hatinya. Tapi ia tetap berada dialur yang sudah sengaja diciptakan. Tepatnya alur yang sudah disepakati oleh dirinya dan gadis muda itu.


" Syailendra .... panggil saja Alend ", ia penuh percaya diri mengulurkan tangannya.


" Kirana .... panggil saja Rana ", yang langsung disambut oleh Kirana.


" Panggilnya mas Alend ya Rana.... kan' dia lebih tua ", Nilam menyela.


" Iya Tante..... mas Alend ya ? ", Kirana sedikit tersipu.


" Naaah......manis deh kalo gitu. Ayo kita shalat dulu ", ajak Nilam kemudian.


" Monggo Tante, Om .... silahkan. Rana baru nggak shalat ".


" Ooh... ya udah tunggu saja disini ya. Habis shalat kita semua segera makan malam kok ".


Akhirnya Nilam meninggalkan Kirana, yang terakhir beranjak dari tempat itu adalah Syailendra. Yang tentu saja menyempatkan diri melempar senyuman penuh arti pada Kirana.


Tapi Kirana tidak bisa mengartikan senyuman itu. Dan memilih mengabaikannya saja, dari pada salah paham .... bisa runnyam nanti.


" Mba... sudah lama ya kenal dengan bapak - ibu ?. Tapi kayaknya baru sekali ini kemari ya ? ".


Pertanyaan ini berasal dari wanita berumur empat puluhan yang tadi menyambut kedatangannya. Diketahui bernama Maryulianti atau biasa di panggil Bu Yuli, yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja membantu pekerjaan rumah di kediaman keluarga Raihan. Tadi Kirana sempat sedikit berkenalan.


" Papa yang berteman akrab dengan Om Raihan sejak kuliah di Inggris dulu ... atau ... sejak kapan gitu... lupa aku ceritanya. Tapi beberapa kali pernah ketemu ... dulu ".


" Jadi bener ya baru pertama kali kemari ".


" Iya Bu ... diminta mama ".


" Ooh.... ", Yuli ber-oh panjang sambil tersenyum-senyum.


" Kenapa Bu Yuli ? kok senyum-senyum ", Kirana keheranan.


" He..he..he.. ... seneng aja ngeliatnya ".


" Hem ? ", Kirana mengerutkan keningnya.


" Ibu ... biasanya nggak se-welcome' ini loh mba. Apalagi mas Alend ..... beeeuuuuh.... kalau sama perempuan .... kakunyaaa amit-amit ".


" Mungkin karena Rana anak temen baik papa mamanya kale' .... jadi dibaik-baikin ".


" Ih ... nggak lah. Banyak itu wanita cantik yang datang kemari, banyak juga yang anak kenalannya bapak-ibu. Tapi mas Alend.... huuuh... jual mahal. Pokoknya serasa yang cakep sendiri deh. Ya emang cakep sih ... ".


Kirana tak kuasa menahan tawanya. Memang sih si mas Alend yang juga adalah pria boss itu .... terlalu angkuh dan penuh percaya diri.


" Mas Alend takut ditabok om Raihan kali kalau nggak baik-baikin saya .... ha..ha..ha..".


Keberadaan Bu Yuli membuat Kirana tidak merasa canggung di rumah yang baru pertama kali ini dikunjungi. Bahkan saking asyiknya mereka berdua berbincang-bincang, hingga waktu menunggu itu tidak terasa lama.


" Ayo makan ... loh? ... koq nggak jadi cumi cabe ijo sih mom ". Syailendra memprotes.


" Itu menu tiga hari yang lalu, saat ada seorang anak berjanji mau menginap .... tapi batal, tanpa pesan ".


" He... he.. he... sorry mom. Ini juga sedap kok. Gurame goreng ..... heeeem ".


" Ini yang nyambel Rana loh .... ". Nilam berkata sambil menyendokan nasi dan menaruh di piring suaminya.


" Nggak kok Om.... Rana cuma bagian ngulek aja. Yang bikin takaran tetep aja Tante Nilam. Kalo Rana yang bikin sih.... pasti ..... ancur rasanya ".


Dan tawa pun kemudian terdengar menyemarakkan meja makan. Menghangatkan dan lebih mengakrabkan suasana. Mereka menikmati makan malam yang menyenangkan itu sambil berbincang ringan. Kirana bersyukur dalam hati, karena topik pembicaraan yang sangat ia takutkan sampai sekarang sama sekali belum terangkat. Pastinya Syailendra telah benar-benar menepati janjinya.


Selepas makan malam yang menyenangkan itu, Kirana menunggu beberapa saat. Untuk kemudian mulai memohon diri untuk pulang.


" Loh ... masih sore ini ", kata Raihan sedikit keberatan.


" Iya ... maaf nih Om, besok piket pagi di IGD. Dan belum selesai bikin laporan hari ini.....".


" Oh gitu ya... tapi kapan-kapan main ke sini lagi ya Rana ", Nilam ikut meminta.


" Insyaallah Tante . Saya pamit dulu om.. tante ". Kirana pun berpamitan sambil mengulas senyum.


" Aku antar ... kau tidak bawa mobil 'kan ? ", Syailendra tiba-tiba menyela cepat.


" Loh .... jadi nggak bawa mobil ? ", kali ini Nilam yang kelihatan sedikit terkejut.


" Iya Tante, tadi dipinjam teman... ada keperluan mendesak. Nggak papa kok .... Rana pulang sendiri aja, pake taksi online ".


" Biar diantar Alend saja ", Nilam memaksa .


" Eh ... nggak papa, sungguh. Mas Alend terimakasih banyak... "


" Biar diantar saja, nggak merepotkan kok. Anak gadis ... nggak baik pulang malam-malam sendiri. Apa nanti kata mama Orlin mu sama Tante. Diantar Alend ... titik!, nggak boleh ditolak ".


Pada akhirnya Kirana tidak bisa menolak. Kini ia duduk di samping Syailendra, membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada Nilam dan Raihan yang mengantarkan hingga ke halaman.


" So .... ? ", tanya Syailendra selepas keduanya dari jalan perumahan dan mulai melaju di jalan besar.


" What ? ".


" Mission accomplished ... ".


" I hope ... so... ", suara Kirana terdengar sedikit ragu.


" Masih ngarep ada misi lain lagi nih ceritanya ? ".

__ADS_1


" Nggak lah !. Tapi rasanya sedikit nyeseg di sini ".


Syailendra melirik sesaat gadis yang kini tengah memukul-mukul dadanya sendiri perlahan.


" Kenapa ? ", tanya Syailendra lagi.


" Kasihan Tante Nilam .... padahal... pasti awalnya sudah sangat bersemangat dengan rencana perjodohan mu dengan mba Cinta ya. Pasti Tante Nilam nyeseg begitu tahu .... kalau utusan keluarga Arsenio tetap datang walaupun rencananya gagal ".


" Loh .... emang nggak boleh gitu bertamu kalau jodoh-jodohannya gagal. Keluarga kita 'kan berteman baik... silaturahmi hal baik kali adik manis. Masa' bikin nyeseg ".


" Iih... mas Alend, nggak peka... nggak paham. Sebel ah ... ", Kirana terlihat kesal.


" Ya ... aku emang nggak paham, tapi bukan berarti aku nggak peka loh Rana ".


" Iya deeeeh.... ". Tapi kemudian Kirana menyadari sesuatu, dan ia buru-buru menatap Syailendra lekat-lekat.


" Rumah mu .... kos-kosan ku, itu beda arah 'kan ? ".


" Iya ".


" Laaah.... bolak-balik dong. Aku turun sini saja.. tuh banyak taksi ".


" Hush!! ngawur ", sembur Raihan. " Ini urusan keselamatan dan hubungan bilateral loh ".


" Apaan sih... aku jadi beneran nggak enak nih ", Kirana terlihat mulai gemas.


" Sudah duduk saja.... rewel amat ".


Pada akhirnya Kirana duduk kembali dengan tenang. Sesaat perhatiannya teralih pada telepon selulernya. Tapi beberapa saat kemudian ia seperti terlonjak kaget karena teringat sesuatu.


" Kalau om dan tante curiga gimana ? ", pekik Kirana sedikit tertahan.


" Curiga apaan sih ? ".


" Ya... curiga ... kok mau-maunya mas Alend kayak setrikaan.... bolak-balik ".


" Kau ini... mommy nggak tahu alamat kos mu. Tenang saja .... aman ".


" Oh.... syukurlah ", Kirana menarik nafas lega.


" Kenapa sih parno' banget ? ".


" Nggak mau ada kesalahpahaman kayak mba Cinta dan mas Alend aja. Aku takutnya ..... ah, nggak ah ".


" Loh....? ... aku ndengerin ini... jangan bikin penasaran. Bisa nggak kuantar sampai rumah ".


" Dasar!!!! ... emang tadi siapa yang maksa nganterin pulang ?. Ya udah .... turunin sini aja ", geram Kirana.


" Hiiih ... enak aja turunin. Ya diculik lah .... dibawa kabur dulu ". Tapi Syailendra mengucapkannya sambil tertawa.


" Hei .... ". Kirana tiba-tiba saja menyentuhkan tiga ujung jarinya di perut Syailendra, tepat di bagian luka memanjang itu. " Jangan macam-macam ya !!! .... aku bisa membuatnya lebih sakit lagi ".


" Ho .. ho.. berani ? ", Syailendra terlihat semakin menggoda.


" Kalau tidak salah ... ini hari keempat, dimana benang-benang fibrin sudah mulai terjalin dengan erat. Terlihat sudah mengering dari luar ... tapi hanya beberapa milimeter dibawahnya.... apalagi kalau ditekan seperti ini ... ".


" Auch .. ", Syailendra terpekik kecil ketika Kirana sedikit menyentil.


" Lebay !!!... beneran nih aku tekan ".


" Be'canda.... jangan dong ". Syailendra setengah memohon tapi masih tetap dengan nada usilnya. " Ampun adik maniiiiis ".


" Dasar usil ".


Syailendra justru semakin terkekeh melihat Kirana yang bersungut-sungut kesal.


" Oh ya .... bagaimana kabar terbaru pasangan itu ?. Cinta dan Namu ? ", Syailendra berusaha mengalihkan topik pembicaraan saat mobil mereka memasuki jalan tol.


" Tinggal menunggu restu Tante Hana saja ".


" Om Juna sudah tahu ... kok Tante Hana malah belum tahu ya ".


" Panjang ceritanya .... tapi yang jelas, pasti kedua kakak ku itu .... akan segera bahagia ".


" Syukurlah kalau demikian. Bodohnya mereka tidak dipiara lama-lama..... kalau kelamaan siiiih... bisa-bisa aku yang nikahi Cinta ".


" Mas Alend ..... suka sama mba Cinta ? ". Tiba-tiba Kirana bertanya dengan sedikit lirih.


" Perasaan cinta itu bisa tumbuh karena selalu bersama. Kalau saat ini sih .... aku hanya menganggap Cinta itu seorang teman, tidak ada perasaan lain ".


" Lalu? maksudnya cinta bisa tumbuh karena selalu bersama ? ".


" Itu seandainya Rana.... seandainya. Seandainya saja aku tidak mengetahui yang sebenarnya dari Cinta dan Namu, lalu aku pun menyetujui perjodohan itu ... mungkin lama kelamaan aku juga mulai tertarik dengan mba Cinta mu itu ".


" Oh .... begitu ya ".


" Tapi.... suatu hubungan, jika perasaan cinta itu hanya ada pada satu pihak. Itu... sangat menyakitkan Rana. Ikatan dari perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa dipisahkan, jika sudah menjadi suatu cinta sejati. Lebih baik ya seperti ini ..... walaupun mommy ku .... sebenarnya sangat kecewa. Tapi .... setidaknya, aku tidak menjadi monster penghancur cinta ".


Kirana tertegun, ia seperti sebuah spon yang tengah menyerap semua informasi tentang bagaimana pria ini memahami sebuah cinta.


Ini adalah teori cinta seorang Syailendra. Lalu bagaimana dengan cinta menurut seorang gadis serupa rembulan ?, Kirana.


...............


Author Corner .....


Kisah Kirana dan Syailendra, sepertinya cukup menarik untuk dilanjutkan.


Tunggu ya .... mereka akan punya judul tersendiri. Sekalian kita nanti jalan-jalan di tepi hutan dan padang bunga bluebell.


Terimakasih atas cinta dan dukungannya untuk 'othor yang angin-anginan ini.

__ADS_1


Big Hug... Big Love ...


__ADS_2