Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Anak Kamu Tuh Yang


__ADS_3

"Mau kemana kamu Yang?" Tanya Alvin. Pria itu tetap saja khawatir meski dokter telah menyatakan keadaan Aya sudah baik.


"Mau cuci muka Mas."


"Ayo aku antar."


"Astaga. Aku udah baik baik aja Mas. Aku bisa pergi sendiri."


"Jangan ngeyel deh."


"Yaudah Iya." Alvin menggandeng tangan istrinya menuju kamar mandi.


"Aku bantu."


"Hanya cuci muka. Aku bisa sendiri Mas. Yaampun kamu tuh."


"Tapi..."


"Aku bisa sendiri suamiku sayang...."


"Apa Yang. Ulangi lagi..." Goda Alvin. Sangat jarang istrinya memanggil begitu.


"Tau ah."


"Sebentar. Rambut kamu nanti basah. Aku ikat dulu." Alvin mengikat rambut Aya.


"Makasih."


"Sama sama Sayang." Aya mulai menuangkan sabun muka dan membersihkan wajah cantiknya.


"Aku belum pernah pakai sabun muka kamu."


"Mau coba?"


"Emang boleh?"


"Boleh. Di kulit seger. Nggak kering sama sekali."


"Ntar aja kalo mau mandi. Eh bukannya itu aku yang beliin ya Yang?"


"Iya. Apa apa kebutuhan aku kan yang pesan kamu."


"Iya juga."


"Sudah." Alvin dengan cepat mengambil tissue wajah untuk mengeringkan wajah istrinya.


"Pakai handuk bisa Mas."


"Pakai ini aja. Lebih lembut. Kulit kamu sensitif. Kemarin aja merah merah gitu."


"Iya."


Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. "Kalian tidak ada tugas?"


"Enggak Yah. Semuanya udah beres."


"Bagus. Kalo ada tugas segera di kerjakan biar nggak numpuk."


"Iya Ibu."


"Ibu. Kita mirip Ibu ya. Kenapa nggak mirip Ayah. Biasanya anak itu fisiknya mirip Ayahnya."


"Ibu nggak tau."


"Kenapa Yah?"


"Mana Ayah tau. Ayah bukan dokter."


"Tapi Ara seneng bisa mirip Ibu."


"Oh kamu nggak seneng kalo mirip Ayah?"


"Bukannya gitu Yah. Kalau mirip Ibu Ara kan cantik."

__ADS_1


"Oh. Maksud kamu Ayah jelek begitu?"


Zam dan Aya hanya menyaksikan perdebatan keduanya.


"Nggak gitu Yah. Kalo Ayah kan wajahnya Indonesia banget. Kalo Ibu kan blasteran. Hidung mancung, kulit putih, rambut coklat."


"Ayah juga bersyukur kamu nggak mirip Ayah."


"Kenapa?"


"Ayah nggak mau mirip sama anak nyebelin kaya kamu."


"Ih. Ayah kok gitu."


"Emang kamu nyebelin. Bawaannya ngomong sama kamu itu mulut Ayah jadi cerewet Ra."


"Sudah sudah. Baru beberapa hari akur kok ya mulai lagi kalian."


"Anak kamu tuh Yang."


"Suami Ibu tuh."


"Heh. Kalian." Tegur Aya sementara Zam hanya tertawa menyaksikan ketiganya.


"Kamu kenapa Mas. Nggak bisa tidur?" Aya terbangun.


"Nggak Yang. Aku lapar."


"Tumben malem malem laper. Kamu pengen makan apa? Aku bikinkan."


"Aku pengen spaghetti. Aku masak sendiri aja. Kamu lagi sakit."


"Aku sudah sembuh. Kamu denger sendiri dari dokter kan. Ayo aku bikinkan."


"Tapi..."


"Udah. Ayo aku bikinkan."


"Nggak papa nih?"


Sampai di dapur Aya langsung memasak untuk suaminya.


"Kamu duduk aja." Kata Aya karena Alvin terus menempel.


"Nggak mau. Maunya dekat kamu."


"Ayah sama Ibu belum tidur?" Zam datang mengagetkan mereka. Namun Alvin tidak melepaskan pelukannya.


"Kamu belum tidur sayang?"


"Zam kebangun Ibu. Zam mau minum. Ibu lagi bikin apa?"


"Spaghetti. Ayah kamu lapar. Kamu mau sekalian?"


"Boleh."


Alvin berdecak kesal. Niat ingin berdua dengan istrinya harus terganggu karna putranya.


"Ibu nggak mau? Zam suapi."


"Nggak. Kamu makan saja. Ibu masih kenyang."


"Kamu cepat habiskan Zam. Kembali tidur. Besok kamu ada kuliah."


"Iya Yah."


"Bagus. Adekmu itu kok jauh beda sama kamu ya?"


"Maksudnya Yah?"


"Kalian kembar. Kamu penurut lah yang cewek malah petakilan. Ngeyel lagi."


"Mas."

__ADS_1


"Kembar nggak mesti sama Yah."


"Iya juga." Alvin melanjutkan makannya.


"Sudah kenyang?" Tanya Aya yang tidur di peluk suaminya.


"Kenyang. Enak banget spaghetti bikinan kamu."


"Mas. Untuk mereka berdua..."


"Kamu tenang aja Yang. Mereka sudah mendapatkan apa yang layak untuk mereka. kamu tidak akan pernah bertemu mereka lagi."


"Mas kamu..."


"Aku tidak membunuh mereka. Sesuai keinginan kamu. Aku bukan Tuhan yang berhak mengambil nyawa seseorang. Mereka cukup di asingkan saja jauh dari kita. Biarkan mereka sadar dan bertaubat. Beberapa hari lalu mereka ingin menemui kamu untuk minta maaf. Namun aku melarang. Lebih baik untuk tidak bertemu daripada membuat kamu terluka lagi."


"Makasih Mas."


"Sama sama Sayang. Apapun untuk Istriku. Aku akan melindungi kamu walaupun harus nyawaku sebagian taruhannya. Jika boleh jujur semua yang ada di dunia ini cuman kamu yang aku cintai."


"Mas.."


"Iya, bahkan dengan orang tuaku, anak anakku, kakakku dan diriku sendiri aku lebih mencintai kamu. Jadi jangan tinggalkan aku untuk alasan apapun. Jika kamu pergi maka disitu juga hari terakhir aku bisa hidup."


"Aku nggak akan ninggalin kamu Mas. Aku janji akan selalu ada dan setia di sampingmu."


"Terimakasih Sayang. I love you."


"Too."


"Kamu cuek banget."


"Dari dulu kan emang gini. Tapi kamu ngejar terus."


"Iya. Karna yang ada di hati sama otak aku hanya kamu."


"Mas?"


"Iya Sayang."


"Aku mau negosiasi sama kamu."


"Apa?"


"Kamu kan minta itu setiap hari."


"Iya. Terus?"


"Kurangi satu hari ya. Anggap aja cuti. Cukup seminggu 6 kali aja."


"Mana boleh begitu."


"Boleh. Masa tiap hari aku harus mandi wajib sama begadang mulu."


"Nah. Kalo negosiasi yang ini aku nggak bisa jawab. Aku bahkan udah beliin kamu baju dinas banyak banget."


"Yang kotak bertumpuk tumpuk di walk in closet itu?"


"Iya. kamu suka?"


"Dibuka aja belum. Kamu selalu gitu. Kalo mau beli nggak bilang bilang. Segitu banyaknya. Mubadzir tau."


"Uangku banyak. Nggak usah khawatir bakal miskin cuman gara gara beli lingerie."


"Iya. Tapi satuannya harganya berapa. Terus berapa pcs yang kamu beli. Ih keluar uang banyak."


"Nggak papa. Aku seneng kok."


"Kamu seneng. Aku yang capek."


"Kamu capek kita dapat pahala. Mau dapat pahala nggak? Kalo mau ayo cari pahala sekarang."


"Aku ngantuk. Mau tidur."

__ADS_1


"Alasan Mulu." Alvin mengecup bibir istrinya yang pura pura tidur.


__ADS_2