
Akhir akhir ini Aya kurang ***** makan. Perutnya sering sakit. Tapi Ia tidak bilang kepada suaminya. Pria itu pasti akan membawanya ke rumah sakit. Hal yang paling membuat Aya malas.
Selepas memastikan anaknya sudah tidur siang, Aya memutuskan untuk pergi ke kamar ingin istirahat. Perutnya begitu nyeri sekarang. Rasa pusing dan mual mulai muncul bersamaan. Ia sedikit berlari memasuki kamar dan menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Kamu kenapa Yang?" Panik Alvin sambil menepuk punggung istrinya.
"Nggak tau. Mual. Pusing."
"Kita ke rumah sakit."
"Enggak mau."
"Kamu gimana sih. Udah kaya gini nggak mau pergi ke rumah sakit."
"Pengen istirahat aja Mas."
"Yasudah." Alvin menggendong istrinya dan membaringkan di ranjang dengan hati hati.
"Mana yang sakit?"
"Perut aku sakit banget." Rintihnya sambil memegangi perut. Alvin begitu tak tega melihat istrinya seperti ini. Wanita itu mulai menangis pelan kesakitan.
"Lihat. Kamu dah kaya gini. Kita ke rumah sakit aja."
"Ga mau. Jangan ke rumah sakit."
"Kalo gitu aku panggil dokter aja." Aya hanya mengangguk pelan karna tak tahan.
Alvin memijit perut istrinya pelan agar sedikit mengurangi rasa sakit.
Dokter telah selesai memeriksa Aya. Infus juga sudah terpasang di tangannya. Wanita itu sebenarnya harus di rujuk ke rumah sakit. Namun menolak. Alhasil Ia dirawat di rumah dengan kontrol dari dokter untuk memeriksa kondisinya sewaktu waktu.
"Tuh kan aku bilang apa. Jangan makan sembarangan. Kamu ngeyel sih. Lambung kamu luka sekarang. Jadi sakit gini kan. Makan kamu juga nggak teratur sekarang. Kalo dibilangin suami suka ga dengerin." Alvin memarahi istrinya. Memang Aya sekarang jarang makan. Dengan sedikit kebebasan yang diberikan suaminya. Ia sering makan sembarangan.
"Jangan marahin aku dong Mas." Rengeknya sambil meneteskan air mata.
"Maaf. Maaf. Lain kali kalo aku ngomong di dengerin dong." Alvin memeluk istrinya.
"Mulai sekarang kamu minta makanan yang aneh aneh lagi aku nggak akan kasih. Sampai nangis pun aku nggak akan luluh lagi." Aya hanya diam mendengarkan suaminya yang tengah mengomel.
"Masih sakit?" Tanya Alvin lembut.
"Iya." Alvin mengelus perut istrinya.
"Dipakai tidur aja. Biar ga ngerasa sakit lagi."
"Nggak bisa tidur."
"Dah merem aja. Nanti juga tidur sendiri." Aya menuruti perkataan suaminya. Ia mulai memejamkan mata.
"Mereka sudah pulang Mas?" Aya menanyakan keluarga besar serta dua sahabat Alvin yang menjenguknya.
"Sudah. Sekarang makan dulu." Alvin mulai menyuapi istrinya dengan bubur.
"Ibu. Nanti kita tidur disini ya. Kita temani Ibu."
"Jangan. Ibu butuh istirahat biar cepat sembuh. Kalian tidur sendiri ya."
__ADS_1
"Iya Ayah."
"Kalian sudah makan sayang?"
"Sudah Ibu. Tadi disuapi Oma Ayla sama Opa Aslan."
"Mas kamu sudah makan?"
"Nanti. Habis ini aku makan."
"Kamu makan dulu aja. Aku bisa makan sendiri."
"Enggak. Kamu makan. Harus aku yang suapi."
"Baiklah. Jangan lupa makan."
"Iya istriku."
"Ayah."
"Iya sayang."
"Kenapa kita tidak pernah bertemu kakek nenek dari Ayah?"
"Papa dan Mama Ayah sudah meninggal sayang. Bahkan saat itu Ayah masih seusia kalian."
"Oh."
"Ibu."
"Ya sayang."
"Mereka berdua Opa kalian sayang." Jawab Aya lembut.
"Kok kita punya dua Opa dari Ibu?" Tanya Ara masih kebingungan.
"Yang melahirkan Ibu itu Oma Desi dan yang merawat Ibu itu Oma Ayla. Jadi mereka semua Oma dan Opa kalian."
"Oh begitu. Kenapa Ibu tidak dirawat Oma Desi? Padahal yang melahirkan Ibu kan Oma Desi."
"Ceritanya panjang sayang. Kalian akan mengerti ketika dewasa nanti."
"Ibu dititipkan ke Oma Ayla oleh Oma kalian yang tidak bertanggung jawab itu." Celetuk Alvin. Ia sudah tak tahan lagi harus menutupi betapa tidak berperasaannya orang tua istrinya itu.
"Mas." Tegur Aya.
"Emang bener kan. Dah aku tinggal ambilin kamu buah dulu Yang." Alvin mencium istrinya sebelum pergi.
Suasana hening beberapa saat setelah Alvin pergi.
"Ibu."
"Iya sayang."
"Mereka jahat ya Ibu. Oma dan Opa tidak merawat anaknya sendiri."
"Bukan begitu sayang. Mereka punya alasan."
__ADS_1
"Ibu tidak akan menitipkan kami ke orang lain seperti yang dilakukan Oma kan?"
deg...Aya merasakan tekanan di jantungnya ketika anaknya menanyakan hal itu. Mereka masih kecil namun sudah mengerti.
"Tidak sayang. Ibu sayang kalian. Kalian adalah amanah dari tuhan yang begitu berharga untuk Ibu. Mana mungkin Ibu menitipkan kalian pada orang lain. Ibu akan merawat anak anak ibu sendiri."
Mereka memeluk Aya hangat.
"Kami juga sayang Ibu."
"Sudah pelukannya. Kalian harus tidur. Besok sekolah. Jangan terlambat bangun."
"Iya Ayah."
"Selamat malam Ibu. Ayah. Ibu cepat sembuh ya" Memeluk dan mencium kedua orang tuanya.
" Iya sayang. Selamat malam."
Aya belum tertidur juga dalam dekapan suaminya.
"Mas."
"Iya sayang. Kamu butuh sesuatu?"
"Enggak. Tadi anak anak tanya."
"Tanya apa?"
"Tanya Aku akan menitipkan mereka atau tidak. Karena mereka tau aku di titipkan ke Mommy dulu."
"Mereka kira kita juga akan begitu. Karna mendengar kamu yang dititipkan Mama kamu ke Kak Ayla."
"Iya juga."
"Mereka cepat menangkap pembicaraan."
"Lagian kamu sih pake ngomong segala."
"Cepat atau lambat mereka juga akan tau. Jadi sama saja."
"Perut kamu masih sakit?" Tanya Alvin.
"Sudah mendingan." Alvin menepuk punggung istrinya pelan.
"Aku kira tadi kamu muntah muntah karena hamil lagi."
"Mana ada. Kamu kan nggak ngebolehin aku hamil lagi."
"Iya sayang. Dua aja udah cukup buat aku."
"Buat aku masih kurang."
"Kamu nggak bersyukur banget dah dikasih dua."
"Bukannya gitu. Aku..."
Alvin mencium bibir istrinya untuk membuat wanita itu diam.
__ADS_1
"Tidur Sayang. Sudah malam. Kamu butuh istirahat. Selamat malam Istriku Sayang." Alvin mengecup kening Aya dan mendekapnya lebih erat.
"Malam Mas." Jawab Aya pelan.