
Alvin membawakan makan malam untuk istrinya. Ia ingin makan berdua saja di kamar tanpa ada yang menganggu. "Sayang bangun. Kamu harus makan dan minum susu." Kata Alvin lembut membangunkan Aya.
"um...Aku tidak lapar."
"Bagun Sayang. Kamu harus makan." Alvin menciumi wajah istrinya agar terbangun.
"Jam berapa?" tanya Aya sambil mendudukkan diri.
"Jam 7."
"Aku mau sholat Isya dulu."
"Iya kita sholat dulu saja."
Selesai sholat Alvin segera mengajak Aya untuk makan. Ia mendudukkan diri di sofa sambil memangku Aya. "Aku mau duduk sendiri." Kata Aya tidak nyaman.
"Diam By." Tegas Alvin membuat Aya tak berkutik.
"Bagus. Patuh seperti itu. Aku suka." Kata Alvin sambil menyuapi Aya.
"Sudah makan?"
Alvin menggeleng menanggapi istri kecilnya.
"Makanlah. Aku bisa makan sendiri sendiri."
"Aku akan menyuapimu." Kata Alvin sedikit mengancam.
"Minum susunya dan juga Vitamin." perintah Alvin setelah Aya menghabiskan makannya.
"Aku sudah kenyang. Perutku tidak muat lagi." Rengek Aya.
"Mau minum sendiri atau aku bantu dengan caraku?"
Aya terdiam kemudian melaksanakan perintah suaminya.
Kini keduanya tengah duduk di sofa. Alvin tetap memangku Aya. mendekap kepala gadis itu untuk menempel di dada bidangnya. Tangannya menelusup ke baju tidur Aya dan mengelus perut rata itu dengan lembut.
"Hentikan. Geli."
"Sudah aku katakan sayang. Aku tidak suka ditolak. Kamu harus menurut." Kata Alvin tidak mau mendengar keluhan istrinya.
"Aku mau jalan jalan sebentar."
"Kemana?"
"Taman. Aku tidak keluar kamar ini berhari hari. Itu membuatku bosan."
"Baiklah. Tapi sebentar saja."
"Iya."
__ADS_1
Alvin membawa istrinya ke taman rumah. Tangannya pun tak pernah lepas untuk menggenggam tangan Aya. Keduanya duduk di bangku taman sebentar. Aya mengajak Alvin untuk berkeliling rumah. Gadis itu tampak memperhatikan setiap detailnya dengan cermat.
"Sudah. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Ayo masuk."
"Sebentar lagi. Kumohon." Pinta Aya dengan mata berbinar.
"Baiklah baiklah." Putus Alvin menuruti Istrinya.
Mata Aya tertuju pada gazebo dekat kolam renang. Ia melangkahkan kaki menuju kesana lalu duduk diikuti Alvin di sampingnya. Setengah jam berlalu. Mereka saling mengobrol dan Alvin tentunya yang mendominasi. Pria itu memberikan berbagai peringatan pada istrinya. Ocehan Alvin membuat Aya mengantuk. Ia tertidur bersandar di bahu suaminya. Pria itu memandang wajah istrinya tak tega. Tapi Ia harus melakukan ini. Tekadnya sudah bulat untuk membuat Aya tetap berada di sisinya. Alvin menggendong Aya menuju kamar. Membaringkan tubuh ringan yang tengah tertidur itu dengan hati-hati. Ia membuka bajunya dan ikut tidur di samping sang istri sambil memeluk erat. Pikirannya melayang memikirkan siapa yang mengirimi paket bunga pada istrinya. Begitu sulit dilacak. 'Bukan orang sembarangan.' batin Alvi karena pencariannya selama ini tidak membuahkan hasil padahal sudah menyuruh orang yang berpengalaman untuk mengatasinya. Ia menghembuskan nafasnya. Memperhatikan istrinya yang tengah tertidur dengan tenang. Begitu cantik dalam keadaan apapun. Alvin sangat beruntung memiliki istri seperti Aya.
Inilah alasan Ia tak mau kehilangan istri tercinta.
Pagi hari Alvin tengah duduk santai sambil menunggu istrinya.
"Sayang kamu sudah selesai belum?" Alvin menghampiri Aya yang sedang menyisir rambutnya.
"Iya."
"Ayo sarapan. Kita sarapan di belakang. Cuacanya sangat bagus hari ini." Kata Alvin menggandeng tangan Aya menuju halaman belakang.
Di gazebo sudah tersedia berbagai macam menu sarapan untuk keduanya.
Alvin menyuapi Aya dan dirinya sendiri. Mereka makan sepiring berdua.
"Aku tidak mau itu." Kata Aya sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Hanya brokoli. Tidak perlu takut. Rasanya enak kok." Bujuk Alvin meyakinkan.
"Baiklah." Kata Alvin tidak ingin memaksa.
Selesai sarapan Alvin mengajak Aya untuk berkeliling kebun buah yang Ia tanam untuk istrinya. Alvin tau Aya begitu menyukai tanaman buah buahan karena itu di mansion juga di sediakan kebun buah oleh Alvin dan Daddy nya hanya untuk menyenangkan gadis itu.
"Kamu mau itu Yang?" tanya Alvin yang sedari tadi melihat Aya tampak memperhatikan pohon jambu air yang sedang berbuah lebat.
"Iya. Aku mau coba."
"Baiklah aku ambilkan." Alvin mengambil satu dan di lap dengan tissue agar bersih.
"Kenapa sepat sekali?" Tanya Aya sambil menutup mulutnya.
"Masa sih?" Alvin mencoba jambu sisa istrinya.
"Iya." Katanya menyetujui.
"Pak Ali." Panggil Alvin tegas pada tukang kebun di rumahnya.
"Iya Tuan." Jawab pria paruh baya itu menghadap sang majikan.
"Kenapa jambu ini sepat sekali?"
"Maaf Tuan. Jambu ini manis kok. Bibitnya saya sendiri yang beli."
__ADS_1
"Kau tanya saja istriku."
"Benar Nyonya?"
"Iya pak. Sepat."
"Coba petik yang merah agak kehitaman Tuan. Sepertinya yang tuan petik kurang matang." Kata pak Ali melihat Jambu yang di petik tuannya berwarna merah pucat.
"Baiklah."
Alvin memetik sesuai yang disarankan pak Ali dan mencobanya terlebih dahulu sebelum diberikan ke Aya.
"Manis. Cobalah sayang." Alvin menyuapi istrinya.
"Manis." Kata Aya.
"Baiklah. Bapak boleh pergi."
"Baik Tuan."
"Terimakasih pak." Aya tersenyum ramah.
"Sama sama Nyonya. Saya permisi." Kata Pak Ali menunduk hormat lalu pergi.
Alvin tiba tiba mencium bibir Aya dengan rakus.
"Laik kali jangan tersenyum pada orang lain sayang." Kata Alvin.
"Kau dengar Sayang?" tanyanya lagi karena tidak mendapat jawaban.
"Iya."
Keduanya melanjutkan perjalanannya.
"Kenapa pohonnya pendek pendek?"
"Tentu saja agar lebih mudah memetiknya sayang." Jawab Alvin sambil mencubit gemas hidung istrinya.
"Aku mau petik sendiri." Aya hendak melangkah langsung di hentikan oleh Alvin.
"Tidak boleh. Biar aku yang petik. Nanti ada semut atau ulat kau bisa gatal gatal."
"Selalu begitu." Gumam Aya sambil cemberut.
Keduanya kembali melangkah. Manik mata gadis itu tertarik dengan buah yang nampak menggugah seleranya. "Aku mau itu." tunjuk Aya pada jeruk mandarin.
"Iya." Alvin memetik dan mengupaskannya untuk Aya.
"Manis Yang?"
"Iya." Jawab Aya sambil mengunyah. Alvin tersenyum mengelus pipi istrinya yang tengah sibuk makan.
__ADS_1