
Minggu pagi yang seharusnya tenang dengan acara masak-memasak, menjadi sangat tergagnggu oleh dering nada panggil dari dua sumber berbeda. Rencana belajar membuat masakan Jawa Timur berkuah khas kaldu daging yang hitam dan gurih pun sirna. Rawon tinggal rencana, dan Cinta mendengus kesal pada keadaan yang memaksanya harus segera membuka laptop kembali.
" Dari tadi malam aku menelponnya mba, pesan juga nggak dibaca. Kamu nggak ada kencan hari in dengannya ? ". Tentu yang di maksud oleh Raka adalah Namu-nya yang sudah hampir satu minggu ini menyapapun nyaris tidak sempat.
" Jadi nikah nggak ? ". Jelas ini adalah provokasi ala Raka, yang langsung disambut suara ketus kakaknya.
" Nggak usah manas-manasin deh. Mau mu apa ? ".
" Haidar yang minta tolong, dia sudak kirim file yang harus segera dilihat kak Namu. Aku juga sudah melihatnya, ku kirim padamu juga ".
" Koq nggak dia sendiri yang kirim langsung padaku ? ", protes Cinta karena bertele-telenya masalah ini.
" Dia sedang berusaha kirim ... tapi mungkin masalah jaringan.... "
" Lah ? ... tapi ke kamu bisa ngirim ", Cinta kembali memprotes keras.
" Dia di kereta, tadi ngirim ke akunya pas sebelum naik ".
" Oh .... baik aku lihat ", akhirnya Cinta mulai memahami.
" Mba .... jangan lupa bilang ke kak Namu. Sekalian cari tahu ... posisi mu masih aman apa nggak ? ".
" Ngomong begitu sekali lagi .... nggak akan pernah dapat bantuanku, apalagi tentang Ardelia ".
" Sooorrryyyyy....... becanda' ... biar minggumu nggak kelabu :, Raka tertawa di seberang sana.
" Gara-gara telepon mu .... mingguku sudah jadi kelam ".
Baru saja Raka menutup teleponnya, dan Cinta mulai berkutat dengan layar pipih laptopnya, panggilan kembali masuk. Kali ini video call dari sang adik sepupu yang kini sedang berada di belahan benua lainnya. Terlihat wajah tampan dengan jambang keabu-abuan yang ,enambah pesona, kini sedang tersenyum kearahnya. Dan ia tahu betul apa arti model senyum seperti ini.
" Assalamua'alaikum calon pengantin..... ", Haidar terlihat menyeringai usil. Untung kamu ganteng banget 'Dar.... kalau nggak... tau'deh.
" Kompak bener kalian berdua ... ".
" Siapa ? ... oh Raka ya. Dia sudah menelepon rupanya. Sudah paham maksudku 'kan mba ? ".
" ini baru mau buka email nya.... tunggu lah sebentar .. ".
" Oh okay ... sambil buka sambil aku ngomong dikit ya mba ". Haidar sepertinya benar-benar tidak mau kehilangan waktu percuma sedikitpun. Dengan cara halus, pemuda itu tetap memaksanya konsentrasi pada dua hal sekaligus.
Tidak seperti adiknya yang lebih santai dalam banyak hal terutama pekerjaan, Raka selalu terlihat enjoy dan tidak terbebani, apalagi memasang target yang harus dilampaui. Kalau Haidar..... behh !!! teringat dulu bagaiman adik sepupu itu memuntut dua ilmu yang bertolak belakang dalam waktu yang sama sekaligus, langsung membuatnya migrain dan gastritis akut.
Pada akhirnya, mau tidak mau ia pun mengikuti alur dan gaya yang diciptakan oleh Haidar. Sambil tetap melakukan video call, ia mencermati data keuangan perusahaan yang baru saja diterimanya.
" Perjanjian-perjanjian sebelumnya .... ku sertakan juga. Lihatlah mba, sudah ada yang kutandai .... kau pasti mengerti maksudku, dimana kejanggalannya. Walaupun aku berharap .... aku yang keliru sih, tapi ... ".
" Kalau kau ngoceh terus... aku mana bisa konsentrasi ", geramnya.
" He.. he.. he... sorry.... okay deh. Tapi minta tolong sekali yah... habis ini langsung temui kak Namu. Lagi ngapa dia coba ... dari tadi malam seperti orang primitif tanpa gadget ".
" Heeemmm.... ".
" Okay ... okay ... aku tutup ... ha..ha..ha... assalamu'alaikum ". Dan nampak Haidar tertawa sambil menggigit sesuatu yang terlihat lezat itu.
Tinggalah Cinta yang kini membuka laptop di meja dapur, diiringi tatapan heran asisten rumah tangga keluarga Arjuna. Padahal semua bahan-bahan rawon sudah terpampang berjajar, tapi kini ditepikan.... disingkirakan .... jauuuh, dan berganti dengan laptop.
" Masak Rawonnya mba ? ".
" Tunda ... atau ibu yang masak aja deh. Bakalan lama nih ... huuuuffff ", dan Cinta pun menghela nafas panjang diiringi senyuman kecil si- ibu yang sudah menduga akan hal itu. Dan akhirnya ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan di depan matanya.
" Eh .. pak mau kemana ? ", serunya saat melihat pak Yanto melintas di pintu samping.
" Mau beli lampu non', buat ganti lampu deket wudhu ", jawab pak Yanto yang kemudian mengambil sebuah sepeda motor matic yang terparkir manis.
" Ikut ya pak .. "
" Hah ?! ... ke toko besi ? ", pak Yanto kelihatan bingung.
" Nggak lah. Nebeng sampai tempat Om Mandala ".
" Ooooh.... ya Non, ayo ".
Demikianlah, akhirnya Cinta terdampar di tempat nyaman, sepi tapi cukup berbahaya ini ... ehm!, tahu kan' kenapa?. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengajak pergi si sumber bahaya, agar jangan ada kesempatan yang memuluskan jalan niat.
" Kenapa nggak delivery food saja sih ? ", gerutu Namu sang sumber bahaya. Walaupun ia tidak menolak ajakan Cinta untuk keluar mencari makan siang.
" Ke tempat Ardelia saja ... aku sudah pesan kok. Nggak bakalan lama ... nih.... sudah ku tambahkan urgently -nya ". Dengan bodoh Cinta memperlihat layar handphone nya pada Namu. Tentu saja pria itu tidak sempat membaca tulisan .... ' Kami lapar berat, jangan pakai lama ya'.
" Kamu pesan apa ? ", tanya Namu lagi.
" Salmon griled, salad, sama es teler.... perpaduan yang yahud 'kan ".
" Padahal aku pingin makan rawon ... ".
Glegh !!!!..... pengin nangis nggak sih dengernya ?. Dan ini semua gara-gara dua adik nackal yang hiperaktif itu. Hwaaaaaa....., menjerit dalam hati.
" Koq jadi diem ?... kenapa ? ".
" Kamu pasti ngamuk kalau aku katakan yang sebenarnya ".
" Heh ?!!... ada apa ?", Namu langsung membeliak penasaran. " Kenapa sampai harus ngamuk ? ".
__ADS_1
" Aku tadi... sedang dalam proses masak rawon saat duo nackal itu ttidak berhenti menelponku ... dan memaksaku harus cepat menemuimu ".
" Waah..... ngamuk nih ... beneran ngamuk nih ... ". Namu pun menunjukan ekspresi marahnya yang justru terlihat konyol. " Nanti kita cincang mereka bareng-bareng ... ".
......................................
Ardelia tersenyum memperhatikan dua orang yang terlihat begitu menikamati sajian spesial hari ini. Kemudian ia pun berinisiatif menambahkan dua porsi potato wedges dan satu porsi besar tropical fruits.
" Yang ini spesial dariku ", ujarnya sambil tersenyum. " Silahkan dinikmati ... aku tinggal dulu ya ".
Namu dan Cinta tersenyum, tak ada suara sebagai jawaban. Tapi keduanya kompak mengacungkan dua jempol sambil masih sibuk mengunyah. Sementara itu Ardelia tertawa kecil sambil masuk ke dalam kantornya. Tepat berpapasan denga ibunya yang baru saja akan keluar.
" Mau kemana Mih ? ", sapanya. " Tumben ... cantik amat .. ".
" Emang biasanya nggak cantik ya ? :.
Ardelia tertawa, lalu memeluk tubuh wanita yang sedikit lebih kurus darinya itu. " Hari ini ... ehm... maksudku, tiap hari terlihat makin cantik sepertinya ".
" Halah ... sudah makin jago nih ngegombalnya, seperti bang Raka ya ? ".
" Ihh... mamih ... gitu deh. Mau kemana sih sebenarnya ? ". Ardelia tidak melepasakan pelukannya.
" Mau ketemuan sama tante Bella dan tante Faizha ... mau ikut ? ".
Tapi Ardelia menggeleng cepat, kendati senyuman tak lepas dari bibrnya. " Ada kak Namu dan Mba Cinta di depan... baru makan. Nanti kami akan bicara ... ".
" Oh ya ?... waaah... kalau begitu kamu memang harus tetap di sini nak. Mama sapa mereka dulu ya... lansung berangkat habis itu ". Dan ibunya yang cantik dan manis itu terlihat penuh dengan rona semangat.
" Ya Mih ... hati-hati ya. Salam buat tante Bella dan tante Faizha ".
" Okay ... bye... cici cantik ".
Ardelia tersenyum, hatinya begitu hangat walaupun ada perasaan perih yang panjang. Melihat seorang wanita yang dengan suka rela terdepak dari jajaran ahli warius keluarga, dicap sebagai orang berpenyakit mental ... orang dengan gangguan jiwa. Tapi sebenanrya adalah seorang wanita yang sangat cerdas dengan perhitungan yang dan predeksi yang sangat matang. Dan ia rela menerima semua perlakuan tidak adil itu demi melindungi dirinya, anak semata wayang. Yang sebenarnya juga bukan buah cinta, tapi hasil dari perkawinan yang sangat dipenuhi dengan kerakahan.
Ardelia menghela nafas panjang, menghembuskannya perlahan sambil menyusut tangis yang menyudut. tapi kemudian ia tersenyum, dengan perasaan sedikit lega. Karena perlahan-lahan semua kesengsaraan dan ketidakadilan ini pasti akan segera terbayar.
Ketika itulah telepon genggamnya meraung meminta perhatian. Dan seraut wajah yang terlihat sedikit kuyu namun tetap berbalut senyum manis, kini memenuhi layar telephone nya. Itu adalah Raka yang masih bertugas di hari minggunya. Ardelia tersenyum melihatnya, dia baru saja berfikiran hendak menelpon, tapi sudah kedahuluan.
" Hai ... cantik... ", sapa pria itu, yang langsung membuatnya tersipu.
" Pak dokter apa kabar ? ", sapanya. " Semangat ya ... semoga lancar dan mendapatkan kesempurnaan ".
" Amiin ... eh, sudah dapat kabar tentang Keanu ? ".
" Barusan kak Namu bilang... katanya Keanu itu orang baik, dan sekarang sudah tidak di Indonesia lagi. Keluarganya... sepertinya ... tidak menganggap ... ah, maksudku... mungkin dia diperlakukan hampir sama sepertti ku, di keluarganya ".
" Keanu .... jelas dia seperti malaikat di keluarga Sanjaya. Seratus delapn puluh derajat berbeda dengan Sakala. Dan dia .... anak dari istri yang tidak pernah di nikahi secara resmi ".
" Abang ... kurang tidur ya ? ", jelas Ardelia terlihat sangat khawatir
Wajah di layar handphone nya itu tersenyum, lalu berubah menjadi tawa.
" Kelihatan sekali dari situ ya ? ".
Ardelia mengangguk saja, dan menatap lama wajah yang kini terlihat sedikit tirus. Walaupun pesonanya tak memudar sedikitpu, malah berkali-kali lipat bertambah.
" Ardelia ... ".
" Ya ".
" Aku ingin mendengarnya lagi... ".
" Hah ? apa ?.. ", sontak saja Ardelia menjadi sangat kebingungan.
" Abang .... kau memanggilku begitu..... aku suka sekali ". Raka tersenyum, sangat manis dan tulus. Tudak ada keusilan dan seringai yang menggoda memyebalkan seperti biasanya. Tapi hal itu justru membuat Ardelia semakin tersipu malu. " Kok malah diem .... nungguin nih ... ".
" Abang ... I miss you ". Huaaa..... jangan tanya betapa malunya Ardelia, tapi ia sendiripun tidak mengerti dengan keberanian yang begitu tidak tahu diri itu. Bersiap saja mendengar ledakan tawa dari Raka .
" Kau membuatku .... jadi semakin tidak betah disini sayang ". Tapi Ardelia sangat keliru. Tidak sedikitpun nampak pria muda yang masih mengenakan seragam kerja berwarna biru laut dengan bordiran nama di dada kanannya 'dr. Narendra Raka Dipa ' itu memperlihatkan raut wajah usil khas dirinya.
" Delapan hari lagi ... itu terasa seperti satu windu. Atau... bisakah kau menyusulku kemari ? ".
Ardelia langsung tersipu malu, tapi batinnya berseru mengiyakan.
" Tidak ah ... aku menunggu abang disini saja. Kalau aku menyusul... nanti abang malah nggak bisa konsentrasi. Aku berdoa saja ya dari sini ... ".
Raka tidak menjawab, ia hanya mengangguk-angguk. Tapi senyuman dibibirnya yang berbalas dengan senyuman dari Ardelia, jelas menunjukan jika sepasang insan itu sedang saling menggenggam perasaannya. Saling menatap cukup lama, seolah-olah tatapan itu telah saling merengkuh jiwa. Membawa dua hati dalam tarian cinta yang menenangkan. Cukup dengan saling mentap saja, sepertinya mereka telah saling memahami isi hati.
" Ardelia... ".
" Ya.. ".
" Maafkan abang ... nanti, kau akan mengerti kenapa aku harus melakukan itu ".
Ardelia ternganga keheranan, ia sama sekali tidak mengerti apa arti kata-kata Raka.
" Ada apa ? ... kenapa ? ".
Tapi Raka tersenyum lembut, tak kunjung menjawab kebingungan Ardelia.
__ADS_1
" Semoga engaku bisa mengerti... semoga engaku bisa memaafkan. I love you ... so much, I love you ... trust me ".
" Bang ... kau membuatku takut ". Suara Ardelia tercekat.
' Tok.. tok.. tok.. ', tiba-tiba pintu ruangan di ketuk dari luar, membuyarkan ketegangan yang tiba-tiba merayap di hati Ardelia.
" Maaf mba Delia ... ini ada Mba Cinta dan Mas Namu yang mau ketemu ", suara dari balik pintu.
" Ah ya... silahkan masuk ", seru Ardelia setengah tergergap.
Senyuman manis Cinta yang masuk beriringan dengan Namu, sesaat mengalihkan rasa takut yang tadi sempat mencengkeram. Suara Cinta yang ramah menyapa mengalihkan rasa penasaran, bahkan sesaat membuat Ardelia lupa jika sedang berbicara dengan Raka.
" Halo cantik.... waduuuh.... ngenganggu nggak nih ? ", sapa Cinta dengan ramah.
" Mba .. mas ... ayo.. mari silahkan duduk ".
" Eh ... selesaiin dulu deh teleponnya. Nggak pa-pa kok ", kata Cinta lagi.
" Nggak pa-pa ... ini dari ...Raka kok ". Ardelia tersenyum kikuk sambil memperlihatkan layar teleponnya pada Cinta dan Namu.
" Nah lo' kebeneran .. Kak Namu, sudah baca email haidar belum ?". Suara Raka langsung memabahana dengan tanya begitu melihat sosok Namu di samping kakak perempuannya.
" Sudah ... sudah... ini tadi baru dibahas dengan mba' mu ", jawab Namu kalem. " Habis ini kita kirim review ke kalian ".
" Kok ? .. aku juga ? ", jelas ini adalah respon protes dari Raka. " Apa hubungannya dengan ku ?. Hei... jangan macam-macam ya ... aku mau ujian, jangan jadi syaithon penganggu.... ".
" Kamu harus tahu juga dong. Sedikit banyak ini bidang kalian ".
" Wah ... repot nih ", balas Raka pada Namu. " Delia ... sayang, bisa ku lihat wajahmu saja ?. Melihat mereka berdua membuat fungsi hormonku terganggu ".
Jika Ardelia tersipu dan menahan tawa, maka Cinta dan Namu langsung mengancungkan tinjunya.
" Sudah dulu ya... aku tutup telponnya ", kata Ardelia pada akhirnya, mengakhiri panggilan itu. Melambai pada Raka yang bersiap memberikan sebuah kecupan dengan memonyongakan bibirnya, tapi Ardelia segera memutus dan menghindari rasa malu karena sikap Raka itu.
" Haaah... anak nakal itu ", gumam Cinta. " Eh baru sibuk nggak nih ? ".
" Nggak lah mba... ayo duduk ... duduk.. ", Ardelia mempersilahkan.
Ketiganya lalu duduk setingah melingkar di sofa, sambil memulai berbincang dengan hangat.
" Delia sehat' kan ? ", tanya Cinta sambil memperhatikan dengan seksama pada paras gadis berkulit putih dengan sepasang mata runcing yang indah itu.
" Sehat kok kak ... alhamdulilah ".
" Harus tetep semangat, jangan capek-capek ya ... jangan stres. Pokoknya .... pikirkan yang indah-indah saja ".
" Iya .. iya kak ". Tapi sebenarnya Ardelia sangat bingung dengan semua yang dikatan Cinta. Apalagi tatapan wanita itu terlihat begitu mengkhawatirkannya.
" Mama... mama ... sangat ingin bertemu denag mu. Tapi Raka belum mengijinkannya. Suruh nunggu sampai ujiannya selesai. Pokoknya ... yang sabar ya cantik ".
Dan seribu tanda tanya pun berdesak-desakan dalam benak Ardelia. Tapi ia hanya bisa menatap kakak perempuan yang cantik itu. Dan perasaannya menghangat oleh bahagia, ah .... begini rupanya jika memiliki keluarga yang semestinya. Waluapun ia kebingungan, tapi tetap tersenyum.
__ADS_1