Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Selamat Malam Sayang


__ADS_3

Sudah sehari ini Aya kembali lagi ke rumah setelah tiga hari tinggal di apartemen bersama suaminya.


"Yang aku berangkat dulu ya."


"Nggak dari tadi. Ini udah jam 10. Jam 11nya kamu pulang. Kerja macam apa itu."


"Biarin. Kan aku yang punya kantor."


"Kalo di bilangin."


"Iya iya. Maaf. Aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Alvin mencium istrinya.


"Waalaikumsalam. Hati hati."


"Iya Sayang."


Aya duduk di ruang tengah setelah suaminya berangkat. Wanita itu membaca majalah untuk mengisi waktunya yang luang. "Mama." Daniel tiba tiba datang memeluk Aya.


"Kok nggak sekolah?"


"Habis ujian akhir kan libur Ma."


"Oh kamu sudah ujian akhir."


"Iya. Daniel udah mau lulus dong. Mau susul kak Ara sama Kak Zam kuliah."


"Iya. Cepet aja. Kamu belajar yang rajin ya."


"Iya Ma."


"Ma. Nanti Daniel nginep ya."


"Memangnya sudah izin?"


"Sudah. Papa sudah kasih izin kok. Boleh kan?"


"Boleh. Tapi kalo kamu nginep disini apa Papa kamu nggak kesepian di rumah sendiri."


"Mamanya Papa sedang di rumah sama Kakak Papa sama keponakan Papa juga. Jadi di rumah rame."


"Daniel. Mama tanya sama kamu boleh?"


"Boleh Ma."


"Apa perlakuan Kakak Papa kamu ke kamu juga sama seperti Mamanya Papa?"


"Iya Ma. Mereka juga nggak suka Daniel. Apalagi anaknya suka ngebully Daniel kalo lagi datang ke rumah Papa."


"Keponakan Papa kamu berapa?"


"Dua, Cowok dan Cewek umurnya 19 dan 20."


"Bisa kamu jelasin sayang ngebully nya bagaimana?"


"Mereka ngatain Daniel anak haram. Pembawa sial. Anak pungut dan sebagainya. Memang Daniel seperti itu. Jadi Daniel nggak berani ngejawab."


"Sabar ya sayang. Ada Mama di sini." Aya memeluk Daniel erat. Ia sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Aya begitu kasihan mendengar cerita Daniel barusan. Kehidupannya begitu sulit di usianya yang masih muda.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kalian pulangnya barengan?"


"Enggak Bu. Kita ketemu Ayah di depan."


"Oh. Bersih bersih, sholat terus ganti baju. Ibu sudah siapkan makan siang."


"Daniel kamu udah disini aja."


"Iya kak. Daniel mau nginep?"


"Emang boleh?"


"Boleh."

__ADS_1


"Ntar Papa kamu nyariin nggak?"


"Nggak Om. Daniel sudah izin. Boleh kan Om?"


"Ya."


"Makasih Om."


"Hm."


"Yang aku mau mandi."


"Iya. Kamu tunggu dulu ya Daniel."


"Iya Ma."


Aya sudah menceritakan semuanya pada suami dan kedua anaknya. Mereka paham dan mengeri situasi Daniel saat ini.


"Makan yang banyak."


"Iya Om. Makasih."


"Kamu mau lulus ya Niel. Kamu mau kuliah di mana Niel?"


"Sama kaya kak Zam sama Kak Ara."


"Bagus itu. Biar kalian bisa main sama sama."


"Kalian lain kali jangan pake mobil Ayah lagi."


"Kenapa Yah?"


"Ayah nggak suka. Masa mobil Ayah bersih pulangnya banyak sampah di dalem. Bekas tissue lah. Bungkus permen lah. Pakai mobil yang lain."


"Itu ulah Ara Yah. Yang pakai kan Ara. Zam bawa mobil Zam sendiri."


"Dasar jorok."


"Bukan Ara yang jorok, Ayah aja yang terlalu berlebihan."


"Maaf Ibu."


"Kok sama Ibu. Ara salahnya sama siapa?"


"Maaf Yah."


"Hm. Habis ini bersihin mobil Ayah. Jangan suruh orang. Harus kamu sendiri."


"Tapi Yah...."


"Nggak ada protes. Kamu harus belajar bertanggung jawab."


"Iya Yah."


"Ini kamar kamu Niel."


"Bajunya masukin ke ruang ganti ya."


"Wah ada ruang gantinya juga Ma?"


"Ada. Emang di rumah kamu nggak ada?"


"Enggak. Cuma pakai lemari aja Om."


"Oh. Yaudah kamu liat liat dulu aja. Kita tinggal dulu ya."


"Iya Om. Ma. Makasih ya."


"Sama sama."


Alvin tengah mengawasi anak gadisnya yang tengah membersihkan mobil.


"Udah Yah. Sampahnya udah Ara bersihin."

__ADS_1


"Ambil Vacum Cleaner. Ayah nggak mau ada debu juga."


"Lah kok nambah..."


"Oh iya. Cuci sekalian."


"Log gitu..."


"Mau tambah lagi?"


"Enggak."


"Yang ikhlas. Ayah bilangin Ibu nih kalo kamu disuruh orang tua ngedumel begitu."


"Iya. Ara ikhlas kok."


"Bagus. Ayah tunggu disini."


Alvin duduk mengawasi anaknya.


Aya terbangun dari tidurnya tepat tengah malam. Perlahan Ia menyingkirkan lengan kekar suaminya dan turun dari ranjang. Selesai minum dari dapur Aya hendak kembali ke kamar. Namun keadaan lampu ruang keluarga yang masih menyala menyita perhatiannya.


"Sudah jam berapa ini. Kalian belum tidur." Aya menegur Zam dan Daniel yang masih asyik bermain game.


"Eh Ibu. Sebentar lagi ya."


"Iya Ma. Sebentar lagi selesai kok."


"Ibu tunggu disini."


"Ibu tidur aja."


"Nggak. Kalo Ibu tidur nanti kalian lanjut lagi."


"Yaudah. Tunggu ya Bu. 2 Menit lagi. Kita lagi push Rank ini. Tuh turret nya udah hampir habis punya lawan." Kata Zam masih fokus dengan gamenya.


"Ya. Terserah kalian."


Setelah menunggu beberapa menit.


"Sudah selesai."


"Iya Kak. Ayo tidur."


"Ayo tidur Bu."


"Maaf ya Ma. Jadi nunggu."


"Nggak Papa." Mereka menggandeng tangan Aya untuk ke kamar.


"Selamat malam Ibu."


"Selamat malam Sayang." Aya membalas pelukan dan ciuman Zam.


Sekarang tinggal Daniel. Aya mengantarkan Daniel sampai depan kamarnya. "Selamat malam Ma."


"Selamat malam Sayang." Aya juga melakukan hal yang sama pada Daniel. Memeluk dan menciumnya. Daniel merasa bahagia mendapat kasih sayang dari Aya yang tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya. Ia sangat menyayangi Aya seperti Ibunya sendiri.


Aya memasuki kamar setelah mengantar mereka. "kamu bangun Mas?"


"Iya."


"Tidur lagi gih. Besok kamu kerja."


"Iya. Ayo."


Alvin memeluk istrinya erat. Ia begitu bahagia memiliki istri yang sangat baik dan penyayang.


"Katanya mau tidur. Kenapa liatin aku kaya gitu?"


"Nggak. Cuman bersyukur aja punya istri kaya kamu."


"Udah ah. Sekarang tidur."

__ADS_1


"Iya Sayang." Pria itu mencium istrinya sebelum ikut memejamkan mata.


__ADS_2