
Semua berputar seolah menjadikan dirinya sebagai poros, baik itu orbit berbentuk elips, lingkaran sempurna bahkan lilitan double helix. Hanin Hanania tersenyum seorang diri, ia merasaka satu hal yang ... indah. Mungkin tepatnya menakjubkan, atau memalukan ?. Dan senyum itu kini berubah menjadi rasa malu yang aneh dan membuatnya bergegas berlalu.
' Kau ini apa-apaan sih... dia itu kakaknya Kirana, Sudah kece dari lahir, sudah tajir dari sononya, sudah baik dariiiii... dulu. Kelahiran mu dan kelahiran adiknya punya cerita khusus, makanya dia juga sangat memperhatikanmu. Ah kau' ini Nania.... jangan terlalu tinggi menerbangkan angan. Bukankah sayap-sayapmu juga baru sembuh ?... apa kau ingin mematahkannya lagi ? '.
Maka hancurlah dengan seketika apa yang tadi seolah berpusat pada dirinya. Hanin mengangkat bahu, bukan kecewa... tapi karena ia tahu diri. Kemudian berlalu pergi membelah, pagi yang mulai menghangat. Tapi langkah membawanya kembali pada dapur cafe dan berjumpa kembali dengan Ameer yang menatapnya dengan tatapan menyelidik.
" Chef... aku tidak ingin ikut campur urusanmu. Tapi aku bahagia jika kau sudah bisa melupakan si breng-sek itu ".
" Hah ?! ".
" Aku melihatnya Chef .... pria tampan itu... orang Asia, yang membuatmu sepagi tadi sudah rela meninggalkan hari libur mu ".
" Oh ... dia hanya teman lama dari Indonesia. Keluarga kami saling mengenal ". Hanin tersenyum, memang begitu adanya, desisnya sendiri.
" Tapi dia sangat tampan, dan sepertinya juga lebih mapan dari si breng-sek itu ... dan kalian berpelukan tadi ".
" I-itu ... itu tidak seperti yang kau pikirkan Ameer. Itu hanya kecelakaan saja .... ".
" Chef... aku bahagia, semoga kau berjodoh dengannya ".
" Ah Ameer ... ". Tapi Hanin sama sekali tidak mempunyai kalimat yang tepat untuk pria itu. Seorang teman yang sangat baik, yang menjadi saksi betapa hancur dirinya, sekaligus juga yang menopangnya untuk bisa bertahan. Satu dari sekian banyak orang yang berbaris dalam pasukan pelindungnya.
" Mungkin ini awal yang baik, semoga cakra hidupmu tengah berputar untuk mengambil jalan menanjak. kau harus tetap semangat Chef ".
" Tentu saja aku tetap semangat, apa lagi ada teman sepertimu ".
" Aku hanya ikut yang kau ajarkan chef ... kau ini teralu merendah ".
" Ha.. ha.. ha... sudah.. sudah... kau buat kepalaku meledak nanti :, Hanin tertawa.
" Dia terlihat berbeda dari orang Asia kebanyakan, terlihat sangat tinggi ya. Kalau boleh tahu.... siapa dia ? ", pemuda asal Iraq itu sepertinya terlalu penasaran.
" Kau penasaran sekali ya ? ".
" Ha..ha...ha..ha... iya ... sangat penasaran. Bolehkah ? ".
" Dia memang sedikit istimewa, adik sepupu Mr. Ambassador.... dan kami sudah mengenal sejak keci dulu. Keluarganya banyak membantu keluargaku ". Hanin menatap Ameer dengan sedikit tajam , tentu karena pemuda itu senyum-senyum sendiri dengan kerlingan matanya terlihat sedikit aneh. " Ada apa dengan ekspresi mu itu ? ".
" Kau tahu chef ... ini pertama kalinya aku melihat senyumman mu yang seperti itu. Juga .... ada kobaran semangat di matamu loh. Itu terlihat jelas ".
Hanin sedikit terkejut, tapi mungkin apa yang dikatakan Ameer itu ada benarnya juga. Dalam satu kali dua puluh empat jam ini, perasaannya seperti berada di dalam track roller coaster, naik turun dengan sangat ekstrim. Ada rasa sedih bercampur rindu yang menderu, kemudian terselingi rasa sakit saat disudutkan pada sesuatu yang sedang berusaha keras untuk bisa dihapuskan dari ingatannya, tapi lalu menjadi berbunga-bunga karena kelembutan yang membuai itu. Dan semua hal itu rupanya telah membuat kobaran semangatnya kembali menyala. Pasti karena bertemu dengan orang yang mengenal keluarga tercintanya, ya ... pasti juga karena orang itu adalah juga teman masa kecil, dan juga ... pasti karena orang itu .... adalah Haidar ?.
Ya ... ya.. ya.. Haidar, dia adalah si kakak itu. Pemuda yang menurutnya patut dikasihani, karena terlihat tidak punya waktu unuk santai walupun sedikit saja. Bahkan ia akan makan siang dengan masih tetap memelototi buku tebal yang dibacanya tanpa jeda. Saat itu, sering ia berfikir ... apakah kakak itu bisa mengingat enaknya rasa makanan ?. Padahal waktu kecil dulu, kakak tampan itu adalah orang yang sangat usil dan jahil, seolah-olah tidak nampak ada keseriusan di dalam hidupnya. Namun semua berubah, kakak itu menjadi pemuda pendiam yang sepulang sekolah selalu datang ke kantor ayahnya untuk bekerja.
Hanin remaja, sungguh tidak memahami bagaimana konsep mendidik dari kedua orang tua Kak Haidar. Walaupun anaknya itu terlihat sangat cerdas, tapi mereka juga tidak akan rugi bukan ? jika harus membayar lebih banyak orang untuk dijadikan karyawan. Tapi mereka justru malah mempekerjakan anaknya sendiri. Ya.. ya.. ya... tidak hanya Haidar, tapi juga Namu, kakak tertuanya.
Waktu itu Hanin hanya merasa kasihan, dan juga bersyukur karena dia merasa lebih beruntung. Dia remaja masih bisa bermain saat sepulang sekolah. Masih bisa meluangkan banyak waktunya untuk berkutat dengan asyik membuat aneka masakan. Hanin teringat bagaimana senyuman kakak itu mengembang, terlihat sangat tulus, saat ia menikmati churos con chocolate pertama buatannya. Sebenarnya senyuman itu sangat manis dan indah, hanya saja tumpukan buku tebal dan juga kertas kerja menenggelamkannya.
Hanin kembali tersenyum kecil, tentu saja ia tidak bisa menahannya. Teringat bahwa sebenarnya, kakak itu adalah sang main volunteer untuk mencoba berbagai eksperimen masakannya. JIka kakak itu tersenyum, ia bersorak karena rasanya pasti pas. Tapi jika kakak itu mengunyah perlahan, cukup lama lalu membuat sedikit catatan .... glegh!, itu artinya ... ia harus mengulang memasak. Semua itu berlangsung hampir dua tahun, hingga akhirnya ia berhasil masuk di sebuah sekolah kejuruan dan belajar menjadi seorang juru masak.
__ADS_1
Tapi sesuatu terjadi pada kakak itu, ia lama sekali tidak melihat lagi dia berkunjung ke kantor ayahnya. Bahkan beberapa kali ia ikut serta bersama ibunya datang ke rumah besar keluaraga Mandala setiap kali keluarga itu mempunyai acara, ia tak pernah bertemu kakak tampan dengan senyum menawan itu lagi. Kabarnya ia sedang sibuk menyelasaikan pendidikannya sebagai seorang dokter. Rasanya sedikit lega, mengetahui kakak tampan itu kini sedang meraih impiannya sendiri. Lalu jarak dan waktu begitu panjang membuat mereka berdua tidak saling jumpa.
" Chef ? ... kau melamun ".
" Ah... ya.... eh ... tidak .. ", Hanin tergergap gugup. Dan dihadapannya kin Ameer tersenyum simpul dan tentu saja sedang bersiap mengolok-oloknya.
" Aku pulang dulu ya ", lebih baik segera berlalu dari tempat ini. Hanin pun bergegas berpamitan, tentu saja dengan diiringi oleh tatapan Ameer yang menyimpulkan senyum kecil di wajah timur tengahnya.
" Jangan lupa untuk menelpon tuan itu chef.... pasti dia sangat senang ". Suara seruan Ameer masih mampir dengan manis di telinganya. Haaah...... kok jadi sedikit salah tingkah ya ?, begitu Hanin merutuki dirinya sendiri.
..............................
Syailendra itu tersenyum-senyum sendiri sambil terus memperhatikan layar telepon selularnya. Ada rasa lega yang yang berjalan beriringan dengan rasa bahagia aaat melihat foto-foto itu, sepertinya ia teralihkan dari tumpukan berkas di atas mejanya. Seorang teman yang kini sedang menjemput bahagia, setelah belasan tahun berjuang dalam diam. akhirnya bisa menyuarakan kejujurannya sendiri, meminang hati yang begitu dicintai. Seorang kawan yang umurnya beberapa tahun lebih muda, tapi dewasa dan bisa menjadi teman untuk berbagi cerita. Saling mendukung, saling memahami, saling membutuhkan dan saling mendoakan.
" Aku ... pasti tidak sanggup jika harus merasakan yang seperti itu. Terbelenggu rasa bersalah dan terlilit beban tanggung jawab, hidup dalam bayang-bayang tragedi ... aahh... kau orang kuat pasti ".
" Kau pikir aku mau hidup seperti ini ?. Tapi mungkin ini adalah penebusan dosa yang harus kutempuh di dunia. Setidaknya hukumanku nanti di neraka bisa memperoleh dispensasi ".
" Ha..ha..ha..ha.. kau ini. Lalu bagaimana denganku ?... apakah aku juga akan mendapatkan dispensasi ? ".
" Hlaah? ... memang apa dosa besarmu ? ".
" Mencintai .............kakak sendiri ".
Sampai sekarang. iapun masih terlalu sibuk untuk menghukum dirinya sendiri. Cinta yang sedih, ah tidak ... pasti itu hanyalah sebiah obsesi. Obsesi keterlaluan yang mampu merenggut akal sehat dan berakibat fatal kemudian. Lihatlah bagaiman Tuhan menegurnya, atas ke kufuruan hati atas rasa cinta. Atas gelapnya mata karena di dera cemburu. Padahal mungkin.... sebenarnya saat itu, cinta mulai datang merayap perlahan pada kehidupannya. Ah.... semoga dosa itu terampuni.
Hiburan untuk hatinya yang sepi dan sedih adalah saat melihat pasangan-pasangan cinta itu bersatu. Ia akan mampu tersenyum bahagia seolah ikut merasakan euforia cinta dari para pasangan cinta yang bersatu itu. Walaupun kemudian di malam sepi, ia akan merenung panjang seorag diri. Mempertanyakan hatinya sendiri, sambil terus mengeja sebuah nama dan melantunkannya dalam doa. Semoga engkau bahagia cinta, dan maaf kan aku ...
" Mas Alend ? ".
Suara ini terdengar ceria, tiba-tiba saja menyapu sisi-sisi gendang telinga. Membuatnya menoleh dengan cepat ke asal suara. Lalu mendapati sosok yang tidak terlalu tinggi, tapi terlihat sempurna untuk standar ukuran wanita di negeri ini. Tersenyum ke arahnya dari sisi kolam, masih mengenakan kimono handuk putih yang lembut. Saat ia membalas senyuman itu, gadis itupun berjalan mendekat ke arahnya.
" Halo adik manis ... kau di sini juga. Anggota VIP juga rupanya? ".
" Bukan.. hanya numpang untung saja dari pasangan merpati di sana ", sambil menunjuk sepasang manusia yang sudah berendam di dalam kolam renang sambil tertawa-tawa. " Lumayan lah ... mumpung gratis ini ".
Gadis itu adalah adik bungsu dari Namu Baskara Perkasa yang baru beberapa saat lalu mengirimi foto-foto perunangannya. Dialah Kirana, gadis muda dan lincah juga cerdas, yang beberapa hari ini telah berhasil membuat mommy nya terbangun dari hibernasi. Ya... tidur panjang untuk tidak mengejar-ngejarnya mencari seorang pendamping, atau juga memberinya sederetan daftar perkenalan dengan anka gadis para kolega.
" Kursi sebelahmu masih kosong ? ... boleh aku tempati ? ".
" Yes princess, please ".
Gadis itu terkikik, dan segera duduk di kursi kosong sebelahnya. Dengan nyaman Kirana menyandarkan punggungnya sambil berselonjor.
" Thank you Sir ".
__ADS_1
" Tumben, bisa berenang ?. Longgar ? ".
" He..he..he.. sudah mau jadi dokter nih. Sudah lolos ... yeeaa.. ". Kira bersorak kecil sambil memgangkat kedua tangannya.
" Wah ... selamat deh kalau begitu. Tinggal program internship dong. Bisa gitu di rumah sakit milik keluarga sendiri ? atau keluarga ku ? ".
Tapi Kirana melotot lalu tertawa dengan renyah kemudian. Jelas ada yang salah ini..., pria itu segera menyadari. Syailendra mengerutkan kening sambil menatap paras jelita di sampingnya.
" PIDI itu hanya bisa di Rumah Sakit atau Puskesmas yang sudah lolos standar kelayakan dari KIDI. Biasanya Rumah Sakit Pemerintah sih.... mau bikin gebrakan baru ? ".
Lihatlah betapa cerdasnya gadis ini, dengan cepat membalikan pertanyaan. Dan jujur saja, Syailendra tidak memahami dua istilah yang baru saja keluar dari bibir mungil itu.
" Program Internsip Dokter Indonesia...... Internsip Dokter Indonesia .. ".
" Ha..ha.. ha.. langsung ketahuan ya. Oh gitu .. ". Syailendra tertawa. " Apakah wajahku begitu transpaant?... kau langsung tahu kalau aku tidak paham ".
" Bisa jadi, tapi aku mungkin yang sedikit lebih pintar ... he..he..he.. ". Kirana terkekh. " Mau nyebur kapan nih ?... sepertinya mas nggak berniat berenang. Hayoooo..... cuci mata ya ? ".
" Refreshing ... kau mau menemaniku ? ".
" Aku lebih suka menaklukan air itu seorang diri ". Jelas Kirana dengan rasa percaya diri yang luber. Yang kemudian bangkit dari duduknya dan memulai gerakan-gerakan pemansan. Sementara itu Syailendra memperhatikannya sambil menggeleng kecil dan tersenyum.
" Mau bertanding ? ", tiba-tiba tawaran itu terdengar seperti sebuah siulan penyemangat bagi Syailendra.
" Apa hadiahnya untuk yang menang ? ", ia balas bertanya.
" Nothing ... kau sudah sangat kaya pak boss... ingin apa lagi ? ".
" Ha..ha..ha.. kau takut kalah ? ", jelas ini adalah provokasi dari Syailendra untuk seorang Kirana yang penuh gelagak semangat.
" Hei... aku yang pertama menantangmu. Bagaiman bisa aku takut ? ", tentu saja berbalas salak dari Kirana yang kini mulai melepas kimono handuknya.
Bukankan lekuk itu sangat sempurna ?, walaupun gadis ini mengenakan boxer swimsuit one piece yang sedikit lebih sopan dari swimsuit yang dikenakan para gadis sepanjang kolam renang ini. Tapi Kirana memang memiliki banyak hal yang membuat para gadis iri, dan para pria ..... menelan ludah. Warna ungu yang glamour, namun sangat sempurna untuk Kirana. Sepertinya memang pakaian itu sengaja dibuat hanya untuk gadis itu.
Dua orang pria di susdut sana terlihat mulai saling berbisik, dan Syailendra tahu betul apa yang sedang mereka bicarakan. Mengambil langkah cepat, untuk memutuskan pikiran penuh harapan dari dua pemuda yang mulai pasang aksi, itulah yang terlinatas di benak Syailendra seketika. Dia harus segera menyelamatkan adik manisnya ini.
" Ayo kita masuk sekarang ". Dan tanpa permisi, Syailendra kemudian menggandeng jemari Kirana. Membuat gadis itu sedikit tersentak kebingungan. Tapi ia tidak menolak, bahkan dengan suka rela menerima uluran kedua tangan Syailendra yang kini sudah terlebih dahulu mencebur ke dalam air.
" Mas ... kau ini, membuatku terlihat seperti amatir yang baru belajar saja ", akhirnya Kirana menggerutu. Tapi kini ia telah berada di satu kolam dengan kedua tangan Syailendra yang memegangi bahunya.
" Aku tidak mau kena marah sama Namu ".
" Hah ??? ".
" Tentu saja aku harus melindungimu dari dua buaya darat yang sekarang sedang menatapku dengan tajam dan penuh aura membunuh itu .... eits !!! jangan menoleh ". Larang Syailendra dengan cepat menghentikan gerakan kepala Kirana yang hendak mengikuti arah ekor matanya.
" Oh ... ".
" Kita bersandiwara ya ... ".
__ADS_1
" Hah ?!! ". Tapi Kirana akhirnya mulai memahami, saat Syailendra dengan lembut mulai membelai pipinya.
Dug dug... dug dug... dug dug... dug dug... dan musik monopercusion itupun kembali mengalun di dada. Sementara atmosfer di sekitar mereka berdua seperti menipis, membuat Kirana merasa sedikit kesulitan menarik nafas.