
Aya dan kedua anaknya sedang berada di bandara tempatnya pergi sebulan yang lalu. Beberapa mobil berhenti tepat di depan mereka. Mommy dan Daddy langsung turun memeluk Aya dan cucu cucunya. Disusul Kakek dan Nenek di belakang mereka.
"Mommy merindukan kalian." Memeluk putrinya erat.
"Kami juga merindukan Mommy."
"Daddy kangen kamu sayang."
"Aku juga kangen Daddy."
"Ayo kita pulang. Melepas rindunya nanti dirumah saja." Kata Daddy membukakan pintu mobil untuk mereka.
Daddy membawa pulang putri dan cucu cucunya ke mansion.
Alvin dan Rio mengikuti mereka dengan mobil yang berbeda.
Semuanya sudah berkumpul untuk melepas rindu. Aya menyuruh kedua anaknya untuk beristirahat terlebih dahulu. Karana Aya tau mereka cukup lelah dalam perjalanan.
"Mulai sekarang kamu tinggal disini sayang." Kata Daddy membuat Alvin geram.
"Tidak. Dia istriku. Dia harus ikut pulang bersamaku." Kata Alvin lantang.
"Aku tidak mengizinkannya Vin. Kau sudah membuat putriku menderita. Kau sudah melukai harga dirinya. Anakku akan tetap tinggal disini dengan atau tanpa persetujuanmu."
"Kak. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membahagiakan mereka."
"Simpan kata katamu itu. Jangan sekedar bicara jika tidak bisa membuktikan. Berapa kali kau bilang seperti itu tapi kenyataanya Nihil. Dia anakku Vin. Kau juga seorang Ayah. Hati orang tua mana yang rela anaknya di lukai seperti ini. Kamu egois Vin. Kamu tidak pernah memikirkan orang orang lain."
Mama dan Papa Aya hanya terdiam melihat bagaimana sang adik membela anak yang sebenarnya bukan darah dagingnya.
"Aku ingin istirahat." Kata Aya mulai merasakan pening di kepalanya.
"Mommy antar sayang."
"Iya Mom."
Mommy menunggui Aya sampai putrinya tertidur. Ia meneteskan air mata melihat tangan anaknya yang terluka. Tubuh Aya juga begitu kurus. Ketara jika Ia bekerja keras di luar sana. Mommy mendapat semua informasi tentang anaknya selama sebulan ini Aya meninggalkan rumah. Tentang bagaimana putrinya merintis bisnis, mengurus anak dan menangani sendiri restorannya. Mommy mencium tangan Aya beberapa kali. "Jangan Tinggalkan Mommy lagi." lirihnya pelan agar tidur anak perempuannya tidak terganggu.
Mereka tengah berkumpul di teras belakang sambil mengawasi anak anak yang sedang bermain.
"Makan dulu sayang. Liat badan kamu kurus begitu."
"Aku belum lapar Mom. Makannya nanti saja." Kata Aya.
"Mommy suapi. Masa Mommy udah bawain makan kesini kamu tega nolak."
"Baiklah."
"Atau mau aku yang suapi kak?" Kata Darren
"Sudah. Mommy aja." Mommy mulai menyuapi Aya.
"Rendang Mommy emang enak."
__ADS_1
"Makan yang banyak. Badan kamu kurus gitu."
"Iya Nek."
"Nanti kalo telat makan asam lambung kamu kambuh Lo." Tutur Kakek.
"Iya kek."
"Kakak ga pernah makan ya?"
"Makan kok. Cuman kakak sibuk aja. Jadi suka telat makannya."
"Jangan sampai telat makan dong Dek." Adam menasihati Adiknya.
"iya."
Alvin hanya bisa diam disitu tak banyak bicara. karena semua sumber masalah ini berawal darinya.
"Vin. Ayah mau bicara sama kamu." Kata Kakek bangkir dari duduknya.
"Iya Yah." Kata Alvin mengikuti sang Ayah.
Mereka duduk berdua di gazebo dekat kolam renang sekarang.
"Yah. Aku mau bawa istriku pulang."
"Kamu tau kesalahan kamu?"
"Aku tau Yah. Aku akan memperbaikinya. Ayah bantu aku."
"Hati orang tua manapun akan sakit Vin ketika anaknya diperlakukan seperti itu. Kita tau Aya bukan anak kandung Aslan kakakmu. Tapi cintanya pada sang putri melebihi cinta orang tua kandung Aya sendiri."
"Aku tau Yah. Kak Aslan tidak salah. Tindakannya adalah bukti bagaimana Ia benar benar menjaga dan melindungi anak anaknya."
"Biarkan Aya disini dulu sesuai dengan kemauan Daddy-nya. Ketika hatinya sudah membaik bicarakan baik baik."
"Iya yah." Alvin terpaksa harus menurut daripada masalah bertambah panjang.
"Kalian mau kan tinggal disini?"
"Kami ikut Ibu Opa. Dimana Ibu nyaman kami juga nyaman." Jawab Zam.
"Bagus. Mulai sekarang kalian tinggal disini ya."
"Iya Opa."
"Ibu." Zam dan Ara berlari memeluk ibunya yang tengah di suapi Mommy.
"Ibu sedang makan?"
"Iya sayang. Kalian sudah makan belum?"
"Sudah Ibu. Tadi di Suapi Nenek dan Kakek."
__ADS_1
"Enak nggak masakan Oma?"
"Enak Oma."
"Kalian mau es krim nggak. Oma punya eskrim."
"Mau Oma."
"Darren. Ano. Ajak mereka makan eskrim."
"Ok Mom."
"Ayok. Om gendong." Darren dan Ano menggendong Zam dan Ara.
"Mom."
"Iya sayang."
"Minggu depan aku balik ke Jogja."
"Kamu tega ninggalin Mommy?" Kata wanita itu mulai berkaca kaca menatap anak perempuannya.
"Maaf Mom."
"Jangan pergi lagi." Mommy menjatuhkan air matanya yang sedaritadi ditahan. Ia memeluk Aya begitu erat seakan tak ingin kehilangan.
"Tapi Mom. Restoran aku disana bagaimana?"
"Kamu bisa buka cabang disini. Yang disana percayakan saja pada orang lain."
"Mommy mohon jangan tinggalin Mommy." katanya lirih menahan rasa sesak di dada.
Aya mengusap air mata Mommynya.
"Kamu tega ninggalin Mommy? Kamu tega lihat Mommy tersiksa karena sedih setiap hari?" lanjutnya.
"Maaf Mom." lirih Aya menggenggam tangan Mommynya.
"Lihat tangan kamu luka luka. Kamu juga begitu kurus. Mommy tidak tega melihatnya. Kamu pasti bekerja dengan keras disana. Tinggallah disini dengan Mommy. Jangan pergi lagi." Mommy memeluk Aya lagi untuk yang kesekian kalinya.
Aya menepuk punggung Mommynya dengan lembut untuk memberikan ketenangan pada wanita itu.
"Sudah Mom jangan nangis lagi."
"Kamu janji kan ga akan ninggalin Mommy?"
"Iya."
"Kamu akan tinggal disini dengan Mommy kan?"
"Iya Mom."
"Terimakasih sayang."
__ADS_1
"Apapun untuk Mommy." Kata Aya sambil tersenyum memberikan kekuatan pada wanita yang sudah merawat dan menjaganya itu.