Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Pertemuan


__ADS_3

Alvin sedang memperhatikan istrinya yang tengah tertidur di sofa kamar. Wajahnya begitu lelah karena baru saja sampai Aya langsung sibuk membungkus oleh oleh dari Jogja untuk dibagikan. Alvin mengelus pipi Istrinya lembut. Pria itu kemudian menggendong Aya dan menurunkannya di ranjang dengan hati hati.


"Um.." Aya menggeliat.


"Tutup gordennya Mas. Silau. Aku mau tidur. Capek." Kata Aya dengan mata terpejam.


"Iya." Alvin langsung melaksanakan perintah istrinya. Ia kemudian menyusul Aya di ranjang dan tidur memeluk wanita itu.


"Jam berapa?"


"Hah?" Tanya Alvin karena istrinya bicara tidak jelas.


"Jam berapa?"


"Jam setengah satu."


"oh." Aya melanjutkan tidurnya. Alvin tersenyum melihat tingkah sang istri. Aya kembali manja seperti dulu lagi. Wanita itu sekarang lebih kekanakan tapi juga tidak menghilangkan sifat keibuannya. Alvin mengecup bibir istrinya beberapa kali.


"um...Jangan ganggu."


"Iya Iya. Tidur lagi." Alvin menepuk punggung sang istri.


"Kamu disini ternyata." Kata Alvin melihat istrinya tengah asyik membuat sesuatu dengan anak anak di dapur.


"Kamu dah mandi Mas?"


"Udah. Kamu kebiasaan. Tinggal sebentar aja udah ngilang."


"Kita lagi buat donat madu ni."


"dah jadi?"


"Udah dong. Ayo makan."


Aya mengajak semuanya untuk ke teras belakang.


"Enak. Lain kali bikin lagi ya Ibu."


"Iya." Jawab Aya sambil menikmati eskrimnya yang Ia makan dengan sang suami.


"Tumben kamu makan eskrim Mas. Biasanya gamau."


"Lagi kepengen aja liat kamu makan."


"Acara di perusahaan kapan Mas?"


"Besok. Kamu dah janji mau temenin aku."


"Iya. Aku temenin kok."


"Bagus. Masa iya pemiliknya datang sendiri. Nanti aku dikira cerai sama kamu lagi."


"Ya enggak lah."

__ADS_1


"Yang, Aku nanti malam keluar ya. Ada janji."


"Iya. Kamu hati hati ya. Bawa supir aja takutnya kalo nyetir sendiri ngantuk."


"Iya. Wih istriku sangat perhatian sekali."


"Nggak mau di perhatiin nih? Ok."


"Eh. Jangan gitu dong. Aku mau kok. Mau banget. Makasih ya." Alvin mencubit hidung istrinya.


"Mas aku izin nanti mau beli obat vitamin buat anak anak boleh ya."


"Kamu nggak capek apa?"


"Enggak. Kan sudah tidur sama kamu tadi."


"Aku pesenin aja. Kamu nggak usah keluar."


"Iya deh. Makasih Mas."


"Sama sama."


"Kamu mau kemana?"


"Ambil eskrim lagi. Dah habis."


"Astaga tadi sudah makan."


"Udah."


"Mas... Boleh Ya."


"Yaudah."


"Kalian mau sekalian?" Tawar Aya pada anak anaknya.


"Iya Ibu."


Aya sedang sibuk memilihkan baju untuk suaminya.


"Pakai yang Ini. Ganti sana." Kata Aya pada Alvin yang sedang memeluknya.


"Ntar dulu Yang." Alvin duduk di sofa disusul sang istri. Alvin merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Ia menghela nafasnya mengeluarkan beban yang saat ini tengah mengganjal. "Kamu ada masalah Mas?" Tanya Aya.


"Enggak. Nggak papa kok." Jawab Alvin berbohong. Aya tak lagi bertanya, Ia akan tahu nanti ketika suaminya sudah siap untuk bercerita.


Sosok pria tengah berjalan memasuki sebuah ruangan di hotel mewahnya.


Seorang pelayan menyambut dan mempersilahkannya duduk di antara dua pria lainnya.


"Kak Aslan juga disini?"


"Ya. Begitulah."

__ADS_1


"Ada apa kakak mengumpulkan kita seperti reuni keluarga? Bukannya hubungan kita sedang tidak baik baik saja?"


"Izinkan aku bertemu anakku Vin." Kata Papa Aya memelas.


"Sudah aku bilang kalian hanya bisa membahayakannya saja. Apalagi istrimu itu. Dia ingin aku berpisah dengan istriku menggunakan trik konyol seperti itu. Cih sangat murahan."


"Itu di luar sepengetahuanku Vin. Aku minta maaf karena lalai."


"Kakak tidak bisa tegas dengan istri kakak. Harga diri sebagai laki laki tercoreng karena tunduk pada istri yang seperti itu. Coba kakak lebih tegas sedikit. Jangan apa apa iya. Apa apa iya saja. Karna terlalu kakak turuti dia jadi seenaknya. Bahkan sampai membahayakan anak dan juga menantunya sendiri."


"Maaf Slan."


"Kakak suruh aku kesini hanya untuk bahas ini? Jangan buang buang waktuku di rumah hanya karena membahas hal yang tidak berguna."


"Bukan Vin. Kakak kesini ingin memberitahukan kepada kalian. Bahwa sebenarnya...."


Aya sedang menunggu suaminya. Tidak biasanya Alvin pulang larut atau keluar malam seperti ini. Perasaannya menjadi cemas. Sudah lewat jam 10 malam namun belum ada tanda tanda Alvin datang juga. Aya bahkan sudah berkali kali melihat lewat jendela kemudian duduk lagi.


"Kamu belum tidur Yang?" Tanya Alvin muncul dari balik pintu utama langsung memeluk istrinya.


"Belum. Aku khawatir nungguin kamu nggak pulang pulang."


"Maaf ya kamu jadi nunggu kaya gini. Tadi keasikan ngobrol jadi lupa waktu." Bohongnya.


"Nggak papa Mas. Kamu udah makan Mas?"


"Belum."


"Habis dari luar nggak sekalian makan?"


"Nggak. Aku ma pengen masakan kamu."


"Yaudah kamu bersih bersih sana. Aku ambilin makan dulu."


"Iya Yang. Makasih ya."


"Iya."


Aya menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa kamar. Ia langsung menyuapi Alvin tanpa laki laki itu memintanya. Ia sudah tau sang suami pasti minta di suapi. Jadi percuma saja dia menyuruhnya untuk makan sendiri.


"Yang."


"Hm."


"Kalau misal Mama kamu nyuruh kamu ninggalin aku gimana?"


"Ya aku nggak mau dong Mas. Masa aku ninggalin Kamu. Kenapa tanya begitu?"


"Nggak papa. Cuman pengen tau aja. Dari dulu kan Mama kamu nggak setuju dengan pernikahan kita. Jadi banyak kemungkinan dia mau kita pisah. Seperti yang dulu itu. Dia jebak aku. Aku tanya begini karena buat mastiin kamu nggak akan ninggalin aku bahkan jika Mama kamu yang minta."


"Semuanya akan baik baik saja Mas. Kita hadapi bersama. Jika ada sesuatu kita selesaikan bersama. Masalah bukan hal yang tabu bagi kita. Kita sudah melewati banyak hal. Untuk kejadian yang dulu biar jadi pelajaran untuk kedepannya agar lebih berhati hati. Dan Mas....Terimakasih sudah menjaga kami. Aku dan juga anak anak kita."


"Sama sama Sayang. Terimakasih sudah menjadi istri yang terbaik. Istri yang menjaga dirinya, menjaga anak anaknya, Istri yang membimbing suami ke jalan yang baik ke jalan yang diridhai Allah. Terimakasih atas semua yang kamu lakukan. I Love You." Alvin memeluk Aya erat. Pria itu menikmati kehangatan sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2