
Dua wanita itu saling berhadapan berbincang dengan hangat, tertawa lepas seperti perasaan senang saat menerbangkan ribuan merpati ke angkasa. Sementara tak jauh dari tempat mereka duduk, seorang anak kecil secantik peri hutan tengah bermain dengan dua ekor kucing gemuk sambil terus berceloteh riang. Sesekali ia menoleh pada dua wanita dewasa tak jauh darinya, hanya untuk sekedar meminta persetujuan atas argumen berupa celotehan lucu yang meluncur dari bibir tipis berwarna sesegar strawberry.
" Benar 'kan Mom ? ".
" Tante ikut 'kan ? "
" Apa aku bisa ikut terbang bersama peri ... ?".
" Mom, lihat! ini punya princes ... "
Dan masih banyak lagi celoteh riang dari si cantik Leisel. Sementara itu Sellma ibunya Leisel dan Hanin Hanania semakin asyik berbincang. Dua orang wanita yang pernah terluka, dan kini telah memutuskan untuk memilih bahagia. Seperti dua orang kakak beradik, walaupun kecantikan mereka sangat berbeda tapi kedekatan rasa yang nampak seperti menyiratkan sebuah persaudaraan sessungguhnya.
" Kalau keadaan hidupku sudah stabil, aku akan berkunjung ke Indonesia. Semoga wawancara kerjaku kemarin membuahkan hasil ya ". Sinar mata Sellma menyiratkan pengaharapan yang begitu besar.
" Bukankah Tuhan itu maha pengasih, orang baik dan tegar sepertimu pasti akan lebih banyak mendapatkan kemudahan dan pertolongan ".
" Sesungguhnya aku pernah marah pada Tuhan, karena sepertinya Dia mengabaikanku hingga aku kehilangan rasa percaya akan keberadaan -Nya. Tapi lihatlah keajaiban disana itu ", Sellma menoleh pada si kecil Leil dan melambaikan tangannya pada putri cantinya itu. *" Dia menyadarkan ku. Aku salah selama i*ni ".
" Dia malaikat kecilmu 'kan ?. Malaikat yang sangat cantik ". Tukas Hanin menanggapi
" Malaikat tercantik yang pernah kutemui ... ". Suara berat itu menyeruak di senja yang mulai tergelincir.
" Bang Key , katanya sibuk, nggak bisa ikut. Lah ini ?", seru Hanin yang membuat Sellma mengernyitkan kening, tentu saja ! karena itu bahasa yang asing di telinga wanita itu.
" Hai Sellma, Halo Leil ? boleh paman ikut bermain dengan si gemuk itu ". Keanu yang tiba-tiba saja sudah ikut bergabung di beranda, menyapa dengan cepat seolah hanya mempedulikan Leisel yang nampak gemas bermain dengan kucing-kucing gemuknya.
" Dia bilang sibuk saat aku mengajaknya tadi siang. Entah angin apa yang membuatnya berubah haluan ".
" Nin, kalau tadi siang memang sibuk. Kejar target. Sore sampai malam sih free. Sekalian jemput kamu dan buat laporan ke tuan muda boss dong ".
" Ada gitu yang masih kerja di Sabtu pagi ? ", sindir Hanin sambil mengerucutkan bibirnya pada Keanu.
" Ada , depan muka lo' ".
" Halaah ... alasan sesungguhnya sih bukan itu. Iya 'kan ?. Modus lo' kebaca jelas bang Keeeeey .. ", dan Hanin pun tertawa lepas menggoda Keanu yang kini wajahnya bersemu merah namun juga ikut tertawa.
" Apakah adil jika hanya kalian berdua saja yang bisa tertawa ? ", itu adalah Sellma yang memprotes karena dia tersesat di dunia bahasa yang tak dipahaminya. " Sepertinya aku harus segera ikut kursus bahasa Indonesia juga. Biar tidak anfal karena penasaran pada konspirasi kalian ".
" Ha..ha..ha.. tenang Sellma, konspirasi kami hanya untuk membahagiakanmu seorang kok. Betul 'kan bang Key ? ". Hanin kembali menggoda dan bersambut rona merah pada wajah Sellma dan juga Keanu yang sama-sama tersipu-sipu.
............................
Raka datang hampir bersamaan dengan kedatangan Haidar. Bertepatan dengan Raka yang baru saja selesai mengkonfirmasi sederet pesanan seperti yang sudah di minta Haidar. Si mba yang melayani untung saja sudah sangat profesional, sehingga bisa menyembunyikan senyuman dengan manis ketika mengetahui bahwa seluruh pesanan itu hanya untuk dua orang saja.
__ADS_1
" Itu saja pak ? ", tanya si mba' dengan sopan.
" Ya, sementara itu dulu. Nanti bisa tambah mba, lama perang soalnya. Ketemunya cuma kepingan granat sama proyektil peluru ".
" Apa 'lo ?! ", dan sebuah tinju melayang ringan menyambangi lengan Raka yang berotot. Haidar yang baru saja datang, langsung menyebelahi sepupunya. Sementara sepasang mata pemuda bongsor itupun dengan sigap memindai deretan menu yang sudah dipesan Raka. " Nggak pake lama ya mba ", timpalnya kemudian.
" Kau mengecewakan ku brother ", kata Haidar begitu keduanya menemukan tempat duduk strategis sesuai dengan nomor meja yang mereka pesan . " Ku pikir, begitu sampai sini sudah akan disambut sama si kelapa muda yang manis dan sweegeeeer ... nggak tahunya, baru dipesen ".
" Sorry ... ketiduran. Kayak yang nggak pernah jaga malam aja lo' ". Raka berkilah sambil duduk nyaman di hadapan Haidar. " Kalau bulan depan gue langsung nikah gimana ?. nggak usah sesi tunangan, kelamaan ".
" Sudah ngomong sama Ardel belum ?. Kalau dia iyes, ya nggak masalah ".
" Dia sih bisa dipaksa ". Cuek Raka menjawabnya, pemuda yang belum sempat merapikan deretan rambut halus yang mulai melebat di area pipi dan dagu itu, malah sibuk menikmati kerupuk kulit sapi yang terhidang.
" Busyet, bang jagoooo...... main paksa aja. Lah, terus masalahnya apa ? ", kini Haidar yang terlihat lebih antusias mencecar.
" Kata mamah, tidak baik menikahkan anak dalam tahun yang sama. Suruh nunggu sampai tahun depan. Tapi jujur aja, aku nggak bisa. Firasatku berkata, dia harus segera kunikahi ... ".
" Jujur ... ", Haidar mendekat pada Raka yang duduk di hadapannya. " Sudah lo' apain Ardel ? ". Selidik Haidar dengan tatapan tajam menelisik sepupu brewoknya itu.
" Hei !! ", giliran Raka yang mendelik telak membalas tatapan Raka. " Dia masih segel'an rapi, rapat... orisinil. Tahu batas lah gue' sama yang beginian. Emang gue bre-ngsek, tapi kalau buat Ardel .... 'kan kujaga sepenuh hati berpagar keperkasaan yang hakiki... alim gue' kalo' sama dia ".
" Syukur deh kalo' gitu .... ya saran gue sih, sabar aja. Turuti nasihat orang tua, innsya allah barokah. Mungkin maksudnya tante Hana juga baik, kalau tahun depan .... 'kan kita bisa nikah bareng-bareng gitu ".
" Tresno jalaran soko kulino .... kata mama Lin. Harus ku buktikan. Lagian, seru'kan kalo kita bisa nikah bareng. Menuruti nasehat orang tua itu baik, tidak ada salahnya 'kan kalau cuma mundur delpan sampai sepuluh bulan lagi ".
" Dar, kau bisa jaga satu rahasia lagi .... dari Ardel ? ".
Dan sepasang alis tebal Haidar pun terangkat demi keterkejutannya mendengan pertanyaan Raka. Dari wajah serius yang nampak begitu tegas itu, tak terlihat sedikitpun kesan main-main atau kebiasaan bercanda akut yang selama ini menggelayut disetiap gesture pria tampan ini. Membuat Haidar menjadi lebih yakin, jika semua yang akan diutarakan oleh sepupunya itu, tidaklah sesederhana kelihatannya.
......................................
Datang pada sang mama yang lembut, baik hati namun punya kecerdasan mengagumkan adalah menjadi hal terakhir yang pasti akan selalu dilakukan Haidar setiap dia merasa tak percaya diri pada setiap hal yang akan dilakukan. Namun kali ini, dia datang bersama dengan Raka dan juga Namu kakaknya. Kedatangan tiga orang pria muda yang rupawan di malam itu, memmbuat Orlin mengernyitkan kening karena tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Pasti ada hal mendesak yang sangat krusial, sehingga membuat tiga orang pria muda kesayangannya ini, yang tentunya dengan usaha sangat luar biasa akhirnya bisa berkumpul untuk segera menemuinya.
" Selamat malam bu Orlin.... ", sapa Namu dengan wajah bersihnya yang selalu nampak bersinar. " Ini, saya bawa dua pasien, mantan anak-anak bengal ".
Orlin tertawa mendengar kelakar putra sulungnya sambil memberikan kecupan lembut pada kening pria muda berkulit bersih yang kini sedikit membungkuk sambil tetap memeluk dirinya. Sesaat kemudia berganti dengan Haidar yang menurutnya selalu bertambah bongsor setiap harinya, seolah-olah pemuda ini tak mengenal masa efektif bekerjanya hormon pertumbuhan.
" Jika ini bukan karena masalah perusahan, pasti masalah wanita yang kalian cintai ? ", tebak Orlin sambil merapikan jas warna putihnya. " Apa ada ngidamnya Cinta yang bikin kamu pusing sayang ? ".
" Bukan kok Mah, masih aman ... ", sahut Namu dengan cepat seraya menyunggingkan senyuman dengan proporsi tiga puluh persen membenarkan, tiga puluh persen bahagia, dan empat puluh persen sisanya ... gariiiing.
" Atau ada masalah lagi dengan si cantikmu di Jerman ?. atau dengan bu psikiater cantikmu Raka ? ", tebak Orlin dengan telak membuat Raka yang baru saja mencium punggung tangannya, menjadi tergelak.
__ADS_1
" Setelah dua bang bro' ini tidak bisa membantuku menemukan solusi yang tepat.... satu-satunya peri cinta harapanku tentu saja tante Orlin dong ".
Orlin mencibir sambil bersandar pada kursinya dengan nyaman, bersiap mendengarkan semua yang akan dituturkan oleh keponakannya. " Tapi, bagaimana jika aku nggak bisa membantu mu nantinya ? ".
" Setidaknya, aku sudah cerita sama tante ". Tukas Raka dengan cepat. Membuat Orlin kembali tertawa kecil sambil bersiap mendengar semua keluh kesah dari sang keponakan.
" Jadi ini tentang ..... ".
" Ardelia tante, .. tepatnya papah nya ".
Terkadang ada sebuah percikan cerita yang seperti sebuah kepingan dari kisah lalu. Tepatnya mungkin seperti sebuah kulture jaringan yang dikembangkan dari secuil kisah yang sama. Mungkin karena Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang selalu memberikan kesempatan pada hambanya untuk memperbaiki diri dengan menolong sesama, kemudian bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setidaknya, demikianlah Orlin memaknai setiap derai cerita yang mengalir dari bibir Raka.
Bukankah sepasang mata pemuda itu telah cukup menyiratkan betapa tulus dan mendalamnya rasa cinta yang dimiliki. Ketika dia tidak lagi memikirkan hatinya, tapi bagaimana menjaga hati seorang wanita yang telah mencuri separuh nafasnya. Bukankah sangat manis, cinta yang seperti itu ?. Dan untuk Orlin, dia tidak akan bisa menolak permohonan indah seorang anak muda yang sedang menjaga cinta sucinya.
" Papi nya Ardel... sudah stadium berapa ?. Hasil pemeriksaan terakhir ? ".
" Aku, tidak berani bertanya lebih dalam lagi tante. Tapi aku sudah memastikannya, benar kalau Om Dany pasien dokter Zang ".
" Oh.. ", Orlin manggut-manggut. Dokter Zang yang dimaksud oleh Raka pastilah dokter Lee Zang Gunawan seorang ahli onokologi yang baru terkenal akhir-akhir ini karena keberhasilannya untuk pengobatan kanker dengan menggabungkan cara timur dan barat. Begitulah orang kebanyakan mengistilahkan pengobatan kedokteran asal Tingkok dengan metode pengobatan kedokteran modern. " Bukankah masih ada peluang yang cukup besar ?".
" Kebiasaan minum alkohol memperparah sirosis -nya. Belum lagi komplikasi dengan ganguan fungsi ginjal ".
Walaupun menjadi satu-satunya yang tidak berprofesi sebagai seorang praktisi medis di ruangan itu, tapi istilah-istilah itu sudah sangat familier di telinga seorang Namu. Selain karena Raka telah sedikit banyak bercerita sebelumnya, tentu saja karena ia juga terbiasa mendengar diskusi dari ibu dan kedua adiknya mengenai banyak hal tentang kedokteran. Ia paham apa dan bagaimana itu sirosis hati dan komplikasi atau stadium lanjut dari berbagai penyakit hati terjadi dan seberapa parahnya. Setidaknya untuk orang umum seperti dirinya, skala kepentingan dan mendesaknya masalah yang sedang dihadapi Raka sepupunya, dapat ia pahami dengan jelas.
" Raka, tante Lin dulu pernah berada diposisi yang sama dengan Ardelia. Sempat marah juga sama om mu, sama eyang kakung kalian juga. Jelas-jelas yang ini anaknya, tapi malah nggak diberitahu. Malah om mu yang di kasih tahu duluan, dipesin ini itu lagi, sebel 'kan. Tapi begitulah orang tua. Rasa cinta mereka, membuat mereka tak bisa berpikir logis, karena terlalu takut membuat seorang putri kesayangannya bersedih ".
Orlin menatap Raka yang terlihat menghela nafas. Menunggu sesaat jika ada kalimat yang akan disampaikan oleh keponakannya itu. Tapi setelah beberapa saat keheningan mencengkeram, Orlim memutuskan untuk kembali mengambil kendali percakapan.
" Sampaikan perlahan pada Ardelia, buat dia berjanji untuk tetap bersikap baik-baik saja terutama di hadapan papih nya.... ".
" Ardelia sepertinya kurang peduli dengan berbagai hal tentang papih nya. Tapi entahlah ?, mungkin rasa sakit yang selama ini menderanya sudah mematikan rasa sayangnya sebagai anak ", sambar Raka dengan cepat.
" Bagaimanapun itu, cobalah sentuh hatinya. Katakan yang sebenarnya, dia gadis yang lembut hati tapi terlalu pandai menyembunyikan perasaan. Kau tidak akan pernah tahu yang sebenarnya, jika tak kau coba ".
" Ardelia.... ", tapi Raka kembali menelan ludahnya berikut sederet kalimat yang sebenarnya telah berbaris rapi dan siap meluncur manis. Tapi pemuda itu memilih mengunci rapat kembali semuanya untuk dirinya sendiri.
" Jika kau dan Delia sudah sepakat, urusan mamah mu bukan hal rumit. Itu urusan tante, kita selesaikan bagian kita masing-masing ya. Yang jelas kau harus satu suara dulu dengan nona itu ".
Orlin menyentuh punggung tangan keponakannya yang kini nampak gusar mengusap wajahnya.
" Kau tidak ingkar janji... hanya saja, sebagai anak kandungnya, Ardelia juga harus mengerti hal ini ". Kembali Orlin berusaha meyakinkan Raka.
" Ardelia selalu yakin, jika ... papihnya hanya akan mengambil untung besar dari pernikahan kami. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya seratus persen, kita semua tahu bagaimana carut-marut keluarganya. Aku juga sangat memahami keinginan terbesarnya untuk bisa hidup terbebas dari cengkeraman keluarga besar ayahnya ".
__ADS_1
" Kau pasti sangat mencintainya " . Orlin mengacak-acak rambut keponakannya dengan lembut. " Bicaralah perlahan dengan Ardelia, selami lagi hatinya ... kau akan mengerti, kau pasti bisa . Kita semua ada disini untuk membantu mu , okay ? ".