Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Hari Tenang


__ADS_3

Hari ini Alvin tengah bersiap untuk mengantar istrinya memeriksakan kehamilan. Kemarin Ia sudah buat janji dengan dokter kandungan kepercayaannya.


"Ayo Yang. Aku udah selesai." Katanya sambil menghampiri sang istri yang sedang membaca majalah di sofa kamar sambil menunggu Alvin yang masih bersiap.


"Maaf ya nunggu lama." Lanjutnya lagi.


"Enggak kok." Aya langsung berdiri menerima uluran tangan suaminya.


Alvin membantu sang istri turun dari mobil dengan hati hati. Ia merangkul pinggang Aya possesive memasuki rumah sakit. Langkah keduanya langsung tertuju ke ruang dokter kandungan. Alvin membuka pintu perlahan. Pandangannya tertuju pada meja kerja dokter itu yang berada tepat beberapa meter di depan pintu. Menampakkan sosok wanita paruh baya yang sepertinya sedang menunggu kedatangan mereka. "Selamat datang Tuan, Nyonya. Silahkan duduk." Kata dokter itu mempersilahkan.


"Istri saya ingin periksa kandungannya dok."


"Baiklah. Mari ikut saya."


Aya dan Alvin mengikuti dokter itu. Sampainya di tempat yang di tuju Alvin membantu istrinya untuk berbaring.


Dokter melakukukan prosedurnya. Sementara sepasang suami istri itu sibuk memperhatikan layar monitor dengan seksama.


"Kandungannya sehat. Berkembang sesuai dengan usia kehamilan." Jelas dokter.


"Jenis kelaminnya apakah sudah bisa di ketahui dok?"


"Bisa Tuan. Tuan ingin tau sekarang?"


"Iya dok. Kami penasaran." Jawab Aya antusias.


"Sebentar." Kata dokter mengamati dengan teliti.


"Kembar sepasang."


Alvin dan Aya sangat bahagia mendengar ucapan dari sang dokter. Mereka mendapat anak perempuan dan laki laki sekaligus.


"Benar dok?" Tanya Alvin memastikan.


"Iya Tuan. Jenis kelamin si kembar laki laki dan perempuan."


Pemerikasaan telah selesai. Dokter memberi beberapa vitamin dan nasihat untuk Aya dan Alvin untuk menjaga sang buah hati. Seputar asupan nutrisi yang dibutuhkan di masa masa kehamilan juga beberapa kebiasaan yang dapat membuat ibu hamil menjadi rileks seperti jalan pagi dan lain sebagainnya. Sebenarnya Alvin sudah tau semua itu. Karena Ia mempelajari di internet. Namun Ia tetap mendengarkan kata dokter dengan serius.


"Terimakasih dok. Kami permisi dulu." Kata Alvi dan Aya berpamitan setelah selesai.


"Sama sama Tuan. Nyonya." Jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Mas Aku haus. Kamu bawa minum nggak?" Kata Aya dalam perjalanan pulang.


"Bawa dong sayang. Sebentar aku ambilkan." Alvin memberikan minum pada istrinya.


"Sudah."


"Iya. Makasih."


"Sama sama Sayang. Kamu kepengen apa?"


"Nggak ada. Aku nggak pengen apa apa."


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya."


Sampai di rumah Aya dikejutkan dengan pelukan hangat dari Mommy dan Mamanya.


"Dari tadi? Datang kok nggak kasih kabar."


"Baru aja kok. Kata Alvin kamu lagi ke rumah sakit periksa kandungan." Kata Mommy sambil mengelus lembut perut wanita hamil itu.


"Kakak." Darren dan Ano keluar dari rumah langsung memeluk Aya.


"Kalian juga ikut ternyata." Aya mengelus lembut kepala adiknya.


"Iya dong."


"Ayo masuk jangan ngobrol di luar." Ajak Alvin pada mereka.


Semuanya sudah duduk di ruang tengah. Keluarga besar sedang berkumpul saat ini.


"Gimana hasilnya?" Tanya Daddy penasaran.


"Sehat sehat aja kok."


"Bukan itu Vin. Maksudku jenis kelaminnya."


"Laki laki sama perempuan."


Mereka sangat girang mendengar kabar itu. Bahagia sekaligus terharu mendapatkan sepasang anggota keluarga baru.


Suara bersin membuat mereka mengalihkan perhatiannya pada Aya yang sedang menggaruk hidungnya.


"Enggak papa kok. Mungkin pilek aja."


"Jangan jangan alerginya kambuh." Kata Nenek tiba tiba.


"Iya kayanya. Tadi kamu kan ga pake masker dek."


"Iya juga." Sahut Zahwa membenarkan suaminya.


"Udah ah. Ga papa kok. Nanti juga sembuh sendiri."


"Mana mungkin begitu. Kamu istirahat aja gih. Minum obatnya juga."


"Kan lagi hamil Vin. Mana boleh?"


"Boleh kok. Obatnya aman buat ibu hamil."


"Ayo sayang. Aku antar ke kamar."


"Enggak ah Mas. Aku di sini aja."


"Yaudah kalo gitu aku ambilin obatnya."


"Iya."


Baru saja meninggalkan istrinya sebentar Alvin langsung kembali sambil membawa obat dan minum untuk Aya. Ia dengan cekatan membantu sang istri untuk meminum obat.

__ADS_1


"Acara tujuh bulanannya kapan?"


"Tujuh bulanan apa Ma?" Tanya Aya kebingungan. Hidup di luar membuatnya tidak begitu tau adat di sini.


"Tujuh bulanan untuk kandungan kamu dek." Kata Zahwa menjelaskan.


"Emang harus ya?"


"Iya dong. Ini adat kita." Kata Kakek.


"Beberapa Minggu lagi acara tujuh bulanannya. Biar Nenek yang siapkan."


"Di rumah aku aja Bu." Kata Mama.


"Di rumah kita aja Bu." Kata Mommy tak mau kalah.


"Di sini aja." Kata Alvin memutus perdebatan kedua iparnya sebelum berkepanjangan.


Selesai mengobrol mereka makan siang bersama.


"Sayurnya di makan dong Yang." Alvin menyuapi istrinya.


"Yang lain aja."


"Tapi kamu harus makan sayur."


"Enggak ah. Beneran gak enak. Nanti aku makan buah deh."


"Udah Vin jangan di paksa." Kata Papa menasihati menantunya.


"Yaudah kalo gitu." Putusnya mengalah.


"Dari kecil emang susah kalo disuruh makan sayur."


"Iya. Dia nggak pernah berubah." Sahut Daddy.


"Untung kalian nggak begitu." Kata Aya merujuk pada kedua adiknya yang makan dengan lahap.


Suasana menjadi hening kembali setelah semuanya pamit pulang berapa waktu lalu. Alvin kini tengah menemani istrinya beristirahat di kamar.


Ia membaringkan kepala Aya di pahanya sambil mengelus lembut pipi merah jambu sang Istri.


"Beberapa hari ini adalah hari tenang." Kata Alvin membuat Aya mengalihkan pandangannya ke pria itu.


"hari tenang?" Tanyanya bingung.


"Iya. Aku rasa Darwin sudah tau maksudku. Peringatan itu sudah dipikirkannya baik baik. Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganggu kita. Mengganggu kamu."


"Iya. Sekarang sudah tidak ada hal yang aneh aneh lagi. Apa kamu berfikir dia sudah menyerah?"


"Dilihat dari sikapnya yang tenang aku sulit memprediksi. Namun orang itu terkenal sangat ambisius. Sebenarnya aku takut akan ada hal lain lagi yang dia rencanakan. Tentunya hal yang lebih besar dari kemarin." Jelas Alvin dengan raut wajah khawatir.


"Seseorang yang diam bukan berarti tidak memiliki rencana. Justru mereka sedang menyiapkan sesuatu dengan matang. Mendapatkan strategi paling akurat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."


Alvin menggenggam tangan sang istri dan menciumnya beberapa kali.

__ADS_1


"Aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku akan selalu melindungi kamu dan anak anak kita. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Bahkan orang dengan kekuasaan diatasku sekalipun. Aku akan menghadapinya. Karena istriku hanya milikku seorang. Siapapun yang menyentuhmu barang sedikit saja." Ia menjeda kalimatnya. Pandangan matanya lurus ke depan dengan tatapan tajam. " Tidak Akan Aku Izinkan." lanjutnya dengan penuh penekanan.


__ADS_2