Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Jangan usik kebahagiaan kami


__ADS_3

Aya menghampiri suaminya yang tengah sibuk di ruang kerja sambil membawakan cappucino.


"Mas. Aku keluar sebentar ya."


"Mau kemana?"


"Mau ke pasar. Sebentar aja. Sama Bibi juga sama anak anak."


"Mau ngapain sih."


"Mau beli tempe Sama tahu."


"Kamu kan alergi kedelai. Ngapain beli tempe sama tahu?"


"Anak anak yang pengen. Mereka pengen makan tempe sama tahu pake sambal terasi."


"Ada ada aja. Kamu kan bisa beli di minimarket suruh Bibi."


"Mana ada di minimarket jual tempe. Boleh ya."


"Biar Bibi sama anak anak aja yang pergi. Kamu di rumah."


"Ayolah Mas. Udah hampir dua bulan lebih aku nggak kemana mana."


"Aku cuman takut terjadi sesuatu sama kamu." Alvin bangkit dari duduk dan memeluk Aya. Ia benar benar trauma akan kejadian buruk yang menimpa istrinya selama ini.


"Positif thinking aja Mas."


"Yaudah aku antar."


"Kamu lanjut kerja aja. Lagian aku sama Pak Leo juga pak Ervin." Kata Aya menyebut dua pengawal handal itu agar suaminya merasa tenang.


"Yasudah sebentar saja. Hati hati."


"Iya Mas. Makasih. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Alvin mencium kening istrinya.


Aya, Bibi dan kedua anaknya tengah berbelanja di pasar. "Enak yang mana Bi. Yang bungkus plastik atau daun pisang?"


"Yang daun pisang aja Nyonya. Lebih enak."


"Oh. Oke kalo gitu. Ini sama tahunya juga ya pak."


"Iya Mbak."


"Kita beli apa lagi?"


"Ibu. Zam pengen singkong?"


"Memangnya ada Bi?"


"Ada Nyonya. Ubi juga ada."


"Ya sama Ubi sekalian ya Bu." tambah Ara.

__ADS_1


"Iya. Ayo."


Aya mengikuti Bibi dan mengajak kedua anaknya untuk membeli singkong.


"Kalian apa lagi? Ayah udah telfon Ibu Mulu dari tadi."


"Udah semuanya Bu. Kita pulang aja."


"Iya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kenapa telfonnya nggak di angkat? Kamu nggak papa kan?"


"Aku nggak papa Mas. Udah Ya aku ke dapur dulu."


"Aku ikut."


"Mau ngapain?"


"Temenin kamu." Alvin menggandeng istrinya mengabaikan anak anaknya yang kerepotan membawa barang.


Waktu makan siang tiba. Alvin, Aya dan kedua anaknya tengah menikmati makan bersama secara sederhana di teras belakang. Suasana begitu nyaman dengan alas tikar karena mereka duduk melingkar di bawah.


"Kok pake daun pisang?"


"Mereka pengen makan pakai alas daun pisang Mas."


"Iya Yah. Kita lihat di temen kita makan pakai daun pisang. Kayanya seru."


"Ayah makan sendiri dong masa gitu aja minta di suapi Ibu." Protes Ara melihat Ibunya sibuk menyuapi sang Ayah dengan tangan.


"Iri aja kamu."


"Kamu mau pake tahu nggak Mas?"


"Enggak. Aku nggak suka pake ayam sama sambel aja."


" Sambelnya enak nggak pedes."


"Iya. Lain kali bikin kaya gini lagi Yang."


"Kamu baru pertama kali makan kaya gini Mas?"


"Iya. Kamu kan juga."


"Iya sih. Kalo aku kan maklum dari kecil nggak tinggal di Indonesia. Kalo kamu kan beda."


"Dulu waktu masih hidup Ibu pernah bikin. Tapi aku males aja makannya. Ternyata enak."


"Obat kamu sudah kamu minum Yang?"


"Belum. Nanti aku minum."


"Ara ambilin ya Bu."

__ADS_1


"Nggak usah sayang."


"Nanti Ibu kelupaan lagi."


"Enggak. Ayah kan selalu ingetin."


"Tadi beli singkong sama ubi mau di buat apa?"


"Nggak tau. Zam sama Ara yang kepengen."


"Mau di apakan?"


"Kalo singkongnya di buat itu lo Yah. Yang dikasih gula merah di bungkus daun pisang terus di kukus. Apa namanya Zam lupa. Dulu Nenek buyut pernah buat."


"Iya. Kalo yang Ubinya di buat kelpon. Di kasih kelapa. wih enak."


"Nanti Ibu bikinkan."


"Kalian bikin repot Ibu aja."


"Mas."


"Emang bener."


"Maaf ya Ibu."


" Nggak papa. Kalian lanjut makannya."


"Iya Ibu."


Semuanya tengah lengkap berkumpul di rumah Alvin. Termasuk Mama, Papa, Kakak dan Ipar Aya.


"Sayang. Ajak anak anak nginep di rumah Mama dong."


"Kita nggak betah tidur di sana." Jawab Ara cepat sebelum Ibunya angkat bicara.


"Kenapa nggak betah? Kamarnya kurang bagus ya?"


"Enggak. Cuman Ara nggak bisa tidur aja seatap sama Orang asing."


"Sayang." Aya menegur anak gadisnya.


"Maksud kamu apa Nak?" Adam sedaritadi diam angkat bicara.


"Nggak Papa. Nggak jadi." Ara menahan diri untuk tidak berkata kata lagi.


"Ara atau Zam tinggal sama kami ya. Anggap Om sama Tante sebagai Ayah dan Ibu kalian."


Ara sudah tidak bisa diam lagi. Gadis itu berdiri dengan raut wajah yang marah.


"Omong kosong macam apa itu. Aku bukan Ibu yang kalian bisa perlakukan seenaknya. Yang bisa kalian buang terus kalian pungut lagi jika kalian inginkan. Sampai matipun Ibu dan Ayahku tetap orang yang sama. Aku nggak mau hidup terpisah dengan orang yang aku sayang. Orang tuaku juga bukan seperti kalian yang dengan tega meninggalkan anaknya. Mana ada orang tua yang meninggalkan anaknya pada orang lain. Bahkan untuk nama saja tidak diberi. Mana ada orang tua dan seorang kakak yang tenang melihat anak dan adik perempuan mereka hampir meregang nyawa. Jangan merayu, bersikap baik, simpati dan peduli dengan kita. Kita tidak hidup di bayang bayang sandiwara dan kebohongan. Sikapku seperti ini jangan sesekali menyalahkan Ibuku yang tidak bisa mendidik aku dengan baik."


"Sayang."


"Sebentar Bu. Ada yang perlu Ara luruskan. Ibu sudah mendidik Aku dengan baik selama ini. Aku menahan semua yang Aku rasakan untuk menjaga perasaannya. Aku bersikap baik pada kalian juga karena Ibu yang meminta. Dan hari ini aku berbicara dengan sesadar sadarnya. Bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan siapa saja yang menyakiti Ibuku. Apa yang Ibuku alami dan rasakan Aku juga merasakannya. Jika Ibu yang melahirkan aku kalian sakiti diam. Namun aku tak akan tinggal diam. Aku akan ingat semuanya. Perlakuan, Ucapan dan Tingkah kalian. Jangan temui kita lagi. Jangan usik kebahagiaan kami." Ara pergi meninggalkan mereka setelah mengatakan apa yang Ia pendam selama ini.

__ADS_1


__ADS_2