
Aya hanya menatap jengah suaminya yang sedari tadi mengarahkan orang yang sedang memasang foto. Dia begitu perfeksionis dan banyak maunya seperti wanita saja. Sudah hampir 2 jam namun belum juga selesai. Aya mengembuskan nafasnya kasar melihat tingkah sang suami.
"Mas."
"Ya sayang." Alvi menghampiri istrinya.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanyanya setelah duduk di samping wanita hamil itu.
"Kamu dari tadi ga selesai selesai."
"Kenapa? Kamu minta di manja ya?" Kata Alvin menggoda.
"Jangan ngada ngada kamu. Bukannya selama ini kamu yang manja." Kata Aya mengingat suaminya yang sering manja sekarang.
"Iya. Iya. Kamu butuh sesuatu?"
"Enggak. Hentikan semua ini Mas. Dari tadi ga selesai selesai. Kasian tau mereka."
"Iya iya." Kata Alvin langsung menyuruh pekerja di rumahnya segera menghentikan pekerjaan mereka setelah selesai memasang pigura pigura foto di dinding meski menurut Alvin kurang pas.
"Belanja perlengkapan bayi nya online aja ya Yang. Biar kamu ga keluar rumah."
"Apaan sih. Gamau ah. Kalau langsung datang kan bisa lebih leluasa."
"Yaudah." Alvin menuruti keinginan istrinya meski agak was was. Ia masih saja takut jika ada orang lain yang berniat merebut istri kecilnya.
"Kapan kita belanja perlengkapan bayi Yang?"
"Nanti. Mommy juga mau ikut."
"Kenapa nggak kita berdua aja sih?"
"Ya Mommy ikut ga papa dong."
"Nanti kalau dia ikut kamu cuekin aku."
"Apaan sih." Aya beranjak dari duduknya dan Alvin langsung mengikuti.
"Mommy kamu mana Yang? Kok belum datang juga." Tanya Alvin menghampiri istrinya untuk di ajak berangkat.
"Barusan telfon. Katanya Mommy langsung nunggu di sana."
"Cuman Mommy kamu aja kan?"
"Maksudnya?" Tanya Aya kebingungan.
"Dia nggak ngajak siapa siapa lagi kan?"
"Oh. Enggak kok. Cuman Mommy aja."
Alvin menganggukkan kepalanya.
"Ayo kalo gitu kita berangkat sekarang." Ajak Alvin sambil menggandeng tangan Aya.
Keduanya sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kota. Semua orang sedikit terkejut melihat kedatangan sang pemilik apalagi sekarang sedang membawa Istrinya. Mereka sangat terpukau dengan kecantikan Aya. Baru pertama kali mereka melihat putri dari keluarga Alexander. Benar benar cantik dan berwibawa. Aya tersenyum ramah pada semua orang yang menatapnya. Hanya itu yang bisa Ia lakukan untuk mengatasi suasana seperti ini. Alvin merangkul pinggang istrinya. Tak memberi kesempatan wanita itu untuk menjauh barang sedikitpun.
"Mommy." Sapa Aya melihat sosok wanita yang sedang berbincang dengan salah seorang karyawan.
"Sayang." Mommy langsung memeluk putrinya.
"Kakak udah dari tadi?" tanya Alvin pada iparnya.
"Enggak kok. Kita langsung belanja aja ya atau mau makan dulu?"
__ADS_1
"Makan nanti aja Mom. Kita belanja dulu aja."
"Tuh kan. Kalau sudah sama Mommy kamu aku di cuekin."
"Apaan sih Vin. Jangan kaya bocah deh." Kata Mommy langsung menggandeng tangan Aya untuk pergi.
Kedua wanita itu asyik memilih perlengkapan bayi. Sementara Alvin hanya mengikutinya dari belakang. "Belum lahir aja aku di cuekin. Gimana nanti kalau sudah lahir. Dua pula." Batin Alvin memprediksi nasibnya kedepan.
Cukup lama mereka berbelanja akhirnya selesai juga.
"Semuanya sudah lengkap Yang?" Tanya Alvin memastikan.
"Sudah kok. Sudah lengkap semua."
"Kita makan dulu yuk sayang."
"Iya Mom."
"Kamu mau makan apa Yang?"
"Spaghetti aja."
"Jangan Ah. Yang lain."
"Burger sama kentang goreng."
"Jangan sayang kamu lagi hamil."
"Hamil ga hamil tetep ga boleh."
"Demi kebaikan kamu Yang."
"Selalu begitu." Kata Aya sambil cemberut.
"Biar aku yang pilihkan." Putus Alvin.
Sampai di rumah mereka di kejutkan oleh seorang lelaki yang menunggu di depan gerbang rumah sambil bersender di mobilnya.
Alvin yang sudah masuk kembali lagi keluar.
"Tega kau. Pengawalmu tak memperbolehkan aku masuk."
"Yaudah masuk." Kata Alvin cuek sambil kembali ke dalam.
"Ada apa?" Tanya Alvin setelah keduanya duduk di ruang tamu.
"Astaga Yang. Kenapa kamu bawa sendiri sih. Kan ada banyak orang." Kata Alvin lagi tak memberi kesempatan Rio untuk menjawab.
Pria itu hendak beranjak dari duduknya melihat Aya membawa nampan berisi minum dan kue.
"Diem di situ." Tegas Aya membuat Alvin mengurungkan niatnya dan duduk kembali.
"Silahkan diminum Om." Kata Aya menyajikannya di atas meja.
"Makasih Sayang." Kata Rio langsung menutup mulutnya.
"Apa kamu bilang?" Tanya Alvin meminta penjelasan.
"Makasih Ya. Begitu aku bilang."
"Heh Aku nggak tuli ya. Pendengaranku masih normal." Alvin menonyor kepala sahabatnya itu.
Aya duduk di singgle sofa. Alvin langsung memintanya Pindah. Mereka duduk berdua dan Alvin memeluk istrinya Posesif.
__ADS_1
"Jangan liatin istriku kaya gitu. Nanti aku congkel matamu baru tau." Kata Alvin memperingati Rio yang sedang menatap Aya.
"Apaan sih Mas." Kata Aya mencubit lengan suaminya.
"Biarin."
"Om Rio kenapa nggak datang di acara tujuh bulanan kemarin?"
"Suamimu. Suamimu tega sama aku."
"Jangan dengerin." Kata Alvin pada istrinya.
"Saat acara tujuh bulanan kemarin dia meminta aku mengerjakan semua pekerjaannya. Pura pura mengundang. ujung ujungnya aku juga tidak bisa datang karena ulahnya." Ia mengadu pada Aya sambil mendengus sebal.
"Tega kamu Mas. Sama teman sendiri begitu."
"Kan aku kasih gaji besar juga. Sepadan kan. Eh ngomong ngomong kenapa kesini?"
"Hah. Aku hanya mampir saja. Bosan di rumah tidak ada kegiatan."
"Makannya cepet nikah."
"Dasar mentang mentang dah punya istri."
"Alah kalau kamu nikah duluan juga bakal bilang gitu sama aku."
"Yaudah aku bakal nikah."
"Bagus."
"Tapi sama istri kamu."
Alvin membelalakkan matanya mendengar ocehan sahabatnya yang minim akhlak itu.
"Mau mati ya." Katanya hendak beranjak dari duduk langsung di cegah Aya.
"Bercanda aku tuh."
"Tapi kalau iya juga nggak papa." Lanjutnya lagi sambil tertawa.
"Aya."
"Ya Om."
"Kalau Alvin meninggal duluan. Kalau kamu nanti jadi janda. Nikahnya sama aku aja ya."
"Temen bangsat kamu. Teman laknat. Malah doain aku yang enggak enggak." Kata Alvin terus mengumpat.
"Mas."
"Apaan sih Yang. Kamu ga liat dia kurang ajar sama aku."
"Iya. Aku lagi hamil nih. Omongannya di jaga dong."
"Maaf maaf." Kata Alvin mengelus perut Aya.
"Kalau pengen romantis romantisan jangan disini dong."
"Ini kan rumahku."
"Iya. Iya. Aku minta makan."
"Di dapur. Minta sama pelayan sana."
__ADS_1
"Ok." Kata Rio pergi sambil tersenyum.