
" Arya Sanjaya ? .... tidak asing dengan nama itu. Tunggu sebentar, ini kapasitasnya apa ? ".
Namu yang pagi itu sedang menyelesaikan sarapannya beralih menatap sang Ayah, karena ia merasa memorinya 'blank. Sementara Haidar yang baru saja akan memulai sarapannya, terlihat antusias menunggu informasi dari kakak dan juga papanya.
" Kata Raka, punya banyak dealer resmi motor dan mobil Jepang ..... ", imbuh Haidar mencoba memancing ingatan Namu.
" Ooh.... ", terdengar Mandala ber-oh sambil meminum habis air putih yang tinggal setengah gelas. Kemudian pria itu menatap putra sulungnya yang terlihat sedikit terlonjak.
Sepertinya Namu sudah mulai bisa mengingat sesuatu. " Arya Sanjaya adik dari Hermawan Sanjaya, salah satu kompetitor kita di dunia farmasi.... yang anehnya, beberapa hari yang lalu mengajukan proposal kerjasama untuk produksi, lisensi dan juga distribusi obat-obatan cancer itu " .
" Betul ", Mandala menyahut cepat. " Lalu apa hubungannya dengan Raka ? ".
" Ehm..... itu.... masalah cinta sepertinya Pa' ", jawab Haidar sambil kembali menyendok 'sambel tumpang' dan menuangkannya diatas sayuran hijau rebus. 'Sambel Tumpang' adalah sejenis sayur yang terbuat dari tempe matang tua (bahasa Jawa : semangit) direbus lalu di haluskan dan dimasak bersama bumbu pedas dengan kencur dan daun jeruk purut, kemudian dimasak kembali dengan santan encer.
" Ooh... sepertinya untuk urusan percintaan, bocah itu belum terkalahkan kemampuannya ".
" Persis Om nya ". Tiba-tiba Orlin sudah berdiri disamping suaminya, dengan gerakan halus membelai pipi dan dagu Mandala, membuat pria itu tersenyum kecil.
Lalu dengan gerakan lembut membalas perlakuan sang istri ini dengan memberinya sebuah kecupan di pipi wanita yang masih sangat cantik dan terlihat awet muda di usia setengah abadnya. Pemandangan yang biasa dinikmati oleh anak-anak dan juga para pegawai serta orang-orang terdekat di keluarga Mandala.
" Tapi kayaknya udah mau beneran insaf. Rana telpon aku dan sedikit cerita tentang cintanya Raka. Nggak lama setelah Raka minta tolong selidiki tentang keluarga Arya Sanjaya itu ", Haidar bercerita.
" Kalau begitu bantu dia... moga-moga setelah ini kalian berdua yang lekas ketemu jodoh ".
" He... he.... he... ", Haidar tersenyum usil sambil mengerling Namu saat mendengar perkataan Orlin. " Kakak nih... yang sudah jelas jodohnya... ".
Orlin dan Mandala saling pandang, sebelum pada akhirnya menatap Namu secara bersamaan. Sementara Namu terlihat cuek, pura-pura tidak mendengar apa yang terlontar dari mulut usil adiknya. Padahal sebenarnya ia mengumpat panjang-pendek dalam hati. Heeehrrrg... awas kau Haidar !!!!!.
" Waah bagus dong ... berarti nggak perlu lagi dibantu mencari jodoh ". Orlin berkata dengan sumringah. " Boleh mama tahu siapa dia ? ".
" Mama' nih ..... jangan percaya deh sama biang halu. Haidar tuh' mah yang udah pasang ancang-ancang ngejar anaknya Bu Firman ".
" Heiiii .... kak!!! kau melanggar kesepakatan ", salak Haidar.
" Kau yang mulai duluan ", Namu tidak mau kalah.
Sementara Orlin dan Mandala saling tatap kemudian tertawa bersama. Dalam hati mereka sungguh merasa kalau dua pemuda dewasa ini tidak berubah, masih sama seperti belasan tahun yang lalu saat masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sama-sama saling melaporkan satu sama lain, tapi untuk saling menjatuhkan.
" Kakak .... gebetannya anak pejabat tinggi. Makanya dia masih terus mengumpulkan amunisi untuk membidik orang tuanya. Kalau anaknya siiih.... udah disosor' .... aduuuh ".
Dan kalimat Haidar yang panjang berjalan tanpa jeda seperti laju kereta uap itu, akhirnya terhenti setelah telinganya mendapatkan jeweran telak. Namu yang wajahnya memerah karena kesal dan malu, benar-benar melakukan aksi itu tanpa sungkan.
" Lah kamu sendiri gimana ? .... nggak mau dikirim ke Jerman, ngeyel parah minta di kantor pusat biar bisa ngecengin putrinya Bu kantin ".
" Ooh... jadi begitu ceritanya, kenapa kamu berkelit terus 'Dar ". Mandala menatap Haidar sambil menahan senyum.
" Bukannya ... anak Bu Firman itu udah resign dari perusahaan kita ya ? ", tanya Orlin.
" Itu yang sulung mah' ... mba Ken Narila Araya, dulu di marketing, setelah menikah dengan pak Dodi manajer personalia... resign'lah. Sekarang buka toko kelontong sendiri ".
" Ooh.... berarti ini si cantik yang nomer dua itu. Kau' ingat'kan mas... ?", Orlin menatap suaminya.
" Tentu saja ... aku nggak mungkin lupa ", sahut Mandala. " Sudah cukup lama juga ya keluarga mereka tidak berkunjung .... ".
" Lebaran tahun kemarin yang terakhir ... seingatku yang bungsu juga tidak ikut. Ada dimana ya dia sekarang ? ".
" Dar' ... kau sudah tanya sama emaknya belum ? ", Namu menyikut Haidar.
Kenapa jadi aku sih? waduh jebakan Batman nih. Keluh Haidar dalam hati, sementara ia menyunggingkan senyum usil nan licik andalannya sebagai pemanis untuk geleng6 kepala sebagai jawaban.
" Umur kalian sudah matang untuk menikah. Papa' dan mama selalu mengajarkan pada kalian untuk menilai orang dari hati, sikap dan perbuatannya. Karena kehormatan dan kemuliaan itu adalah dari sikap memperlakukan orang lain. Jika dia wanita yang berhati baik dan lembut, santun dan mau menyesuaikan diri dan berkorban setulus hati demi kalian ... tidak perduli anak siapa.... bawa kesini, perkenalkan.... akan papa lamar'kan untuk kalian ".
" Tuh !!!! kak ....dengar ", Haidar menyikut kakaknya, masih dengan seringai usil.
" Kau juga Haidar ", Orlin menimpali. " Bu Ruri itu orang yang sangat baik ... begitu juga dengan almarhum suaminya. Walaupun kedua putrinya untuk biaya hidup dan biaya pendidikan sudah ditanggung oleh papa mu ... tapi ia tetap bekerja keras dengan mengelola kantin perusahaan. Jika kau ragu karena berpikiran papa-mama tidak setuju mungkin ... kau salah besar. Papa mu sendiri sudah mengatakannya. Sekarang .... kalian harus berpacu ... karena bunga-bunga cantik, harum dan langka seperti mereka ... pasti banyak kumbang yang juga menginginkannya ".
" Putri siapa dia Namu? ... apa papa kenal ? ".
Namu merasa seperti sedang musim kering di tenggorokannya, seolah-olah badai pasir membuat seluruh cairan menguap. Ia kesulitan saat menelan ludah karena tercekat, apalagi untuk menjawab pertanyaan sang ayah. Tapi tatapan tajam pria itu menunggunya untuk memberikan jawaban.
" Papa tidak keberatan bukan jika aku tidak menjawabnya sekarang ? ", kalimat itu terasa berat diucapkan Namu. " Aku ingin berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuan ku ".
Orlin buru-buru mengelus-elus lengan suaminya, dan memberikan isyarat pada pria itu untuk sedikit menahan diri. Dengan senyuman lembut yang tak pernah bisa dikalahkan oleh Mandala, ia pun kembali berhasil menuntaskan maksudnya. Dan Mandala pun mengangguk-angguk tanda setuju.
" Siiiip... lampu ijo noh' Kak. Sekarang kembali ke Arya Sanjaya .... pesenan Raka 'bro nih ". Haidar kembali bersemangat.
" Minta informasi lengkap sama Om mu. Apalagi ini ada hubungannya dengan Raka ".
__ADS_1
" Siap pak bos ", Raka menjawab dengan berkelakar.
" Kalau hubungan Cinta dan Syailendra bagaimana ? apa sudah ada kemajuan ? ", tanya Mandala kemudian.
" Hugh... uhuk.. uhuk... ", tiba-tiba Namu terbatuk-batuk. " Aku sudah selesai sarapan ... duluan ya ... berangkat dulu pa' ... ma'... ".
Tanpa menunggu lagi, setelah berpamitan dengan mencium punggung tangan ayah dan ibunya, Namu bergegas meninggalkan meja makan.
" Eh kak... tunggu, aku nebeng ... kaak. Berangkat dulu pah' mah'..... assalamu'alaikum ".
" Wa'alaikumsalam... ". Jawab Orlin dan Mandala bersamaan. Dan suami istri itupun kemudian saling bertautan dengan keheranan.
" Ada yang aneh ... ". Gumam Mandala.
" Ya ... kita liat saja nanti. Setidaknya kita sudah bisa bernafas lega sekarang. Dua jagoan kita sudah menemukan tambatan hatinya ".
" Iya . Jadi minta kuantar ke rumah sakit ? ".
Dan Orlin pun mengangguk mengiyakan. Lalu iapun bergelayut manja pada lengan Mandala dan melangkah untuk memulai menunaikan tugas. Pagi yang cerah berbias harapan indah.
...............
Haidar : Arya Sanjaya, pengusaha properti dan punya beberapa dealer mobil dan motor. Termasuk dua puluh besar pengusaha kaya di negeri ini. Punya tiga orang anak lelaki. Anak pertama di Jakarta sudah meninggal, anak kedua di Sidney dua kali bercerai sekarang duda. Anak ketiga di Surabaya masih lajang.
Raka : Thanks bro' ....
Haidar : Anak kedua cukup sukses di Sidney dan penganut hedonisme. Hobi buruknya gemar mengakusisi perusahaan dengan cara apapun ... trik awalnya menyuntikan dana, membantu menopang perusahaan yang goyah. Namanya Sakala, cukup populer di dunia bisnis Asia tenggara. Sepertinya orang ini yang perlu kau waspadai.
Raka : Waaaaah.... berat. Kalau ada info lagi kabari aku.
Haidar : Kau tahu, aku dapat info lengkap terpercaya ini dari siapa ?
Raka : ?????
Haidar: Om ku tercinta
Tak lama setelah ternotifikasi bahwa Raka telah membaca pesan balasan Haidar, telepon genggamnya pun bergetar. Saudara sepupu itu kini meneleponnya.
" Kau bilang apa sama papa ?. Kau tidak ngomong macam-macam'kan ? ". Bahkan tanpa permisi dan ucapan salam terlebih dahulu, Raka langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
" Nggak dong ... aku cuma minta tolong sama kak Namu, awalnya ... tapi papa dengar dan langsung berinisiatif membantu ... he... he... he.. ".
" Loh ?? .... tanya kak Namu ".
" Pasti kamu sudah ngomong sama mereka ", tebak Raka.
" Kan' yang penting ... bukan sama Om Juna. Sesuai janjiku pada mu beibeh... ".
" Haiiisssh!!! ... dulur gendeng 'ra cetho ", umpat Raka frustasi.
" Kau ini aneh... sama anehnya dengan my big brother . Ketika serius berhubungan dengan wanita ..... eh' malah minta dirahasiakan ".
" Kalau yang serius memang harus dijaga dulu sampai fix dan legal pada saatnya. Kau mana tau'... ".
" Ooh... gitu rupanya. Berarti aku extra ordinary dooong ... ", Haidar berkata sumringah dengan rasa percaya diri yang membuncah.
" Pala' lo' peyang .... extra ordinary ", decih Raka diseberang sana .
" Kalau bentar lagi papa kamu telpon dan bertanya ... jawab aja sejujurnya. Pasti langsung sujud syukur tuh si Om ".
" Heeeem.... ".
" Ini masih si adik kelas kita sejak SMP dulu itu 'kan? ... oh ya harus gerak cepat loh. Arya Sanjaya itu sedikit kejam ... ".
" Mau membantu ku ? ".
" Tentu ... aku dipihakmu bro' "
..............
Dan sekarang di sinilah mereka bertiga, duduk di sebuah cafe pinggiran kota sambil menikmati alunan musik country. Haidar sengaja mengajak Cinta, yang tentu saja menjadi sangat berantusias setelah mendengar alasan yang disampaikan sepupunya itu. Sementara Ardelia yang memang juga mengenal Haidar sejak SMP tidak berkeberatan untuk bertemu dengan temennya itu.
" Jadi begitu. Mana yang akan dijodohkan dengan mu ? ", tanya Haidar dengan lugas.
" Kau menerimanya ? ", Cinta pun tak kalah penasarannya.
Cantik, begitu penilai Cinta saat bertemu dengan gadis ini. Hingga kemudian ia mulai teringat jika sebenarnya Ardelia pernah beberapa kali datang ke rumah. Yang paling dingatnya adalah beberapa saat sebelum insiden tuduhan pemerkosaan itu. Yang berbuah, adik nya harus merasakan menginap di hotel prodeo tiga malam. Dulu Ardelia masih sangat natural dan terlihat lugu, tidak berbeda dengan sekarang. Tapi yang sekarang jauh lebih cantik dengan kematangan dan kepintaran yang terlihat jelas dari sikap dan sinar matanya. Dan Cinta sangat setuju jika Raka tertarik secara serius dengan gadis ini.
__ADS_1
" Yang nomer tiga ... Keanu Sanjaya. Entahlah ... masalahnya tidak sederhana ".
Jawaban Ardelia itu membuat Cinta dan Haidar saling berpandangan sesaat. Haidar yang menangkap isyarat dari kakak sepupunya itu, lalu memilih alur yang diciptakan Cinta.
" Apakah ada pemaksaan ? ". Cinta kembali bertanya, dan Ardelia terlihat berusaha tetap tenang.
" Maaf.... tidak seharusnya kita se-kepo ini. Tapi kita-kita sangat berharap, Ardelia tidak sungkan untuk meminta jika memang terasa berat menghadapinya sendiri .... ".
" Oh .... ini tamu-tamu pentingnya mba Delia ya ", suara ramah itu terdengar menyapa membuat Cinta mengakhiri kalimatnya.
Seorang wanita yang anggun dengan penampilan sederhana namun memikat, menghampiri tempat ketiga orang itu duduk. Dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya wanita ini adalah sang manajer atau mungkin pemilik cafe. Tapi yang menarik, wajah wanita ini adalah versi Erdelia dua puluh tahun mendatang.
" Saya mamanya Delia... Palupi ", ramah memperkenalkan diri.
" Saya Cinta, Tante ", Cinta menyambut uluran tangan itu dengan senyum terkembang.
" Haidar Tante... dulu satu sekolah dengan Delia. SMP dan SMA ". Haidar menyambung cepat.
" Oh ya.. ya.. loh, kirain Raka juga ikut ".
" Raka masih sibuk residensial di Yogya mah ", kata Ardelia kemudian.
" Oh begitu .... ".
" Saya kakaknya Raka .. ".
" Saya sepupunya Raka .. ".
" Waaah.... ", dan sepasang wanita itu kini berbinar dengan hangat. " Senangnya ... bisa kenal dengan saudara-saudara anak baik itu . Mari ... mari silahkan dilanjutkan ngobrolnya. Tante ke dalam lagi ya ".
" Ya Tante, silahkan ", jawab Haidar dan Cinta bersamaan.
" Anak baik ..... ", Cinta menahan gelinya yang berbuah senyum simrk di sudut bibirnya.
" Raka itu sangat baik kalau dimata mama.... heran'kan?. Tapi sebenarnya dia sangat baik kok.... cuma lebih suka terlihat bengal ".
Cinta dan Haidar kembali saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa lepas bersama.
" Setiap orang ada sisi positif negatifnya dooong... ". Suara Ardelia bernada membela.
" Iya... iya.. sebenarnya sebelum SMA dulu dia sangat manis ya ", Cinta menambahkan.
" Okay .... back to basic problem. Sebenarnya.... selain meminta kalian berdua untuk memberikan informasi tadi. Raka minta tolong apalagi ? ".
" Tentu saja menjagamu dan membantu mu ", jawab Haidar cepat.
" Bukti kalau dia juga anak baik ", Cinta menambahkan. " Bukankah itu artinya dia sangat serius padamu Del..... sejauh mana hubungan kalian ? ".
Beberapa detik terlampaui tanpa ada jawaban dari Ardelia. Gadis itu sepertinya tengah membuka gudang kosakatanya dan sedang menyusun kalimat yang tepat.
" Raka ..... dia sangat baik padaku. Selalu meminta pendapat ku tentang gadis-gadis yang dikencaninya. Selalu membantu ku disaat aku mengalami kesulitan. Sahabat terbaik yang pernah ku miliki ... ".
" Apakah .... Raka tidak pernah memperlihatkan atau mengungkapkan rasa cintanya atau rasa sukanya pada mu ? ", kali ini Haidar yang mencecar dengan rasa penasaran.
" Raka.... ha..ha..ha.. ", Ardelia tertawa namun ada nada ironis yang terselip. " Dia mengungkapkan ... ' I love you' pada setiap gadis cantik dan yang menurutnya menyenangkan. Aku sudah sangat sering mendengarnya..... sampai-sampai ....... " .
Lalu hening menguasai, karena Ardelia benar-benar tidak melanjutkan yang diucapkannya. Sementara Haidar dan Cinta sama sekali tak bergeming dan tak bersuara. Karena aura kesedihan yang menguat daei wajah Ardelia itu, seperti membungkam semua suara.
...Kamu...........
...Sempat ku berfikir semua itu tak semu...
...Sempat ku berharap semua itu nyata...
...Tapi...........
...Saat ku menyelami pada semua sikapmu...
...Hatiku pun dirundung ragu...
...Lalu ........
...Aku memilih cukup berdiri disini...
...Di batas yang kubuat sendiri...
...Mungkin.......
__ADS_1
...Kau memang hanya sahabat terbaik...
...Yang pernah ku miliki...