Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Aku Tunggu Jandanya


__ADS_3

Aya tengah sibuk menyiapkan sarapan. Sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Ia hanya fokus dengan kegiatannya tanpa menghiraukan.


"Lepas." Kata Aya mulai risih karena sulit bergerak.


"Enggak mau." Alvin dengan nada manjanya.


"Lepasin." Kata Aya dengan nada kesal namun Alvin tidak menghiraukannya.


"Lepasin Mas. Kalo ga mau lepasin Aku ga mau ngomong sama kamu lagi." Ancam Aya membuat Alvin menuruti keinginan istrinya. Ia hanya duduk diam sambil mengamati sang istri yang tengah sibuk menyiapkan bekal untuk kedua anaknya.


Semuanya tengah menikmati sarapan bersama di ruang makan.


"Ibu nanti antar kita kan?"


"Iya sayang."


"Kamu naik mobil sendiri Yang?"


"Hm."


"Tapi kamu kan nggak boleh nyetir sendiri. Biar aku aja yang antar anak anak."


"Aku yang antar." Kata Aya dingin membuat Alvin diam seketika.


Rio ingin tertawa keras melihat Alvin yang begitu patuh terhadap istrinya. Namun Ia hanya bisa menahannya. Pria itu yang biasa mendominasi menjadi luluh karena takut di tinggal sang istri tercinta.


"Susunya di habiskan sayang. Kita berangkat sekarang."


"Baik Ibu."


"Aku berangkat." Aya mencium tangan suaminya diikuti Zam dan Ara.


"Om Aku sama Anak anak berangkat dulu ya." Aya berpamitan pada Rio.


"Iya hati hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Alvin dan Rio.


Tawa Rio pecah setelah kepergian Aya.


"Kenapa?" Tanya Alvin sambil melipat tangannya di dada.


"Aku suka liat kamu yang takut sama bini gini Vin. Rasanya seneng gimana gitu." katanya sambil tertawa keras.


"Kurang ajar. Seneng kamu liat aku menderita."


"Maap. Maap. Emangnya Aya belum kasih maaf ke kamu."


"Sudah. Tapi sikapnya masih dingin ke aku. Dia juga bersikeras minta kita pisah mulu."

__ADS_1


"Pisah aja. Aku tunggu jandanya."


"Sialan. Teman ga ada akhlak. Ku habisi kau jika berani." Umpat Alvin dengan kencang melihat Rio yang sudah kabur meninggalkannya.


Alvin menjemput kedua anaknya ke sekolah lalu menuju restoran untuk menemui istrinya.


"Mbak Nanik Ibu mana?"


"Ibu Zam sedang sibuk di dapur. Zam tunggu di ruangan Ibu ya."


"Iya." Zam langsung menggandeng tangan Ayah dan adiknya menuju ruangan sang Ibu.


Alvin memasuki rungan sang istri. Ruangan yang begitu rapi dengan dominasi warna hitam. Sebuah meja kerja dan satu set sofa berada di sana. Alvin membuka salah satu pintu, ternyata adalah sebuah kamar dengan ranjang besar.


"Ayah Tidak sholat?" Zam dan Ara memasuki kamar sambil keluar dari kamar mandi.


"Iya sayang. Kalian duluan."


"Kalo Ayah mau wudhu. Kamar mandinya ada disana Ayah. Tunjuknya pada sebuah pintu di dalam kamar.


"Iya. Ayah mau ambil wudhu dulu." Alvin langsung menuju kamar mandi.


"Anak anak sudah datang mbak Nanik?"


"Sudah Bos. Mereka sedang berada di ruang istirahat Bos dengan Ayahnya."


"Tolong pesanannya di antar ke depan ya. Saya mau antar makanan untuk anak anak sekalian mau sholat dulu."


Aya memasuki ruangan nya. Ia menaruh berbagai makanan di atas meja.


"Ibu." Zam dan Ara keluar dari kamar langsung memeluk ibunya.


Alvin juga memeluk Aya setelah anaknya melepaskan pelukan pada sang Ibu.


"Zam sama Ara sudah sholat?"


"Sudah Ibu."


"Kalian makan sendiri sama Ayah ya. Ibu mau sholat dulu." Kata Aya sambil menyiapkan nasi dan lauk untuk anak anak dan suaminya.


"Iya Ibu." Jawab mereka patuh.


Aya langsung membersihkan diri, mengambil air wudhu dan sholat.


Alvin memasuki kamar menghampiri sang istri yang sedang duduk melipat mukena di ranjang.


"Sudah makan?" Tanya Aya tanpa memandang suaminya.


"Sudah."


"Kamu sudah makan Yang?"

__ADS_1


"Aku makan nanti."


"Kamu harus makan. Nanti asam lambung kamu kambuh Lo."


"Aku makan nanti."


Alvin menarik tangan istrinya dan memperhatikan dengan seksama.


"Ini kenapa?" Melihat tangan Aya memar dan di plester di beberapa bagian.


"Hanya luka kecil."


"Luka kecil apanya. Kamu berhentilah bekerja. Lihatlah kamu terlihat lelah. Aku khawatir dengan kesehatan kamu."


"Aku nggak capek. Aku mau kembali ke dapur dulu. Kamu pulang duluan. Anak anak biar sama aku pulangnya."


"Aku tunggu kamu sampai pulang. Kita pulang sama sama."


"Terserah." Kata Aya berlalu pergi.


Alvin dan Aya kini tengah mengajak jalan jalan anaknya ke pantai. Sebagai seorang Ibu Ia sebisa mungkin akan membahagiakan anak anaknya meskipun sudah sangat lelah hari ini karena banyak pengunjung juga pesanan.


Alvin dan Aya tak melepaskan genggaman mereka pada si kembar karena ombak cukup besar hari ini.


"Kita duduk yuk. Daritadi sudah jalan jauh."


"Iya Ibu."


Mereka duduk bersama di gasebo sambil menikmati minuman.


"Ibu kita ke sana ya." Kata Zam menunjuk Ayunan.


"Iya jangan jauh jauh. Mainnya hati hati."


"Iya Ibu."


"Yang. Kita pulang ya. Kita balik ke Jakarta." Bujuk Alvin setelah kepergian dia anaknya.


"Kamu aja yang pulang. Aku mau disini."


"Apa kamu nggak rindu Mommy kamu?"


"Aku sudah menghubunginya kemarin. Aku sudah memberi kabar kalo aku sama anak anak baik baik saja."


"Tapi kalian belum bertemu."


"Nanti aku pikirkan. Aku sudah nyaman disini. Hidup tenang dan bertemu dengan orang orang baik. Belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab. Merasakan apa itu berjuang."


"Maaf aku membuatmu menderita." Alvin Menggenggam tangan istrinya.


"Aku justru malah berterimakasih. Jika tidak ada kejadian seperti ini. Mungkin aku tidak akan mengerti apa arti perjuangan hidup yang sebenarnya. Mungkin aku hanya akan berdiam diri di zona nyaman dengan berlimpah harta dan hidup mewah tanpa tau susahnya membangun usaha dan mencari uang. Menderita itu kadang juga di perlukan untuk mengasah mental." Kata Aya pergi menghampiri anak anaknya dan meninggalkan Alvin sendiri. Alvin menatap kebersamaan istri dan kedua anaknya. Ia begitu kagum dengan istrinya. Hidup di manja dan serba diatur sedari kecil tidak menyulitkannya untuk hidup mandiri di luar. Wanita itu begitu tangguh mengurus anak anak dan bekerja sendiri.

__ADS_1


__ADS_2