
Tak terasa pernikahan Aya dan Alvin sudah tiga bulan lamanya. Sikap Alvin masih tetap sama. Sedangkan Aya kini lebih banyak diam seperti biasanya semenjak kejadian itu. Ia akan berbicara seperlunya saja kepada sang suami.
Entah mengapa hatinya masih sakit mengingat kejadian yang lalu lalu.
Wanita itu tengah duduk bersantai di sofa kamar sambil membaca majalah. Ia bergegas bangkit dari duduk saat melihat Alvin pulang. Sebagai istri yang baik Ia akan menyambut suaminya. Mencium tangan lelaki yang menjadi imamnya itu dan dibalas kecupan lembut di kening dan bibirnya. Aya membantu Alvin melepaskan jas dan dasinya.
"Mau langsung mandi? Akan aku siapkan airnya."
"Iya sayang." Aya berlalu pergi untuk melaksanakan tugasnya setelah mendapat jawaban dari sang suami.
"Airnya sudah siap." Kata Aya sambil meyerahkan baju ganti untuk suaminya.
"Terimakasih Sayang."
"Iya." Jawab Aya kembali duduk untuk melakukan kegiatannya yang tertunda.
Alvin keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit membersihkan dirinya. Wangi maskulin menyeruak memenuhi ruangan kamar. Ia duduk di samping sang istri sambil memeluknya. Alvin menghirup aroma wangi Aya dalam dalam.
Pria itu beralih membaringkan kepalannya di pangkuan sang istri. Ia mengelus lembut perut Aya kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang ramping istrinya.
"Sayang.."
"Ya..."
"Kamu masih marah? Sudah lama sikap kamu begitu dingin padaku."
"Aku hanya butuh waktu."
"Aku mengerti. Tapi ini sudah sangat lama. Jangan memperlakukanku seperti ini."
"Kau pernah bilang kan jika aku boleh menghukummu jika kau berbuat salah. Asalkan tidak meninggalkanmu."
"I..iya aku pernah bilang begitu." Jawab Alvin sedikit gagap.
"Inilah hukumanmu." Jawab Aya sambil mengalihkan pandangannya ke samping.
__ADS_1
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Alvin pada istrinya.
"Sebagai seorang istri sudah kewajiban ku untuk mencintaimu." Jawab Aya membuat hati Alvin menghangat.
Ponsel Aya bergetar di tengah obrolan mereka menandakan adanya panggilan masuk. Saat tangannya hendak meraih ponsel itu dengan cepat Alvin mendahuluinya. Pria itu bangkit dari posisinya.
Langsung mengangkat panggilan dengan nomor tak dikenal itu.
Sayang bagaimana kabarmu? Ini kali pertamanya aku menghubungimu. Aku begitu ingin mendengar suaramu.
"Siapa ini?" Tanya Alvin dengan nada yang sedikit meninggi mendengar suara laki laki yang sedang berbicara di sebrang sana.
oh kau suaminya ya. sayang sekali padahal aku ingin mendengar suara indah istrimu.
"Aku tanya siapa kau? ada hubungan apa kau dengan istriku?" Bentak Alvin.
Aku tidak ada hubungan apapun dengan istrimu. Aku seseorang yang mencintainya. Bahkan dia tidak mengenalku dengan baik.
"Apa maumu?"
Alvin beralih menatap istrinya.
"Kau mengenalnya?" Tanya Alvin sedikit membentak.
"Kau sudah mendengar darinya bahwa aku tidak mengenalnya." Kata Aya tegas.
"Lalu kenapa dia bisa menghubungimu?"
"Aku tidak tau. kau selalu saja melimpahkan semua kesalahan padaku."
Alvin menggandeng tangan istrinya dengan paksa. Ia mendorong Aya pelan ke atas ranjang.
"Oh tidak. Apa yang kau lakukan?" Tanya Aya takut dengan suaminya.
Tangan Alvin membuka pakaian istrinya dengan paksa dan membuangnya ke segala arah.
__ADS_1
"Jangan lakukan ini." pinta Aya dengan air mata yang sudah lolos begitu saja.
Alvin menulikan pendengarannya tak peduli dengan tangisan sang istri.
"Aku mohon jangan." lirih Aya melihat suaminya sudah bertelanjang tanpa sehelai kain pun berada di atasnya. Alvin menjamah tubuh istrinya. Membelai dan menciumi setiap bagian tanpa terlewat sedikitpun. Aya hanya bisa diam atas perlakuan suaminya. "Nikmati saja hukumanmu sayang. Kau sudah menghukumku dan kini giliran ku untuk menghukummu."
Alvin menjilati leher Aya dan semakin turun sampai ke bagian favoritnya. "Aku akan memulainya sayang. Memberikanmu kenikmatan yang tak akan pernah kau lupakan." Kata Alvin memulai aksinya. Pria itu begitu bersemangat menuruti gairahnya. Apalagi mendengar ******* Sang istri yang mengalun lembut di telinganya.
"Teruslah mendesah. Aku suka suara indahmu."
Kata Alvin mempercepat temponya. Setelah beberapa jam menikmati kegiatannya. Pria itu memutuskan untuk berhenti. Memberikan istrinya Istirahat karena melihat Aya sudah kelelahan.
Alvin memeluk istrinya dan menyusulnya ke alam mimpi.
Aya terbangun setelah beberapa jam tertidur. Ia langsung memakai pakaiannya dan menuju ke kamar mandi karena merasakan mual dan pusing. Aya memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya begitu lemas saat ini. "Sayang kau kenapa?" Tanya Alvin yang baru saja datang karena khawatir terhadap istrinya.
Aya masih muntah muntah. Alvin menepuk punggung istrinya dengan lembut. Setelah selesai Alvin membantu Aya untuk duduk di sofa kamar.
"Aku akan panggil dokter." Kata Alvin beranjak dari duduknya.
"Jangan." Kata Aya mencegah suaminya.
"Aku tidak mau." lanjutnya lagi.
"Tapi kondisi mu seperti ini."
"Aku tidak mau." Jawab Aya tegas.
"Baiklah." Alvin kembali duduk di samping istrinya.
"Kau melakukannya lagi." kata Aya tiba tiba dengan air mata yang sudah jatuh tak terbendung lagi.
"Aku..."
"Kau melakukan kesalahan yang sama. Permintaan maafmu waktu itu tidak ada artinya." Potong Aya tanpa memberi kesempatan Alvin untuk menyelesaikan kata katanya.
__ADS_1
Alvin hanya bisa meruntuki kebodohannya. Kesalahan yang lalu dan luka yang lama belum sembuh Ia sudah menoreh luka lebih dalam lagi pada istrinya. Beberapa detik kemudian keduanya sama sama diam. Larut dalam pikirannya masing masing. Alvin mencuri curi pandang kepada istrinya yang tengah menatap lurus ke depan. Ia tak berani menatap istrinya secara langsung. Merasa begitu bersalah berkali kali lipat lebih bersalah dari sebelumnya. Karena Ia melakukan kesalahan yang sama pada orang yang begitu Ia cintai. "Mari bercerai." Kata Aya tiba tiba membuat dada Alvin terasa nyeri. Alvin tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya barusan. Pandangannya kosong selaras dengan pikirannya saat ini.