
"Sayang ayo masuk. Jangan kelamaan main hujannya. Nanti kalian sakit Lo." Aya memanggil kedua anaknya yang tengah asyik bermain hujan di halaman belakang. Ia sengaja mengizinkan, agar mereka dapat merasakan kesenangan di masa kanak kanaknya.
"Sebentar lagi Ibu."
"Baiklah." Kata Aya pasrah.
Alvin merangkul pundak sang istri dan mengajaknya duduk di sofa.
"Mereka nggak kedinginan apa? Daritadi belum puas juga."
"Biarin Yang. Biar mereka seneng."
"Kalo kelamaan takutnya nanti demam. Lagian ini juga sudah sore Lo."
"Tuh. Mereka datang."
"Ibu. Dingin." Kata keduanya sambil menggigil. Alvin dan Aya mengeringkan tubuh mereka dengan handuk.
"Ayo mandi air hangat. Sudah ibu siapkan."
"Iya Ibu."
Sampai di kamar Aya memandikan mereka bergantian satu per satu. Selesai mandi Ia memakaikan baju panjang dan memberi susu hangat agar rasa dingin di tubuh mereka cepat hilang.
"Masih dingin?"
"Masih Ibu."
Aya menyelimuti kedua anaknya dan memeluk dengan hangat.
"Kan sudah dibilangi. Jangan main hujan lama lama. Kalian ga nurut sih." Alvin ikut memeluk kedua anaknya.
"Maaf Ayah."
Beberapa saat berlalu Zam dan Ara sudah tertidur.
"Badan mereka panas." Kata Aya selesai mengecek suhu tubuh anaknya.
"Kamu temenin mereka dulu ya Mas. Aku mau ambil plester demam."
"Iya."
"Plester demamnya habis Mas. Kita ke apotek yuk."
"Aku suruh orang beli aja Yang. Kamu ga usah repot repot."
"Baiklah. Kalo gitu aku ke dapur dulu. Mau bikin bubur buat mereka."
"Suruh Bibi aja kenapa sih? Kamu disini aja."
"Kenapa sih Mas. Aku pengen bikinin bubur buat anak anak." Aya berlalu pergi.
Alvin membenarkan selimut anak anaknya kemudian pergi menyusul sang istri.
Alvin memeluk istrinya yang tengah sibuk menyiapkan bahan.
"Kamu kok di sini. Kan aku suruh jagain anak anak."
"Mereka lagi tidur."
__ADS_1
"Iya. Nanti kalau kebangun butuh sesuatu gimana?"
"Enggak Yang. Mereka tidurnya pules banget."
"Bisa aja jawabnya."
Alvin meletakkan dagunya di pundak sang istri tanpa melepaskan pelukannya.
"Nanti kamu tidur di kamar anak anak dong Yang?"
"Ya iyalah. Mereka lagi sakit. Masa kamu nggak mau ngalah juga."
"Kalo mereka dah tidur. Kita tidur di kamar kita aja."
"Apa apaan sih. Kamu itu keterlaluan. Masa anak sakit ngomongnya gitu."
"Maaf. Aku terlalu bucin aja sama kamu."
Aya terkekeh mendengar kata baru keluar dari mulut suaminya.
"Darimana belajar bahasa itu?"
"Dari siapa lagi kalo bukan Rio. Dia selalu ngatain aku bucin sama kamu. Tiap hari dia bilang begitu. Sampai suaranya terngiang ngiang di kepala aku."
"Awas dulu. Aku mau rebus air."
"Biar aku aja Yang." Kata Alvin langsung bergegas membantu istrinya.
Aya membalikkan badan dan menggenggam tangan suaminya. Ia mencium tangan itu beberapa kali.
"Mas." Panggil Aya dengan lembut.
"Aku pengen punya anak lagi." Kata Aya membuat Alvin sedikit tersentak.
"Kita sudah punya dua anak. Aku rasa sudah cukup. Aku tidak mengizinkan kamu punya anak lagi. Rasa sakit waktu kamu melahirkan mereka dulu sudah menyiksa aku. Dan aku tidak mau itu terulang lagi. Selain itu, kamu sudah tau alasannya."
"Mas. Aku janji akan membagi waktu dengan baik. Selain itu melahirkan memang sakit. Tapi aku pengen punya anak lagi. Tolong kasih izin Mas."
"Maaf sayang. Untuk permintaanmu yang satu ini. Aku tidak bisa mengabulkan dan aku juga tidak mengizinkan." Alvin memeluk istrinya erat. Berharap wanita itu akan paham.
Aya dan Alvin memasuki kamar anak anaknya.
"Sudah bangun sayang. Makan dulu ya. Ibu sudah bikinkan bubur untuk kalian. Setelah itu minum Obat."
"Iya Ibu."
Aya menyuapi kedua anaknya bergantian kemudian memberi mereka obat untuk menurunkan demam.
"Kalian tidur lagi ya."
"Temani ya Ibu."
"Iya. Ibu sama Ayah disini temani kalian. Sekarang tidur."
"Iya Ibu."
Aya dan Alvin makan malam berdua saling menyuapi.
"Udah kenyang aku Mas. Kamu aja yang makan. Aku suapi."
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya." Aya menyuapi suaminya.
"Kalo di suapi gini aku makannya semangat." Kata Alvin di sela sela makannya.
"masa sih?"
"Iya."
"Kamu kaya anak kecil aja deh Mas. Dulu aku manja. Tapi tidak separah kamu."
"Ya ga papa dong. Aku manja juga sama kamu aja."
"Iya. Orang orang pasti nggak nyangka kalau kamu dingin dan kejam di luar bisa kaya gini. Nanti kalo mereka tau gimana?"
"Biarin kalau tau. Aku juga nggak akan malu." Kata Alvin membuat Aya menggelengkan kepalanya.
Tepat tengah malam. Alvin mengajak istrinya untuk berbicara berdua setelah Zam dan Ara tertidur pulas. Pria itu memangku istrinya dan membelai lembut wajah cantik Aya.
"Mas."
"Aku tau kamu pengen punya anak lagi. Tapi aku benar benar tidak mengizinkan. Jadi kamu jangan coba coba berbuat nekat." Kata Alvin sebelum istrinya melanjutkan.
"Tapi..."
"Kamu tau kan kalau suami ga ridho apa artinya. Jadi aku mohon jangan membantah."
"Baiklah." Aya mencoba mengalah.
"Kita sudah punya segalanya. Anak juga sudah dua. Tidak kurang lagi." Kata Alvin memeluk istrinya.
"Mas."
"Iya sayang."
"Kamu cinta nggak sama aku?"
"Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja. Apakah selama ini aku kurang membuktikan?"
"Bukan begitu. Apa yang paling berkesan saat kita bersama?"
"Semuanya berkesan jika bersamamu." Alvin mengecup bibir istrinya.
"Kamu memang paling pintar merayu. Belajar dari siapa Tuan? Dari Om Rio atau Om Darwin?"
"Mana mungkin belajar dari mereka. Untuk siapa mereka berkata manis. Pacar saja tidak punya."
"Iya juga. Ah aku ngantuk Mas. Aku mau tidur dulu ya."
"Tidur di kamar kita. Aku kangen dipeluk kamu. Usapan kamu. Semuanya bikin kangen."
"nggak ah. Aku tidur di kamar anak anak. Aku mau temani mereka."
Alvin memeluk Aya erat sampai tak bisa bergerak.
"Lepasin Mas."
"Cium di bibir yang lama."
__ADS_1
"Kamu ada ada aja. Ini sudah malam. Aku mau..." Alvin mencium bibir istrinya membuat Aya berhenti bicara. Ia menggendong sang istri tanpa melepaskan pangutannya.