
Ruang dan waktu itu menuai jeda hampir enam jam, bahkan disaat musim beralih menjadi lebih dingin menusuk raga seperti ini, dimana sang matahari seolah sedikit berpaling dari benua biru itu, waktu terjeda lebih lama dari biasanya. Rotasi dan revolusi bumi pada matahari, yang telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Pencipta itu, kemudian menciptakan jeda waktu yang sedikit lebih lama dari biasanya. Memisahkan lebih jauh khatulistiwa dengan daerah yang mendekati ujung kutub bumi. Tapi hati manusia, terkadang tak memperdulikan jarak apapun itu dan beda waktu selama apapun itu, semua terpangkas oleh rasa merindu.
" Apa sih ? ". Orlin terlihat terkantuk-kantuk, dengan rambut kusut dan wajah sedikit cemberut. Jam dua dini hari, masih lebih cepat satu jam dari alarm yang di-stel nya untuk bangun dan menunaikan ibadah di sepertiga malam terakhir. Yang membangunkannya justru ketukan di pintu kamar, dan ia mendapati sang putra tengah tersenyum dengan pakaian yang rapi. " Kamu mau kemana ?, kok rapi banget. Jam berapa sih ini ?".
Haidar tidak segera menjawab, tapi ia hanya memeluk ibunya dengan lembut. Walaupun Orlin sedikit kebingungan, tapi ia memilih untuk membalas pelukan salah satu pria kesayangannya ini.
" Mau minta doa restu sama mama, mau ngunduh calon istri. Doa'in ya, mah ".
" Oh, jadi ? malam ini ya ? ". Tanya Orlin bertubi masih dengan separuh nyawa terlelap, pada putra tampannya yang tersenyum menatap penuh permohonan.
Akhirnya, setelah seluruh nyawa Orlin terkumpul lagi. Ia baru teringat tentang rencana manis yang disampaikan oleh putranya ini beberapa hari yang lalu. " Semoga kau mendapatakan yang terbaik ya, Nak. Kalau sudah sesuai dengan doa dan harapannmu, maka kau tidak boleh membuatnya menangis ".
Haidar tersenyum tanpa melepaskan sedikitpun pelukan dari sang mama. Seperti sedang menyesap ribuan kuntum doa restu, lalu mengubahnya menjadi energi tak terhingga. Saat ia merasa cukup untuk semua booster itu, perlahan ia melepaskan pelukannya. Beralih mencium penuh takzim punggung tangan wanita terhormat yang paling diagungkannya di dunia ini. Dan Orlin membalasnya dengan membelai puncak kepala yang berambut hitam nan lembut itu.
" Perlu mamah temani ? ".
" Ha..ha..ha.. untuk yang saat ini, belum sih. Aku masih bisa sendiri. Nanti kalau sudah melamar ke orang tuanya, baru yang maju papah-mamah deh ".
Orlin pun ikut tertawa kecil, sementara Haidar segera berlalu dari hadapan sang mama. Sebuah senyuman manis sempat dilemparkan pria muda yag dulu hanyalah bocah kecil lucu yang selalu merasa kalah dengan ayahnya. Tumbuh menjadi anak cerdas bertubuh bongsor, dengan tingkat kebandelan diatas rata-rata. Tapi sesungguhnya ia adalah malaikat tanpa sayap, dengan kelembutan hati yang tidak perlu diragukan lagi.
Orlin masih menatap punggung lebar yang perlahan menjauh itu, lalu menghilang saat sudah masuk ke sebuah ruangan. Ia pun lalu masuk kembali ke dalam kamarnya, dan mendapati sosok sama tegapnya yang kini nampak pulas terlelap di atas peraduan.
" Ada apa ? ". Ternyata sosok tegap itu tidak sepenuhnya terlelap. Mandala langsung menyongsong istrinya dengan pertanyaan ketika Orlin mulai meringkuk memeluk lengannya.
" Ada yang minta restu ", jawab Orlin singkat sambil mengendus aroma nikmat menenangkan favoritnya.
" Mau nembak anaknya almarhum pak Firman ? ". Suara pria yang sudah beranjak menua itu masih terdengar berat dan seksi, Mandala sedikit mengerang ketika Orlin membuainya lembut.
" He'eh ... semoga sukses ya ".
" Heeeem... ada gitu yang bisa menolak anak kita ? ". Seuntai senyuman tipis terkembang dari bibirnya yang mulai berkerut menggariskan jejak waktu yang tidak sebentar.
" Jangan jumawa 'ah ... ", Orlin bergerak memeluk dengan erat. " Bapaknya aja dulu pernah ada yang nolak. Bisa jadi, begitu juga dengan anaknya ".
" Kalau bapaknya sih jelas, pernah berstatus pria breng-sek.... dan yang nolak juga akhirnya melamar duluan'kan ?", tentu saja ini adalah sebuah deskripsi yang membuat Orlin menjadi tersipu dan kemudian mencubit manja pada lengan yang kini dipeluknya.
```` "Perlu ku jelaskan siapa orangnya?\, mana tahu sudah lupa ". Jelah itu adalah cara Mandala menggoda istrinya.
" Iya... iya... aku nggak akan lupa kok, nggak akan ingkar juga kalau aku yang kemudian mengejarmu dan memintamu untuk segera melamarku. Tapi kasusnya Haidar ini sedikit beda 'loh ".
Mandala akhirnya benar-benar terjaga seutuhnya, membuka matanya lebar-lebar dan menatap wajah cantik dengan kerutan mempesona yang membuatnya semakin jatuh cinta. " Apa yang tidak aku tahu ? ".
" Nania.... dia terluka karena cintanya dikhianati. Terlalu menyakitkan pastinya, dan untuk Haidar... hal ini menjadi suatu penghalang besar ".
" Kenapa tidak ada yang cerita padaku,sih ? ".
Orlin tertawa kecil untuk kemudian mengecup cuping hidung menjulang itu dengan mesra, membuat sang pemilik semakin melenguh karena tiba-tiba saja dihinggapi perasaan nyaman yang melenakan.
" Coz' you look so arrogant, and feel so cold and indifferent.... untouchable ".
" Benarkah ? ". Tiba-tiba saja Mandala terlihat seperti orang yang baru saja tersingkir dari medan laga. " Aku ... ternyata begitu ya aku di mata anak-anak ?". Dan suara berat yang biasanya terdengar penuh wibawa itu, malam ini terdengar sedikit sendu.
" Heiii... kok jadi sedih begini ?. Tapi ya memang begitu adanya. Jangan khawatir... mereka tetap sangat menyayangimu kok. Tapi rasa hormat mereka, sepertinya lebih dominan deh' ".
" Koq begitu sih. Pasti karena kau curang memonopoli semua rasa sayang mereka ".
'' Ih !, mana ada ?!. Eh, mau kemana mas ? ". Seru Orlin saat Mandala tiba-tiba saja beranjak dan melesat dengan cepat menuju pintu kamar, hendak keluar.
" Ambil bagian di moment krusial anak, biar disayang lagi ". Sedikit menoleh dengan ekspresi layaknya anak kecil yang sedang berusaha merebut perhatian orang tuanya, Mandala mengerling pada istrinya.
" Hah ?!, ha..ha..ha.. aku ikut ". Tentu saja berbalas tawa dan lompatan penuh semangat dari Orlin yang langsung hinggap pada lengan suaminya.
Lalu dua pasangan cinta yang sudah tidak muda lagi itupun berjalan saling mendukung, dalam naungan nuansa kasih yang hangat menentramkan. Tidak ada waktu senja bagi mereka, terlihat dari pesan cinta yang selalu bersemi hangat.
__ADS_1
...............................
Aroma bunga yang lembut itu masih mencengkeram erat di permukaan kulit sebening mutiara, membuat udara disekitarnya seperti menyerukan keharuman taman bunga. Gadis cantik itu masih mengenakan kimono handuknya, saat ia duduk nyaman di depan sebuah meja rias. Memandangi wajahnya sendiri, sangat cantik, tapi air mukanya terlihat gusar.
' Di hari ke tiga puluh, aku akan datang untuk cintamu '.
Suara Haidar masih bergema dan entah kenapa kini berubah menjadi salak kekecewaan dihatinya.
" Bohong ! ". Hanin Hanania membantah bayangannya sendiri, seperti berdebat dengan rasa sakit di hatinya.
' Kau akan jatuh cinta padaku, kau akan menerima hatiku utuh di hari ke tiga puluh '.
" Nyatanya kau tak akan datang ", sepasang mata bulat yang bening itu menjadi suram. " Dan sayangnya kau benar, aku ..... mulai gelisah merindukanmu ".
Lalu pandangan matanya jatuh pada gaun yang terhampar di atas ranjang, warna hijau lumut itu begitu lembut. Mutiara berwarna merah muda yang dirangkai serupa kelopak bunga, berkuntum dengan anggun, dan menambah kesan eksklusif gaun berpotongan sederhana itu.
" Lalu untuk apa semua ini ? ".
Nania yang tersiksa oleh rasa rindu, walaupun sebelumnya ia sibuk mengingkari dan menghindar. Namun sepertinya sekarang ia tersesat dan terperangkap dalam labirin yang diciptakannya sendiri. Ia menjadi marah, tapi tidak tahu kenapa harus marah. Terlebih saat dua hari yang lalu ia tahu dengan pasti, jika sang pangeran yang sudah memporak-porandakan benteng keangkuhannya itu tak bisa memenuhi janji untuk bisa berada di hadapannya memberikan tiga puluh kuntum mawar.
Nania baru saja berdiri dan berjalan dengan pelan menghampiri gaun yang khusus dibawakan oleh Cinta dan Namu, yang tentu saja adalah bagian dari skenario Haidar, si pria pemorak-poranda itu. Saat suara nada dering tanda panggilan masuk menggetarkan gawainya.
" Ya mba Cinta ".
" Kau sudah siap 'kan ?. Tiga puluh menit lagi jemputan untukmu datang, sayang ". Suara Cinta terdengar sangat riang di seberang sana.
" Iya mba, terimakasih banyak ya. Aku segera bersiap ".
" Oke Nania... kita tunggu ya ". Dan Cinta mengakhiri panggilan itu dengan suara cerianya.
" Ayo Nania... ini adalah acaranya mba Cinta dan kak Namu. Mereka bintangnya, mereka pusat rotasi acara malam ini. Tersenyumlah........ jangan kau hiraukan lagi tiga puluh kuntum ... sialan itu !!!!!! ". Nania mencambuk perasaannya sendiri, berusaha menyadarkan hatinya yang mulai menggigil dingin.
...........................................
" Hei cantik, jangan pulang dulu ya. Bisa bantuin mba dulu ? ". Tiba-tiba lengannya ditahan oleh sebuah cekalan halus, yang pasti tidak bisa ditolaknya.
" Bantuin Celine dan Celia, nggak apa-apa 'kan ya, Hanin ".
" Mba Cinta ini... ". Dan ia pun tersenyum seraya mengangguk mengiyakan.
" Padahal udah dibilangin, nggak usah bawa kado, hadiah atau apalah istilahnya... tetep aja ya ", Cinta nampak menggerutu karena ia nyaris tenggelam dalam tumpukan kado dan aneka buket bunga.
" Itu karena mereka semua sangat sayang sama mba ", balas Hanin sambil membantu memasukin semua bingkisan indah dalam sebuah troli besar.
" Iya sih, tapi yang lebih tepat pasti karena .... ", dan Cinta pun lalu berbisik pada Hanin. Membuat gadis secemerlang mutiara samudra itu terkekeh
Tidak sampai memakan waktu lima belas menit, dan acara memindahkan semua kado-kado cantik itu pun selesai. Tapi saat Hanin hendak melangkah keluar dan berpamitan, tiba-tiba saja Cinta menggapit lengannya, lalu dengan cepat membawa masuk kembali ke dalam ruangan.
" Kau mau kemana ?. Ini baru akan mulai untukmu sayang ".
" Hah ?!... apa ya mba ? ". Tentu saja berbalas ekspresi bingung seorang Nania yang hanya bisa menurut saja.
Tapi tidak ada jawaban untuk kebingungannya itu. Cinta yang melangkah di depannya dan tak tampak sedikitpun berniat untuk melepaskannya, kini tersenyum penuh misteri. Membuat Nania seperti seorang anak kecil yang kebingungan dan hanya pasrah menurut saja.
Hanya beberapa saat private room yang cukup luas dan nyaman di sebuah restaurant berbintang micehliin ini tiba-tiba saja berubah dalam sekejap. Jika tadi yang menjadi point centre adalah spot untuk pasangan pengantin baru, dengan extraordinary roundtable bertabur bunga yang cantik. Kini ada sebuah layar putih yang tidak terlalu lebar namun cukup menyita perhatian dengan keberadaannya.
" Duduk di sini cantik ".
Nania tersentak, mendapati kembali mba Cinta yang anggun membimbingnya dengan merangkul lembut. Mendudukan dirinya yang masih tengak-tengok kebingungan. Menyapukan pandangannya berkeliling, dan mendapati senyuman di wajah-wajah yang sangat dekat dengan kehidupannya akhir-akhir ini.
" Ada yang mau minta maaf padamu ". Kali ini yang berbicara adalah kak Namu, sang pengantin pria yang nampak begitu percaya diri saat membuat layar di hadapan mereka itu menyala terang. Bersamaan dengan menggelapnya ruangan bertabur bunga ini.
Lagu itu mengalun lembut, terdengar seperti suara yang turun dari gugusan mega di angkasa. Seiring dengan warna nila yang menjadi dasar dan berpendar di bentangan layar di hadapan Nania.
__ADS_1
Love at first sight,
Mungkin itu yang terjadi pada hatiku
Terpaku pada wajah lugu tanpa dusta, bersenyum merona surga
Saat ia bergerak, seolah gugusan kelopak putih yang indah ikut terayun dalam iramanya
Tulisan itu bergerak perlahan memenuhi layar, lalu disusul dengan slide yang menjajarkan foto-foto seorang gadis remaja manis. Jelas itu semua adalah hasil candid camera, tapi engel kamera obyektif itu nampak begitu sempurna.
Dia seperti anggrek bulan yang tegar dan menawan di tengah rimba tropis
Saat tertawa ceria, tidak ada duka dan ketakutan yang tertepis
Tapi dia juga adalah sang pencuri
Yang membawa jauh separuh rindu dan hati
Hanin Hanania, gadis itu bergerak resah dalam duduknya. Ia sama sekali tak berani menatap ke sekeliling, karena pasti berpasang-pasang mata itu kini tengah menatapnya dalam. Menghakiminya dengan telak. Dapat di dengar dari suara suitan riuh dan lenguhan panjang yang menyiratkan rasa iri karena moment romantis itu.
Kembali slide demi slide berjalan tertata dalam ritme yang sempurna. Menggambarkan seorang gadis, yang dia tahu itu adalah dirinya. Hanin mulai menyelami kepingan-kepingan cerita yang tertuang dalam foto-foto itu. Menepiskan berjuta berbagai pertanyaan, kapan semua gambar itu diambil. Berarti dia dimata-matai selama ini. Tapi foto-foto itu .... ah, Hanin mulai menyadari sesuatu.
Saat kutemukan kembali,
Wajahnya yang ayu berbalut lara
Kau tahu jelita ?
Hatiku tercabik melihat sepasang mata sayumu
Kemudia slide itu dipenuhi dengan warna merah indah dari kuntuman-kuntuman mawar, yang seolah berjatuhan dari angkasa. Lalu foto-foto seorang Hanin Hanania kembali hadir, berjatuhan bersama kuntum-kuntum mawar merah yang segar.
Lihatlah,
Cantiknya kuntuman putih anggrek bulan ku diantara merahnya mawar
Seperti darah dan tulang yang menyangga hidupku
Seperti dwi warna yang menaungi negeriku
Seperti itulah aku terjerat oleh pesonanya
Ku janjikan padanya, bahwa kita
Akan Saling Jatuh Cinta
Pada 30 hari penuh warna mawar yang mawar
Tapi aku terhadang oleh dimensi yang menjauhkan
Yang menghalangi seikat yang ke-30
Yang menghadang kuntuman yang 465
Yang membendung cinta ku yang sebenarnya
Hatiku ....
Berseru rindu
Kau membuatku seolah tersesat pada dimensi ruang waktu
yang tak kumengerti
__ADS_1
````