
Daritadi Zam dan Ara menelfon untuk berbicara dengan Ibunya. Namun Alvin mengabaikan dan hanya membalas dengan pesan saja. Ia tak mau waktunya yang berharga dengan sang istri diganggu. "Mas. Kita lupa tadi nggak belanja. Aku ke swalayan bentar ya."
"Ayo sama Aku."
"Iya. Pakai baju dulu sana. Aku tunggu disini."
"Iya. Sebentar aja Yang." Alvin bergegas untuk memakai bajunya.
Sepasang suami istri yang terpaut usia jauh itu tengah sibuk memilih berbagai bahan masakan. "Kamu mau makan siang pakai apa Mas?"
"Apa yang kamu masak aku makan."
"Capcay mau. Kamu suka sayur."
"Boleh."
"Mau apa lagi?"
"Ayam goreng."
"Terus?"
"Tumis daging boleh."
"Iya."
"Jangan lupa beli buah sama susu juga."
"Iya."
"Mas aku minta ramen ya."
"Jangan. Nggak sehat. Yang lain aja."
"Spaghetti."
"Sama aja Yang. Kemarin kamu udah makan junk food. Masa sekarang mau makan Mie."
"Iya deh. Kayanya udah lengkap semuanya."
"Yaudah kita bayar."
"Ayo."
Aya tengah sibuk di dapur di temani suaminya.
"Restoran kamu gimana Yang?"
"Alhamdulillah semuanya lancar."
"Gaada rencana tutup?"
"Kok gitu? lagian aku kan nggak ngurus langsung."
"Iya. Tapi kalo kamu cek laporan keuangan menyita waktu. Akunya kamu cuekin."
"Maaf Mas. Nggak lagi deh."
"Gitu dong."Alvin memeluk istrinya dengan manja.
"Nanti malem kita jalan jalan yuk."
"Tumben kamu ngajak aku keluar. Memangnya mau kemana?"
"Ke pantai aja gimana? Kita jarang kesana berdua sejak punya anak."
"Boleh. Aku juga pengen kesana."
Kedua remaja itu tengah bermalas malasan di ruang keluarga. Tidak ada Ibunya mereka merasa kesepian dan bosan. Tidak ada yang diajak bercerita dan bercanda.
__ADS_1
"Gimana Kak?"
"Nggak di angkat sama Ayah. Cuman di balas chat aja. Katanya Ibu baik baik saja. Kita jangan ganggu."
"Ayah kebangetan. Kita susul aja."
"Jangan. Nanti Ayah marah."
"Halo kak." Daniel menghampiri Zam dan Ara dan duduk di antara keduanya.
"Tiba tiba nongol aja. Kaya setan."
"Tau ni anak."
"Mama mana?"
"Lagi keluar sama Ayah. Ibu sementara tinggal di apartemen selama rumah di bersihkan."
"Rumahnya bersih kok. Kenapa di bersihkan lagi?"
"Alergi Ibu kambuh gara gara kita bawa kucing ke rumah."
"Oh. Kalo gitu kita susul aja."
"Jangan. Nanti Ayah marah. Kita aja ga boleh ketemu Ibu. Apalagi kamu."
"Yah. Ga bisa makan masakan Mama dong."
"Kita buat sendiri aja."
"Nggak deh. Nggak yakin bakal enak. Kita makan diluar aja."
"Ayo."
"Kamu ikut nggak Niel?"
"Emang boleh?"
"Boleh."
"Mau tumis dagingnya lagi Yang?"
"Astaga. Daritadi kamu nambah mulu. Nanti otot perut kamu yang kotak kotak itu ilang baru tau. Percuma kamu ke gym."
"Biarin. Enak."
"Mas."
"Iya."
"Kita ke pantainya jangan naik mobil ya??"
"La terus..?"
"Naik motor aja."
"Kok naik motor. Nggak ah. Angin malam nggak baik buat kesehatan. Naik mobil aja."
"Yah..."
"Jangan sedih gitu ya. Aku nggak mau kamu sakit. Nurut ya. Lagian naik mobil kan lebih aman. Aku nggak mau kamu kenapa napa."
"Iya."
"Makasih sudah mau mengerti."
"Iya Mas. Lanjutin makannya." Aya melanjutkan menyuapi suaminya.
Malam hari selesai sholat dan makan malam Alvin langsung mengajak istrinya untuk berangkat. Aya sudah tampil cantik dengan dress selutut dengan sneakers. Begitu sederhana namun membuatnya seperti remaja cantik yang masih bersekolah.
__ADS_1
"Kamu kalo gini udah kaya anak aku aja. Aku kaya sugar Daddy kamu tau."
"Mau aku ganti lagi. Ini udah ke lima kalinya aku ganti baju gara gara kamu nggak setuju."
"Nggak usah. Kamu capek sendiri nanti. Kita berangkat sekarang." Alvin menggandeng tangan istrinya dan mengecup kening Aya sebelum memasuki mobil.
Pria itu enggan melepaskan tangan istrinya.
"Jalannya jangan cepat cepat. Nanti jatuh."
"Jatuh juga nggak sakit Mas. Kan bawahnya pasir."
"Wah. Kamu kalo di kasih tau."
"Mas. Aku mau duduk di sana."Tunjuknya pada bangku di bawah pohon kelapa.
"Ayo."
Alvin duduk sambil memeluk sang istri dengan erat.
"Dulu kita pernah kesini. Jam segini juga. Tapi aku masih panggil kamu Om."
"Masih ingat ya."
"Masih dong."
"Aku juga ingat. Aku ingat semua tentang kamu dari kamu bayi sampai sekarang juga aku masih ingat."
"Ingatan kamu bagus Mas."
"Dulu kamu pernah nangis gara gara aku ga ngebolehin kamu naik sepeda lagi."
"Iya. Kamu dari dulu over possessive dan protective."
"Iya. Aku kan sayang sama kamu. Inget nggak dulu kamu waktu kecil suka tidur sama aku."
"Eh...enggak ya. Kamu aja yang suka susulin aku tidur. Katanya nggak bisa tidur. Makannya tidur sama aku. Aku masih inget ya."
"Iya..Hehe.."
"Jodoh, maut, rezeki nggak ada yang tau ya. Aku juga nggak nyangka bisa jadi istri Mas."
"Aku yang minta sama Allah buat di jodohin sama kamu. Akhirnya terkabul juga."
"Seneng kamu?"
"Seneng banget."
"Yang."
"Iya."
"Hal yang paling kamu suka dan paling kamu nggak suka dari aku apa?"
"Hal yang paling aku suka kamu setia, yang paling aku nggak suka kamu kaya nggak peduli gitu sama anak anak."
"Aku peduli kok sama mereka. Tapi ya beginilah. Tidak terlalu over seperti aku ke kamu."
"Kalo kamu yang nggak kamu sukai dari aku apa?"
"Kamu terlalu baik. Sampai nggak sadar kebaikan kamu di manfaatkan orang."
"Apa salahnya berbuat baik. Jika mereka balas dengan kejahatan berarti Alhamdulillah."
"Kok Alhamdulillah."
"Alhamdulillah aku bisa tau mereka orang seperti apa tanpa harus susah susah mencari tau."
"Tapi aku nggak mau kamu terluka atau tersakiti lagi. Jika bukan karna kamu aku sudah bunuh mereka Yang."
__ADS_1
"Sudah Mas. Mereka akan mendapat balasannya. Allah maha adil."
"Beruntung aku punya Istri seperti kamu." kata Alvin mencium Aya. Ia benar benar sangat bersyukur dengan perubahan positif yang ada pada dirinya. Ia juga sangat berterimakasih berkat istrinya Ia bisa hidup bahagia.