PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merenda Romansa (3)


__ADS_3

Padahal baru dua malam tidak berada dalam radius kilometer langit yang sama, tapi sudah mulai merasa merindukannya. Membuat mu berkali-kali menengok layar benda mengkilap yang berpendar kebiruan saat disentuh. Lalu ekspresi mu terlihat begitu kecewa. Dan semua orang tahu akan hal itu, karena kau tidak bisa menyembunyikannya sama sekali.


" Kalo' cici kangen .... telpon saja ".


Dan suara sang ibu berhasil membuatnya benar-benar terlonjak kaget. Lalu semburat merah muda menjalari pipinya yang putih mulus. Ardelia tersipu malu.


" Pasti Raka seneng ", lanjut Palupi ibunya Ardelia.


" Cuma khawatir saja kok mih'. Raka suka lupa makan klo' pas sibuk begini. Semoga aja baik-baik saja... bisa cepet lulus ujiannya, dengan nilai yang memuaskan juga ".


" Amiiin. Oh ya cici' mau nganterin mamih ke tempat Tante Bela ? ".


Ardelia menatap ibunya sesaat .


" Apa masih perlu kesana ? ", balas bertanya dengan tatapan penuh misteri. Ardelia lalu berdiri mendekat pada ibunya yang masih sibuk memberi garnis pada deretan greentea cup cake yang sudah agak dingin itu.


" Tentu saja, dan kali ini spesial .... sangat spesial ". Palupi tersenyum sambil menyodorkan sisa cream butter diujung sendok pada putrinya. " Bagaimana ? ... wangi gurihnya berpadu dengan kesegeran eksotik matcha ".


Ardelia masih mencecapi rasa cream itu. Sepasang mata kucingnya berbinar-binar, pasti karena rasa yang lezat. Dia pun mengacungkan kedua jempolnya.


" Ini saingan beratnya strawberry cheese cake sama sweet red Velvet ? ", tanyanya kemudian.


" Heem... bisa jadi. Yang jelas ... mereka semua punya penggemar fanatik. Oh ya, besok kalau Raka kemari, suguhi dia macho cake ".


" Macho cake ? ", Ardelia mengernyit bingung.


" Yang baru itu loh .... bukannya Rudi kemarin menyuguhkan pada mu ? "..


" Oh.... itu namanya Macho ".


" Kata Rudi ... lebih menjual gitu. Sasaran kita sih memang pria dewasa, rasa coklat pekat yang sedikit pahit dipadu dengan mint segar ".


" Kenapa nggak rasa kopi robusta aja ? ", sela Ardelia.


" Naaah.... itu... menurut Rudi cocok banget disajikan bersama kopi tubruk Indonesia. Minggu ini kita masih test rasa sama pelanggan ".


Ardelia manggut-manggut mendengar penjelasan ibunya tentang menu-menu baru di cafe mereka. Ia jadi merasa bersalah, selama ini ternyata ia sangat tidak perhatian. Begitu banyak hal yang baru diketahuinya, segala sesuatu tentang cafe miliki ibunya ini. Padahal dari sanalah aliran rejeki itu tercurah. Cafe yang tadinya kecil namun karena kegigihan sang ibu, pada akhirnya bisa terus berkembang menjadi seperti sekarang ini. Bahkan mampu membuatnya tidak terkendala untuk biaya pendidikan.


" Mih... jadi ketempat Bela ".


" Tentu saja, mamih dapat jadwal jam lima sore ini. Tepat waktu ... sesi satu jam. Eh .... sekarang jam berapa ? ".


" Jam empat mih ".


" Waduuuuh...... ayo kita berangkat sekarang ".


Wanita itu buru-buru melepas apron nya, memberi instruksi ini itu pada para pegawai, serta tak lupa mengingatkan untuk pesan besok hari. Setelah mencuci tangan dan mengelapnya kering, Palupi dengan diikuti Ardelia putrinya pun melangkah keluar dari tempat yang mulai ramai itu.


" Selama ini .... dua puluh tahun... mungkin lebih... mamih bisa menipu banyak orang, termasuk aku. Kenapa sekarang, ah... maksud ku, kenapa mamih membuka rahasia itu sekarang ... apa alasan kuatnya ? ".


Pertanyaan itu disampaikan Ardelia saat mobil yang dikendarainya mulai melaju membelah keramaian jalan di sore hari. Menuju sebuah ruko dimana adalah tempat sebuah klinik beroperasi. Dan salah satunya adalah praktek psikiater dari seorang kawan ibunya ini. Orang ini jugalah yang telah menginspirasi hingga akhirnya ia juga mengambil pendidikan profesi yang berkaitan dengan masalah psikologis. Seorang Tante baik hati sahabat mamanya, yang tak pernah sedikitpun menjauh bahkan saat kondisi mereka sedang benar-benar terpuruk.


" Capek ngebohong terus ... udah tua ini, masa' sih bikin dosa terus ".


" Itu bukan jawaban yang harusnya ku dengar mih..... serius ah' ", protes Ardelia


" Hi... hi.... hi.... tunggu Tante Bela dooong ", tapi Palupi malah terkikik.


" Ya ... deh.... ".


Setelah memakan waktu lebih dari empat puluh menit, atau lima belas menit lambat, akhirnya mereka sudah tiba di pelataran parkir sebuah kawasan ruko besar. Padatnya lalu lintas tadi membuat Ardelia dan Palupi mempercepat langkahnya begitu turun dari mobil.


Seorang wanita muda tersenyum ramah pada keduanya. Setelah Palupi memberikan sebuah kartu berwarna hijau muda yang langsung diterima untuk kemudian diperiksa dan dicocokkan dengan sebuah aplikasi rekam medik pada sebuah komputer, wanita muda langsung mempersilahkan keduanya untuk masuk.


" Seperti biasa ibu Palupi.... sudah di tunggu dokter Bella di lantai dua ".


Ardelia kemudian berjalan mengikuti langkah ibunya yang menurutnya terlihat lebih bersemangat kali ini. Sesampainya di sebuah ruangan yang di depan pintunya tertera sebuah papan nama kecil ..... dr. Maria Anabela S, Sp.Kj, keduanya berhenti sejenak. Mengetuk perlahan pintu itu, lalu setelah terdengar sahutan dari dalam, langsung membuka pintu dan masuk.


" Selamat sore Bu dokter ", sapa Ardelia dengan ramah pada seorang wanita dengan rambut yang dicat kecoklatan, berkulit putih bersih dengan wajah oriental yang sangat manis.


" Selamat sore... eh' ya ampun Ardelia. Kapan pulang ? ... lama sekali nggak ketemu ".

__ADS_1


Wanita itu menghambur memeluk Ardelia yang juga menyambutnya hangat.


" Sekarang di sini kok Tante... bantu-bantu mamah ".


" Loh ?!... yang di Yogya? dilepas ?", rona keheranan menghinggapi wajah dokter Bella.


" Iya ... tapi baru cari-cari juga disini sih ".


" Wah.. kebetulan kalau gitu. Di sini aja dulu bareng Tante.... klinik ini belum ada psikologi klinisnya. Ya... sambil nunggu mungkin kamu punya inceran yang lebih gede ".


" Gitu ya Tante .... waaah maksih banyak, pasti akan sangat kupertimbangkan ", Ardelia tertawa diikuti dokter Bella.


" Asyik sendiri pada.... jadi lupa ya sama aku ". Suara Palupi yang menyela kehebohan sahabat dan anak gadisnya terdengar bernada sebal. Tapi kemudian berbalas derai-derai tawa dari ketiganya.


" Sorry .... excited banget nih ketemu anak muda keren macem anak lo' ", Bella berusaha membela diri.


" Anak mu juga keren. Oh ya tahun ini selesai ya residensial nya ", balas Palupi.


" Iya... doakan ya semua lancar. Delia masih ingat'kan sama Dave ? pernah satu sekolah dulu waktu SMA ... sebenarnya kakak kelasmu. Tapi kamu yang terlalu pintar, jadi bisa bareng ".


Ardelia mengernyitkan keningnya, ia berusaha mengingat sebuah nama itu. Ya .... sepertinya sangat familiar dan pernah mendengarnya, atau bahkan pernah bertemu dengannya.


" Tuh fotonya ".


Ardelia pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Tante Bela nya. Merujuk pada sebuah foto berbingkai cantik. Menampakkan kemesraan seorang ibu dan anak lelakinya. Pria berkulit putih bersih, bermata sedikit tipis dengan tahu lalat manis menghiasi dagu sebelah kirinya.


" Dave ya.... sepertinya kita pernah bertemu, tapi di ... Semarang kayaknya ".


" Iya... di Semarang memang residen nya. Beneran pernah ketemu ? ".


" Temennya ... dokter Haidar bukan ya?. Itu ... dokter Haidar yang keponakannya dokter Hana yang direkturnya Rumah Sakit AIH ".


" Betul.... looh ... kamu kenal juga rupanya ", Bella terlihat bersemangat.


" Haidar .... oh ya... yang pernah datang sama sepupu perempuannya juga. Hei .... berarti itu kakaknya Raka ? ", Palupi menyela dengan keterkejutannya.


" Iya mih .. ", jawab Ardelia singkat.


Kedua pipi Ardelia tiba-tiba saja bersemburat merah dan menjadi menghangat. Tapi ia menggeleng perlahan.


" Aku ... tidak yakin mih'. Mungkin baru mba Cinta dan Haidar yang tahu ".


" Ehm .... ", Bella berdehem'. " Ayo ngobrolnya dilanjut sambil duduk yuk ".


Bella merangkul pundak ibu dan anak ini. Lalu membawa keduanya duduk di sofa tamu. Tidak di kursi didepan meja konsultasinya.


" Lupi ... sebelum lanjut ngobrolnya.... obat mu sudah habis'kan? . Ada keluhan ? atau.... ".


" Sudah' selesai Bell.... Ardelia sudah tahu kok. Sudah waktunya kita membuka rahasia ini ", Palupi tersenyum lembut menatap sahabatnya.


Sementara dokter Bella sedikit ternganga, hampir tidak mempercayai yang didengarnya. Namun kemudian dia tersenyum dan menatap Ardelia serta Palupi bergantian.


" Ini adalah kisah perjuangan seorang anak, seorang wanita ... seorang ibu ... tapi sebenarnya adalah kisah tentang cinta yang sebenarnya. Kau siap mendengarnya sayang ? ".


" Ya Tante .... ". Ardelia mengangguk penuh keyakinan. Sementara sang ibu menggenggam jemarinya dengan erat dan hangat.


...............


Haidar masih memeluk sang ibu dengan erat ketika Namu kakaknya menepuk pundaknya. Sementara ayah mereka tidak tampak bersama mereka, tapi terdengar suaranya. Karena Namu melakukan panggilan video.


" Papa nih ", Namu menyodorkan panggilan video itu pada adiknya.


" Maaf papah tidak bisa mengantarmu ", suara Mandala terdengar dari seberang sana, tampak pria itu masih berada di dalam kendaraan pribadinya. Sementara di sebelahnya tampak juga Arjuna yang masih sibuk dengan layar laptop.


" Ha.. ha.. ha.. nggak apa-apa. Biasanya juga nggak pernah diantar. Tumben .... ".


" Hei... romantislah sesekali. Bapak mu itu bersusah payah ngomong mesra begitu ", tiba-tiba saja Arjuna yang semula terlihat cuek, kini mulai menimbrung.


" He.. he... he... nggak cocok banget tuh sama imejnya Mr. Bossmand ", dan semakin membuat Haidar terkekeh.


" Okay son, hati-hati dijalan, semoga semua berjalan lancar. Jangan lupa segera kasih kabar setibanya di sana ". Tapi sepertinya Mandala sama sekali tidak terpengaruh.

__ADS_1


" Iya papah... ", tentu saja membuat Haidar segera tersadar jika sorot mata ayah kini benar-benar sedang menyampaikan sebuah rasa sayang, bukan sekedar perhatian dari seorang boss besar. Yang menatapnya kali ini adalah ayah, yang selalu merengkuhnya hangat dulu. Tapi mulai berubah perlahan menjadi sosok yang lebih dingin dan tegas saat ia beranjak remaja.


Tiba-tiba saja Haidar merasakan sebuah belaian lembut di pundaknya, itu adalah jemari sang ibu . Orlin mengenal betul bagaimana Mandala suaminya. Dengan sengaja ia menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab dan tempaan mental untuk putra calon penerusnya kelak. Namun di malam hari, pria perkasa dengan tatapan dingin menusuk seperti sembilu salju itu akan diam-diam mendatangi kamar putra-putrinya satu persatu. Berdiri lama menatap mereka satu persatu dengan tatapan yang sangat hangat dan lembut.


Orlin akan dengan senang hati menceritakan bagaimana ia dan anak-anak menjalani hari. Jika ada permintaan dari para anaknya, Mandala akan sangat susah mengabulkan. Selalu ada syarat dan ketentuan berlaku, tapi sesungguhnya ia selalu berusaha memenuhi keinginan dan kebutuhan putra-putrinya dengan yang terbaik. Dan pria itu akan sangat menjadi cerewet jika apa yang dimaksudkan tidak sesuai dengan ekspektasi.


" Papah juga .... baik-baik di rumah. Kerja jangan ngoyo, ingat buat ajak mamah kencan, jalan-jalan, liburan juga. Karena pasti sekarang kak Namu lebih sibuk lagi. Pacaran .... adooh !!!!! ". Haidar terpekik dengan lebay karena sebuah jitakan mendarat mulus di kepalanya. Tentu saja itu dari kakaknya yang kini menatapnya dengan geram dan malu.


Dari layar telepon itu, tampaklah Mandala dan Arjuna juga tertawa. Memang bukan Haidar namanya jika tidak bisa segera mengalihkan perhatian. Dan tentu saja sasaran empuknya kali ini kakak bucinnya ..... Namu yaaaaaa....


" Pokoknya jangan mau kalah deh sama ... dia ", lanjut Haidar sambil menunjuk kakaknya yang mulai bersungut-sungut kesal.


" Ya..ya.. ya ", jawab Mandala masih dengan terkekeh-kekeh.


" Okay papah ... om Juna, aku pamit dulu ya. And I will gonna miss you so much ... you ... both ".


" Semoga cepat dapat jodoh ya keponakan ganteng ku ".


" Aamiiiiiin.... thanks om Juna ", Haidar terlihat girang.


Setelah panggilan video itu berakhir, Haidar kembali beralih memeluk mamahnya.


" Shalat Dhuha dan Tahajud .... usahakan menjadi paket lengkap shalat wajibmu. Agar setiap langkah mu selalu dalam keridhoan Allah. Jaga nama baik agama, bangsamu dan juga keluarga. Walaupun ..... dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, tapi Haidar ... punya prinsip hidup yang juga harus tetap dipegang teguh. Mama akan selalu mendoakan mu nak ".


" Iya mah. Mamah juga harus tetep semangat seperti biasa .... apalagi mau punya menantu cantik. Tunggu aku pulang ... jangan nikahan mereka dulu ".


Dan kembali Haidar mendapatkan jitakan untuk yang kedua kalinya.


" Cuma empat bulan kak...... ngebet amat. Tunggu bentar napa' ".


" Hal baik itu harus segera disegerakan ", kata Namu terdengar membela diri.


" Hi.. hi.. hi... asli ... ngebet abis ini ... adaow !! ".


Tahukan apa yang terjadi ?. Tentu saja tingkah absurd kakak beradik itu. Yang tampak begitu kekanak-kanakan, persis dua ekor anak kucing yang sedang bermain.


" Hei... sudah ... sudah ... kalian ini, tingkahnya seperti anak kecil saja ". Orlin buru-buru menengahi keduanya yang kini saling tertawa.


" Berangkatlah nak ", dan Orlin pun memberikan kecupan lembut di kening Haidar.


Pemuda kekar dengan pundak yang begitu lebar, serta postur hampir mencapai seratus delapan puluh lima centimeter itu masih terlihat sesekali menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya. Tentu saja membuat Orlin menarik nafas panjang dan sesekali menyusut air mata yang lolos tak kuasa di tahannya.


" Ku kira ... aku bisa menahannya karena sudah pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, saat melepas mu ke Inggris dulu ". Kata Orlin sambil tak lepas memandangi punggung Haidar yang mulai terlihat menghilang dibalik keramaian.


" Itu karena mamah .... seorang mamah ". Namu merengkuh pundak ibunya dengan sayang. " Terimakasih ya mah... sudah jadi mamah terhebat dan tersayang kami ".


Orlin tersenyum, tapi air matanya justru semakin berloncatan tak tertahankan. Namu yang menyadari hal itu buru-buru membimbingnya untuk duduk di kursi tunggu. Lalu memberikan sebuah sapu tangan, dan tetap memeluk pundak sang ibu tercintanya.


" Haidar pasti akan sangat rindu .... masakan mamah, senyuman mamah, juga suara mamah. Persis sama sepertiku dahulu ", Namu berusaha menghibur.


" Iya.... mamah hanya merasa... kalian kok pada cepat sekali sih gedenya ?. Kangeeeen banget sama masa-masa dulu, saat kalian masih kecil-kecil.... masih menangis, berlari, melompat dan tertawa. Kangeeeen sekali sama kak Namu yang baaaikkk tapi sok dewasa... Haidar yang cerewet banyak tanya... Kirana yang manja dan keras kepala ".


" Berarti emang sudah masanya punya cucu ya ", Namu tertawa pelan.


" Mungkin begitu ya. Bisa pesen satu cucu yang lucu dari kamu ? .... segera ? ".


" Ha...ha.. ha... ", Namu tertawa-tawa. " Insyaallah .... dalam satu tahu ini. Doakan ya mah ".


.................


...Author Corner :...


Yang pingin ngintip serunya bagaimana mas Alend 'ngemong' Kirana........ sabar ya.


Kisah cinta dua sejoli itu akan seperti rollercoaster......


Bisa bayangkan bagaimana si sulung ketemu si bungsu 'kan ?


Tapi pada akhirnya ...... keduanya memang tak bisa lepas, terlalu dalam sudah jatuh cintanya.


Pokoknya sabar ya .......

__ADS_1


__ADS_2