PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Belantara Rasa (3)


__ADS_3

Mungkin seperti ini rasanya mendapatkan perhatian dari seorang kakak.... ehm, maksudnya kakak laki-laki tentu saja. Jika kakak perempuan, seratus persen dia sudah merasakannya. Bagaimana sok mengaturnya seorang kakak perempuan. Tapi memang sih, kakak perempuan itu adalah ensiklopedia berjalan, sang jendral juga sang guru besar bagi adik perempuannya. Tiada hari tanpa kritik ... whatever you do, isn't perfect.... bleeeh, Hanin tersenyum kecut dalam hati.


Tapi lihatlah pria ini, bahkan kini ia harus mengajarinya dengan telaten. Memulung adonan, yang jika itu bersama kak Narila... pasti dirinya yang kena semprot dengan sederet kritik karena ketidakpatuhan dengan Standar Operasional Prosedur versi- kakak nya itu. Namun bersama pria ini, rasanya ia berubah menjadi nona manis yang dibutuhkan. Membuat hati berbunga-bunga saja.


Rasanya menyenangkan melihat pria yang dipanggilnya mas Haidar itu, dengan lahap menyantap bulatan klepon over size berbentuk teruk akut... hi..hi...hi.... Sepasang matanya yang membeliak ceria, pasti karena lelehan gula palem yang lumer di mulut. Setelah mengerjapkan mata dengan lucu, lalu dengan gesit memasukkan kembali produk gagal itu dengan tawa riang.


" Ya ampun ... enak sekali sih. Sayang cuma lima biji ya yang jelek bentuk nya ", sesal pria itu dengan lucu. Tentu saja membuatnya tak mampu lagi menahan tawa.


" Udah ah .... aku nggak tahan godaannya. Aku ke depan dulu ya bantuin yang lain ".


Mungkin itu memang alasan sebenarnya tanpa dibuat-buat. Karena memang ia berlalu pergi sambil menyambar tiga biji si klepon. Mengedip ke arahnya sambil tertawa. Dan ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh-kekeh, melihat tingkah kekanakan itu.


" Nania ... sisakan untuk ku ya ".


Ia tidak menjawab, hanya tertawa saja. Tapi dengan sigap mengambil wadah berukuran selebar telapak tangannya dengan tutup terbuat dari kayu, nampak elegan. Lalu mengisi penuh dengan bulatan hijau muda, ungu dan kuning yang berbalur kelapa parut itu. Menyimpan di tempat yang sedikit tersembunyi.


" Setelah acara ini selesai.... ada waktu sedikit untuk ku ? ".


Pertanyaan itu membuatnya berprasangka buruk pada awalnya... atau sedikit ge'er mungkin. Hingga ia mengerutkan kening sambil sedikit menjauh dengan gerakan samar.


" Ada yang penting 'kah ? ".


" Ada yang sangat rindu padamu cantik ".


Ia tertawa kecil, tapi semburat merah di pipinya tidak tertutupi. Tiba-tiba saja hatinya sedikit menghangat. Kau seperti orang lain menyebut ku begitu, seharusnya aku tidak seperti ini bukan. Ah ... sialan, terlalu pe'de kau non, hardiknya pada nalar sendiri yang mulai mengembara.


" Lalu ... mas ? apa hubungannya dengan yang rindu itu ? ".


" Aku pembawa pesan dari yang rindu. Tahu 'kan ? ". Bahkan kalimat yang didengar selanjutnya cukup bermakna ambigu.


" Bukan mereka berdua saja yang rindu .... ada juga yang lain ... yang rindu loh ".


" Siapa ? ", tanyanya setelah menyadari satu kekeliruan karena mengira yang dimaksud oleh pria ini adalah ibu dan juga kakaknya.


" Mamah ku ... dan kumpulan anggrek bulannya tentu ".


Sempat ia tadi berfikir macam-macam pada pria ini. Hingga kemudian ia menyadari kekeliruannya. Ya.... Bu Mandala, atau dia terbiasa memanggilnya dengan sebutan Tante Orlin. Tentu saja ia juga merindukan wanita cantik, lembut dan sangat baik hati itu. Seorang ibu boss yang begitu rendah hati, bahkan untuk orang-orang seperti dirinya dan keluarganya. Wajar saja jika berputra seperti pria ini. Yang ramah, periang dan sangat perhatian dengan siapapun disekitarnya.


Jadi Nania ...... jangan berfikir terlalu berat untuk sebuah sentuhan dipundak tadi. Juga dengan caranya me-remas jemari mu tadi. Ia hanya pemuda baik, sopan dan kebetulan saja ia tampan. Bukan'kah seluruh anggota keluarganya juga selalu begitu ramah dan baik ?. So ..... tarik nafasmu, hembuskan perlahan-lahan. Singkirkan semua pikiran mu yang tidak-tidak ... ia tidak hanya baik terhadap mu, lihatlah !!!.


Pria itu terlihat sangat ramah melayani ngobrol dan foto bersama dengan beberapa mahasiswi cantik yang terlihat begitu antusias. Tentu saja, pria tampan dengan postur menawan, adik Bu Dubes lagi. Bodoh jika tidak mengambil kesempatan untuk mendekatinya. Selain good looking pria itu pastinya juga good rekening. Haish ..... kumat sisi ceweknya.


Ah .. sudahlah, toh malam ini kalian sudah berjanji bukan untuk berbicara ... ehm! .. berdua.


Ia tersenyum kecil lalu melangkah mengambil tempat bakwan jagung yang sudah kosong, tersisa hanya remahan kecil dengan sisa minyak yang mengkilap. Bermaksud membawanya ke belakang. Tidak untuk diisi ulang, karena satu piring besar terakhir baru saja dibawa oleh Darma. Sukses besar ....


" Hanin... ", sebuah suara memanggilnya. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis cantik berambut lurus dengan warna kecoklatan tersenyum menatap kearahnya.


" Bener'kan ini Hanin ", muncul satu gadis lagi yang datang menyebelahi, seseorang dengan bibir tipis yang manis dengan dandanan aduhai yang memukau.


Ia mengangguk sambil tersenyum, setidaknya ia harus memberi hormat pada tamu-tamu tentunya. Tapi siapa kedua gadis ini, ia merasa asing.


" Kau persis sekali dengan yang ada di foto. Lebih cantik bahkan ", si rambut coklat itu terlihat antusias.


" Banget malahan ", si bibir tipis itu menimpali. Sementara dirinya sendiri masih terlihat kebingungan.


Siapa sih mereka ? dan lihat foto dirinya dari mana? dari siapa ?. Hanin tenggelam dalam kebingungannya, hingga ia tidak tahu harus berbuat apa.


" Ma- maaf .... kakak - kakak ini siapa ya ? ", akhirnya ia mampu bertanya.


" Oh ... maaf... maaf ... aku Gwen dan ini Siska ", si bibir tipis memperkenalkan diri dan juga temannya.


..............


Meladeni para gadis berfoto, para pemuda yang memohon ijin meminta nomor teleponnya..... huuuf... ternyata cukup melelahkan. Dan ia menjadi kehilangan keasyikan sendiri, yaitu mengawasi wajah bening seputih mutiara, serta senyuman manis Nania-nya. Kemana dia ?, padahal gadis itu tadi berdiri tak jauh dari sudut ruangan di sebelah pot besar, sambil mengawasi stok hidangan.


Ya ampun... bagaimana kalau dia diculik alien. Secara dia mahluk tercantik di tempat ini. Haidar mulai kumat dengan halusinasi konyolnya. Dasar sableng ....


" Cari bidadari ya bang ? ".


Tentu saja pertanyaan yang mampir di telinganya dengan cara yang sangat absurd itu langsung membuat bulu kuduknya berdiri.


" Kira-kira dong ... biasa aja kale' !, nggak usah sok mesra ... bisik-bisik segala ".

__ADS_1


Keanu terpingkal-pingkal hingga ia harus memegangi perutnya. Sementara Haidar bersungut-sungut kesal.


" Begini nih ... bawaannya kalau orang sedang jatuh cinta. Mana tahan.... kalo harus berjauhan ". Masih tetap dengan tawanya, Keanu berseloroh sedikit ngawur. Tapi bener....


" Siapa yang sedang jatuh cinta ? ", tiba-tiba Sabrina sudah hadir diantara mereka.


Haidar langsung meninju lengan Keanu, mengisyaratkan agar kawan baru sableng nya itu untuk diam. Tapi tatapan mata Sabrina kakak sepupunya itu sudah menyorotkan keingintahuan yang besar. Dan tipikal friendly-enemy seperti Keanu tentu saja tidak akan bisa menjaga mulut embernya di saat seperti ini. Dan benar saja.....


" Jelas tuan muda favorit hari ini tow' Bu ".


" Oh... sudah ada yang menarik hati mu Haid?. Yang mana? Rebecca ? atau Shanty ? ... atau yang lain?. Bisa niiiiih... mba' bantu ".


Fix sudah... kompak, terbentuk lah duo maut provokatif untuk memancing rasa jengah. Haidar yang merasa sudah kepalang basah dan bermandi gelisah, akhirnya menyahut.


" Bukan.... yang ini lebih dari mereka semua. Sudah bertahun-tahun ngincernya... dan sekarang dia menghilang kemana lagi .... ".


Sabrina melongo mendengar penjelasan Haidar, terlebih lagi dengan tingkah adik sepupu yang nampak resah itu. Tapi tidak demikian dengan Keanu yang kelihatan sangat menikmati keresahan seorang kawan. Ia tertawa-tawa geli, tapi tentu saja ia merasa sangat berkewajiban membantu sang teman ini.


" Dia ke dapur ... buruan susul, waktu mu cuma sampai besok pagi ".


Sabrina melongo, dia benar-benar bingung mendapati tingkah dua pemuda ini. Yang satu dengan langkah penuh semangat langsung melesat ke dapur, bahkan tanpa berkata-kata lagi. Sedangkan yang satu masih saja tertawa-tawa bahagia.


" Eh .... apa maksudnya itu waktu mu cuma sampai besok pagi saja ?".


"Oh itu Bu Rama.... Haidar tidak bisa ganti jadwal kereta ke Heidelberg jadi sore hari ... ".


Tapi Sabrina masih tetap terlihat linglung. Tentu saja, ia hanya mendapatkan potongan-potongan kecil saja. Informasi yang belum lengkap sempurna, tentu saja membuat wanita itu kebingungan. Sebenarnya ia ingin menuntut penjelasan pada Keanu, tapi terdengar suara suaminya memanggil. Ah ..... masih ada waktu, nanti saja tanyanya, begitu hibur dirinya sendiri. Lalu bergegas menghampiri sang suami.


Sementara itu, Haidar telah sampai di sebuah lorong yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah. Saat itu lamat-lamat ia mendengar percakapan, dan salah satu suara begitu dikenalnya. Itu adalah suara Nania-nya.


" Aku .... aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dia ", itu adalah suara Nania-nya yang terdengar sedikit bergetar


" Maaf Hanin... kami... kami hanya ikut prihatin, dan ... sama sekali tidak bermaksud ...".


" Kamu jangan salah paham ya .... kami ada di pihakmu kok... kita 'kan sama-sama wanita juga ".


Haidar terpaku, intuisinya membuat menuntunnya untuk membuat keputusan cepat.... bersembunyi !!!. Tak berapa lama kemudian dua wanita keluar, mereka pasti dua suara tadi. Jika ia berbalik mengejar dua wanita muda itu untuk bertanya.... apakah tidak terlalu aneh?. Tapi himpitan rasa penasaran itu mendesaknya kuat. Hingga akhirnya ia berjalan perlahan mengikuti dua wanita yang masih saling berbisik itu.


" Oh ... mas Haidar ".


" Ada apa mas ? ".


Keduanya menoleh dan terlihat begitu bersemangat. Haidar tersenyum sambil mendekat perlahan. Tapi pikirannya sedang memeras kemampuan untuk mencari informasi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.


" Kalian... kenal baik dengan Hanin ? ", Haidar setengah berbisik. Ia bergaya seolah-olah anggota tim maniak sosmed.


" Ih ... mas Haidar ini. Ya enggaklah ... kita beda komunitas, cuma beberapa kali aja ketemu di acara KBRI ".


" Tapi siapa sih orang Indo yang nggak kenal Hanin akhir-akhir ini ".


" Kita sih kenal baiknya malah dengan Dave ".


Gotcha!... kena kau, ini dia. Haidar menyeringai, umpannya termakan dengan baik.


" Sekarang dimana dia ? ", tanyanya lagi setengah berbisik. " Kira-kira ... masih punya muka untuk kemari ? ".


Dua wanita itu saling bertatapan. Mati aku .... salah ngomong nih, sesal Haidar. Tapi ...


" David sih ... muka tembok dia ".


" Sudah lupa budaya dan norma lelur dia... ".


" Berasa paling bule' .... ".


Tapi jawaban itu sungguh tidak disangka. Haidar sangat terkejut, dan benaknya dipenuhi begitu banyak pertanyaan. Pria ini hanya tertawa bersama dua wanita yang secara tidak langsung memberikan informasi besar padanya. Tapi saat akan bertanya lebih lanjut, dua wanita muda itu keburu berpamitan karena sudah diajak pulang oleh kawannya. Haidar pun membalas lambaian tangan mereka.


Ah iya ... Nania-nya, Haidar teringat gadis seputih mutiara itu. Ia bergerak, melesat dengan cepat untuk menemukan Nania-nya.


" Aduuuh.... kayaknya dalam deh kak... kita ke klinik ya ".


" Tidak usah ... pakai wound plaster saja ".


Jelas itu adalah suara Nania yang menolak. Kenapa ? dia terluka ?. Haidar yang tiba-tiba saja menjadi khawatir bergegas mendekati.

__ADS_1


Tampaklah Nania-nya yang cantik sedang menekan pangkal ruas jari telunjuk sebelah kanan, dimana darah terlihat membanjiri dan membasahi hingga ke ujung.


" Kenapa ? ... ya ampun kau terluka. Tunggu biar ku lihat .. ".


Tanpa menunggu persetujuan dari si pemilik jari yang lentik dan indah itu, walaupun kini bernokhtah merah. Haidar langsung meraihnya dan mendapati luka sayatan yang cukup dalam, walaupun tidak seberapa panjang.


" Dek ... kau ...,".


" Lily kak ".


" Tolong carikan.... emmh ... kotak P3K. Tanya sama Bu Karti ... cepat ya ".


" Ya kak.. ", dan si imut dengan rambut panjang yang dikepang itupun berlari cepat, melakukan apa yang diminta Haidar.


" Kenapa bisa seperti ini ? ", tanya Haidar lembut sambil membawa Hanin duduk di kursi minibar. Gadis itu meringis kecil menahan rasa perih tentunya.


" Aku yang kurang hati-hati... sebenarnya ... tadi juga sudah memperingatkan kalau ada pinggir gelas yang retak .... tapi ... aku ceroboh ....ya ".


" Duduklah ... aku lihat dulu ".


" Apakah lukanya dalam ? ".


Haidar mengamati luka itu sebentar, lalu beralih menatap sepasang mata yang sepertinya mulai mengembunkan' air matanya. Apakah sesakit itu Nania-ku ? ", tanya Haidar dengan tatapannya.


" Ya ... cukup dalam, dan pasti sangat sakti ... sakit .... ".


" Iya ... sakit.... sakit sekali ... ".


Buliran bening itu mulai keluar, berlompatan tak beraturan. Membuat bibir seranum kuntum mawar itu bergetar. Nania-nya menangis .... tapi pasti bukan karena luka ini. Pasti hatinya yang sedang terluka.


" Aku akan mengobatinya .... ya ". Luka di hatimu juga, ijinkan aku yang mengobatinya, tanya Haidar dengan tatapan diamnya.


" Iya ... mas.. ini... sakit sekali ... maaf ... maaf ... ". Gadis mungil yang cantik itu menunduk dengan tangis yang tidak bisa disembunyikan lagi.


Ini tangis untuk David' ? ... kenapa kau masih menangisinya ?. Luka seperti apa yang dia torehkan di hatimu ?. Lalu kata maaf mu? ... apakah itu juga untuk David' ?... masih pantaskah dia mendapatkannya darimu ?.


Haidar membersihkan luka itu perlahan, kemudian membalutnya. Setelah terlebih dahulu mengaplikasikan crem untuk luka baru. Tapi selama ia melakukan pekerjaan itu, hatinya bergemuruh. Riuh rendah dengan berjuta tanya. Namun melihat Nania-nya yang menangis lirih, hatinya benar-benar seperti tercabik.


" Sudah ... satu Minggu ini jangan kena air ya. Besok Senin datanglah ke klinik terdekat... biar diganti perbannya. Atau .... kau bisa menggantinya sendiri. Banyak-banyak makan protein ya... biar cepat sembuh ".


Senyuman manis itu mengembang, tapi jejak air mata masih begitu kentara. Haidar pun turut mencoba tersenyum. Tanpa ia sadari.... jemarinya bergerak perlahan, menyentuh sudut-sudut mata yang mempesona itu, menyusut titik-titik kesedihan yang masih tergurat. Lalu tanpa terkendali, membelai pipi serupa putihnya sakura dengan pendar merah muda yang indah itu. Menyusuri halusnya, menghapus jejak air mata disana.


" Jangan menangis lagi .... ya ", pintanya dengan lembut tatkala sepasang mata mereka beradu pandang. Dan dunia .... kini berporos pada dua hati yang tengah saling menyelami itu.


..............


Jika kau bertanya lirih tentang hatiku


Bukankah itu terlihat jelas....


Hatiku ada pada beningnya bola matamu


Jika kau bertanya bagaimana dengan jantungku


Kau tentu bisa merasakannya ....


Dia berdetak seirama dengan langkah mu


Saat engkau tersenyum ...


Seolah separuh jagad telah ku genggam


Saat engkau menangis....


Cakrawala pun menghilang dengan runyam


Jangan katakan apapun ...


Cukup kau datang saja padaku


Biarkan aku memeluk mu


Dan tak 'kan kubiarkan ... kau terluka kembali

__ADS_1


__ADS_2