
"Zam. Ara. Panggil Ibu suruh masuk tuh. Di luar hujan."
"Iya Yah." Keduanya masuk rumah. Kedua remaja itu langsung duduk sambil memeluk Ibunya.
"Bu. Hujan gini enaknya makan yang anget anget."
"Mau makan apa?"
"Bubur sumsum. Kasih ketan hitam enak."
"Yaudah. Ibu bikinin."
"Kita Ikut. Kita bantuin."
"Ayo."
"Eh...Mau kemana?" Tanya Alvin baru datang.
"Mau bikin bubur sum sum. Anak anak kepengen."
"Beli aja sana. Bikin repot Ibu aja."
"Biarin Mas. Ayo Ibu bikinkan."
Mereka semua menuju ke dapur.
"Bahannya apa aja Ibu?"
"Ambil gula merah, gula putih, garam, santan, ketan hitam, sama tepung beras."
"Dimana bahannya Bu?"
"Di lemari. Sama daun pandan."
"Biar Ara yang petik Ibu."
"Iya hati hati."
"Aku ngapain Yang?"
"Duduk aja. Kalo kamu ikutan malah debat sama anak anak."
"Iya deh." Alvin duduk mengamati mereka.
"Ini Ibu daun pandannya."
"Cuci dulu."
"Iya Ibu."
"santannya dipanasin dulu Sayang sama garam. Di aduk terus jangan sampai santannya menggumpal."
"Ok Ibu."
"Yang." Keluh Alvin karena merasa di abaikan.
"Iya Mas." Jawab Aya tanpa menoleh karena sibuk memotong gula merah.
"Kamu mau sesuatu?"
"Enggak."
"Ini gimana Bu?"
"Di campur sama air di aduk sampai larut. Jangan sampai ada gumpalan tepungnya. Kalau sudah campurin sama santannya kak Zam kalo sudah mendidih."
"Ok..ok."
"Yang."
"Ayah apaan sih. Daritadi panggil Ibu Mulu. Nggak jelas."
"Diem kamu. Ayah nggak ngomong sama kamu ya."
__ADS_1
"Udah ah. Ada apa Mas?"
"Biar mereka aja yang buat. Aku bosen di sini. Temenin aku."
"Ayah kenapa sih. Kalo bosen ya pergi."
"Berani kamu ngusir Ayah."
"Abisnya Ayah nyebelin."
"Kamu lebih nyebelin dari Ayah."
"Sudah. Kalian emang nggak bisa akur ya."
"Ayah tuh."
"Sudah. Jangan salahin Ayah. Kamu juga kalo orangtua ngomong ngejawab mulu Ra." Tegur Zam membuat Ara terdiam.
"Kakak ngebelain Ayah?"
"Kakak nggak ngebela siapa siapa. Kakak cuman ngomong fakta aja."
"Dengerin kakak kamu tuh. Kamu sadar nggak sih kalo di kasih tau ngejawab mulu. Kamu maunya menang sendiri Ra. Kamu jangan gitu dong."
"Ayah kok marahin aku."
"Ayah nasehatin kamu. Bukan marahin kamu. Jadi anak itu kalo orang tua ngomong di dengerin. Di pikir baik baik. Jangan ngedumel mulu. Kaya kemarin kan jadinya. Kamu terjerumus di tempat kaya gitu."
"Bilang aja Ayah sama Kak Zam nggak sayang Ara. Ayah sayangnya cuma sama kak Zam. Di sini yang sayang Ara cuman Ibu."
"Astaghfirullah sayang. Kamu ngomong apa sih. Semuanya sayang kamu kok."
"Ibu bohong. Mereka emang nggak sayang Ara."
Ara pergi meninggalkan mereka.
Aya ingin mengejar anaknya namun langsung di cegah oleh Alvin.
"Tapi Mas."
"Biarin Bu. Ara emang suka keterlaluan. Dia egois. Maunya di perhatikan terus. Biarin dia sendiri dulu."
"Baiklah."
Ara menangis di dalam kamar mengabaikan ketukan pintu dari luar. "Ayah sama kak Zam emang nggak sayang Ara."
Ujarnya pelan sambil menghapus air mata.
"Gimana sayang. Adek kamu nggak mau keluar juga."
"Nggak mau Ibu. Padahal sudah Zam ketuk pintunya berkali kali."
"Yasudah. Nanti Ibu kesana. Kamu makan bubur kamu ya."
"iya Ibu."
"Sayang. Adek kamu sudah nggak temenan sama temannya yang ngajak ke club' itu kan?"
"Udah enggak kok Bu. Kalo di kampus Ara sama Zam terus sekarang."
"Ibu tenang jadinya. Ibu nggak mau kejadian yang kemarin kemarin terulang lagi."
"Ibu mata Zam kok buram ya kalo di buat baca."
"Sejak kapan? kamu kok baru bilang."
"Sejak kemarin Ibu."
"Yasudah. Nanti sore kita ke dokter mata buat cek."
"Sama Ibu kan?"
"Iya."
__ADS_1
"Makasih Bu." Zam memeluk dan mencium Ibunya. Alvin tersenyum melihat kedekatan mereka. Sebenarnya Ia sama sekali tidak membedakan kedua anaknya. Namun Sikap Ara sangat bertolak belakang dengan Zam. Jika Zam kalem, dan patuh maka Ara sebaliknya gadis itu sangat suka berargumen dan membantah. Semua yang di ucapkan Alvin selalu di bantah. Alvin paham maksud Ara. Tetapi Ia keberatan dengan cara penyampaian anak gadisnya yang terkesan membantah.
"Sayang. Buka pintunya dong. Ibu mau bicara."
"Sayang. Kamu tidur?"
"Enggak Ibu." Ara membuka pintunya.
"Ibu masuk Ya."
"Iya Ibu."
Aya mengajak anaknya untuk duduk bersama di sofa. "Sudah jangan sedih. Semuanya sayang sama kamu. Ayah, Kak Zam, Ibu dan semuanya sayang sama Ara. Ara tidak boleh berfikir seperti itu. Ayah mendidik Ara agar Ara jadi anak yang berbakti kepada orang tua. Ayah ingin Ara jadi anak yang menghormati orang tua. Biar nanti kalau Ara punya anak, Anak anak Ara juga menghormati Ara sebagai orang tuanya."
"Tapi Ibu Ayah..."
"Ayah memang orangnya keras Nak. Tapi Ayah sayang sama Ara. Makannya Ara di nasehati. Sudah sekarang minta maaf sama Ayah."
"Iya Ibu."
"Mau makan dulu? Ibu bawakan bubur sum-sum."
"Suapi."
"Iya."
Ara menghampiri Ayah yang sedang sibuk membaca majalah.
"Ayah."
"Hm."
"Ara minta maaf karena Ara suka ngebantah Ayah."
"Yah."
"Iya Ayah sudah maafkan." Alvin memeluk putrinya.
"Makasih Yah."
"Ya."
"Ayah Ayo. Zam udah siap."
"Pada mau kemana? Kok nggak bilang Ara."
"Salah sendiri ngambek di kamar. Kaya bocah aja. Kita mau ke rumah sakit."
"Mau ngapain? Siapa yang sakit?
"Mau cek matanya Kak Zam."
"Ibu juga ikut?"
"Iya."
"Ih tungguin. Ara mau ikut."
"Kamu di rumah aja. Kita cuma sebentar. Kalo nunggu kamu segala bisa lama. Kita udah janjian daritadi sama dokter."
"Ibu.."
"Kamu sudah mandi? Sudah sholat?"
"Belum."
"Lah itu. Kita nanti nunggu kamu lama. Cuma sebentar aja kok."
"Yaudah. Bawain martabak tapi."
"Iya. Kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1