PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Involved & Entangled (2)


__ADS_3

Ini adalah kompleks perumahan yang cukup mewah, tentu saja dengan penjagaan yang sangat memadai. Dengan dua pos pengamanan dan juga sistem identifikasi identitas. Pria itu sempat meminjam telepon genggam pada Kirana tadi. Tentunya seorang pria muda yang kini tengah menunggu di pos penjagaan perumahan ini, pastilah asisten yang ditelepon tadi. Pemuda itu sudah menunggu sejak di pos penjagaan pertama.


Kirana mengikuti motor matic ber-cc besar yang sedang naik daun pada masa ini. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai disebuah rumah besar dengan pagar tembok yang tinggi, dan kembali ada pos penjagaan di depan rumah itu. Dua orang penjaga tergopoh-gopoh memberi hormat, pastinya bukan untuk dirinya, tentu untuk seorang pria disamping dirinya.


" Terimakasih banyak mba ... ".


Kirana yang sejak tadi berkonsentrasi dengan semua hal dihadapannya, kini beralih menatap sumber suara itu. Yang tak lain adalah pria disampingnya, hanya saja ia merasa pria ini terlihat seperti kesakitan ... ah lebih kesakitan tepatnya... atau sedang menahan sesuatu. Dan ... hei !!! wajah pria ini nampak memerah serta keringat membanjiri keningnya. Demam ????, begitu pikir Kirana.


" Maaf pak ... kebetulan saya seorang dokter .... masih baru selesai koas sih. Tapi sepertinya kondisi bapak tidak cukup baik ... saya akan memeriksanya ".


Tentu ini bukan sebuah permisi atau sebuah permintaan untuk diijinkan memeriksa. Karena Kirana, begitu melepas sabuk pengamannya langsung mendekatkan tubuhnya pada pria ini.


" Lukanya..... ".


Dan pria itupun menurut, melepaskan kedua tangannya yang menekankan perut dan memperlihatkan kemeja putihnya yang ternoda.


" Sepertinya kita harus turun dulu pak ... ".


Saat itu juga si asisten pria ini sudah berdiri di sebelah pintu dan memandang dengan cemas pada boss nya. Kirana pun segera turun, sementara si asisten itu nampak membantu boss nya yang terlihat mulai gemetar.


" Anak-anak sudah saya kirim untuk sterilisasi .... ", kalimat itu terdengar terpotong dengan sebuah keterkejutan.


Entah apa maksudnya, tapi Kirana memilih mengabaikannya. Ia membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil tasnya, serta sebuah kotak yang cukup besar berbahan plastik bening. Beruntung seluruh peralatan dan obat-obatan dari kegiatan sunatan masal belum sempat diturunkan sejak empat hari yang lalu. Terkadang malas itu juga membawa manfaat.


" Silahkan mba ... lewat sini. Saya bantu bawakan barangnya " .


" Ya.. ", Kirana sedikit tersentak karena kaget. Kapan datangnya pria ini disebelahnya. Si pria asisten itu tadi nampak sudah memapah si boss.


" Astaghfirullah ... mas... ya Allah ... ". Seorang wanita paruh baya nampak cemas menyongsong kehadiran si boss yang di papah asistennya.


Sementara itu, Kirana mengikuti masuk tan' menunggu dipersilahkan. Melewati si ibu paruh baya yang kini juga sedang menatapnya dengan tambahan ekspresi kebingungan.


Ini adalah rumah tinggal, tapi saat naik ke lantai dua, ruangan ini terdesain seperti sebuah kantor. Tepatnya kantor kecil atau mungkin kantor darurat. Ah tidak ... peralatan penunjangnya begitu lengkap, bahkan ada minibar dan sebuah mesin fotocopy di sini. Namun Kirana tidak ambil pusing, dan segera mengikuti dua orang pria itu masuk ke sebuah kamar.


" Bagaimana bisa seperti ini pak ? ", si asisten nampak khawatir dan membantu melepas jas yang dipakai pria boss itu.


" Ah... hanya terlalu bersemangat ...dan intrik licik mereka seperti biasa ". Pria boss itu meringis.


" Seharusnya bapak tidak menolak pengawalan tadi ... ".


" Sudahlah Yud... bisa kau menyingkir? ", si pria boss menghentikan kalimat dari si asisten. " Mba yang baik ini... dia seorang dokter, biarkan dia melihat luka ini dulu ".


Si pemuda asisten itupun segera menyingkir, memberikan ruang selapang-lapangnya pada Kirana. Dengan sigap, Kirana menggunting baju berwarna putih itu tanpa ragu-ragu. Mempermudah dan mempercepat proses pertolongan yang akan dilakukannya segera.


" Maaf... seharusnya ... saya minta ijin dulu " . Kirana menunjukkan rasa sesalnya saat melihat label merk bertuliskan enam huruf dari Italy. Tapi kemeja putih berbahan lembut itu sudah terlanjur digutinng olehnya.


" It's okay ", pria boss itu tersenyum. " Apakah cukup dalam lukanya ....tadi sepertinya hanya terserempet ujung pecahan botol saja ".


Kirana tidak menjawab, ia mengamati dengan seksama luka melintang hampir separuh panjang telapak tangannya. Benar, sepertinya hanya tergores benda tajam. Luka itu sekitar sepuluh senti diatas pusar si pria boss, tepatnya di sisi perut bagian kanan.


" Butuh bantuan mba ? ", sebuah suara yang hangat dan ramah menyembelahi Kirana. Itu berasal dari wanita paruh baya yang tadi menyambut mereka di pintu rumah.


" Ah ....ya. Bisa minta tolong sediakan tempat sampah ? ".


" Baik mba ". Dan wanita paruh baya itupun segera berlalu.


" Maaf pak ... bisa benar-benar berbaring saja. Maksud saya tidak usah bersandar seperti ini ", pinta Kirana.

__ADS_1


" Nggih Bu Dokter ... ".


Bukankah itu terdengar seperti sebuah gurauan, tapi senyum meringis pria ini, entah kenapa membuat Kirana merasa tak perlu mengkhawatirkan apapun. Padahal bisa saja saat ini dirinya sedang dalam bahaya, mungkin pria ini adalah bos penjahat yang kini terluka karena pertikaian dengan saingannya. Atau bahkan sebenarnya adalah buronan polisi. Dan para pria-pria di parking basement hotel tadi sebenarnya adalah polisi.


Entah mengapa Kirana berhasil membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Wajah ini terlalu lembut dan.... tampan untuk menjadi karakter seorang penjahat. What ??? .... apa itu tadi Rana. Peraturan pertama ... tidak boleh melibatkan perasaan pribadi pada pasien yang sedang kau tangani. Ingat itu Rana !!!!!.


" Kenapa mba? ... apakah lukanya berbahaya ? ". Si asisten itu bertanya dengan cemas begitu melihat Kirana yang menggelengkan kepalanya serupa mengibas.


" Ah ....apa? ", Kirana terkejut menyadari kekonyolannya. " Tidak .... ini sepertinya hanya sayatan memanjang, tapi tidak terlalu dalam kok. Ya... tetap harus dijahit dan injeksi antibiotik ".


" Oh.... syukurlah ".


" Mba... ini tempat sampahnya. Ada perlu yang lain ? ". Ibu paruh baya itu datang membawa tempat sampah kecil yang terlihat masih baru.


" Bisa minta lampu yang lebih terang lagi ? ".


" Ya ... segera .... tunggu ... ". Dan pada detik berikutnya si asisten telah melesat.


" Aaaah... ", suara erangan itu terdengar dari mulut si pak boss.


Kirana menatap pria itu, sepertinya tadi dia tidak memberikan tekanan. Baru sedikit membersihkan luka saja, itupun sangat perlahan... tapi pria ini mengerang. Dengan lengan kanannya, pria yang terbaring itu menutup kedua matanya. Ada apa ini ?


Tiba-tiba saja tarikan nafas pria ini terlihat mulai memburu. Diafragma dadanya yang bergerak mengembang dan mengempis nampak semakin tidak beraturan.


" Pak ? ..... anda baik-baik saja ? ".


" Mereka memberi sesuatu pada minuman ku ". Dan pria itu terlihat semakin gelisah dengan gerakan bernafasnya yang turun naik tidak stabil.


Racun ? .... dan Kirana mulai memastikan hipotesisnya dengan meraba nasi di pergelangan tangan pria itu. Sambil melihat detak detik di jam tangannya, Kirana pun merasakan nadi pria ini seperti berkejaran dengan detik. Perlahan ia meraba nadi besar di leher yang jenjang itu.


" Cepat .... selesaikan menjahit lukaku ".


Wajah ini... kenapa begitu indah. Kedua bola mata itu bening dan dominan kelabu, seperti warna hujan di senja hari. Padahal saat ini ia terlihat sangat tidak nyaman dan tersiksa. Tapi semua hal itu sepertinya tidak mampu mengalahkan pesona sepasang alis hitam bak burung camar, segaris bibir penuh dengan rahang sempurna yang begitu menawan, serta hidung menjulang sempurna membentuk wajah rupawan. Dan Kirana..... ia tak mampu menahan desiran lembut yang merambat perlahan ke hatinya.


" Mereka pasti menaruh afrodisiak.... tolong aku ... ".


Kirana tertegun, sesaat ia tak mengerti harus berbuat apa. Tapi tatapan itu begitu penuh permohonan. Dan ia pun mengangguk perlahan.


" Bu ... tolong ambilkan aku air putih dingin ... dua botol ".


" Nggih .... baik mas ", walaupun dengan wajah kebingungan, wanita paruh baya itu segera berlalu.


" Bu dokter .... lampu ini cukup ? ". Si asisten datang dengan membawa lampu halogen yang terang, menyala disambungkan dengan kabel yang cukup panjang. Dan pria muda ini berdiri memegangi.


" Cukup ... kita mulai jahit lukanya ya pak. Setelah itu .... saya akan berusaha menetralisir efek afrodisiak nya ".


Menyebalkan !!!! ..... gerutu pria itu dalam hati. Sementara akal sehatnya terus menerus mendengungkan perintah agar dirinya tetap berada dalam kondisi waras. Tapi gadis kecil ini sangat cantik dan manis, terampil dan cekatan. Kulitnya halus.... tahukah dia jika sentuhan-sentuhannya tadi seperti berpihak pada afrodisiak sialan ini. Padahal gadis ini sedang menolongnya .... kenapa malah berfikir yang macam-macam. Afrofidisiak jahanam !!!!!!. Dan ia pun mengetatkan rahangnya menahan hasrat yang mulai menggeliat bangun, agar tidak menjadi liar.


" Mas ... ini air minum nya ".


" Tolong jadikan kompres juga.... ya Bu ".


Dan wanita paruh baya itu hanya mengangguk dan menuruti permintaan pria boss ini, walaupun masih dengan ekspresi kebingungan. Kompres air dingin itu beberapa saat kemudian sudah menelungkup di kening.


" Huuh... ", pria boss itu mengeluarkan suara sedikit kaget, karena bersamaan dengan menempelkannya handuk dingin itu, dibawah sana kulit perutnya mulai di tusuk jarum suntik untuk mentransfer anastesi.


" Maaf ... anastesi pak. Mungkin 5-8 jahitan... lukanya tidak dalam, tapi panjang ".

__ADS_1


" Nggih Bu dokter .... ", kembali pria boss itu berkelakar.


" Yudi.... tolong ambilkan minum' dingin itu. Biar bu Karim yang pegang lampunya ". Perintah pria boss itu lagi.


Kirana masih berkonsentrasi dengan pekerjaan merapatkan kembali lapisan kulit itu. Untung saja sayatan ini cukup cantik, sehingga mempercepat pekerjaannnya. Pasti pecahan botol itu lancip dan sangat tajam. Akan lain ceritanya jika benda itu ditusukkan. Untung saja.... hadeeeeh.


Sesekali Kirana melirik pada wajah yang kini terlihat masih merona merah karena pengaruh obat perangsang itu. Pasti pria ini sedang berusaha keras menjinakkan sisi liar terprimitif yang sudah dengan sengaja dirangsang bangkit. Hiiih.... keterlaluan !!!!... ada saja orang yang menggunakan cara kotor seperti ini. Antara geram dan seram, Kirana bergidik.


Dulu ..... ia pun pernah melihat hal seperti ini dan itu dialami oleh papahnya sendiri. Saat itu ia baru saja menjadi mahasiswa semester dua dan kebetulan sedang menikmati liburan di rumah. Ketika pada suatu malam yang telah larut, ia mendengar kegaduhan di ruang tamu. Saat keluar kamar, dia melihat mamah nya sedang memapah sang papah, tubuh mungil perempuan itu berkali-kali nyaris terjerembab karena sangat tak sebanding dengan tubuh sang suami.


" Buka'kan pintu kamar ? ... bantu mama ... siapkan abocath dan infus set ".


Kirana yang hanya memahami saat itu kondisi papahnya sedang tidak baik-baik saja, segera menuruti permintaan mamahnya. Berlari tergesa menuruni tangga, dan melesat cepat meraih kotak berisi semua yang di maksud sang mama. Sesampainya dikamar dengan kotak yang digenggam kedua tangannya, ia melihat sang papa yang baru saja dibaringkan dan kondisinya terlihat sangat menderita, bergerak gelisah.


" Papa mabuk mah ? ", tanyanya perlahan.


" Tidak!!... papamu tidak pernah minum alkohol lagi semenjak menikah. Ada yang bermaksud jahat padanya.... menggunakan cara licik seperti ini .... ". Ekspresi yang tenang berbanding terbalik dengan gerakan sigapnya.


Sang mama terlihat sangat tenang, tapi Kirana tahu bahwa ibunya kini tengah berpaju dengan waktu. Menggulung lengan baju pria tercintanya yang semakin terlihat gelisah dengan tubuh bergetar.


" Rana ... ambilkan minum air dingin buat papah ... cepat !!!! ".


Ketika semua fragmen mencekam itu mulai menuruni klimaks ketegangannya. Kirana mendapatkan satu nasehat berharga. Sebuah untaian kata yang menyergap hatinya dan membuatnya belajar satu hal besar dalam kehidupan.


" Papa mu .... banyak orang yang iri, dan terobsesi. Tidak hanya kalangan satu profesi, tetapi juga wanita yang hanya ingin memenangkan ego sendiri. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Menggunakan obat perangsang dengan sangat licik dan bermaksud menjebak papa mu. Kita semua harus selalu waspada, tidak boleh lengah dan harus selalu mohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Mama berdoa dan berharap ... kelak kau tidak akan mengalami kejadian seperti ini di dalam kehidupan mu ... tapi... setidaknya kau juga harus belajar ... andai saja kau menemukan kejadian seperti ini ".


" Tapi papa.... 'kan sudah cukup tua, enam puluh tahun ... ".


" Orang-orang tamak dan tidak mau bekerja keras ..... memang mencari orang-orang yang sudah mapan. Usia bukan penghalang ... mereka ... yang penting bisa memperkaya diri sendiri ".


Dan hari ini, Kirana kembali melihat kejadian serupa. Seperti yang dinasehatkan sang mama, tetap tenang dan berpikir logis. Amati tanda-tanda vital pasien, terutama nadi dan suhu tubuhnya. Guyur peredaran darahnya dengan larutan 'Ringger Lactat', lalu amati dan tunggu selama dua jam. Jika tidak ada perubahan ... larikan segera ke IGD.


" Bapak akan saya infus .... ".


" Ya ". Jawaban itu segera meluncur tanpa menunggu penjelasan dari Kirana.


Ini sebenarnya adalah tindakan ilegal, meng-infus pasien di rumah dan lagi dirinya sendiri pun belum mengantongi ijin praktek. Boro-boro..., wisuda profesi saja belum. Tapi dia sangat yakin kalau pria ini pasti akan menolak mentah-mentah jika diminta ke IGD.


Buktinya, begitu masuk kedalam mobilnya tadi. Alamat yang dituju pria ini adalah sebuah rumah, bukanlah Rumah Sakit. Padahal luka diperutnya itu cukup bisa membuat orang awam akan panik. Tapi si bapak boss ini dengan sangat tenang justru menggiringnya untuk bersedia mengantar ke rumah ini. Dan Kirana yakin, kalau rumah ini... pasti juga bukan rumah si pak boss ini.


" Mba.... apa perlu saya panggilkan dokter ? .... ah .... ma-maaf.... maksud saya, dokter pribadi pak Zach ".


Oh .... namanya Zach, batin Kirana. Iya sih ... kalau dilihat dari postur dan parasnya, pak boss ini memang sepertinya memiliki darah campuran. Mungkin Eropa atau ras Kaukasia lainnya, terlihat dari sepasang mata kelabu yang bening seperti senja saat hujan, serta pahatan tinggi menjulang dari hidung yang sangat artistik.


" Tidak usah ... biarkan Dion menikmati bulan madunya ... Bu dokter ini sudah cukup handal ".


" Itu artinya bapak selama dua jam kedapan .... menahan saya ".


" Dengan terpaksa .... apakah ibu akan meninggalkan pasiennya begitu saja, padahal masih dalam fase observasi ? ".


Cerdas dan licik, Kirana tersenyum kecil. Begini rupanya satu bentuk yang selalu nyaris serupa dari para eksekutif muda yang bersinar. Dan ini .... adalah bentuk nyata dari apa yang selalu dinasehatkan oleh mama nya. Tentang sifat dan sikap para pria, ada kak Namu, Papahnya dan juga pria boss ini. Sama !!!.... sama-sama pintar memang kesempatan.


" Baiklah .... Yap! sudah selesai. Saya akan menunggu di sini ..... cukup 2 jam ". Balas Kirana.


" Masa observasi itu 6 jam .... Rana ".


" Kau ???? ..... siapa kau ??? ".

__ADS_1


................


__ADS_2