Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kamu Tau Mau Aku Apa Mas?


__ADS_3

Sudah lima hari menjalankan perawatan di rumahnya. Aya sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Tapi harus selalu menjaga kondisi dan makanannya.


"Kamu di rumah aja. Ga usah nganter anak anak ke sekolah."


"Aku sudah sembuh Mas."


"Aku nggak kasih izin. Kamu baru aja sembuh. Biar nanti aku yang antar mereka."


"Baiklah." jawab Aya patuh.


"Aku berangkat dulu Yang. Jangan capek capek dan jangan makan aneh aneh. Aku tau kamu lagi ngapain dan makan apa aja."


"Iya."


"Yasudah aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Alvin memeluk dan mencium istrinya.


"Waalaikumsalam."


"Ibu kita berangkat dulu." Mencium tangan Aya.


"Iya sayang. Hati hati." Mencium kedua anaknya.


Aya memasuki rumah setelah mereka berangkat. Ia melangkahkan kaki menuju dapur.


"Bibi."


"Iya Nyonya. Nyonya butuh sesuatu?"


"Saya kepengen semangka Bi."


"Baik Nyonya saya siapkan."


"Saya ada di teras belakang ya Bi."


"Iya Nyonya." Wanita itu langsung menyiapkan kemauan majikannya.


Alvin tengah mengecek berkas berkas yang ada di mejanya. Manik matanya begitu serius membaca dan menganalisisnya.

__ADS_1


Sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam memasuki ruangan Alvin. Ia berdiri tegak di depan meja kerja. Alvin tak mengangkat pandangannya sedikitpun.


"Tuan."


"Apa yang kau dapat?"


"Ini Tuan." Menyerahkan Amplop coklat di atas meja.


Alvin baru menghentikan kegiatannya kemudian beralih melihat isi amplop itu.


Ia memukul meja kerjanya dengan keras.


"Kenapa baru melaporkannya sekarang?" Bentaknya membuat siapa saja yang belum terbiasa mungkin akan terkena serangan jantung dan meninggal di tempat.


"Maaf Tuan. Anda sedang sibuk merawat Nyonya karena sakit. Jadi saya tidak ingin mengganggu."


"Siapa dia?" Tanya Alvin merujuk pada pria yang berada dalam foto itu.


"Itu adalah Tuan Felix. Pengusaha properti keturunan Tionghoa. Ia ditinggal istrinya dengan seorang anak hasil hubungan gelap sang istri. Anaknya juga bersekolah di tempat yang sama dengan Nona dan Tuan Muda. Sehingga Nyonya dan Tuan Felix sering bertemu ketika menjemput anak anak. Tapi Tuan..." Menjeda kalimatnya karena takut akan kemarahan Alvin nanti. Bukan kemarahan pada dirinya. Ia lebih khawatir akan kemarahan Alvin pada sang Istri.


"Lanjutkan..."


"Sialan." Teriak Alvin menggema di ruangannya.


"Kau boleh keluar." Kata Alvin dingin.


"Baik Tuan."


Pria itu keluar dan berpapasan dengan Rio yang hendak masuk.


"Kau masih memata matai istrimu?" Tanya Rio melihat Foto di atas meja.


"Diam kau. Ada apa kau kesini?"


"Ada meeting sebentar lagi. Vin aku harap kau dengarkan istrimu dulu. Aya tidak mungkin berani bermain di belakangmu. Jangan salah ambil langkah."


"Diam. Ayo kita pergi." Kata Alvin berjalan meninggalkan Rio yang masih berdiri mematung. Ia akan buat perhitungan pada istrinya nanti setelah urusan di kantor selesai.

__ADS_1


Alvin pulang langsung menuju kamar dan menguncinya agar anak anak tidak dapat masuk.


"Kamu sudah pulang Mas? Tumben agak lama."


"Ini apa?" Kata Alvin membanting foto foto itu di meja tanpa menjawab pertanyaan Istrinya.


"Apa sih Mas. Itu Ayahnya teman Zam dan Ara." Aya menjelaskan setelah melihat foto itu satu per satu.


"Kenapa kamu deket banget sama dia. Mulai pintar ya kamu. Mau main main di belakang aku?" Tanya Alvin sambil membentak dengan keras.


"Istighfar Mas. Ngomong baik baik dong. Kita bicara pelan pelan. Aku bisa jelaskan"


"Apa yang kamu mau jelasin. Oh aku baru sadar sekarang. Kamu semangat banget pergi antar anak anak ke sekolah gara gara dia ya. Pengen ketemu tiap hari begitu?"


"Mas. Kamu jangan nuduh aku yang enggak enggak dong." Aya tak kuasa menahan air matanya.


"Kenapa? Dia lebih muda atau lebih kaya dari aku? Kamu pengen sama dia? Oh begitu ya kamu. Sudah bosen sama aku?"


"Astaghfirullah Mas. Kamu ngomong apa sih? Dimata kamu aku perempuan yang seperti itu ya. Demi Allah Mas. Aku nggak ada niatan main main di belakang kamu." Aya sampai berlutut di depan suaminya.


"Jangan bawa bawa nama tuhan jika kelakuan kamu seperti ini. Menggoda laki laki lain di luar sana. Kamu pikir aku nggak tau kalian tiap hari ngobrol di taman. Kamu pikir aku nggak tau anak dia panggil kamu Mama. Kamu mau jadi Mamanya dia? Berani kamu macam macam Aku nggak segan segan membuat perhitungan dengan selingkuhan kamu itu." Alvin meninggikan suaranya.


"Enggak gitu Mas. Aku nggak selingkuh. Aku hanya kasihan. Dia tidak bertemu ibunya sejak lahir."


"Begini watak kamu. Selalu mementingkan perasaan orang lain ketimbang perasaan suami sendiri. Demi laki laki itu dan anaknya kamu bikin aku marah marah seperti ini. Aku udah kasih kamu kebebasan kamu salah gunakan. Kamu nggak bisa di percaya sekarang. Apa sebenarnya mau kamu ha?" Bentak Alvin meluapkan semua kemarahannya.


Aya mendongakkan kepalanya menatap sang suami dengan mata sembabnya. Alvin sebenarnya tak tega. Namun emosi sudah menguasai dirinya.


"Kamu bukan sekali atau dua kali fitnah aku kaya gini. Sudah berkali kali Mas. Sampai aku pun lupa. Kamu tau mau aku apa Mas?" Aya menjeda kalimatnya. Ia mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan ya perlahan.


"Pulangkan aku ke orang tua aku."


Deg. Alvin tersentak dengan ucapan sang istri.


"Untuk harta jangan khawatir. Aku tidak akan ambil sepeserpun harta kamu. Aku kembalikan semuanya. Aku juga akan merawat anak anak aku sendiri." Kata Aya bangkit dari duduknya mencium tangan Alvin dan pergi.


"Assalamualaikum." Kata Aya namun tak mendapat jawaban dari sang suami.

__ADS_1


Alvin hanya bisa diam mematung. Otaknya kosong tak bisa berfikir atau melakukan apa apa sekarang.


__ADS_2