
Alvin membantu istrinya duduk dengan nyaman di sofa setelah mengantar keluarga besar ke halaman depan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Wah sudah datang. Duduk duduk.."Aya menyambut kedatangan pekerja di rumahnya.
"Minal Aidzin wal Faidzin. Kami mohon maaf lahir batin. Selamat hari Raya Idhul Fitri." Kata mereka.
"Iya. Selamat hari raya juga." Kata Aya menyambut salaman dan pelukan mereka satu per satu.
"Yang laki laki jangan. Salaman juga tidak boleh." Alvin berkata tegas.
"Baik Tuan."
"Sayang. Salaman sama Om sama Bibinya dong."
"Iya Ibu."
"Zam sama Ara minta maaf ya Paman. Bibi." keduanya mencium tangan mereka bergantian satu per satu.
"Iya Tuan muda. Nona muda. Bibi dan Paman juga minta maaf jika ada salah disengaja maupun tidak."
"Iya Paman. Bibi."
Mereka sangat terkesan dengan cara Aya mendidik anak anaknya. Nilai nilai sopan santun dan kejujuran selalu di tanamkan dengan nasehat nasehat yang lembut. Tidak heran jika kedua anaknya menjadi baik dan begitu menghargai orang lain. Meskipun mereka hanya seorang pelayan dan penjaga rumah di sini. Namun si kembar sangat santun jika berbicara.
"Nyonya. Kaki Nyonya kenapa?" Tanya mereka baru menyadari sesuatu.
"Ah. Cuman jatuh."
"Masih sakit Nyonya?"
"Tidak. Hanya kadang terasa sedikit nyeri saja."
"Semoga cepat sembuh Nyonya."
"Terimakasih."
"Nyonya kami membawa oleh oleh. Semoga suka." menaruh kotak kotak di atas meja.
"Terimakasih ya. Nanti saya buka. Kalian istirahat dulu saja. Pasti capek."
"Sama sama Nyonya. Kami permisi."
"Iya."
"Ibu. Ini boleh dibuka tidak?"
"Buka saja sayang." Zam dan Ara membukanya dengan semangat.
"Jangan makan sembarangan Yang." Kata Alvin melihat kotak itu penuh makanan yang tidak di kenalinya.
"Kenapa sih Mas aku pengen coba."
"Tapi Yang..."
__ADS_1
"Kita harus menghargai pemberian orang lain."
"Ibu ini apa?" tanya Ara kebingungan.
"Ibu juga tidak tau. Masa tidak ada tulisannya sayang?"
"Ada. Dodol Garut. Ara boleh makan?"
"Wah sudah lancar bacanya. Boleh sayang. Makanlah."
"Ibu mau coba tidak. Zam suapi."
"Boleh sayang." Zam menyuapi Aya.
"Manis."
"Ibu baru pertama makan ini?"
"Iya sayang."
Mereka mencicipi berbagai makanan. Alvin hanya diam sambil memperhatikan saja. Ia tak tega melarang istrinya karena melihat Aya begitu bahagia dengan makanan makanan sederhana itu.
Sore hari Alvin duduk dengan istrinya di bangku taman sambil menjaga Zam dan Ara yang sedang bersepeda. Mereka cepat sekali bisa, padahal hanya beberapa hari belajar.
"Aku pengen deh naik sepeda."
"Nggak usah kaki kamu kan lagi sakit."
"Kalo udah sembuh boleh dong Mas?" Tanyanya dengan mata berbinar.
"Masa diantara kalian berempat aku aja yang ga bisa naik sepeda."
"Apa pentingnya naik sepeda? Lagian kalo kamu mau kemana mana kan juga ga pakai sepeda."
"Tapi aku pengen."
Alvin mengecup bibir istrinya agar segera diam.
"Ih. Kalo ada yang lihat gimana."
Alvin tersenyum dan mengecup bibir Aya berkali kali.
"Mas." Rengeknya.
"Kamu lucu kalo begini. Aku jadi gemas." mencubit kedua pipi istrinya.
"Ih. Lepasin."
"Iya Iya."
Alvin menyandarkan kepala sang istri ke dada bidangnya. Ia menggenggam tangan Aya dan sesekali mengusapnya dengan lembut.
"Yang?"
"Iya."
"Ayo bulan madu."
__ADS_1
Aya mendongak menatap suaminya kemudian memandang lurus ke depan.
"Kenapa tiba tiba ngomong gitu?"
"Ya aku pengen bulan madu sama kamu aja. Memangnya apa lagi? Bulan madu berdua. Kembalinya tetap berdua. Kamu tau maksud aku kan?"
"Anak anak. Aku nggak bisa jauh dari mereka. Lagian nggak bulan madu juga kamu selalu melakukan itu. Apa bedanya?"
"Ya beda lah. Suasana dan sensasinya beda. Kalo kamu mau kita keliling Eropa gimana? nanti anak anak kita titipkan ke Mommy kamu. Pasti dia seneng."
"Enggak Mas. Aku ga bisa. Anak anak harus tetap sama aku. Lagian mereka juga sebentar lagi masuk sekolah."
"Yasudah kalo gitu. Tapi kamu harus janji satu hal sama aku. Sebagai gantinya."
"Apa apaan begitu. Perhitungan sekali."
"Pokoknya ini syarat dari aku. Yang pertama, Kamu harus mandi sama aku atau mandiin aku setiap harinya."
"Tapi.." Alvin mengecup bibir istrinya lagi.
"Aku belum selesai Yang." katanya sambil tersenyum menang melihat wajah cemberut Aya karena tindakannya yang tiba tiba.
"Kedua, Kamu harus suapin aku. Ketiga, Kamu harus elus kepala aku sebelum tidur. Keempat, Kamu harus tidur di atas aku sambil peluk aku. Yang kelima...."
"Banyak banget." Potong Aya.
"Ini yang terakhir dan sangat penting. Kamu harus memberikan balasan Morning kiss yang aku beri tiap paginya."
"Astaga kenapa untungnya di kamu semua?"
"Nurut aja deh. Nanti dosa lo kalo ngebantah suami."
"Jangan aneh aneh deh. Mana bisa aku. Ah....kamu ada ada aja." kata Aya jengkel dengan kelakuan suaminya.
"Nanti malam kita coba. Tubuh kamu ringan kok."
"Dasar mesum."
"Mesum sama istri sendiri apa salahnya? Lagian." Alvin meraba kaki Aya hingga ke wajahnya.
"Semua ini. Milik aku seorang." Katanya dengan nada sensual.
"Kamu nggak percaya? Aku bisa buktikan sekarang juga." Bisik Alvin membuat Aya bergidik ngeri.
"Aku bahkan bisa melakukannya berkali kali sampai kamu tertidur kelelahan."
"Ish...Kamu pikirannya itu mulu."
"Salah siapa punya tubuh bikin candu. Kamu tau nggak. Tidak menyentuh kamu membuat aku tersiksa. Aroma tubuh kamu...."
Alvin menghirup aroma wangi istrinya dalam dalam.
"Memabukkan."
Aya tersenyum miring. Ia menghadap suaminya dan mengikis jarak di antara mereka. Tangannya menelusup ke baju Alvin membelai lembut dada bidangnya. Alvin memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan istrinya. "Yang." Katanya sudah tidak tahan lagi. Aya terus meraba tubuh suaminya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Alvin.
"Silahkan di atasi sendiri Tuan." Bisik Aya melihat anak anaknya datang. Alvin menggerutu kesal melihat tingkah sang istri yang mempermainkannya. "Nanti malam tidak akan aku biarkan kamu tidur." Gumamnya pelan.
__ADS_1