
Saat itu pukul tujuh lewat sedikit, ketika ia baru saja menyelesaikan membuat sandwich tuna terakhirnya, tentu saja banyak potongan sandwich yang sudah tersaji. Ketika kemudian empat orang pemuda-pemudi usia menjelang dua puluhan nampak baru datang dengan wajah segar ceria. Hanin menyambut mereka dengan hangat, terlebih dahulu mengajak mereka sarapan pagi. Yang langsung bersambut oleh wajah ceria para anak-anak muda dalem fase pertumbuhan itu.
Tawa mereka terdengar ceria sesekali meningkahi aktivitas mengisi energi dasar untuk hari ini. Tak lama kemudian setumpuk sandwich itu nyaris tak bersisa. Tinggal Bu Karti dan seorang gadis muda yang membersihkan sisa-sisanya di meja. Sementara itu Hanin terlihat sedang memberikan petunjuk pada tiga orang anak muda lainnya.
" Rio, coba bacakan kembali list menu yang harus kita buat hari ini ", titahnya.
" Ya kak.. tim A: sambel terasi level sedang dan pedas, tempe - tahu goreng dan bakwan jagung. Tim B : Kerapu goreng bakar dan tumis kangkung. Lalu klepon oleh kak Hanin sendiri dan es teller oleh Bu Rama. Nasi kak ? ".
" Sudah selesai dimasak Bu Karti. Oh ya ada satu tambahan menu lagi .... bakmi Jawa. Nanti tolong tim manapun yang sudah selesai segera support di bakmi ya. Request pak dubes ... mendadak tadi pagi ".
" Bahan-bahannya kak ? ", seorang gadis mungil berlesung pipit yang manis bertanya dengan kritis.
" Itulah masalahnya ",
" Butuh bantuan ku ? ", suara berat yang khas itu tiba-tiba memenuhi seluruh atmosfer ruangan. Membuat hampir semua yang ada di sana menoleh cepat, untuk melihat siapa yang datang.
Tapi tidak dengan Hanin yang sudah tahu pasti siapa yang datang, karena tatapan mereka yang saling berhadapan. Bahkan ia langsung tahu kalau pria menjulang itu sekarang pasti sudah mandi dan selesai bercukur. Area dagunya terlihat licin dengan rona abu-abu yang maskulin.
" Ada yang bisa ku bantu ? ", tanya Haidar lagi sambil terus melangkah mendekat dan menjajarinya
Hanin menggeser berdirinya sedikit canggung. Tentu saja karena kasak-kusuk muda-mudi dihadapannya, yang tanpa permisi telah membuat spekulasi tanpa permisi. Senyum-senyum simpul keempat anak muda itu membuat Hanin merasa risih. Ia jadi merasa tidak enak dengan Haidar.
" Ini ... mas Haidar, adiknya Bu Rama. Baru seminggu ini di Jerman ".
" Oooh.... ", lihatlah bahkan mereka berempat begitu kompaknya.
" Salam kenal kak Haidar .... aku Rio ".
" Aku Stefani... ".
" Darma ... ".
" Dan aku Lily ".
Haidar tertawa-tawa kecil menyambut uluran tangan mereka berempat satu-persatu. Euforia persaudaraan saat bertemu orang-orang satu bangsa di negara lain, terasa begitu kental. Haidar bisa langsung memahami hal tersebut sepertinya.
Hingga semua berlanjut dengan lebih seru, walaupun agak sedikit merepotkan pada awalnya, bagi Hanin tentu saja. Ia harus mengajari perlahan bagaimana caranya menyisir gula merah, sementara dia sendiri membuat tiga jenis adonan. Klepon original dengan tepung beras ketan, klepon dengan ubi ungu serta klepon dengan ubi madu yang berwarna kuning.
Tahap selanjutnya ia harus mengajari Haidar bagaimana memulung adonan dan terlebih dahulu mengisinya dengan sejumput gula merah yang telah disisir. Lalu membulatkannya kembali dengan cepat, untuk kemudian diluncurkan ke dalam panci berisi air mendidih.
" Whoaaah..... kenapa buatan mu bisa imut dan manis begitu ". Demi melihat buatannya terlihat lebih besar dengan bentuk tidak beraturan. Haidar terkekeh-kekeh karena malu. " Yang kacau itu nanti untuk ku saja ".
" Ayo coba lagi ", Hanin menyemangati.
" Kak Haidar mau coba bikin sambel ? ", tiba-tiba Rio menyela.
" Nggak deh... takut jadi racun malah ". Tentu saja penolakan Haidar dengan alasan disampaikan itu langsung meledakkan tawa semua orang yang ada.
" Hore..... ", akhirnya Haidar bersorak riang manakala klepon berwarna ungu yang dibuatnya kini telah mencapai bentuk sempurna, mengapung di lautan air mendidih, sama seperti buatan sang master cantik di sebelahnya .
" Nah ... bisa' kan ", Hanin pun menjadi ikut tertular efek kekanakan dari pria besar yang bertepuk tangan dengan heboh setiap kali menyelesaikan satu bulatan si kue imut itu.
" Mas Haidar.... ada temannya yang dulu bareng, di luar ", tiba-tiba Bu Karti datang tergopoh-gopoh.
" Oh ... langsung suruh masuk ke sini aja bu. Lumayan ... ada satu tenaga tambahan ".
" Iya mas ".
Belum lagi Bu Karti beranjak untuk memenuhi permintaan Haidar. Sosok yang baru saja dibicarakan ini ternyata sudah memasuki arena dapur.
" Halo semua ..... waaah ketinggalan seru-seruan nih ", sapa pria dengan mata kucingnya yang sedikit sipit memanjang itu. Senyuman diwajah orientalnya menjadi sebuah tawa saat melihat Haidar yang mulai ternoda adonan.
" Eh Bang Key ..... jangan ngekek lo' . Buruan cuci tangan ... bantuin ", seru Haidar dengan kocak. Tapi tentu saja kata panggilan itu membuat hampir semua orang di situ saling berpandangan dengan heran, miris, terkaget-kaget juga tentunya. ******' ?.... ngumpat Lo?.
" Bang Keanu .... ha..ha..ha.. kenalkan ... arsitek muda, designer handal dari negeri tercinta kita Indonesia ... Bang Ke.. yanuuuu... ".
Oooh ... dan semua wajah itupun tersenyum serta mengangguk-angguk karena sudah paham. Begitu juga dengan Hanin yang tersenyum kecil saja sambil tetap menerima pekerjaannya.
" Waaah .... senengnya lihat kalian para anak muda sedang berkarya. Serasa di tanah air nih ", suara Sabrina yang baru datang langsung mengambil alih suasana.
Hari ini, pak Rama atau pak Arya sang Duta besar termuda dalam tiga dekade terakhir akan mengadakan open house. Lebih tepatnya jamuan makan siang sederhana sekaligus pembubaran panitia peringatan hari kemerdekaan beberapa hari yang lalu. Sekaligus juga acara syukuran dan selematan untuk goal-nya rencana pembangunan gedung baru KBRI di Jerman. Hanya mengundang mungkin sekitar tiga sampai empat puluh orang saja, dan cukup dilaksanakan di rumah pribadi pak Dubes itu.
Acara sederhana namun bermakna besar, karena pastinya mampu menjadi penebus rindu pada tanah air tercinta. Semua hampir dilakukan sendiri tanpa event organizer. Bahkan untuk acara masak-memasakpun memanfaatkan ketrampilan para siswa ausbildung. Tujuannya tentu agar bisa saling mengobati rindu.
" Haid ... jangan ganggu Hanin dong ", sela Sabrina.
" Yeee.... underestimate ... tuh liat tumpukan klepon buatan ku ", Haidar bekelit. Ia menjulurkan kepalanya menunjuk tumpukan klepon tri warna yang menggunung setelah digulirkan pada parutan kelapa yang terlihat masih mengepul karena baru saja diangkat dari panci kukus oleh Hanin.
" Sekarang bahkan aku sudah punya murid ... nih ", kata Haidar lagi. Tentu saja yang dimaksud adalah Keanu yang kini berdiri sejajar dengannya sambil memulung adonan.
" Hormat guru ... ", Keanu membalas dengan berkelakar.
" Sesuka kalian 'lah .... asal jangan bikin huru-hara di dapur ku ya ".
" Siaaaap Bu Dubes ..... ", jawab Haidar dengan lantang dan membuat semua yang ada di sana tertawa.
" Kece' badai ... sweet macam kleponnya. Beniiiing kaya' kristal... Pantesan aja betah di dapur ". Keanu berbisik sambil cengar-cengir.
__ADS_1
" Sekali-kali modus ... boleh dong ", balas Haidar sambil berbisik juga.
...........
Secara khusus Haidar diperkenalkan oleh kakak iparnya pada seluruh tamu yang hadir. Sebagian besar mereka adalah staf KBRi, ada juga yang merupakan mahasiswa. Tentu saja langsung menimbulkan kasak-kusuk panjang, terutama di kelompok para wanita muda.
Barang bagus nih..... mangsa besar ...
Haidar bukannya tidak mengetahui, tapi dia tidak sempat untuk perduli dengan hal itu. Karena sudut matanya sibuk untuk memindai setiap gerakan sosok mempesona yang bergerak dan berhaluan disekitar meja makan. Ia bahkan sempat nyaris memekik saat melihat si penuh pesona itu hampir saja terpental ketika seorang pemuda tinggi besar menabrak punggungnya dengan tidak sengaja. Padahal dia membawa senampan besar ikan bakar.
" Aku saja ". Dengan cepat Haidar mengambil alih piring saja berbentuk oval dengan setumpuk Mie Jawa beraroma gurih menggoda.
" Eh ... ", Hanin hanya sempat melongo saja. Tapi ia kemudian mengikuti Haidar dengan membawa dua mangkuk sedang berisi acar timun bawang dan cabai rawit.
" Sudah beres semua kok mas ", kata Hanin yang melihat Haidar akan berbalik ke arah dapur. " Tuh .... lihat .... ".
Di meja panjang modifikasi dadakan itu kini sudah tersaji dengan apik deretan hidangan yang cukup menggoda. Tumis kangkung hijau segar dengan aroma gurih saos tiram. Ikan kerapu yang di goreng gurih, ada juga yang dibakar dengan kecap manis mengkilap lezat. Yang membuat banyak orang rerpekik gembira, tentu saja sang primadona .... sambal terasi. Dan yang langsung mendapatkan perhatian serta pujian oleh si tuan rumah, tentu saja si bakmi Jawa.
" Lupa kak.... sang maestro ", Rio datang dengan toples berisi si kriuk kerupuk, diikuti Stefany.
" Indonesia banget ya ... ", Haidar tersenyum sambil berbisik pada Hanin yang juga nampak tersenyum puas.
" Setelah setahun di sini .... mas akan seperti mereka ", Hanin balas berbisik. Yang dimaksud adalah orang-orang yang kini dengan sangat antusias berbasis rapi mengantri untuk mengambil aneka hidangan itu.
" Cukup nggak ?.... tuh lihat sudah berkurang separuh lebih ", kata Haidar sedikit khawatir.
" Masih ada separuh yang belum disajikan. Tuh ... adik-adik sudah mulai bersiap isi ulang ". Kalo ini Hanin menggerakkan kepalanya menunjuk empat orang yang mulai bergeser cepat menuju dapur.
" Oh ... syukurlah ", Haidar terlibat lega. " Setelah acara ini selesai.... ada waktu sedikit untuk ku ? ".
Hanin tidak segera menjawab, ia menoleh sesaat pada Haidar. Lalu menarik nafas sambil tetap mengamati kerumunan di halaman samping rumah besar itu.
" Ada yang penting 'kah ? ".
" Ada yang sangat rindu padamu cantik ".
Hanin tertawa kecil, tapi semburat merah di pipinya tidak tertutupi.
" Lalu ... mas ? apa hubungannya dengan yang rindu itu ? ".
" Aku pembawa pesan dari yang rindu. Tahu 'kan ? ". Tentu saja yang dimaksud Haidar adalah Bu Firman dan mba Narila Araya, sepertinya Hanin Hanania-nya juga memahami hal itu.
" Nanti malam aku akan menelpon ibu ", kata Hanin kemudian.
" Bukan mereka berdua saja yang rindu .... ada juga yang lain ... yang rindu loh ".
" Mamah ku ... dan kumpulan anggrek bulannya tentu ".
" Pffft ... ", Hanin menahan senyum. " Ngaco' ah ... ".
" Beneran... kau harus lihat sendiri nanti. Berapa tahun kau tidak berkunjung ke taman mama coba ? ".
" Ehm .... lama sih. Eh ... Bu Orlin masih suka koleksi-koleksi gitu ? ... anggrek ".
" Beeeh ... kau harus lihat belantara Orchid hasil karyanya ". Dengan gaya kocak Haidar berkata. " Sampai-sampai aku sering bingung .... ini mamaku apa tukang bunga ".
" Keren lagi ... ", Hanin terlihat berbinar-binar.
" Kau harus berkunjung nanti .... janji ya, sepulang ke Indonesia ... ".
" Ya ... ", Hanin tersenyum.
" Janji !", Haidar mulai memprovokasi dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
Hanin tersenyum sambil menyambut jari kelingking Haidar. Menautkan jari kelingking mungilnya yang putih bersih dengan jari kelingking Haidar yang ukurannya bahkan lebih besar dari jari telunjuknya sendiri. Membuat Hanin jadi tertawa melihat hal itu.
" Kenapa ? ", Haidar terlihat kebingungan.
" Bongsor banget ... ", masih dengan sisa tawanya.
" Ah ... kamu aja yang terlalu imut-imut ". Haidar pun tersenyum, dengan sengaja ia sedikit menahan pertautan dua kelingking itu. " Itu jari apa mini neon mba ? ... putih banget ".
Tentu saja selorohan Haidar membuat Hanin kembali tertawa-tawa. Tapi perlahan ia melepaskan pertautan itu. Dan entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasakan sedikit canggung.
" Sediakan waktu untuk ku sedikit saja ya... nanti malam. Jangan lupa ya Nania .... ".
Haidar tersenyum, menyentuh lembut bahu gadis mungil itu. Lalu menurunkan jemarinya perlahan, menyusuri lengan seputih mutiara dan berakhir pada jemari lembut itu. Dengan sengaja sedikit me-remasnya sebelum ia pergi berjalan menjauh. Dengan senyuman tipis penuh makna yang disembunyikannya, Haidar berlalu meninggalkan Nania nya yang terpaku.
One step closer....... desis Haidar pada dirinya sendiri. Berjalan menghampiri kedua kakak sepupunya yang cantik dan membaur dengan orang-orang di sebelah sana. Tapi sebenarnya ia menahan desakan rasa penasaran yang mendera. Ia sekuat tenaga berusaha untuk tidak menengok, berpaling menatap bagaimana reaksi Nania-nya. Padahal setengah mati ia ingin melihat gadis itu tersipu, saat ia dengan sengaja memancing dengan sentuhan menggoda tadi.
Tapi ... bagaimana jika Nania-nya yang cantik itu tak merasakan apapun ?. Ah ... breng-sek , umpatnya kembali pada dirinya sendiri. Sepertinya ia telah terkena Boomerang yang dilemparnya sendiri.
" Bro .. ", tiba-tiba sebuah rangkulan dipundak mengalihkannya. Keanu mendekat, merangkulnya dan membawanya sedikit menjauh.
" Nona yang bening di pojok sana itu ..... untuk ku ya ? ".
Tentu saja yang dimaksud Keanu adalah Nania-nya. Membuat ia hanya melotot saja, tapi hatinya menggeram.
__ADS_1
" Nah lo' .... transparan banget sih lu' ". Keanu terkikik, sementara wajah Haidar semakin mengeras. " Be'canda gwa' .... jadi bener nih dugaan ku .... itu nona yang sedang kau kejar .... lah itu disini, kau bilang kemarin sudah pupus jalanmu ".
" Wait and see.... nggak usah banyak komentar ", kata Haidar dengan galak.
" He... he... he... berarti bener dong hasil analisa dan pengamatan ku. Wuuuiiih .... tau' aja barang bagus ", Keanu semakin bersemangat menggoda Haidar.
" Diem dulu .... dan biarkan aku mikir buat buka jalan selanjutnya ".
" Ajak dia jalan besok ... bilang saja butuh pemandu ".
" Kereta ku jam tujuh dua puluh besok ", sesal Haidar tapi dia mengucapkannya dengan nada geram.
" Cari yang jam siang .... ada nggak ? ".
" Bentar .. kulihat dulu ". Haidar sibuk dengan telepon selularnya. Sejurus kemudian ia tersenyum dan bersungut-sungut bersamaan. " Ada jam tiga sore .... busyet dah' ... satu juta lagi " .
" Demi cinta bossbray'... jabanin !!! .... tak boleh gentar. Yang model begituan gua juga mau ... he..he..he.. ".
" Aah .... toxic lo' ".
Tapi Keanu justru semakin tertawa tak tertahankan.
" Dia menatap kemari tuh .. ". Keanu menyikut Haidar.
Benar saja, saat dengan seketika Haidar menoleh pada sudut terindah di sana. Sepasang mata bulat itu tengah menatapnya. Tersenyum sekilas padanya, membuat waktu seperti berhenti berdetak.
..........
Rindu aku melihat, binar matamu itu
Gugup 'ku tak tersenyum, 'Ku tak percaya
Tak pernah 'ku melihat
Sepasang kelembutan
Selembut mata itu
Kini aku melihat kilau matamu itu
Lega aku tersenyum
Dan kupercaya
Dan masih 'ku melihat
Sepasang kehangatan, Sehangat mata itu
Indah, bersinar, berkilauan
Semakin kuat untukku
Mata yang paling indah hanya matamu
Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah
Sinar yang paling indah dari matamu
Sampai kapan pun itulah yang terindah
Rindu aku melihat
Gugup 'ku tak tersenyum
Kini aku melihat
Lega kutersenyum
Dan masih 'ku melihat
Dalamnya kerinduan
Sedalam mata itu
Selalu bersinar berkilauan
Semakin kuat untukku
Mata yang paling indah hanya matamu
Sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah
Sinar yang paling indah dari matamu
Sampai kapan pun
Itulah yang terindah
__ADS_1
(Titi D J - Sinar Matamu)