
Rencana awalnya dari memajukan jadwal keberangkatan 'sih, ya biar bisa lebih lama menikmati waktu dengan si cantik itu. Ternyata curi strat itu memang perbuatan curang yang pastinya nggak berkah, buktinya ini. Haidar yang rela berlelah-lelah dan berpileg-pileg berangkat ke Swiss pake transit dulu di Dubai karena nggak dapat penerbangan lain, nyatanya pagi ini sudah tenggelam bersama tiga orang support timnya. Bergelut dengan data-data yang menari-nari statis, nggak ada indahnya sama sekali. Mencermati profil perusahaan yang direncanakan akan segera di akuisisi sahamnya dari sebuah perusahaan besar lainnya. Belum lagi dua orang pria berumur empat puluh tahun yang betah banget nyerocos tentang probabilitas QE dan QT, atau si Quantitative Easing dan Quantitative Tightening ... alamaaaak pusingnya.
" Pak Mandala itu orang yang sangat visioner. Saya yakin beliau pasti punya pertimbangan matang untuk berani meng-akuisisi kali ini. Semua pebisnis tahu jaman sulit masa resesi ini, tapi ayah anda itu punya kemampuan menganalisa yang luar biasa .. ", puji pak Haris yang asli orang Indonesia itu.
Ya emang sih ... tapi nggak harus gue makan mentah-mentah kale' itu perintahnya !!!!. Haidar menggerutu kecil dalam hati, sementara ia tetap berkonsentrasi dengan segala hal memusingkan di atas meja yang sedang dipelototinya.
" Bapak butuh waktu sendiri ?, atau butuh kami tetap di sini ? ", tanya si bapak satunya lagi yang tadi memperkenalkan diri dengan nama Howard.
" Ah tidak apa-apa, kalian di sini saja. Beri ku tiga puluh menit .... untuk memahaminya. Bisa tenang sebentar ya ? ". Pinta Haidar dengan sopan.
Tiga puluh menit yang berjalan kemudian hanya memperdengarkan suara Haidar yang sesekali bergumam kecil, atau suara coretan-coretan yang di buat pria itu sebagai sebuah catatan. Wajah tampannya terlihat semakin tampan saat sedang serius begitu. Dan pendapat ini tentunya juga sangat disetujui oleh sepasang mata yang dari awal kedatangannya tadi telah terpesona dengan pria boss barunya ini.
Seorang gadis cantik dengan postur aduhai yang datang mendampingi dua manajer besar untuk menemui sang putra mahkota kerajaan bisnis Arsenio. Ia melirik pada dirinya sendiri , memantas untuk pakaian yang dikenakannya... ah tidak terlalu buruk. Dan mencoba mengamati pendaran wajahnya yang terpantau dari kaca jendela penthouse itu, dan meyakinkan kalau ia juga cukup mempesona. Gadis itu bernama Velinda yang adalah keponakan dari pak Haris, yang baru saja menyelesaikan gelar masternya dan kini sedang magang di perusahaan tempat sang paman bekerja.
" Okay mr.Howard... apa saja yang harus saya persiapkan untuk lusa ? ", ternyata Haidar telah selesai dan itu tidak butuh waktu genap tiga puluh menit.
" Bukan lusa, tapi besok siang setelah jam makan siang ", ralat Howard dengan cepat.
" Oh... okay ", Haidar menganguk-angguk sesaat. " Tapi untuk lusa, saya minta kosongkan jadwalku dari jam sepuluh sampai jam dua belas ".
" Bapak ada janji lain ? ", kali ini yang bertanya pak Haris.
" Ya ".
" Perlu kami dampingi pak ? ", kali ini yang berbaik hati menawarkan adalah Velinda yang sudah sejak tadi berusha keras mencari celah untuk bisa masuk dalam pembicaraan. Serta berharap pria ini akan mulai terpesona dengan segala kelebihan yang di milikinya.
" Ah tidak, terimakasih ", Haidar menjawab dengan sedikit mengangkat wajahnya dan mentap sekilas pada Velinda. Kemudian kembali menekuri layar laptopnya.
" Pak Mandala berpesan pada kami untuk sepenuhnya mendukung bapak, dalam hal apapun. Jadi sepertinya tidak perlu sungkan ", Haris menyela demi meyakinkan Haidar.
" Terimaksih pak Haris, hanya saja lusa itu aku akan mengantar calon istriku ke bandara. Ia akan pulang ke Indonesia duluan ".
" Oh ... gegitu ya, tapi kami siap jika bapak membutuhkan kami ", dan Howard pun terkekh-kekeh begitu juga dengan Haris, serta Velinda yang nampak juga tersenyum kecil.
Kraaaak ...bumm!!!!. Itu bukanlah suara dahan kayu yang patah lalu jatuh berdebum, tapi itu suara patahan hati Velinda yang jatuh membentur bumi dengan keras. Tahu 'kan kenapa ?.
....................................
Hanin masih duduk diatas tempat tidur king zise nya bersama Sellma di hadapannya yang masih sibuk mengepang rambut Leisel. Tapi tatapan penuh penghakiman dari wanita muda itu membuat Hanin merasa sangat serba salah.
" So ?, ada yang ingin kau sampaikan padaku ? ".
" Sorry .... ", kata Hanin lirih sambil sesekali menunduk menghindari tatapan penuh selidik dari Sellma.
" Yakin cuma sorry ?, nggak ada yang ingin kau ceritakan padaku ?. Atau malam itu terlalu indah untuk mu berbagi cerita dengan ku ? ".
" Ya ampuuun Sellma... aku mohon maaf membuat mu menunggu. Tapi sungguh, aku hanya ketiduran setelah ngobrol panjang lebar dengannya ".
" Kau ketiduran, tapi Haidar aktif terbangun ? ".
" Kau malah membuatku takut ... ", rajuk Hanin.
" Oh dear.... kau ini. Bagaimana bisa kau tertidur di sarang macan ?. Apa kau yakin di tidak memakanmu ? ".
" Sellmaaaa.... kau membuatku semakin takut ", jerit Hanin yang kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
" Tante Hanin kenapa ? ", Leisel bertanya penuh keheranan.
" Oh itu... tadi malam tante Hanin lihat ada kelinci masuk ke kandang macan ".
" Terus dimakan dong kelincinya ? ", tanya Leisel penuh keluguan yang menyesakkan bagi Hanin.
__ADS_1
" Belum tahu sayang, kita tunggu tante Hanin cerita ya ".
" Sellma !!!... kau tidak membantuku sama sekali ", dan Hanin bersungut-sungut namun dengan suara yang terdengar seperti isakan kecil.
" Kau sudah dewasa sayang, sudah bisa bertanggung jawab sepenuhnya pada apa yang kau lakukan. Toh kalian berdua saling mencintai 'kan ? . Apa salahnya jika sudah melakukan itu ". Sepertinya Sellma berusaha menenagkan, tapi apa yang disampaikannya justru membuat Hanin makin frusstasi.
" Demi Tuhan tidak terjadi apa-apa diantara kami.... hanya terlalu lelah dan ketiduran ".
Tapi Sellma justru tertawa, dari terkikik geli hingga terbahak-bahak dengan lepas. Sementara Hanin mulai berguling-guling kesal di atas ranjang. Kesal pada kekonyolannya sendiri, menyesal karena tak bisa menahan kantuk dan lelah yang menyerang raga hingga ia terlupa berada di mana. Tapi nasi sudah menjadi bubur sayang, tinggal menambah potongan ayam dan sambel ... ta'daa.. jadilah makanan empuk untuk Keanu dan Sellma.
Oh my Godness.... bang Keanu, dia belum bertemu pria itu dari pagi tadi. Apa yang akan dilakukan pria tengil itu pasti lebih menciutkan nyali jika dibanding dengan tatap selidik penuh curiga tapi bernuansa menggoda dari Sellma. Itu saja sudah cukup memerah padamkan wajah Hanin, bagaimana dengan yang ini nanti.
...........................................
Sepertinya Hanin harus berterimakasih banyak pada Leisel, yang kali ini bisa membuat Keanu jadi sangat sibuk. Memanggul gadis secantik peri hutan itu di pundaknya, berkeliling melihat-lihat aneka satwa serta bermain balon sabun dengan riang. Hingga Hanin terselamatkan dari ledekan pria itu yang pastinya akan membuat wajah Hanin tidak lagi hanya sekedar memerah tomat karena malu.
Walaupun tidak seperti ekspektasi Hanin ketika dalam pikirannya mengeja : liburan di Zurich, tapi ia cukup bahagia bisa menikmati indahnya Zurich Zoo yang menjadi salah satu dari delapan kebun bintang di Eropa. Ini adalah tempat yang tepat untuk berlibur jika mengajak seorang anak, dan tempat yang sangat tepat untuk menyelamatkan dirinya dari kejahilan mulut Keanu.
Seandainya saja kemarin malam ia bisa kekeuh menolak permintaan Haidar yang memohon untuk ditemani sebentar saja, pasti tidak akan menjadi seperti ini. Sibuk menghindar dan bersembunyi dari bang Keanu dan Sellma yang terus mencari kesempatan untuk menggodanya. Dan si sumber masalah sebenarnya, sampai saat ini belum nongol. Membiarkan dirinya seorang diri menghadapi kejahilan dua insan penggoda itu.
" Kalian tidak lapar ? ". Keanu berjalan dengan raut muka memancarkan rasa lelah yang membahagiakan.
" Belum sih, aku kan hanya berjalan-jalan santai dan duduk nikmat melihat kalian yang berlarian. Tapi Hanin mungkin sudah mulai lapar sepertimu ... ". Sellma melirik Hanin dengan senyuman kecil yang nyaris seperti seringai aneh di mata Hanin.
" Oh iya, kamu harus makan banyak tuh Nin', biar cepat pulih tenaganya. Masih ada dua malam panjang yang akan kalian lalui ... hi..hi..hi.. ".
Tuh 'kan mulai lagi, Hanin melengos kesal dan justru membuat Keanu serta Sellma semakin terlihat girang menggodanya.
" Siapapun akan mulai lapar, ini 'kan sudah hampir jam makan siang. Ayo !! itu ada restourant ... lumayan menunya sih ... ayoo ".
" Nggak nungguin mas ganteng dulu, katanya dia baru otw' loh Nin' ", masih bernada menggoda Keanu menyapaikan berita.
" Ya kita masuk dulu, pesankan sekalian...biar nggak terlalu lama menunggu ".
Tapi Hanin melenggang, berusaha tak menghiraukan. Ia meraih tangan Leisel dan menggandeng bocah cantik itu untuk melangkah bersamanya.
" Leil sudah lapar'kan ?, mau makan apa ? ".
" Kentang goreng, ayam goreng pakai salad sayuran dan coke float ... ", seru Leisel dengan girang.
" Kalau coke floatnya di ganti jus strawberry aja gimana ?, kan lebih sehat tuh.... nanti minta da toping vanila ice cream di atasnya. setuju ? ".
" Setujuuuu ... ".
Ini adalah kesempatan yang tepat untuk Keanu mendekat pada Sellma, sementara Hanin sedanf mengambil alih tugasnya menjaga Leil. Jadilah ia dengan cuek menjalin jari jemarinya dengan jemari lentik Sellma yang nampak terkesiap, tap Keanu tidak ambil peduli. Ia tetap berjalan setengah menarik wanita yang tiba-tiba merasakan jantungnya melompat-lompat lebih cepat. Tapi sejujurnya, Keanu pun mengalami hal yang serupa.
" Bagaiman menurut mu ? ". tanya Keanu sesaat setelah mereka melangkah dengan ritme jantung yang sudah lebih tertata.
" Nice ... liburan yang menyenangkan. Apalagi melihat Hanin yang tersipu malu penuh kebahagiaan. Rasanya berkurang rasa bersalahku padanya ".
" Sellma, maksudku ... bagaimana menurutmu tentang kita ? " .
" Hah ?!, Oh ... maaf ", Sellma berusaha melepaskan jalinan jemari mereka tapi Keanu menahannya dengan kelembutan yang memenjara.
" I think,... I'm falling in love with you too ".
...............................
Haidar tidak menemukan keberadaan Hanin Hanania di sampingnya saat ia bangun di pagi itu dengan badan yang terasa lebih ringan dan segar. Padahal tadi malam ia tahu dan yakin betul jika gadis malah yang terlelap duluan dari pada dirinya yang sebenanrnya minta ditemani sampai tertidur saja. Ia tersenyum kecil, rasanya seperti mimpi yang sangat indah tapi juga siksaan terberat yang pernah ia alami.
" Aku hanya ingin kau menunggui ku hingga aku terlelap. Sudah minum obat flu nih, pasti nggak lama teparnya. Please... ya, ya,ya ", rengeknya sambil menahan lengan gadis mungil yang sudah bersiap pergi meninggalkannya itu.
__ADS_1
" Besok kita belum bisa jalan-jalan menghabiskan waktu bersama, jadi ku mohon ya... aku ditemani sebentar saja ", masih berusaha menegosias dengan siasat manisnya, haidar menatap Hanin penuh pengharapan.
" Baiklah, langsung tidur ya. Biar pileg nya cepat sembuh ", akhirnya Hanin menyerah. Perlahan ia mengambil alih kendali. Menuntun si bocah bongsor yang tampan menuju ranjang besarnya.
" Tetap pakai baju hangat, jangan terlalu dingin temperturnya ", sambil menyetel suhu ruangan dan mengatar Haidar ke tepi ranjang. " Minum air putih hangat dulu .... jangan lupa berdoa.. ".
Haidar mengikuti petunjuk Hanin dengan suka cita, hingga senyumannya tak lepas dari sudut bibir. Setelah meminum setengah gelas air putih hangat yang disodorkan gadis itu, ia pun segera membaringkan tubuhnya. Kemudian Hanin menyelimutinya perlahan.
" Tetap disini sebentar... ", Haidar kembali menahan tangan Hanin yang hendak berlalu. " Masih tersedia tempat yang cukup luas... ", ia menggeser badannya memberikan tempat yang cukup luas untuk Hanin bisa ikut duduk atau bahkan berbaring di sampingnya. " Kau sudah janji menemaniku hingga tertidur ... ".
Sebuah tarikan nafas panjang mengawali bergeraknya Hanin naik ke tempat tidur yang sama, dan duduk dengan bersandar di sebelah Haidar yang berbaring.
" Tidurlah mas... ".
" Tapi aku tidak bisa melihat matamu yang indah ", rengek Haidar. " Berbaringlah disini, sebentar saja, Nania... kumohon. Lihat !! kau sudah menyelimutiku dengan rapat, membuat tangan ku tidak bisa bergerak. Kau pasti aman... please... ".
Ya ampun Haidaaaaar.........
Akhirnya si cantik itu benar-benar tak bisa menolak semua permintan Haidar. Ikut berbaring di sebelah sang pria gagah, bertumpu pada kedua telpak tangan seputih dan selembut sutra, dan membuat wajahnya terlihat kian menawan berpendar oleh cahaya lampu yang temaram.
Haidar tersenyum, memiringkan badannya hingga ia bisa menatap lekat ke dalam sepasang mata bening yang teduh itu. Mengembangkan senyuman dan.....
" Ah maaf ... ". Haidar segera tersadar dan segera memasukan kembali tangan yang sejenak sempat terulur untuk membelai wajah Nania nya. Ia terkekeh saat kembali menyimpan lengannya dengan rapi ke dalam selimut yang menyelubungi dan hanya menyisakan wajahnya saja.
" Besok kalau sudah sampai di Indo, jangan langsung sibuk kerja dulu. Biar kangen-kangenan dulu sama ibu mu, dan jangan lupa temui mamah ya ".
" Ya ".
" Masih ingat dengan Raka ?, adiknya mba Cinta ". Haidar bertanya dan Hanin terlihat sedikit berfikir untuk mengingat sesuatu. Tapi kemudian gadis itu menggeleng perlahan.
" Ada tiga cucu lelaki di keluarga Arsenio yang dimasa kecilnya jadi teman mainmu, kak Namu, aku dan Raka. Dia dokter juga, kerjaanya nyambung tulang. Dulu lumayan serinng bermain bersama kita saat kecil.... tapi anak perempuan lebih senang sama Kak Namu biasanya. Raka dan aku punya hobi yang sama ... mengacau !!! ".
Kini Hanin yang tertawa terkekeh. " Sepertinya aku mulai ingat. Yang suka sekali bikin mba Cinta ngamuk uring-uringan ya ? . Kenapa dia ? ".
" Dia dan colon istrinya namanya Ardelia kuminta untuk segera menemui mu, sesampainya kau di Jakarta. Kalian akan jadi teman baik... ".
" Itu terdengar seperti..... mereka akan memata-mataimu untukku ".
Haidar kini yang terkekeh. " Ya, mereka akan menjagamu untukku. Raka dan Ardelia akan segera menikah...ehm, tiga bulan lagi, tolong bantu mereka juga ya. Sebenarnya aku ingin kita juga bisa menikah bersama mereka... ".
" Itu terlalu cepat, keluarga kita bahkan belum saling membicarakannya... aku ... ", Hanin menggantungkan ucapannya.
" Hanya bu Firman yang belum mendengar sendiri tentang perasaan putri cantiknya ini. Setelah semua urusanku selesai, aku akan segera pulang dan melamarmu, Na' ".
" Mas terlalu terburu-buru... bahkan aku belum tahu kebenarannya, tentang apakah ini semua di setujui oleh pak Mandala dan bu Orlin atau ...tidak ".
" Untuk urusan cinta dan pendamping hidup.... mereka bukanlan orang tua yang suka mengintervensi anak-anaknya ".
" Tapi aku ragu mas, aku khawatir .... semua terlalu cepat dan terlalu indah".
" Aku sangat yakin ... ".
Tapi nafas lembut Hanin terdengar lebih teratur, dan sepasang mata gadis itu perlahan namun pasti mulai terkatup tertutup. Rasa lelah dan kantuk telah mengalahkan gadis itu. Haidar tersenyum, namun tidak bergerak sama sekali untuk beberapa saat, membiarkan gadis itu agar benar-benar lelap.
Deru nafas yang sangat teratur itu terdengar dengkur yang sangat lembut, Hanin Hanania telah benar-benar jatuh dalam lelap tidurnya. Ia bahkan tak bergerak sama sekali ketika Haidar meyelimutinya. Membelai pipinya dan sekilas kembali mengecup keningnya.
Haidar tersenyum bahagia, apalagi saat Hanin bergerak menggeser tubuhnya mendekat. Seolah mencari kehangatan, dan terdiam dengan nyaman menempel pada lengannya. Beruntung obat-obatan yang diminumnya tadi telah bereaksi dan kini kantuk mulai menyerangnya. Hingga Haidar bisa lebih mudah untuk mendistraksi pikiran selain rasa kantuk saja. Tak berapa lama kemudian kedua insan itu telah benar-benar terlelap dalam nyaman.
Berharap dibangunakan oleh suara lembut Hanin Hanania, ia justru terbangun karena dering panggilan masuk di telpon selulernya. Yang membuat Haidar bergegas bersiap, karena orang-orang papahnya sudah dalam perjalanan. Dan ia benar-benar tak sempat menghubungi si cantiknya yang menghilang.
' Duuh yang baru dapet kenikmatan surgawi hakiki.... sampe nggak sempat sapa-sapa pagi. Kita-kita di Zurich Zoo, ntar nyusul ya kalo' kerjaan dah kelar. Nona cantiknya kita culik '
__ADS_1
Bunyi pesan yang dikirim Keanu beserta share loct nya. Lalu beberapa foto mereka berempat dengan latar belakang pintu gerbang kebun binatang pun ikut dikirim . Semua hal itu membuat Haidar bergegas menyusul Keanu, Hanin, Sellma beserta Leisel begitu para tamunya berpamitan pulang.