Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Astaghfirullah. Hampir Saja


__ADS_3

"Sayang Ayo bangun. Katanya mau puasa. Jadi puasa nggak?" Aya membangunkan putrinya untuk sahur.


"Dek bangun." Zam mengguncangkan tubuh Adiknya.


"Bangun dong sayang. Kamu kan udah janji katanya kalo dibangunin sahur nggak males."


"Kalo ga bangun Ibu tinggal ya. Nanti keburu Imsak."


"Iya Ibu Ara bangun." Langsung mendudukkan diri.


"Ayo cuci muka dulu biar ga ngantuk."


"Iya Ibu. Temani."


"Ayo."


"Ibu. Nanti sore kita jalan jalan ya. boleh?"


"Tidak." Kata Alvin cepat.


"Kenapa Ayah. Ara kan pengen."


"Nanti kalau terjadi sesuatu bagaimana?"


"Ayah. Ara kepengen jalan jalan. Ara belum pernah." Katanya dengan raut wajah sedih.


"Biarin Mas. Iya nanti sore kita jalan jalan."


"kok kamu turutin Yang."


"Kenapa sih. Orang anaknya kepengen juga. Biarin dong."


"Kita ke bazar ya Ibu."


"Jangan makan makanan pinggir jalan Yang."


"kenapa sih Mas."


"Aku cuman khawatir aja. Kita kan nggak tau kebersihannya gimana. Komposisinya apa. Kamu nggak boleh makan sembarangan. Kalo makanannya bisa bikin kamu alergi gimana."


"Bersih kok. Kamu aja yang terlalu berlebihan. Lagian aku belinya juga pilih pilih Mas."


"Tapi Yang."


"Udah, nggak usah khawatir." Jawab Aya menggenggam tangan suaminya.


"Habis ini jangan tidur lagi ya. Tunggu sholat subuh. Susunya jangan lupa diminum."


"Iya Ibu." Jawab mereka patuh.


Cuaca begitu terik hari ini. Kedua anak itu tengah bermalas malasan di ruang keluarga sehabis sholat Dhuhur tadi.


"Zam dan Ara puasa nggak?" Tanya Darwin baru saja datang dengan Alvin dan Rio.


"Puasa Om."


"Jangan lemes gitu dong. Yang semangat."


"Iya. Sudah lapar ya?"


"Enggak lapar Om. Tapi haus."


"Kalian tidur aja. Biar nggak terasa."


"Nanti kita mau jalan jalan sama Ibu. Kalo kita ketiduran nanti ga jadi."


"Nanti Ibu bangunkan. Kalian tidur dulu saja."


"Sama Ibu."


"Iya. Ayo ayo."


"Aya." panggil Rio sebelum Aya beranjak dari duduknya.


"ya Om."


"Kangen soto daging buatan kamu deh."


"Rio." Geram Alvin.


"Kenapa sih Vin. Udah lama aku nggak makan soto daging buatan Aya."


"Jangan aneh aneh kamu. Perasaan tiga hari yang lalu kamu juga makan soto daging buatan istri aku." kata Alvin.


"Iya. Itu itungannya udah lama."

__ADS_1


"Iya nanti Aku bikinin Om."


"Aku juga kangen Ayam bakar kamu Ya."


"Ini lagi satu. Ikut ikutan." Alvin menendang kaki Darwin.


"Iya. Aku bikinin."


"Makasih Ya. Love you." Kata keduanya bersamaan membuat Alvin memaki dalam hati. Pria itu meninju bahu Rio dan Darwin. Sementara Aya bergegas membawa anak anaknya pergi.


Selesai menidurkan kedua anaknya Aya pergi ke dapur untuk memasak.


"Biar saya saja Nyonya. Nanti Tuan marah."


"Bibi bantu bersihkan bahannya saja ya."


"Tapi Nyonya."


"Nggak papa kok Bi."


"Baiklah."


Semua pekerja yang ada di dapur pergi dari sana tanpa sepengetahuan Aya setelah mendapat kode dari Alvin.


Aya fokus menyiapkan bumbu. Sepasang tangan kekar merangkulnya dari belakang secara tiba tiba.


"Ada apa?" Tanya Aya tanpa menoleh.


"Aku bantu. Aku temani."


"Awas ih. Aku susah gerak."


"Biarin. Lagian siapa suruh kamu capek capek masak buat mereka."


"Mas. Kita udah pernah bahas ini sebelumnya."


"Hm. Ok."


Tangan Alvin mengelus paha istrinya.


"Puasa Mas. Kamu suka lupa ya."


"Astaghfirullah. Iya iya. Yaampun." Kata Alvin.


"Nafsunya dijaga."


"Om Darwin sama Om Rio nggak ikut?" Tanya Aya sebelum berangkat.


"Enggak ah. Lagi males keluar. Lain kali aja. Lagian kita juga belum mandi."


"Sana mandi Om biar ganteng."


"Heh. Om memang ganteng tau. Mau mandi atau tidak." Rio mencubit gemas hidung Zam.


"Yaudah kita berangkat dulu ya. Ada pengen dibelikan sesuatu nggak?"


"Aku pikir dulu."


"Kelamaan. Kita tinggal nih." Kata Alvin tak sabaran.


"Astaga Vin sabar. Masih diskusi sama perut sama lidah ini pengen makan apa."


"Ya. Tolong beliin jajanan pasar."


"Apa Om?"


"Apa aja deh. Yang manis manis." Kata Darwin mendahului Rio yang masih berkutat dengan pikirannya.


"Iya. Kalo Om Rio?"


"kalo aku martabak manis sama martabak asin."


"Ok. Kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Anak anak begitu bersemangat ketika mereka sampai di bazar ramadhan.


"Kamu mau apa sayang?"


"Terserah Ibu."


"Kok terserah Ibu? Kan kalian yang punya ide kesini."


"Kita cuman pengen lihat lihat saja Ibu."

__ADS_1


"Oh. Ayo kalo gitu. Kita beli makanannya Om Rio sama Om Darwin."


"Iya."


Alvin terus menggenggam tangan Istrinya tak melepaskan barang sedetik saja.


"Kamu mau apa Mas?"


"Enggak Yang."


"Udah semua ini. Kita pulang."


"Ibu masih ada waktu nggak? Ara pengen ke taman."


"Masih."


"Jangan Ah. Kita langsung pulang saja."


"Sebentar Mas."


"Nanti kamu capek Yang."


"Kalau Ibu capek tidak apa. Kita pulang saja."


Kata Ara sambil tersenyum.


"Enggak kok sayang. Ibu nggak capek. Ayo kesana sebentar."


"Makasih Ibu."


"Sama sama."


Selesai sholat tarawih mereka baru makan karena tidak ingin terganggu ibadahnya karena kekenyangan.


"Soto daging kamu the best Ya." Kata Rio di sela sela makannya.


"Tambah lagi Om. Masih banyak."


"Beres."


"Ayam bakarnya enak. Bumbunya sampai ke dalam."


Aya menyuapi kedua anaknya.


"Kalian makan sediri dong. Udah besar. Ibu kan juga butuh makan."


"Ayah udah besar juga suka minta di suapin Ibu."


"Sukurin Vin." Darwin mengejek Alvin.


"Aku suapi ya Yang."


"Enggak. Aku masih kekenyangan minum es kelapa tadi."


"Kamu belum makan."


"Nanti aja."


"Kalo aku suapi gimana Ya."


"Berani. Aku potong tangan kamu." Bisik Alvin pada Rio karena jika di dengar sang istri pasti akan di marahi. Ia sudah tidak berbicara kasar lagi sekarang. Ia tak mau berkata kasar lagi di depan kedua anak dan istrinya.


"Hehehe bercanda aku."


"Ibu. Kalo lebaran nanti kita bikin kue Ya."


"Jangan. Nanti Ibu kecapean."


"Oh. Maaf Ibu."


"Nggak kok. Iya nanti kita bikin kalo sudah dekat waktu lebaran."


"Yang. Gausah ah. Nanti kamu pingsan kaya tahun lalu." Kata Alvin khawatir.


"Iya Ya. Jaga kesehatan dong."


"Gapapa. Waktu itu emang lagi ga enak badan aja. Tolong izinin ya Mas."


"Jangan Ibu. Tidak jadi tidak apa. Yang penting Ibu nggak kecapean." Kata Zam.


"Ibu nggak papa." Kata Aya. Ia begitu bersyukur mempunyai kedua anak yang penurut dan perhatian.


"Izinin ya Mas."


"Yaudah. Tapi jangan sampai kelelahan."

__ADS_1


"Iya. Makasih Mas."


"Sama sama Sayang." Alvin tersenyum mengelus kepala istrinya membuat Darwin dan Rio berdehem mengingatkan.


__ADS_2