
Mata Zam minus. Namun Ia tak mau menggunakan kacamata. Tidak parah. Oleh karena itu Dokter hanya memberi obat yang harus di gunakan setiap hari. Aya sekarang juga rutin membuatkan jus wortel untuk anak anak dan suaminya.
"Sayang jus wortelnya di minum dulu."
"Iya Ibu."
"Ibu. Kulit Ibu mulus. Padahal Ibu kan nggak perawatan." Zam mengelus pipi Ibunya.
"Kan Ibu makan sehat."
"Makan sehat apanya sayur aja nggak doyan."
"Doyan kok."
"Kalo Ibu doyan. Kenapa jus nya buat kita aja. Punya Ibu mana?"
"Ibu sudah minum air putih tadi. Ibu kekenyangan nanti kalo harus minum jus juga."
"Ibu bisa aja."
"Ibu mau tanya sama kalian." Kata Aya serius.
"Tanya apa Ibu?"
"Kalian pengen punya adik nggak."
"Enggak." Jawab Alvin, Zam dan Ara bersamaan.
"Ibu nggak boleh punya anak lagi."
"Iya. Kita nggak mau punya adik."
"Kita udah sepakat nggak tambah anak lagi Yang. Kamu apa apaan."
"Aku pengen Mas."
"Aku enggak. Anak anak juga enggak pengen."
"Yah.."
"Ibu nggak usah memelas begitu. Ibu sudah punya kita. Nggak perlu ada yang lain." Kata Zam memeluk Ibunya Posesif diikuti sang adik.
"Hachu....Hachu..." Aya bersin bersin daritadi dan beberapa bagian tubuhnya muncul ruam ruam.
"Kita ke rumah sakit Yang. Daritadi kamu nolak mulu. Alergi kamu makin parah nih."
"Pemicunya apa Mas? nggak ada bulu hewan juga."
"Nggak tau. Pokoknya kita ke rumah sakit aja."
"Jangan ah. Panggil dokter aja kemari."
"Yaudah kalo itu mau kamu."
"Ibu. Tunggu sebentar ya. Ayah lagi telfon dokter."
"Iya Bu. Sebentar lagi sampai kok."
"Kalian tenang aja. Ibu nggak papa." Aya menenangkan kedua anaknya.
Dokter datang langsung memeriksa keadaan Aya. "Sepertinya pemicunya debu atau bulu hewan Tuan."
"Rumah setiap hari di bersihkan dok. Kita juga nggak pelihara hewan di rumah."
"Jika begitu, kemungkinan bisa juga Nyonya kontak dengan bulu hewan yang menempel di baju. Keadaan Nyonya sangat sensitif. Jika ada sesuatu yang orang awam tidak dapat rasakan Nyonya bisa merasakannya. Termasuk kepekaannya terhadap debu atau bulu hewan."
"Oh begitu dok."
"Iya Tuan. Obatnya di minum teratur dan istirahat yang cukup agar segera pulih. Saya permisi Tuan. Semoga Nyonya cepat sembuh."
"Baik dok. Terimakasih."
"Sama sama Tuan."
__ADS_1
"Ibu cepat sembuh Ya." Kata Zam dan Ara menggenggam tangan Ibunya yang sedang tertidur.
"Sudah kalian keluar. Biar Ayah yang jagain Ibu."
"Tapi Yah."
"Nggak ada tapi tapian. Kalian keluar sekarang. Ayah juga mau tidur tau. Kalian besok kan kuliah."
"Iya deh. Selamat malam Yah."
"Selamat malam."
Alvin langsung menyusul istrinya tidur setelah mereka pergi.
"Berangkat gih. Ibu nggak papa."
"Ayah yang jagain Ibu. Kalian berangkat nanti telat."
"Iya. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kamu mau sesuatu Yang?"
"Enggak Mas."
"Alergi kamu kambuh Ya."
Darwin dan Rio datang bersama keluarga Aya.
"Iya Om."
Mereka menaruh buah dan bunga di atas meja.
"Kok jadi ruam begini Kak. Biasanya cuman Flu aja."
"Nggak tau juga. Kakak juga bingung."
"Memangnya nggak ke rumah sakit?"
"Jangan gitu dong. Ke rumah sakit ya."
"Nggak Mom. Semalem udah di periksa dokter kok."
"Akhir akhir ini kamu sakit Mulu."
"Kecapean itu pasti."
"Nggak capek Ma. Cuman lagi di kasih sakit aja."
"Sudah makan?"
"Sudah Dad. Tadi."
"Jangan sampai telat makan Ya. Nanti lambung kamu kambuh lagi."
"Iya Om."
"Ruamnya belum hilang juga?"
"Belum Mom."
"Kasih oleh obatnya lagi biar cepat sembuh."
"Udah Mom tadi."
"Kita keluar. Biarkan Aya istirahat."
"Iya."
Alvin kembali lagi ke kamar untuk menemani istrinya.
"Di pake tidur aja Yang. Kamu habis minum obat nggak ngatuk apa?"
__ADS_1
"Enggak Mas."
"Yaudah Sini aku peluk." Alvin memeluk istrinya dengan manja.
"Jangan sakit sakit lagi dong. Kamu harus sehat. Aku khawatir jadinya."
"Iya Mas."
"Kamu jarang minum vitamin ya?"
"Aku minum kok Mas. Emang waktunya di kasih sakit aja."
"Biasa aja kamu."
"Yang."
"Iya."
"Kamu kok sabar banget ngadepin Ara yang kaya gitu. Aku aja selalu lepas kontrol kalau ngomong sama dia."
"Aku juga nahan Mas sebenarnya. Ara itu lebih susah diatur. Maunya dia menang sendiri dan apa yang ada di pikirannya selalu di anggap benar jadi dia nggak mau dengerin orang lain. Aku juga hampir emosi Mas. Tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku nggak mau memberikan kesan buruk ke anak anak."
"Mereka kembar kok sikapnya bertolak belakang ya. Zam yang cowok aja lebih kalem begitu."
"Yah mau gimana lagi. Kita mendidiknya juga sama kan. Nggak ada yang di beda bedakan."
"Iya. Juga. Mungkin bawaan dari sananya."
"Mas. Kamu beneran udah nggak pengen punya anak lagi?"
"Aduh Yang. Kamu tanya berjuta kali pun aku akan jawab sama. Aku nggak pengen nambah."
"Kirain bisa berubah pikiran."
"Maaf ya Sayangku. Keputusan suamimu ini masih sama. Nggak akan berubah sampai kapanpun."
"Yasudah lah. Aku nurut."
"Makasih. Kamu emang pengertian."
"Mas. Kalau kita liburan ke puncak gimana?"
"Boleh tuh. Aku sama kamu aja. Anak anak biar di rumah."
"Jelas mereka nggak mau lah."
"Tinggal aja."
"Mereka bakal nyusulin."
"Emang mereka nggak bisa banget nggak nempel sama kamu."
"Kan aku Ibunya."
"Kan kamu istri aku."
"Iya. Memang aku istri siapa lagi kalo bukan istri kamu."
"Iya. Kamu hanya milikku. Sampai kapanpun."
"Udah tua. Jangan ngerayu. Nggak mempan."
"Tua begini selalu bikin kamu ketagihan kan?"
"Kamu atau aku yang ketagihan coba? Yang merengek kaya anak kecil minta jatah tiap malem siapa?"
"Iya aku. Emang kamu kan bikin nagih. Ah ngomong soal itu aku jadi pengen. Mupung anak anak nggak di rumah Yang."
"Kayanya efek obatnya udah mulai bekerja deh Mas. Aku ngantuk. Istirahat dulu ya."
"Yah. kok gitu."
"Kamu yang suruh aku istirahat tadi."
__ADS_1
"Iya deh. Istirahat. Aku peluk."
Alvin memeluk sambil mengusap punggung istrinya.