
Ia penat, kepalanya terasa masih digelayuti berbagai macam pikiran yang merupakan manifestasi dari rasa tidak percayanya. Bahkan hingga kini saat kendaraan yang membawa dia dan sang suami telah meluncur pulang, ia masih merasa seperti bermimpi. Bangunan cafe itu sudah jauh di belakang sana, tapi hatinya seperti masih tertinggal.
" Mereka ... sama persis seperti kita dulu. Cinta itu seratus persen dirimu. Bukankah ini luar biasa ?. Tuhan memberikan anak kita ... cara jatuh cinta yang serupa ".
Dirinya masih membeku tak percaya, tapi kesungguhan di mata sang suami sungguh-sungguh harus diyakininya.
" Hana... apakah kau masih ada di bumi ini ? ".
Lihatlah senyumnya yang menggoda itu, pria paruh baya yang kini meremas jemarinya.
" A-aku... aku... ini sangat mengejutkan... ", ia tergeragap.
" Jika dulu .... ayah Arsenio dan adik nakal mu yang mengambil andil menjebak kita berdua. Kau tahu siapa orang yang sangat berjasa kali ini ? ".
" Siapa ? ".
Arjuna kembali tertawa kecil untuk kesekian kalinya. Membuat Hana terlihat lebih tidak sabaran lagi menunggu jawabannya.
" Orang yang kau jodohkan sebelumnya dengan Cinta ".
" Syailendra ???? ", dan untuk kesekian kalinya Hana ternganga tidak percaya.
" Ba-bagaimana bisa ? ..... bagaimana ceritanya ?".
" Karena mereka berdua pernah tinggal bersama di Inggris. Kau ingat bukan ? ... Namu dan Syailendra berteman baik saat sama-sana mengambil S2 mereka ".
" Jadi .... ".
" Ya ... dewa cintanya Syailendra ", Arjuna tersenyum meyakinkan.
" Oh..... ".
" Kenapa ... oh ... ? ".
" Aku tidak tahu lagi harus berkata apa ", wajah Hana yang masih sedikit sembab karena jejak air mata, terlihat kini terlihat sedikit lebih rileks.
" Alhamdulillah dong sayang... akhirnya anak-anak menemukan jodohnya ".
" Ya... ya... Alhamdulillahi robbil'alamiin... ".
Arjuna melirik istrinya yang masih berkali-kali terlihat termenung. Tapi tidak seperti saat di cafe tadi, kini wajah itu terlihat sesekali menyunggingkan sebuah senyuman.
" Kau lega sekarang ? ", tanya Arjuna.
" Legaaa..... tapi masih gemetaran karena kaget'.... gemeeeesh juga dengan mereka berdua. Koq nggak dari dulu-dulu bilang .... ".
" Heiii.... kau pikir kita dulu juga tidak sama seperti mereka. Terlalu takut untuk jujur ". Kali ini Arjuna terbahak-bahak.
" Iya ... ", Hana membenarkan. " Sekarang aku memahami betul apa yang dirasakan almarhum papah..... hei... aku lupa sesuatu ".
Detik berikutnya, Hana terlihat sibuk dengan telepon selular nya.
" Kau mau apa ? ", tanya Juna yang melihat tingkah kalap sang istri.
" Telepon Rana... terus Nilam juga ".
" Tidak usah.... Rana sudah melakukan tugas yang kau berikan sejak sore tadi. Nilam juga pasti sudah tahu semua dari Syailendra ".
" Hah ?.... lalu... ".
" Rana sudah di briefing sedemikian rupa pastinya oleh Orlin, kunjungannya .... hanya silaturahmi saja. Untuk urusan Nilam... kita harus datang sendiri nanti... meminta maaf ".
" Oh .... syukurlah. Hei .... tunggu !!! ", tiba-tiba Hana terlonjak, seperti disadarkan oleh sesuatu yang menyengat.
" Jadi.... aku orang terakhir yang tahu ? ", salaknya dengan mata melotot.
Arjuna tidak lagi tersenyum, ia cukup nyengir saja. Terjadilah apa yang sudah dibayangkannya sejak semalam ......
" Benar-benar yah...... aku ini ibunya loh ... ".
.................
Gila !!! ..... come on Rana...., ia menggeleng disertai dengan nafas mendengus kesal. Menatap meremehkan pada sosok yang sedang mematut diri di depan cermin. Yang sebenarnya adalah dirinya sendiri dan diumpatnya kemudian, tapi membuatnya justru semakin resah.
" Oh ini Kirana, bungsunya Bu Orlin ya ? ", suara di seberang sana terdengar sangat ramah memang. Membuat Kirana yang setelah sebelumnya mengirim pesan memperkenalkan diri, dan juga mohon perkenan untuk menelepon... akhirnya merasa sedikit lega.
" Iya Tante ... maaf boleh memanggil begitu ".
" Tentu saja Kirana. Oh ya... kata Tante mu, kau mau berkunjung ke mari. Jadi sore ini ? ".
Keramahan itu tentu saja membuat seorang Kirana yang manis dan lincah, kembali menemukan ritme sikapnya. Setelah sebelumnya penuh ragu dan gugup.
" Kalau Tante Raihan berkenan ..... ".
" Tante tunggu ya Kirana. Dijemput ? atau berangkat sendiri ? ".
__ADS_1
" Bi-biar saya berangkat sendiri Tante ", jawabnya cepat walaupun masih dengan sedikit gugup.
" Oh okay... Tante tunggu ya. Habis ini Tante share loct ya ... ".
Tapi kemudian percakapan siang tadi justru membuat sore harinya menjadi penuh warna-warni yang saling bertubrukan.... kacau!!.
Ketika akhirnya ia berhasil menjatuhkan pilihan pada mini dress warna jingga yang kemudian dipadupadankan dengan celana panjang slim & fit warna hitam pekat, ternyata ada satu lagi aral menghadang.
" Ohhh.... my God !!! ", Kirana menepuk jidatnya sendiri.
Ada apalagi Rana ?. Ia lupa jika siang tadi dia pulang dengan cara nebeng bareng Tria yang tentu saja dijemput Rian pacarnya. Dirinya sendiri dengan penuh keikhlasan telah meminjamkan si rose gold kesayangannya dipinjam Dion untuk mengantar Hani pulang sebentar ke kota batik Solo untuk menghadiri pernikahan sang kakak.
" Ku doakan dengan tulus .... semoga kau juga enteng jodoh. Karena sudah sangat dermawan pada duafa cinta seperti ku ".
Doa dari Dion ini tentu saja langsung di-amin kan olehnya. Lengkap dengan seringai tawa. Tapi sekarang ia justru kelimpungan sendiri.
Setelah gelisah hampir dua puluh menit, akhirnya taksi online pesanannya pun datang. Kirana pun bergegas naik kendaraan itu, lalu meneruskan share loct dari Tante Raihan pada si pengemudi.
" Maaf mba... ini kita mau lewat jalan toll nggak ya ? ", tanya si pengemudi.
" Menurut bapak sebaiknya bagaimana ? ".
" Jam jam segini sih baru macet-macetnya mba. Kalau tidak keburu ya nggak apa-apa sih ".
" Kita lewat jalan tol saja ", Kirana memutuskan cepat.
" Baik mba. Mohon maaf mba ... GTO nya nanti diganti, di luar biaya dari aplikasi ya mba ".
" Ya pak, baik ".
Dan kemudian kendaraan itupun mulai melaju, bergerak meninggalkan jantung kota menuju gerbang masuk tol. Kali ini Kirana merasa sudah sangat tepat dengan pilihannya. Mereka hanya sedikit terjegal kemacetan saja. Walaupun demikian, perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam. Dan sudah dua kali Tante Raihan berkirim pesan, menanyakan keberadaannya. Membuat Kirana kembali gelisah.
" Yang mana mba rumah nya ? ", tanya bapak-bapak pengemudi itu.
" Sebentar pak .... saya juga belum pernah ke sini sebelumnya ".
Di saat ia sedang berusaha untuk menghubungi kembali Tante Raihan, sebuah pesan tiba-tiba saja masuk.
' Blok F nomer 15.B ya Rana. Yang depannya ada gazebo bambu '.
" Ini blok F ya pak ... nah itu.. tuh yang nomer 15.B ".
" Oh ... iya mba. Waah ... sudah ditunggu kelihatannya mba, pintu gerbangnya sudah terbuka lebar ", bapak-bapak pengemudi itu menimpali.
Dengan gesit mobil itu memotong jalan dan menyeberang. Lalu meluncur mulus ke dalam halaman yang cukup luas, setelah sebelumnya mengucapkan permisi pada dua orang satpam yang bertugas di posnya.
" Mba Kirana 'kan ?, mari silahkan masuk ".
" Terima kasih Bu ", belas Kirana dengan sopan.
" Ibu sudah menunggu, silahkan duduk dulu ", pinta wanita itu.
Kirana pun mengikuti, lalu duduk di sebuah sofa yang empuk dan nyaman. Dia sengaja memilih untuk menempati bagian pinggir sofa. Karena dari sudut inilah dia bisa menikmati deretan foto keluarga yang terpajang rapi, dengan leluasa.
Ia tersenyum, persis seperti yang diceritakan mamanya jika sang ratu di rumah ini sangat ramah dan cantik. Hal itu bisa langsung terlihat dari sepasang mata yang selalu bersinar hangat, dan juga dari senyuman yang senantiasa tersungging indah.
" Kirana.... selamat datang ". Suara sapa seorang wanita, ramah dan menyenangkan.
Kirana buru-buru berdiri dan tersenyum menyambut. Ia sedikit membungkukkan badannya dan bermaksud bersalaman. Tapi ternyata gerakannya kalah cepat, wanita itu malah dengan hangat memeluknya.
Kirana sedikit terperanjat dengan apa yang dilakukan wanita mungil ini, yang mungkin tingginya tak jauh beda dengan mamanya sendiri. Ia sungguh tak mengira akan sehangat dan seramah ini.
" Lihat... kamu cantik sekali, persis mamah mu. Masih ingat Tante nggak ? ".
Sayangnya Kirana menjawab dengan gelengan pelan. Tentu saja sambil tersenyum kikuk.
" Dulu waktu kamu masih bayi.... om Raihan yang heboh... minta satu lagi, putri yang cantik seperti Kirana. Sempat mau diculik juga tuh.... ha..ha..ha.. dasar. Eh ... jadi keasikan ngobrol.. ayo sambil duduk ". Dan Kirana pun dibimbing oleh Nilam, duduk bersebelahan.
" Ketemu terakhir ... mungkin kamu masih SD atau SMP kali ya... ingat nggak ?. Di Raja Ampat ..... ".
" Raja Ampat ya ...... ah ya ingat Tante ... sedikit ". Sumpah ..... nggak bohong, ingatnya cuma Raja Ampat nya doang. Maaf Tante......, Kirana mendesis dalam hati.
" Dulu masih gadis kecil yang manis, nempel terus sama papa. Digodain kakak-kakaknya .... iih gemes deh liatnya. Sekarang udah jadi cantik begini. Ini siiiih..... perpaduan sempurna mas Mandala sama mba Orlin ".
Dan Kirana menjadi tersipu-sipu mendengar setiap pujian yang tiada hentinya mengalir itu. Sungguh nyonya rumah yang hangat dan menyenangkan.
" Yang lebih putih dan lebih gembul ini mas Rayi Pramudya, yang lebih muda. Naaah.... yang ini kakaknya, mas Raka Ganesha. Keduanya dokter juga, sama-sama spesialis Jantung. Mungkin karena kembar identik ya..... minat pun sama ". Kirana pun ikut larut menikmati cerita di setiap foto yang terpasang itu.
" Sekarang ... mas Rayi dan mas Raka tinggal dimana Tante ?. Hehehe.... namanya sama, Raka... anaknya Tante Hana dan Om Juna ".
" Oh iya ya.... Tante mu itu juga pernah cerita kok. Ahh... kalau Raka masih di kota ini juga. Rayi memilih mendampingi istrinya yang ambil S2 di Inggris... sambil bekerja di sana. Oh ya .... dengan Syailendra sudah tahu ?, dia anak sulung Tante ".
Kirana tergeragap, ia bimbang akan menjawab bagaimana. Harus'kah ia jujur atau tetap berbohong. Tapi hati kecilnya terasa meronta-ronta.
" Waaah.... Nona Mandala kecil sudah datang rupanya ? ", dan sebuah suara seorang pria yang berat dan khas datang bagai penyelamat untuk nya.
__ADS_1
" Mas Rey .... tumben cepet pulangnya ".
Kirana tersenyum sambil mengangguk hormat. Ia langsung tahu jika yang datang ini pasti sang pemilik rumah. Seorang pria seumuran ayahnya, berperawakan tinggi besar dan mempunyai sepasang mata berbingkai alis tebal serupa elang mengangkasa ketika tengah mengawasi mangsanya. Namun memiliki senyuman yang sangat hangat.
Lihat bagaimana pria ini memperlakukan wanita mungil itu. Tanpa sungkan meraihnya dan memberikan sebuah kecupan mesara di kening dan pipinya. Jika bukan hal selalu dilakukan setiap hari, niscaya pasangan itu akan sungkan dan malu melakukanya apalagi di hadapan orang lain seperti saat ini.
Kirana tersenyum melihat hal tersebut. Sesuatu yang juga selalu dilakukan ayah dan ibunya. Sebuah kemesraan yang tulus dan tidak dibuat-buat. Sikap yang membuat orang-orang disekitarnya juga merasakan hangat.
" Nona Mandala kecil.... ".
" Kirana Om .... ".
Kirana buru-buru menyambut Raihan dengan menyambut jabat tangannya dan mencium punggung tangan itu dengan hormat. Raihan membalas dengan membelai lembut puncak kepala gadis ini.
" Baru kali ini ya datang kemari. Padahal sudah lama koas di kota ini ? ".
" Maaf om..... sudah hampir dua tahun sebenarnya ".
" Iya.. iya... pasti sibuk sekali. Dulu Raka dan Rayi juga begitu. Eh .... sudah tahu 'kan anak-anak Om ? ".
" Sudah Om .... sedikit, tadi Tante yang cerita. Sambil lihat-lihat foto ".
" Kalau sama Alend, si sulung.... sudah kenal ? ".
Glegh !... dan Kirana tersenyum kecut setelah sebelumnya berhasil membasahi kerongkongannya sendiri dengan perjuangan besar.
" Belum Om ... ". Maaf ..... aku kembali berbohong, seru hatinya. Tapi memang begitulah yang skenarionya.
" Nanti dia kemari ..... tadi bilang katanya dari kantor mau langsung ke mari ".
" Ayo Rana ... kita di ruang keluarga saja. Biar lebih santai. Om mu juga biar mandi dulu ".
Kirana mengangguk menyetujui. Dalam bimbingan langkah Tante Raihan, ia merasakan bertambah nyaman dengan sikap penerimaan mereka ini. Tapi masih ada satu hal yang sangat ia khawatirkan. Bagaimana jika beliau berdua ini kemudian mulai pembicaraan tentang perjodohan mba Cinta dan putra sulung mereka?. Apakah mas Alend sudah jadi melakukan semuanya sesuai skenario yang telah disepakati sebelumnya?.... bagaimana jika belum ....
" Ayo bantu Tante siapkan makan malam, biar Om mu mandi dulu ".
Kirana bergerak gugup saat sebuah tepukan lembut mendarat di lengannya. Ia pun mulai melangkah dari terpakunya sesaat tadi, mengikuti langkah si tante cantik menuju bagian lain dari rumah itu.
" Kirana bisa masak ? ".
" Masak sayur simple aja sih tant' ... ehmm... menu sehat bertahan hidup ".
" Oh ya ... apa itu ? ".
" Sayur bening bayam, Sup sayuran dan tumisan sayuran juga.... he.. he.. he... paling mahir sih bikin mie instan yang dicemplungi aneka sayuran ... ". Kirana terkekeh-kekeh sendiri.
" Waaaah.... keren dong ".
" Tante Raihan ih... malu ah ... cuma gitu doang kok. Ketrampilan standar anak kost ".
Dan kekehan Kirana itupun berlanjut, kali ini bahkan disambut dengan tawa riang dari wanita paruh baya ini.
" Panggil Tante Nilam saja ya.... lebih enak .. ".
" Okay Tante Nilam... panggil Rana saja ... nggak kepanjangan ".
" Okay Rana. Eh.... bisa bikin sambel nggak ? ".
Kirana mengangguk dan menggeleng bersamaan, lalu tertawa.
" Loh ??? ".
" Sambel bawang .... sih bisa. Kalo yang lain .... nyerah deh ".
" Ha... ha... ha... nggak apa-apa. Eh ... mau Tante ajarin bikin sambel praktis tapi sedap ? ".
" Beneran nih ... boleh deh Tante... mau banget ".
" Ayo ke dapur ". Nilam mendahului langkah dengan bersemangat, diikuti gadis cantik yang juga tak kalah semangatnya.
Setengah jam kemudian ...... dua wanita beda usia serupa ibu dan anak itu sudah berkutat asyik di sebuah dapur yang manis dan elegan. Menyiangi cabai rawit hijau, memilih tomat segar, mengupas kulit bawang merah dan juga mulai membakar terasi udang. Keduanya sesekali berbincang apa saja sambil tertawa-tawa, persis seperti sepasang ibu dan putrinya.
Dari balik sebuah tiang berhias tanaman gantung, seorang pria muda tampak berdiri mengawasi. Ia tersenyum sebelum melangkah menjauhi tempat dimana dua wanita itu baru saja menjalani sebuah kedekatan.
' Selamat datang adik manis '.
...............
Author Corner .....
Kisah Kirana dan Syailendra, sepertinya cukup menarik untuk dilanjutkan.
Tunggu ya .... mereka akan punya judul tersendiri. Sekalian kita nanti jalan-jalan di tepi hutan dan padang bunga bluebell.
Terimakasih atas cinta dan dukungannya untuk 'othor yang angin-anginan ini.
__ADS_1
Big Hug... Big Love ...