Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Ini Sama Ini Ditata Dulu


__ADS_3

Keluarga besar tengah berkumpul di rumah Aya termasuk Darwin dan Rio juga.


"Kenapa di suruh masuk ke pesantren sih?"


"Tau tu Mom. Itu semua idenya Mas Alvin. Kalo aku sih gimana anak anak aja. Kan mereka yang ngejalanin."


"Biar mereka belajar agama lebih dalam lagi kak. Biar mandiri juga."


"Mereka masih kecil tau."


"Justru itu. Sedari kecil harus dibiasakan."


"Yah kita pisahan dong." Darren dan Ano memeluk keduanya yang tengah duduk bersama sang Ibu.


"Om nanti juga bakalan kangen kalian berdua." Sahut Darwin.


"Anak anak kayaknya gamau Om."


"Ini cuman latihan aja Dam. Nanti kalo mau lanjut atau tidak ya terserah."


"Zam. Ara. Dengerin Om. Di pesantren ga enak. Makanan nya juga ga seenak masakan Ibu kalian. Nanti disana kalian..."


"Heh apaan sih. Mau ngeracunin otak anak anak aku." Kata Alvin menepuk pundak Rio keras.


"Sakit Vin." Keluhnya.


"Sukurin."


"Mas." Tegur Aya melihat tingkah suaminya.


"Maaf. Habisnya mulut Rio racun banget. Dasar profokator."


"Mas."


"Iya iya."


"Berangkatnya kapan?"


"Besok Ma."


"Cepet banget. Kirain masih beberapa hari ke depan."


"Ibu. Nanti Zam sama Ara tidur sama Ibu ya."


"Iya. Jangan sedih. Sebisa mungkin Ibu nanti sering sering jenguk kalian."


"Iya. Oma sama Opa nanti juga jenguk." Kata Mommy membelai lembut kepala kedua cucunya.


"Jangan sedih. Cuman latihan aja kok sayang. Nanti kalo ga betah tidak di teruskan tidak apa. Anggap saja pengalaman baru."


"Iya Om." Jawab keduanya.


"Peluk Om. Besok kita dah nggak ketemu lagi."


Kedua bocah itu memeluk Darwin dan Rio bergantian.


Aya membelai lembut kedua pipi anak anak yang tengah tertidur pulas memeluknya.


"Liat kaya gini aku jadi nggak tega Mas."


"Ga papa. Kita lihat aja kedepannya mereka bakalan betah atau enggak. Aku juga ga maksa buat di pesantren. Aku cuman mau mereka coba aja."


"Mereka di sana akan baik baik aja kan Mas?"


"Tenang aja. Pesantrennya kan milik Kakek, Nenek kamu yang dikelola sama temannya. Jangan khawatir. Mereka pasti jaga kedua anak kita dengan baik."


"Aku takutnya mereka ga bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Takut ga nyaman."

__ADS_1


"Udah. Ga papa. Kita tidur. Besok harus antar anak anak pagi pagi."


"Iya."


"Selamat malam sayang." Alvin mengecup bibir istrinya.


"Malam Mas."


Mobil mewah Alvin terparkir mulus di halaman pondok pesantren. Menyita perhatian mereka yang tengah sibuk dengan kegiatan masing masing.


"Ayo turun sayang. Kita sudah sampai."


"Bu." Rengek keduanya.


"Katanya mau. Sudah sampai lo."


"Iya."


Aya dan Alvin turun dari mobil diikuti kedua anaknya. Mereka langsung menuju sebuah ruangan dimana tempat semua pengajar berkumpul.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Tuan, Nyonya silahkan masuk."


"Panggil Alvin saja pak kyai. Ini istri saya Aya."


"Iya. Sudah lama tidak bertemu. Kadang saya suka lupa. Duduk duduk."


"Terimakasih." Mereka mendudukkan diri di sofa. Alvin mendekatkan dirinya kepada sang istri melihat para tatapan ustadz muda yang begitu intens terhadap Aya. 'Pakaian ustadz, Kelakuannya sama aja. Ga bisa tahan liat orang cantik. Istri orang ini.' batinnya dalam hati.


"Cucunya Azar dah besar. Terakhir ketemu saat akikahnya Aya dulu. Sekarang sudah punya anak. Ini anak kalian."


"Iya kyai."


"Siapa namanya sayang?"


"Azzam sama Azzara kyai." Jawab mereka.


"Kami titip mereka Kyai. Mohon bimbingannya."


"Iya nak Alvin. Kami akan jaga mereka dengan baik."


"Kyai."


"Iya nak Aya."


"Nanti jika misalnya kita sering berkunjung tidak apa kan? Takutnya mereka belum terbiasa."


"Tidak apa nak Aya. Mereka nanti Pela pelan juga akan menyesuaikan diri."


"Ustadzah, Ustadz. Tolong antar mereka ke kamarnya ya."


"Kyai. Mau diantar Ibu boleh?"


"Iya. Boleh." Sambil tersenyum kepada keduanya.


Aya selesai mengantar Zam kemudian mengantar Ara ke asramanya. "Ustadzah Ara mau ngobrol sama Ibu dulu boleh?"


"Boleh Nak. Kalo begitu Saya kembali terlebih dahulu. Jika ada apa apa silahkan panggil saja ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Iya Ustadzah."


"Ibu." Ara memeluk Ibunya erat seakan tak ingin berpisah.


"Jangan nangis sayang. Lihat yang umurnya di bawah kamu juga banyak."


"Nanti Ara kangen Ibu."

__ADS_1


"Pelan pelan aja. Nanti Ibu sering kesini kok."


"Ibu tempatnya nggak kaya di kamar Aya."


"Inikan pesantren sayang. Beda sama di rumah. Ara lama lama nanti juga terbiasa."


Ara memeluk Ibunya lagi. Pelukan yang lebih erat dari sebelumnya. Aya membalas pelukan putrinya menepuk punggung gadis kecil itu dengan lembut.


"Kami pamit dulu pak Kyai."


"Iya nak hati hati di jalan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Alvin menggandeng tangan istrinya menunjukkan pada siapapun yang memperhatikan Aya bahwa wanita itu adalah miliknya.


"Udah Yang. Jangan sedih." Kata Alvin sesaat setelah mereka memasuki mobil.


"Aku nggak tega tadi sama Zam dan Ara. Mereka nggak mau lepas meluk aku."


"Nanti juga lupa sendiri mereka sama sedihnya. Lama lama juga terbiasa."


"Mau mampir kemana dulu Yang? Mumpung aku ngebolehin nih."


"Enggak Mas. Langsung pulang aja."


"Beneran?"


"Iya."


"Yaudah kalo gitu." Alvin memeluk istrinya.


"Astaga mas aku kelupaan."


"Apa Yang?"


"Aku mau ke swalayan deh. Lupa tadi mau beli sesuatu."


"Suruh Bibi aja."


"Tadi nawarin."


"Yaudah. Pak putar balik ya. Kita ke swalayan dulu." Kata Alvin pada supirnya.


"Baik Tuan."


"Kamu mau beli apa Yang?" Tanya Alvin sambil mendorong troli mengikuti istrinya.


"Mau beli bahan cake. Nanti kalo kita jenguk Zam sama Ara kita bawain."


"Oh."


"Yang kamu tadi sadar nggak tatapan ustadz muda ke kamu?"


"Enggak. Mana ada aku perhatiin mereka."


"Bikin orang jengkel aja. Nggak tau apa kalo kamu istri aku. Kalo jenguk Zam sama Ara nanti biar aku aja. Kamu ga usah ikut. Aku ga suka."


"Apaan sih. Aku ikut. Masa jenguk anak sendiri ga boleh."


"Tapi Yang."


"Dah lah Mas. Jangan diambil pusing. Yang penting kan mereka ga macam macam."


"Iya. Kalo berani macam macam. Aku penggal kepala mereka. Dasar kurang ajar."


"Hah. Kayanya yang perlu ke pesantren itu kamu deh. Omongannya ga berubah."

__ADS_1


"Maaf. Suka kelepasan. Entah kenapa. Padahal jarang lo aku ngomong kasar lagi."


"Ini sama Ini di tata dulu." Kata Aya menunjuk dada dan bibir suaminya kemudian berlalu pergi. Alvin tersenyum dan melangkah untuk mengikuti sang Istri.


__ADS_2